Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

pada masa yang lebih menggiurkan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/28/2004

pada suatu masa yang lebih menggiurkan, ras manusia lahir ke dunia sebagai tua bangka dan, biasanya, meregang sebagi bayi. kematian tak begitu jadi kesusahan. tak banyak tanah terpakai untuk makam. tak banyak kubur tua tergusur dan tertindih yang baru. lebih penting lagi, kebanyakan mayat terlihat imut dan kemerah-merahan. siapa yang tak gemas? namun kelahiran jadi penderitaan yang tak pernah dikenal kaum ibu masa sekarang. orok yang baru lahir menyerupai manula 70 tahun di zaman kita. bentuk bunting dan jalan lahir terlalu mengerikan untuk disejarahkan.

pada umur 5 tahun, mereka sudah harus mulai bekerja. biasanya pekerjaan-pekerjaan tanda-tangan dan lihat-lihat, seperti presiden, perdana menteri, direktur, kepala ini, kepala itu, dan semacamnya. semua orang berlomba-lomba meningkatkan jenjang karirnya; yaitu, mendapat pekerjaan-pekerjaan fisik secepatnya. semakin banyak muatan fisik dalam suatu pekerjaan, semakin bergengsi pekerjaan itu. jadi, pekerjaan semacam kuli angkut pelabuhan adalah satu dari sedikit pekerjaan elit dambaan semua orang di dunia. dan untuk mencapai jabatan ini persaingan sangat ketat dan lama. rata-rata pada umur 40 tahun, serupa dengan 30 tahun di masa kita, seseorang baru bisa menggapainya.

mereka-mereka yang gagal bersaing biasanya harus bertahan sebagai presiden seumur hidup, perdana menteri sampai mati, kepala departemen abadi, dan seterusnya. para seumur-hidup ini menempati kelas terendah dalam masyarakat. mereka sering diolok-olok sebagai lamban, memfosil, kuda nil, dan semacamnya. penderitaan kaum pecundang ini melahirkan ribuan revolusi yang datang dan pergi, namun belum berhasil sampai detik cerita ini dikisahkan.

ngantuk, jadi…diteruskan besok

Pada Masa yang Tak Terkira

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/26/2004

Pada masa yang tak terkira

Hidup aku di sebuah apartemen

Berlantai lima, berdelapan anak tangga

Dengan jendela yang sakit gigi

Tiga musuh, satu kawan

Di sebuah lorong yang sungguh kencang

Bunyi-bunyi mencurigakan

Pada setiap malam yang kering

Dan penuh deru kipas angin

Di mulai dengan langkah-langkah

Kaki besar

Pelan dan berdebam

Seperti Godzila bangkit

dari Chao Phraya dan melangkah

ke menara Bayouk

Berubah!

Sumpah serapah serdadu Louis

Yang tenggelam di kedalaman Mekong

Terkutuk menjadi ikan lele raksasa

Menghuni hilir

Mademoiselle, mademoiselle…

Ampunkan cintaku

Indocina begitu keras dan buas

Jemput suratku yang terakhir di Vientiane

Berubah!

Gelegar kereta perbekalan Jepang

Membelah hutan Kanchanaburi

Lalu terdengar kesibukan luar biasa

Seperti Orang Inggris membereskan kemah

Berubah!

Sampai juga jerit-jerit perempuan

Yang hilang seperti bunyi

Remasan kertas

Dan datang kembali

Lamat-lamat seperti awal

Panggung para sadis

Waktu luang selalu jadi

parade kuburan

mereka-mereka yang berlalu

Susah putus diri dengan guru

Setiap telat kucegat

Bis terakhir ke Ramkamhaeng

Kuperlukan dua Heineken

Atau satu Chang

Sebelum melangkah pulang

Aku takut lantai tiga

Di dalam bilik,

Aku seperti stasiun mimpi buruk

Di masa musim mudik dan balik

Pada kemarau kuning kenari

Bising, gerah dan tak termusuh

Bibi yang telah tiada

Datang kembali

Mengajakku ke rumahnya yang baru

Berpisah dengan paman yang

Mengantarnya mati

Pada subuh, dua tahun yang lalu,

Januari

Berubah!

Seketika jalan-jalan tanah menjadi sungai

Dan singa berkeliaran di dekat sumur

Berubah!

Tiba-tiba aku sudah tengkurap

Di punggung putri duyung

Membelok kalap

Menyalip dan menelikung

Memburu jalan lain ke pantai

Menusuk pasir dan tumbang

Terdengar lagi suara berdebam

Segera kuberi air tubuh yang meradang

Meludah ke aquarium dekat dipan

Sampai kini, kawan, aku masih sibuk

menyelidiki berbagai hubungan.

suhaiman

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/23/2004

namanya suhaiman

kampung di selatan

dekat sungai kolok

ingin bangun negeri

pergi jauh ke bangkok

sekolah politik

jual kopi

dan rokok

bulan lalu

sabtu siang

suhaiman bergetar

baca kawan rumah

bakar sekolah

dan serang gudang

senjata tentara

putuskan pulang

dan ikut perang

mati

dan masuk koran

suhaiman ditemukan

kawan di kebun getah

suhaiman tak sempat

terliput

sebab flu burung

sudah menyerang

sudah

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/22/2004

sudah kuterima sepiring spageti dalam peti surat.

