Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

dokumen-dokumen

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 07/21/2004

dokumen-dokumen membuat pikiran seperti kotak pensil. di sini tempat serut, di sebelahnya penghapus, di pinggirnya jangka, di sana pulpen, di sampingnya stabilo, dan seterusnya. dua minggu sudah dokumen-dokumen menahanku pada sebuah layar. dan aku tak tega meninggalkannya. dokumen-dokumen seperti tahu bahwa aku tak pernah rela sebuah titik berada di rumah koma.

dokumen-dokumen mencederai kegiatan-kegiatan bermanfaat. seperti pergi ke warnet dan menaruh penat. dokumen-dokumen seperti barisan tentara berdiri. dokumen-dokumen membuat kata-kata tak bisa berlari. dokumen-dokumen seperti mentari di arab saudi. 

dokumen-dokumen di pojok apartemen…. ah, kawanku. dokumen-dokumen membuatku benci padamu. dokumen-dokumen  sudah mengunyah cerita-ceritaku. dokumen-dokumen sudah mencuri energi panjangku. dan yang bisa kutulis kini bukanlah cerita yang tahan lama, namun sekedar dokumen-dokumen yang selalu berhenti. dokumen-dokumen selalu menuntut penyelesaian. dokumen-dokumen menganggap hidup hanya bermuka dua. dokumen-dokumen membodohkan.

dan sekarang kutantang dokumen-dokumen untuk laga. aku mencoba tahan lama. aku harus maju dan maju dan maju dan maju. jauh melampaui panjang dokumen-dokumenku.  dokumen-dokumen harus membunuh dirinya. dokumen-dokumen harus lucu dan menghibur. dokumen-dokumen harus menyayang tawa. dokumen-dokumen harus membuat panjang umur. dokumen-dokumen tak boleh mengenal deadline.  dokumen-dokumen harus menyatakan kutukan.  

tapi ini pun harus didokumentasikan.

malam ini rela

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 07/21/2004

malam ini terlalu sejuk untuk marah. tiga pasang jenis bising menarik kerah baju dan meludahi mukaku. aku tak tertarik berkelahi malam ini. malam ini terlalu sejuk untuk marah.

malam ini adalah buku gambar kecil bersampul abu-abu gelap. membuka sendiri. melukis pemandangan alam. dua gunung berjajar. jalan raya yang membelah dua sawah. dua gubuk di tengah sawah. tiang listrik yang berjajar di pinggir jalan. dua kapal terbang di angkasa. dua nyiur berpelukan yang tiba-tiba ada di lembah. sungai yang berkelok-kelok tak wajar. semuanya memikat. semuanya tak rikat.

malam ini adalah buku gambar kecil bersampul abu-abu suram. melipat diri sendiri. melukis gambar pahlawan perang padri. mulai dari leher bergerak ke sorban. membuat dahi dan mencoret alis. terpukau pada dua mata, tertatih-tatih pada hidung, dan mati ketika membuat mulut. semuanya mengkilat. semuanya pualam. aku tak pernah punya keinginan memberi tanda tangan.

malam ini terlalu rela untuk marah. malam ini adalah kotak-kotak yang konkrit. memegang telinga. namun aku terlalu rela.