Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

ada hal yang perlu diabaikan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/30/2004

ada beberapa hal dalam hidup ini yang perlu diabaikan. jika diurus, semakin runyam. masalah itu akan membunuh dirinya sendiri. seiring waktu. semakin hilang sakitnya setiap kali kau bangun pagi. pernahkah kau merasa bahwa masalah yang kau anggap hidup-mati, ternyata sama sekali tak berarti ketika kau bangun esok hari? aku yakin kau pernah mengalaminya satu atau dua kali.

kesimpulan sementara: setiap menghadapi masalah yang ‘besar’, paksakan dirimu untuk tidur barang sebentar. jika masalah itu memang ternyata tetap besar, paling tidak tidur membuatmu berfikir lebih jernih.

masalahnya, untuk tidur ketika masalah besar berkoar-koar di depan kita bukanlah masalah sepele. aku tak tahu cara yang paling jitu untuk itu. aku sendiri selalu terbantu dengan beberapa kaleng bir. aku tak tahu apa itu berlaku untukmu.

in english

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/27/2004

i am extremely grateful to those who pay attention to my writings; eventhough they don’t understand what I write. i am not sure if they still do the same if they understand bahasa indonesia and find that my writing is awful 🙂 but, again, i sincerely thank them all.

i always want to write a good poem, a good short story, a good novel, and even a good journal in english. i try and try. i took a creative writing class offered in my program. i succeeded, as far as quality is not concerned :). i am still struggling with my english, especially the informal one. my literary texts sound so formal and unnatural….sound like a thesis (by the way, i submitted my thesis two weeks ago. yeah!)

so, for the meantime, i decide to write my literary texts in bahasa indonesia and write my academic ones in english. but i keep on trying. so, people, wish me luck.

seperti kurva

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/26/2004

semua hal yang dulu kuanggap basi terus-menerus tergenapi. misalnya, “hidup seperti kurva.” naik-turun dan turun-naik. basi. tapi, aku sudah mengalami tiga juta kasus yang menyatakan diktum ini. tak ada yang memalukan dan klise dari ini. semuanya pahit. sangit.

dan aku tak lagi tertawa saat mendengar: “hormati orang tuamu.” tak ada lagi yang lucu tentang itu. ini masalah hidup dan mati.

dan aku tak lagi tertawa saat mendengar: “yang sembuh harus mengalah terhadap yang sakit.” ini bukan mengasihani diri sendiri atau menghibur diri atas kekalahan-kekalahan yang terus mendera. ini aktual benar.

aku tak tahu masih berapa lagi yang akan tergenapi. aku yakin masih banyak. tapi aku juga tak akan menutupi jika nanti ada diktum yang terbukti basi bagi diriku dan perjalananku. aku mencoba tak menutup diri.

meledak juga

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/24/2004

pistol itu meledak juga, akhirnya. akhirnya. aku bingung bagaimana menggambarkan perasaanku sekarang. antara antara dan antara. terus terang, aku terganggu. aku malu untuk mengakui ini. namun kadang-kadang kejujuran membawa kita ke suatu titik baru.

aku pikir aku sudah terlalu lama menganggur. terlalu banyak refleksi. terlalu banyak berfikir. terlalu banyak pikiran. tapi kurang bekerja. dalam kesibukan yang luar biasa, kesedihan dan kegembiraan mungkin bisa diluruhkan.

untuk tahan sedih dan tahan gangguan hanya ada satu jalan: jadi robot!

tunggu

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/06/2004

sudah banyak yang kubayangkan di masa-masa menjelang pulang seperti ini. salah satunya adalah mencari dan memakai kembali baju merah yang sempat kutanggalkan dan kutinggalkan di rumah. aku berharap dengan begitu nyaliku kembali lagi. hidup di sini memberiku pelajaran yang luar biasa untuk menyusun dan menjalankan strategi dan taktik yang matang. namun aku seperti kehilangan nyaliku. semakin berfikir, semakin tak bernyali.