dengan pasta, bahkan.

sekarang waktu datang untuk menggaris

dan membikin perhitungan-perhitungan besar dan kecil

kamu juga sudah datang.

meriah hati, hidup lengkap.

sial, ada lagi yang tertunda.

bayangkan,

kadang-kadang hidup kita

ada di tangan vitamin c.

berangkat

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/20/2004

belum kuterima juga

sepiring spageti dalam

kotak surat

kini harus kuputuskan juga

berangkat atau kacau

malu atau saru

seandainya semua adalah

keputusan

dan bukan pertanyaan

apa kita masih belum mati bosan?

duduk lagi

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/19/2004

duduk lagi di ruang

diam lagi seperti

kursi

siapa yang diam lebih lama?

dari kotak ke kotak

kamar

kantor

kafe

bus

kereta

dari kotak ke kotak

sampai ke kotak juga

yang mendiami tanah

dominggo

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/19/2004

hari yang penuh matahari

mari mengeringkan diri, sayangku,

ke taman kota, sebab kita tak punya

kebun seperti lainnya

minggu, dominggo, sunday, sundae

apapun namanya, mari keluar

sayangku, melihat parobaya

berangkat ke gereja

apa yang lebih menghibur

dibanding melihat keberangkatan

yang pasti akan pulang?

hari yang lebih

sebuah minggu selalu membawa getar

tersendiri

kantuk yang lebih

keceriaan yang lebih,

kedongkolan yang lebih

mari keluar,

melebihkan diri

bersambung

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/19/2004

kita semakin tajam saja. baru tiga bulan yang lalu, aku ingat, berjalan

pagi hari ke pasar dekat perempatan untuk membeli buah.

berdempet-dempetan melintas jalan yang cukup lebar. sempat menyesal meninggalkan

seonggok bubur dalam mangkuk di kedai depan stadion raja. Tapi kita harus

cepat-cepat berangkat. siang sedikit mulai banyak kawan-kawan kita yang

berbelanja. ya, ya, ya rok yang sama. rok biru muda dengan motif

perca-perca. menyeberangi beberapa jalan, terus maju dan maju, pelan. kemudian

kita tiba. hanya kau yang paling memukau di antara pedagang-pedagang

buah dan sepatu pemadam kebakaran. aku tak ragu soal itu. dan warna-warna

hijau pergi begitu saja. “sudahlah, lebih baik membeli, daripada tidak

sama sekali.”

sore harinya kau melapor bahwa ada bau tak sedap. memang begitu

reaksinya. tapi aku cukup lega. paling tidak tempat itu memang bisa diserang

oleh buah-buahan. lalu kamu tekun melahap berbutir-butir pil itu tiap

jamnya. benar-benar manusia yang berwatak. maksudku watak apa saja, belum

tentu baik. termasuk cengeng dan tak bertahan kalau tak aku

paksa-paksa. apakah kamu memang diciptakan selentur itu?

tak pernah bosan aku mengingatkan. setiap aku terjaga tentunya.

terutama ketika kita saling menunggu malam bingung yang akan beranak timur

rekah. minumlah. jangan kopi, pakai air putih. kadang-kadang juga jus

nenas. untunglah banyak manusia yang ingin ramping di sini. dan semua para

melek huruf hanya suka melihat gambar.

sayang sekali banyak pekerjaan mendera sehingga aku tak sempat mencatat

rinci salah satu kurva waktu yang penting dalam hidupku. hidup yang

mempertahankan cita-cita, bukan berjuang meraihnya. bertahan dan bertahan,

hancur, merapat, bangkit dan redam. sampai kedatangan kita kali kedua.

masih lama, yang pasti.

memang gregetnya sudah hilang. setiap greget berkurang saat kita bangun

pagi hari, atau sore hari jika waktu tidur kita berbalik. namun kalau

aku ingat-ingat tak jauh dari kekhawatiran. huaahhh, biasa sekali bunyi

kata ini. tapi itulah kira-kira.

dan apa yang kita tunggu datang juga. sore hari kita memenuhi janji

dengan kawan-kawan dan profesor belanda di lapangan depan akademi. hanya

kita saja. lalu aku pergi ke perpustakaan untuk mencari mereka. ya,

beberapa mereka di sana. lalu aku teringat bahwa tak ada yang membantu

profesor membawakan bidak-bidak caturnya yang besar. aku menjemput dan

membantunya. sesaimpainya kembali di lapangan itu, semu sudah lengkap.

dengan van coklat kita berangkat.

suasana panas benar. meyakinkan orang vietnam konyol itu tak mempan.

menyalakan air con tapi membuka jendela! ya, ampun. lalu kita sempat

melewati kolam besar di bawah jalan layang bersusun empat. aku berguaru

dengan ke si dokter cina, “kalau ada yang iseng melempar bayi buaya ke

situ gimana ya?” lalu semua sibuk berkhayal. semua orang memang suka

bercerita. pembicaraan lari ke soal ular. tentang migrasi ular ke cina pada

bulan-bulan tertentu. kecil, tapi mematikan.

