Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

bagaimana marah yang baik?

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/24/2004

dengan berangkat saja, aku sudah membuat kesalahan. sebentar, ya, ya, ya, tentu aku belajar banyak. tapi, aku akan marah saja sekarang. lain waktu aku akan membahas hikmah. sekarang waktunya marah-marah.

bagaimana marah yang baik? mungkin dengan menulis di sini. sebenarnya cara ini kurang memuaskan. dalam bayanganku, aku ingin menarik kepala seseorang dan meninjunya puluhan kali. kemarahan badan selalu menarik. sayang, tak ada ikhlas tanpa balas. lalu, murka ini semakin padat. ada batu kilangan di kakiku dan kapas di pipa jantung. berat dan tersumbat.

menarik nafas dalam-dalam hanya membuat perutku kembung. dan aku semakin marah. sampai sekarang. sebentar…. sebentar….. tampaknya aku menemukan korban.

aku mempercayaiku

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/23/2004

aku mempercayaiku, aku senantiasa bersamaku, sepanjang waktu, sebelum subuh, sebelum lohor, sebelum asar, sebelum maghrib, sebelum isya’, hanya aku. tak pernah aku mencemburui aku. tak pernah aku menikam aku. tak pernah aku melawan aku. ketika kawan-kawan baik menutup mata, tinggal aku bersama aku. kawan baikku cuma aku.

juga musuhku.

tiap jum’at siang

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/20/2004

tiap jum’at siang, sebuah bangku panjang, persegi panjang siam. duduk dan membentuk asap. layar raksasa dan musik keras. peluit juru parkir dan derap pejalan. urgh, tiba-tiba merasa seperti turis, jutawan muda, atau apa saja yang tinggi. perhatikan licin kemeja, tengger kacamata, celana hitam baru. terpesona. kenapa begitu indah?

namun kotak atm dibelakang selalu mengingatkan. berdiri dan minggir pelan-pelan.

bernafas selalu disiksa ingatan.

aku ingin melompat

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/18/2004

jika kaki kuayun kembali keluar, itu tanda harapan tak bertemu labuh. bayangkan, dalam satu hari, semangat dan serah berganti lebih dari empat ratus kali. di saat tanya, kita merasa perlu tubuh lain. namun, serentak hanyut jadi tawar, tepat sesudah kau sadar, bahwa tiga tetangga memusuhimu. tak ada harapan, selain seorang. jika doa itu sungguh perintah, aku ingin menemukan dua tangan: ya, siapapun, jadikan semua manusia, dan binatang, tentu, kawanku.

jika dewasa itu hanya berarti kesadaran bahwa di depan ada laut, aku ingin melompat dari wisuda ke pensiun. bila dan jika, bila dan jika, bila dan jika, apakah ada yang lain? mmmh. hanya bila dan jika kupegang, sampai datang masa, sajak hidup lebih dari laporan dan catatan-catatan tekuk jalan.

ini sebelum kelas

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/16/2004

ini sebelum kelas. bangun sudah hati lemas. berapa bulan lagi? kucoba dua bulan lalu. natal dengan puluhan kartu isi ulang. natal cemas. kuperhatikan, kubiasakan, tak ada yang lepas.

lalu dia semakin mendekat, mendekat, dan mendekat. belum lekat. menarik. siapa? jika masanya tiba, beli web camera, kita tipu leo sawyer mentah-mentah.

seminggu

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/12/2004

lama tak kukunjungi

pakabar hai

percik-percik api?

kutemukan dua hari lalu

mainan baru

jadi…

ah, tak

sampai begitu.

cemburu?

cerita seminggu

mulai dari penolakan

kertas-kertas

di sebuah

pantai gugus barat

aku malu

bisakah kau

bayangkan pikiran

pelanduk

ketika burung hantu

menerima sampah

kerbau

dan menolak

sesajinya

jancok tiga kali!