aku selalu rindu dengan masa-masa s-1 dulu. aku tak punya banyak tanggung jawab. aku tak menciptakan banyak kebohongan. aku tak terlalu berfikir tentang resiko. aku tak takut dengan ancaman sebab aku merasa punya sedikit lubang. semua urusan denganku hanya menyangkut diriku. sekarang? aku harus berfikir tentang keselamatan bapak, ibu, kakak, calon mertua, pacar dan seterusnya sebelum melangkah. aku harus menaksir apakah musuhku tahu tentang kebohongan-kebohonganku. apakah mereka berpotensi untuk menggunakannya untuk menghancurkanku? menghancurkan orang tuaku, hubungan pribadiku, pekerjaanku dan seterusnya?

aku pengecut dan pembohong. kenyataan itu tak pernah kutolak sama sekali. dan aku tak pernah membenci diriku untuk itu. klise, terlalu sering kudengar pernyataan semacam itu.

aku jelas ingin membakar lagi. aku berharap bisa memadukan apa yang kupelajari di sini dengan api remaja. apakah keduanya bisa dipadukan? aku yakin bisa. namun banyak hal yang harus aku selesaikan dulu sebelum memulai perpaduan tersebut. aku harus menutup rekening kebohongan-kebohonganku yang aku sendiri sudah tak ingat alurnya. satu kebohongan ditutup oleh kebohongan lain. berserakan di mana-mana. ini harus diselesaikan. harus.

dan ini membawaku kepada pekerjaan yang lebih besar; menutup rekening dengan membuat rekening baru. rekening yang baru ini menuntut persatuan sampai mati. apakah aku akan mengisinya dengan kebohongan-kebohongan lagi?

satu-persatu

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/05/2004

satu-persatu hal-hal di sekitarku pergi. mulai tanggal 1 oktober kemarin, tepat pada hari pancasila sakti, kulkas, rice cooker, dan kipas anginku pergi untuk selamanya. seorang pejabat mengambilnya.

beberapa hari sebelumnya dua kawan yang tak begitu dekat juga kembali ke negeranya. aku selalu menemukan sentimentalisme yang hangat dalam setiap kepergian orang-orang yang tak begitu dekat denganku. kenapa? karena kami tak begitu dekat. tak ada jaminan bahwa kami bisa bertemu lagi. untuk membikin semacam sumpah setia dan janji untuk bertemu kembai rasanya tak pantas. lha wong nggak dekat, kok? khan, lucu? lain halnya jika kami dekat. kami pasti merasa pantas dan mungkin wajib berjanji untuk bertemu kembali di hari depan. merasa pantas dan wajib menelepon satu sama lain.

hal yang sama terjadi dengan barang-barang yang kusebut di depan. sedih sekali pagi itu melihat dua petugas mengangkat mereka ke van dan pergi. aku tahu pasti kami tak akan bertemu kembali. lagi-lagi karena kami tak begitu dekat. kipas anginku, misalnya, tak pernah kupakai lagi sejak aku mendapat kerja dan mampu membayar ac. rice cooker hampir-hampir tak pernah kutengok lagi semenjak kekasihku datang. dialah yang memasak nasi untukku (terima kasih). kulkas yang mungkin paling dekat dengaku di antara ketiga barang tersebut. aku penggemar air es. tapi hubungan kami tapi jauh dari intim.

andai saja barang-barang itu dekat denganku, pasti aku akan mati-matian mempertahankannya. bila perlu, aku akan membelinya. ya, barang-barang itu pinjaman dari universitas di mana aku masih belajar sekarang, yang harus kukembalikan sebelum aku balik. namun aku tak melakukannya. rasanya tak pantas bertengkar atau menawar untuk mereka.

mungkin secara sengaja aku membikin mereka jauh denganku. seperti menabur benih sentimentalisme yang bisa kupanen pada waktunya. manusia lembek sepertiku tak mungkin bisa bertahan tanpa sentimentalisme. murahan atau mahal. sejati atau palsu.

mungkin juga ini cara menipu hatiku agar tak sedih dengan kepergian mereka-mereka yang lebih dekat. ah, kenapa aku mengatakannya? emm, hati, lupakan apa yang baru kukatakan. okay?