van mulai berbelok ke jalan yang membelah miliaran rumput galah. bodoh

sungguh mahasiswa-mahasiswa itu, mau membayar ratusan juta untuk

dibuang istana buatan di tengah rawa-rawa. kalau seperti apa bedanya hidup di

monasteri rahib-rahib zaman pertengahan. untung aku tak ditempatkan di

tempat ini. tak lama kemudian semua serba mencuat. gedung, katedral,

kakus, danau buatan, patung, prasasti, semuanya. berputar-putar lalu

berhenti. tak ada yang menyambut kita. kita berjalan ke komplek pinggir.

masuk gedung dan mulai melihat panggung. sempit. gila. dasar imitator!

lekuk bangunan oxford, cambridge, harvard di lumat. arsitekturnya, kalau

masih hidup, di kontrak dan didatangkan. tapi panggung teater

dihilangkan. dasar kuli ilmu terapan!

panggung seminar harus disulap. semua sibuk usul, kali pertama.

lama-lama tampak tak ada yang mungkin. semua terlihat bingung dan, aku tahu,

berharap semoga tak ada yang datang dan pertunjukan dibatalkan. kecuali

profesor belanda energik itu tentunya. kita masih berputar-putar di

sela meja. melihat ke panggung seolah-olah petak sempit itu tengah

berubah. si vietnam konyol menghampiri piano yang ada di pojok ruangan.

senyum-senyum sebentar lalu menjatuhkan jarinya. lagu carpenter! sang burma

langsung bergegas datang bak pasangan elton john dan berunjuk suara,

ngotot, memejamkan mata.

aku sempat hilang keseimbangan.

aku tak sempat melihat kamu berjalan ke belakang. namun saat kamu

kembali, aku menantang. kamu tersenyum, manis sekali. “aku berdarah.”

katamu.

kita menunggu dan menunggu. kita juga baru sadar bahwa ini hari libur. ya ampun, siapa yang akan menonton kita? apa ada yang mau dari mahasiswa tak berkarakter itu menyempatkan diri untuk datang ke kampus untuk menonton kami? yang ramai hanyalah angin dan air danau. sambar-tersambar. gedung-gedung semakin lama semakin sunyi. lampu tak juga dinyalakan. tak ada bayangan. katedral di depan kita menghitam dan menghitam seperti raksasa negro. beberapa dari kita ikut ke mobil rattana untuk kembali ke kota membeli camilan dan air minum. kantin tutup. kamu salah satu di antaranya. aku tinggal. christine memanggilku untuk ikut pergi ke dekat danau. duduk di dekat palm cebol dan merokok sampoerna. rokok kretek dari dulu sudah memukau dunia. sayangnya perempuan tomboi ini kawanku. kalau tidak, sudah aku hargai setiap batang sampoernaku.

tak ada yang berbicara. dia terus-menerus mengambil rokokku. aku juga. seperti tak ingin kalah. padahal yang rugi juga aku. tiba-tiba ada air menyembur kita. kita berlari-lari menghindar dalam kegelapan dan masih tersambar juga. ternyata keran penyiram taman pinggir danau itu tengah dinyalakan. kita tertawa berderai-derai. tak kujumpai kawan-kawan di depan katedral. mungkin mereka berjalan-jalan atau lari mencari gedung yang masih bercahaya. aku juga sedikit tegang.

mereka berkumpul di depan toilet. kamu sudah kembali rupanya. heineken titipanku lupa kamu belikan. kita berunding tentang hal-hal sepele di depan keripik kentang. sesudah perut terisi, profesor belanda itu memimpin kita kembali ke panggung. sudah pasti tak akan ada yang datang. universitas termenung seperti kuburan. dia menyuruh kita tetap bermain meski tanpa penonton. bermain untuk diri kita sendiri. seperti srimulat di thr surabaya. gilanya, kita harus tetap memakai kostum pementasan.

kita pulang tepat pada pukul delapan petang. ini sejarah terhitam dunia teater.

riwayat keturunan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/19/2004

cerita tentang anak cucu ***

yang pergi berjuta langkah

dari kampung penuh pohon sagu

dan makanan-makanan pahit

ke sebuah pulau

yang sengit

beranak-pinak dia

berkawin-kawinan ia

dan tibalah peran si anak

ketika kecil sudah tinggi cita-citanya

menggaruk wajah dunia

ke utara, ke utara, papa

saat dewasa

hidup tengah susah di negerinya

tapi apa yang bisa menahan

sebuah cita-cita serius?

lalu, pergi berangkat

ke utara, memang

tapi tak jauh

ke siam,

negeri beberapa pagoda

dan patung sidharta

yang tak lagi disuguhi air suci vihara

tapi berkardus-kardus air mineral

beserta sedotannya

belajar bertutur, berkata-kata, dan

menulis aksara yang tak tetap hati

dalam asuhan seorang ilmuwan

yang terlahir di britain bagian selatan

manusia

yang konon

paling sah

jadi

paling tidak satu impiannya tergapai:

bertemu dan diasuh homo eropa

dalam biaya setengah

si anak dicerahkan

kini dia mempercayai buku

bukan lagi batu

namun dasar salah didikan

buku baginya berhala baru

setiap bertemu kawan,

sapanya “sudah membaca buku?”

seperti nenek moyangnya menegur

“sudah menyembah batu?”

ketika mencari hikmat

bersama kawan-kawan yang berminat:

“tapi menurut buku ini begini”

“bagaimana? mari kita dengar dan timbang, kawan.”

“kau baca sendiri, tapi yang pasti bukan seperti kamu,

kau baca sendiri!”

seperti *** yang tak pernah berhasil

menguraikan hukum adat

di depan lima kepala keluarga

dalam tiga puluh kata-kata singkat

dasar salah belajar

semua yang tertunda

dikunyah seperti

menguraikan cara kerja mesin uap

dia, bagaimanapun

selalu dalam lindungan

tuhan

dekat pintu kaca belakang

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/19/2004

sepertinya ada yang jatuh

mungkin masa di depan

bisa juga masa belakang

tapi kupikir ini juga hasil

bermeditasi sambil menghisap jus alpukat

pekerjaan memalukan yang dibebal dengan

bunyi klarinet mahal

bahkan, soi-soi semakin bengkok

(tapi ini yang paling menarik dan

mencegah kita berfikir tentang pedang pendek)

dan beramai-ramai kita merekam

kecerdasan kita menyulap

padahal kita semua pesulap yang buruk

bayangkan, kita masih memikirkan penonton

bukan kelinci, burung merpati

atau topi kita

yang dari dulu berwarna hitam

dan, kita masih sepakat

ini bukan berarti semua bisa jalan

perlu ada pembedaan

perlu ada pemberatan

jika tidak, banyak instansi-instansi

yang harus ditutup

banyak juru-juru tulis

yang harus balik kampung

membeli buku tulis bergaris-garis

lalu cepat-cepat berbuat tak senonoh

dengan pasangannya

agar menulis halus tak hilang generasi

sementara wilayah tumpang-tindih

sudah lebih besar dari yang menumpang

dan yang menindih

ah, itu khan semangat?

kenapa tak pernah terpikir untuk pergi

jauh, jauh, dan lebih jauh

kita memang harus menunggu

apalagi pekerjaan yang paling aman?

ilmu menghibur diri semakin didewasakan

oleh penulis chicken soup

masakan kau masih merasa sakit

ketika duduk diam?

biarkan orang-orang kreta mabuk dan muntah

juga gay albania

mereka memang pemain baru

kita harus menunggu

tapi aku ingin terlihat baik? tanyamu

kupikir kita masih bisa menulis

sering kejadian-kejadian otomatis

menghasilkan hadiah nobel

kau bisa belajar menangkap gambar-gambar

yang paling lucu dan tak masuk akal

konon, kata ahli memori

ini yang paling tahan lama

aku tak suka kalau kau

mulai membenci heineken

dan meremasnya seperti itu

itu sudah melanggar janji

padahal janji adalah abrakadabra

lalu kamu punya apa lagi?

aku sungguh ingin menjadi guru

yang menunggu

Epika Mencari Ayat Baru

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/18/2004

Wiwitane aksara, pangroncene tembung, wiwitane

tumanduke asmara turiga, panggronjaling Hyang Maha

Suci ing kasuwargan, mandeng arsa cinipta, dadi watak,

dadi salah, dadi gumun, tempuk sarine Bapa-Biyung

nalika isih ana awang uwung nuwuhake asmara.

Deringmu tadi sore menyakiti aku lagi, sebuah

persoalan sebelum dan sesudah tidur yang utama. Aku

menyebutnya: mencari dada yang membawakan langgam.

Rasanya percuma menanam dan merawat flu ini

pelan-pelan, mengembangkannya lebih lanjut sebagai

migrain. Dengan pertumbuhannya, aku memang sempat tak

berfikir tentang kamu. Aku disibukkan dengan pekerjaan

yang jauh perlu, seperti menghirupi ingus, membuat teh

panas, dan mengganti saputangan.

Dan hampir purna, aku rasa tadinya. Tiga hari

kuperlukan untuk telat makan. Beberapa jam kubutuhkan

untuk menadah hujan, meski malam. Jas biru parasit itu

tak juga kubawa, meski ibuku selalu mengingatkannya,

selain dompet, setiap aku berangkat. Desir harunya

membawa kesuraman gugur, sewarna, meski di sini

diadopsi oleh penghujan, sebab equator meminati

dialektika. Hujan yang bertemu maghrib, betapa

sedihnya suasana. Sesuatu yang tak sehat dan membawa

paru-paru basah, dia, kupelajari dari catatan Celie

yang kubaca beberapa semester lalu. Dikabarkan, mereka

terdidik menangkalnya dengan jubah domba dan syal

songketan ibu-ibu cowboy di rumah.

Aku mengidentifikasi godamu lewat pentatonik, dan

tentu garpu tala. Tetap rendah, seperti sebelum

amandelmu diangkat. Terakhir ini aku gagal, jujur

saja. Lain tadi. Semaphore tanpa bendera, beruntung

sekali, tak menembus kaca nako saat siang gilang.

Bukannya dilapisi selaput hitam, tapi memang gerakanmu

mengangkat lengan tak berhasil menukil sulur angin.

Aku tak tersaput atau semburat jadinya. Tentu saja aku

tak menoleh. Untuk itu terpujalah diriku atas segala

batas kaca dan pintu, sementara itu. Padahal

seringkali pengasihan masih jaya, meminjam tubuh udara

atau asap obat nyamuk, menyelusup dalam strimin di

lubang-lubang udara atas jendela.

Kamu tak sadar melepas peluru-peluru itu. Kemudian

suatu masa di depan sekarang, kamu mungkin tak terima

untuk dituduh. Dirimu menganggapnya itu cuma susah

tidur karena kopi meniran. Tapi sebutmu lirih untuk

namaku, tahukah kamu, semujarab nama salib. Lalu

kiriman tahan kantukmu itu tak juga bertabrakan dengan

tangkis. Merogoh sukma, meracut sebebas-bebasnya,

memasuki tanpa salam seperti rumah kincirmu sendiri.

Mungkin saja komputer itu melabrak magismu, menelannya

terang-terang, merubahnya jadi file ramalan cinta

belaka semata-mata. Serendah itu, kemampuannya

berbatas mengolah angka dalam tanggal bulan tahun

lahir beberapa remaja iseng. Kemudian mengeluarkan

keputusan yang menyenangkan. Serendah itu, asmaragama

dihadapan bentuk dinamik ilmuwan bermata aquarium

tanpa background daun-daun.

Aku takut pulang. Tak ada di atas dalam kamarku. Mana

mungkin aku mengeremnya dengan tivi. Agenmu dia,

mengkhotbahi tentang cara mengatur waktu dan membagi

hati untukmu, perempuan teruna dengan apa yang

digairahinya. Jika kantor ini tak berpantri dan

bersatpam, aku akan meletakkan tubuh di sana.

Itupun demi kepentingan malam, kujelaskan padamu.

Itupun sudah merusak decakan tentang adaku sebagai

perental jagad, yang baru menutup mata kala matari

membuka kelopaknya. Tapi coba bayangkan, betapa

tragisnya hari depan setan, jika langkahnya mempunyai

bayang-bayang. Untuk itu aku menutup mata, meski aku

usahakan tak lengah. Satu jemaat senyap.

Kamu curang, tetapi nyatanya. Keluaran nafasku kamu

tarik dalam. Segala bagi-bagi damaiku untuk semesta

kamu miliki sendiri. Dan saat bangun, tentu saja

sebagian damaiku telah menjadi milikmu, karena itu.

Wajah komik dengan rambut bulat menebah-nebah mata,

dari awal roti bakar pagi hingga vodka kumur malam.

Wiji-wiji wis premana, tegese wis waskita marang

dunung siro tukule saka asmaragama. Elinga yen ana

cahya putih iku mono Hyang Maha Suci, yen tumetes

kabuntel manisari ambune kaya kembang jambe mekar,

neng batuk rasane mriyang, yen embun-embunan silit

kodok timabangane iku asmaragama.

Kecuali sakit, itu selalu terjadi. Maka tubuhku

kuperintahkan mengonani waktu radang normalnya.

Biasanya tiga bulan sekali aku terawang langit-langit.

Hari-hari ini, dua minggu sekali aku mempelajari

bintik-bintik eternit. Yang paling aku gemari adalah

pilek, rasanya ilustrasi wajah komikmu ikut mencair

dalam ingus. Tapi aku harus sisihkan lebih banyak uang

untuk jajan es, serta laundry baju basah sebab hujan.

Oh ya, hampir aku lupa untuk memuji dia sang berperan.

Tanpa dia, kuasa dia perempuan mungkin sarat heran.

Musim ini memang diberi nama hujan, seperti masa-masa

sebelumnya, sesudah bangsa Melayu merasa perlu untuk

membedakan dia dengan kemarau, lewat kata-kata. Ritus

pembukaan tingkap-tingkap langit, dan percobaan

blitz-blitz raksasa, dimulai kala hidup Nuh kekasih

Jehova.

Tak seperti orang-orang modern, aku tak tertarik

menghujat imajinasi Putra Celup Nil, yang diputus tali

pusarnya oleh buaya-buaya. Terlalu banyak

dongeng-dongeng yang kugemari tentang peperangan kuno,

tentang baju zirah, tentang hasta, tentang kaki belah.

Diepikkannya bahwa hujan berulang tahun tepat pada

saat bahtera, yang bermuatan beberapa pasang kelamin

dari seluruh globe, pertama kali diluncurkan oleh tuan

penciptanya, insinyur perkapalan nomor wahid pada

masanya. Jika kita rindukan air bah Nuh, yang digubah

hujan dengan kerja lembur 40 hari dan sekalian malam,

katanya, kita bisa menemukannya sekarang, saat kita

merasa perlu melihat kerang, menjemur diri seperti

tengiri, atau menyelam dalam-dalam.

Sebelum hujan runtuh dari rahim ibu langit dalam

tragedi kemanusiaan genesis, tersurat bahwa tujuh

samudera belum bertriwikrama. Lautan bebas, dan

palung, sebenar-benarnya adalah tempat pelarian dan

pertobatan sang hujan, setelah dihantui roh-roh

manusia yang tergilas lewat golakan air memasang.

Hujan mempunyai sepasang kaki yang kuat; dan itu

membantu banyak usahanya untuk memanjat. Dia juga

pecinta alam yang rendah hati, tak satupun bendera

ditancapkan, walau setiap hari Everest Raja

tertaklukkan.

Hari-hari ini, jika hujan turun di dataran tinggi

tempat mana aku tinggal, aku selalu berfikir, mungkin

si air purba sedang melepaskan kerinduannya setahun

sekali, dengan mengunjungi puncak gunung yang dulu

sempat ditimbunnya. Mengenang, bagaimana

kedigdayaannya memadamkan kawah, hingga burung darapun

linu sayapnya, tak menemukan dahan berpijak untuk

kakinya yang tak berkasut.

Bulan pada sesudahnya meradang, dicegahnya keliaran

hujan terulang, tak diijinkannya lagi air bergerak

merangkak serempak ke atas, kesemuanya harus

bergiliran memakai angkutan awan. Tapi dia tak kunjung

sakit hati. Dia tinggal setia, memberikan kegembiraan

pada mereka, yang tak merasa pilek adalah bencana,

memberikan uang saku pada mereka sepulang sekolah, dan

banyak lainnya. Bahkan saat rumahnya direndam banjir,

tak pernah makhluk-makhluk mungil ini mengumpati

hujan. Dia memberikan alasan untuk bermain perahu

dengan aman dan minus omelan. Dan tentu saja, tak

kalah serunya, dia mencetak meriang dan pilek untukku,

agar aku melupakan dendam persatuanku denganmu,

perempuan dengan dada yang membawakan langgam.

Hujan gemar pujian. Sesudah disadapnya gelombang tele,

yang memberitakan bahwa dia telah membuat Bangladesh

sebagai daerah terbasah dengan curah tertinggi tiap

tahun, begitu tegak dan jumawa jalannya. Sebagai rasa

terima kasih mendalam, hujan berjanji untuk selalu

merendam negeri itu hingga akhir zaman. Tepatnya

hingga Gabriel berhenti kursus sangkakala, dan mulai

menunjukkan kepiawaiannya.

Dengan tujuan sama, aku menceritakan keelokannya saat

ini juga, agar dia tak tertarik berteman dengan dia

perempuan. Gawat akan. Dia pemilik suasana, suara

jatuhnya bisa berubah menyerupai kecapi cinta.

Dengannya, aku tak sanggup menaikkan lengan. Bukankah

sia-sia melawan kesan? Tak ada yang bisa dilakukan

bila hujan sudah berpihak. Kabar agung akan tertutup

sendiri, janji selamat akan dilucuti, cetakan ideologi

jatuh luntur menganak-kali. Herge terbuka, hanya satu

frase dunia meloncat gagah dari misai pelaut tujuh

samudera: Sejuta topan badai!!!

Tomat.

Jum’at Wage, 18 Dulkangidah 1934

Sanggama Indera

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/18/2004

Keriangan ufuk berlarikkan warna biru dan kuning,

kupu-kupu genit mengoret-ngoret angkasa kering.

Bumi mengangkat roknya, mencari posisi duduk yang

paling tenang, agar tak terlihat warna celana

dalamnya, yang terbentuk oleh dua magnet besar penali

angin, tanah, dan lautan, dihadapan matari yang

menatap binal.

Berarak-arakan tindih menindih tubuh pohon delima,

menggarisi pertemuan tanah kusam dengan medan para

burung untuk memamerkan keahliannya menunggang angin,

dengan beberapa trik kecil di sela-sela bulu-bulunya.

Semesta yang kecil, menghembuskan kesan besar.

Halimun ramai merendah berduyun-duyun turun, membawa

baki penuh air bersayap, melengkapi baptis cuaca

kepada tanah dan semua benda yang menegakkan tubuhnya

pada dagingnya yang gembur tanpa rekah.

Sebelah bawah, magis desa bawah gunung, tertelikung

ribuan batang padi yang kaya raya dengan bulir-bulir

lancip beberapa saat sebelum niscayanya nasib, dipukul

dan diremukkan, dicuci dan dilemahkan untuk

menyelamatkan anak cucunya dari kepadasan seperti

berjuta tahun lalu di utara.

Redup sunyi senyap sebagai mendung, cahaya dan cahaya

hati

Semua waktu harusnya begini, tak perlu berubah, tak

bermanfaat daun menemui kering.

Marilah bersorak sorai merasuki tubuh alam, membuatnya

linglung sementara waktu.

Mengawali kayu lancip dan ranting menjulang dengan

semua penghuni penuh kasih kembara, mengandalkan

sayap.

Turun sedikit pada lubang-lubang jati dengan

pemeliharanya yang mengumpulkan bahan makan pada

musimnya, yang memakan dengan pelan pada waktunya.

Membuka mata untuk tanah datar dengan berjuta-milyar

kekasih penginjak diri. Tempat berlabuh sejenak

makhluk atap udara, tempat mencari bahan bagi hewan

tengahan, tempat berjemur bagi satwa bawah.

Membenamkan telunjuk untuk mencari hidup di sela-sela

rapat tanah tertenun, terletak mereka yang hidup aman,

yang tak pernah termasuki kepala gajah besar, kepala

penuh taring para serigala liar.Garis mungil berkelok

tajam melukis karpet menjulang, mengundang kaki-kaki

kokoh datang dan rebah dalam persenda gurauan dengan

rerambatan seperti yang dijalaninya semenjak

terpotongnya beberapa semak untuk membuka alur ke air

terjun. Betapa disesalinya kebodohan lahar pembuka

jalan dalam mencari jalur yang lebih tenang menuju

samudera. Tak perlu kejutan sebagai jebakan itu, yang

membuat air merasa terpleset oleh tanah.

Nafas bening, sewarna dengan wadah dan semua benda

yang disalip.

Kumpulan harmonium tanpa titik api, mana pernah dia

berkenalan dengan larangan atau saran. Masyarakat

fauna mendapatkan dari pengalaman, bahwa gigi tikus

patah saat mencoba menumbangkan beringin remaja, bahwa

kelinci mati ketika mencoba melahap macan. Tak pernah

burung hantu, sebagai tua-tua lingkungan, melarang.

Kekejaman flora, kekejaman tanpa sebab,

Kekejaman sebatang pohon menyerap hara dan air.

Spora berdansa, spora birahi dihantarkan angin gunung,

yang paham siapa teman dan apa tujuan, menemui

mempelainya.

Diantarkannya ke rumah putik dengan desahan, sebagai

dorongan bagi si jantan untuk segera menuntaskan satu

gairah semua mahluk yang mengenal perbedaan. Milikku

tak seperti milikmu, terserah siapa yang menyerang

lebih dulu. Tak perlu harus ditentukan lewat siapa

yang lebih punya kelebihan, baik daging maupun jarak

edar yang mengatasi kelumpuhan flora.

Tersebarlah karena angin, tersebarlah tanpa

persinggungan karena keindahan kita sudah melewati

sentuhan.

Dewandaru-dewandaru menanam dirinya sendiri, alam yang

tak bergantung pada belas kasih dan jilatan di

telinga, yang kerap direkam dalam tumbuhan-tumbuhan

besi yang ditanam dibelahan lain bundar bumi

Memuja kamboja dengan tekun, menyembah sedap malam,

terlintas cinta kasih tanpa seramnya kuburan.

Tiga bukit siam menselonjorkan kakinya, saling

bergandengan tak ingin dibelah.

Sebuah pembekalan, untuk mengercapi selaksa kekaguman

Selalu terlintas dalam bayangan gagap, kaki berbungkus

karet dan kapas merajam semua tumpukan tanah

tertinggi. Mungkin dia sendiri tak pernah menyadari

telah menendang tanah yang kini tengah didecaki, saat

benar-benar mengitari sedikit ruang lapang diantara

rapatnya barisan tumbuhan.

Menemukanmu disana, memergokimu disini, di

tengah-tengah, di kelokan langit hutan tropika yang

menyembul tersunggi gunung.

Keriangan yang sama-keriangan penuh kilap cahaya,

kelembaban cinta kasih, desau-desau khas yang tak

lekas walau kran langit bocor, melesak bawah dan

menghempas keras.

Dari mula inikah dirimu berasal, terseret angin yang

salah, turun semakin turun berharap surya semakin

dapat dijauhi kalornya.

Tak pernah tahu bahwa sang kencana lebih ramah dengan

sempalan bumi yang berusaha memetiknyanya lewat ukiran

jantung sedimen berjuta-juta tahun yang silam, sembari

terbantu angkasawan yang tak sengaja menyelipkan tanah

dicakar-cakarnya, dipucuk terlancip paruhnya, setelah

menjejak tanah di dataran rendah, setelah mematuk ular

sawah, padi, dan ayam.

Terkadang, memang.

Tapi, jutaan surya lamanya, tak mustahil unggas

menimbun gunung, mendirikan bukit, memugar jurang,

memindahkan kerang ke samping kawah.

Bening tak pernah melawan tanah, air yang kau giring

pada mana dia harus singgah dan turun. Bersukalah

sejuk, bersukalah kaca sebelum kedatanganmu yang

kesekian kali pada tanah-tanah yang sudah lupa dengan

pahitnya akar, girisnya pinggir ilalang, lelehan

kambium, yang dulu pernah menyapamu setiap kamu gesek

tepian-tepiannya syaraf gelinya.

Mainkan orkestramu hai penduduk flora, gemeretakkan

semua rantingmu, desir—desirkan semua daunmu,

tumbang-tumbangkan badanmu jika waktunya menemui tanah

dengan berdebam.

Dan sudikah kiranya wahai sekalian penggerak kaki,

perut dan sayap, melakukan hal yang sama, jeritan

gembira pacet, jangkrik yang terbakar biji lombok

mulutnya, ayo berteriaklah, gubahlah senandung statis

yang lain!

Kenalkan akan penggalan ini seutuhnya, ingat! Hanya

penggalan, masih tegakah seru sekalian tak membawa

tubuh takjub takut ini berkeliling ke setiap sudut,

memamerkan kemampuan terbaikmu, jangan terlewat

seroncepun debu di atas pucuk-pucuk cemara yang enggan

turun sebelum musim meneriakkan air dan luruh terseret

melakoni episode mendangkalkan sungai, parit, danau,

dan gudang garam.

Tuliskan, lekatkan semua pada mata, rekamkan bunyimu

pada telinga, hembus kulit dengan ajaran akan sentuhan

isi-isi bumi hijau.

Dan juga pinus itu, adakah dia mengenalkan diri dengan

cara lain selain warna dan ketinggian dirajanya?

Tentu keanggunan semampai bukan pelengkap sapuan mata

dalam persepsi ramah, tapi adakah dia menoleh dengan

lentukan yang lain? Terjungkal rebah tanpa ratapan

kayu-kayu kering berbentuk segitiga hasil

percumbuannya dengan matari yang gagal.

Lurus dia mengacung pada elang gunung, menyapa lembut

bahwa si sayap belum sampai dirumahnya yang berbentuk

karang dengan beberapa lubang untuk putranya yang

gemar makan ikan gurami.

Terpujalah daun, terpujalah daun atas segala beban dan

kuasanya!

Beratus beruk takut mandi meneduhkan bulu mereka

terhadap lelehan air di tanah.

Menggantungkan suhu tubuh pada ranting dan dahan

Bercuap melengking menggemakan dinding-dinding hutan

yang berupa padang aneka ukuran dengan permadani

rumput tanpa benang. Ada beberapa lubang baru di situ.

Si beruk tak pernah sadar, ingatlah volume otaknya

sebesar cangkir, telah dia ciptakan kebergidikan murni

pada mamalia pintar dalam usahanya mencoba menaklukkan

kerimbunan dengan apa yang telah dibuatnya zaman lepas

zaman, disangkanya hantu hutan mencari kepala

Pengecut yang bodoh, tak ada kebanggaan atas

penaklukan dengan korek api dan motor.

Hanya mereka yang menghadiratkan darah ribuan tahun

lamanya, melangkah meremukkan duri yang berserakan

ibarat misis di atas roti tawar.

Kabut air memendarkan gurat lelah pada mereka yang

menabrak lajunya menjumpai tanah.

Tertulis selalu, selalu begini, tak ada kosong pikiran

melukisnya dengan garis. Tak pernah sama para pemuja

hijau menceritakan pada lembaran-lembaran yang asalnya

dari mahoni tua hutan dan gunung ini juga.

Penyetubuh akan teruskan sampai hayat, sampai hayat

melepas soneta, sajak, prosa cerah pada cekungan

tanah. Biarlah selalu begitu.

Suatu saat nanti akan terbawa kesini seorang anak

kecil kembali

Mendongakkan kepala, menghisap sedalam-dalamnya

beliung mungil yang menyusup-nyusup di sela-sela

lembah dengan cara yang berbeda.

Diceritakannya dengan batu yang lain, dibisikkannya

dengan desah yang ganjil

Ada kalanya ngarai menghentikan denyutnya, beku,

pingsan, tak mengenal derak geser bumi dan bulan,

berat-berat udara yang tak berimbang, naik turun

melabrakkan tenaga perobohan.

Ada kalanya dia menghentikan denyutnya.

Tapi seiring dengan puncak koda melodi sang nuri, sang

curam mengaum dahsyat, melaburkan air mendekap udara,

membasuh muka kelopak-kelopak bunga yang pucat

terjajah lumut tebing

Gelagapan, tersedak, namun segera sadar bertepuk

dengan dengan gencar menghadiratkan hujan yang

selanjutnya, hujan yang tak begitu lama.

Lalu banjir turun dengan gaya kupu-kupu pada

sungai-sungai, yang selalu setia menjaga

kedangkalannya agar mereka yang bergantung tak perlu

takut tenggelam, menabrak-nabrak batu hitam, ditemukan

tersangkut bak cucian gadis belia dengan payudara

malu-malu.

Dorong-mendorong, enggan berangkat turun lebih awal,

masih terkenang-kenang betapa nikmat dihisap putingnya

oleh pohon karet, ditarik-tarik ke atas tubuhnya yang

jangkung

Seberapa kuatkah semua jaring-jaring ini terpilin,

terhubung, dan tergantung?

Mungkin sebelum salah satu dihabisi generasinya oleh

tambang dan besi pipih bergigi

Tak perlu teratur, tak mungkin terstruktur, lebih

banyak kejadian magis yang menarik karenanya, karena

waktu hanya ditentukan oleh lagu cacat ayam hutan

Bergolak di kedamaian pagi, menyayat lemah pada saat

tertutupnya mata hari.

Musnah ditindas hitam, membentuk gerumbul yang sama

kelam, perbedaanmu hanya ditandai oleh jalan berkelok,

menukik, mengerang menghadap langit, pada bulan yang

dirusak mukanya oleh air padat atas kejatuhannya dalam

‘dosa’ yang kesekian kalinya.

Mereka terlalu bosan untuk tahu apa yang terjadi esok

hari, tak pernah semut berdebar membayangkan menemui

lautan pasir dengan angin api saat pertama kali

kepalanya menyembul dari kedalaman bumi.

Mengangguk alam, mengecupkan sepenuh-penuhnya

pengertian seperti yang dilukiskan dari kadaluarsanya

jenggot mereka, bahwa tak hanya berdebamnya tumbuhan

roboh, kelimisnya batang-batang, sesaknya paru-paru

menyedot oksigen buntung, yang dibalas oleh anaknya

yang paling maju, anak yang dibimbingnya dengan

keadaan untuk berdiri secara ajaib, berpindah, dan

mencipta piranti-piranti pembantu hidupnya.

Sang penjelajah turut menyumbangkan debar gemeletar,

keringat curahan atap, kecemasan yang manis pada

jantung pisang. Apakah daku yang semampai besok tak

ditebang oleh besi olahan?

Manusia, dari awalnya, selalu mendua, dan seterusnya.