Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Percobaan-Percobaan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/18/2005

Di sebuah negeri yang kerap berkabung, hiduplah seorang laki-laki yang sangat cerewet. Seperti umumnya orang semacam ini bukanlah pendengar yang baik. Sudah banyak masalah yang dia harus hadapi karena sifatnya tersebut. Banyak kawan menjauhinya karena dia selalu menyela kata-kata mereka. Beberapa di antara mereka bahkan menyakitinya. Ada yang membuatnya sakit hati dengan menyebutnya bermulut perempuan. Ada yang membuatnya sakit gigi dengan menonjoknya di pipi kiri dan kanan.

Laki-laki cerewet itu bukannya tak pernah ingin berubah. Suatu malam di masa kelas dua SMA dia bermimpi menjadi seseorang seperti Steven Seagal, jagoan yang pendiam, dingin, berbahaya, dan disegani. Keesokan harinya dia tiba-tiba menjadi sependiam pencuri di sekolah. Perubahan drastis itu justru menimbulkan persoalan dengan kawan-kawannya. Mereka merasa risih dan menuduhnya mencari perhatian.

Laki-laki remaja ini tentu merasa sedih dan kecewa. Dia telah mengorbankan banyak hal untuk percobaan ini. Setiap hari ia selalu merasa letih, mengantuk, dan mudah lapar. Ia juga kerap merasa tak berdaya. Pernah dia menangis berlama-lama dalam WC sekolah yang terkenal angker baunya, gara-gara tak bisa membetulkan salah seorang kawannya yang salah menyebutkan nama gitaris band rock populer masa itu.

Dia sempat berfikir untuk menjadi cerewet lagi, namun tak tahu bagaimana. Alasan apapun akan terdengar lucu bagi kawan-kawannya, yang pernah menyaksikannya mengomentari kapur tulis selama tiga jam penuh dalam keadaan sakit gigi akut. Untuk kembali cerewet tanpa alasan hanya akan membenarkan tuduhan mereka bahwa dia hanya memburu sensasi sesaat. Pada akhirnya si laki-laki muda menyerah dan meneruskan percobaannya dengan harapan mendapatkan ide dan peluang secepatnya.

Tak hanya di sekolah saja, si laki-laki cerewet juga mulai berubah diam di lingkungan rumahnya. Kebanyakan kawan sekolahnya adalah tetangganya sendiri. Dia tak ingin mereka menyebarkan kabar bahwa dia pembohong besar atau berkepribadian ganda. Untuk menghindari pertanyaan orang tuanya, dia terus menerus membaca setiap berada di dalam rumah. Saat orang tua kawan-kawan sekolahnya mengadukan perubahan sifatnya, orang tuanya menjawab dengan bangga:

“Dia baik-baik saja, kok. Pendiam? Memang nggak ngomong sebanyak dulu. Belajar terus, sih. Tapi itu baik, khan? Sudah berfikir dewasa barangkali.”

Tak lama kemudian dia bukan saja dianggap cari perhatian tapi juga sok rajin. Pada akhirnya, si laki-laki muda tak mempunyai seorangpun kawan. Setiap waktu istirahat dia selalu memilih menyendiri di belakang aula ketimbang bergabung dengan kawan-kawannya di kantin. Setiap pulang sekolah dia juga memilih pergi ke toko buku di depan halte bis untuk mencari bacaan-bacaan baginya yang cepat habis ketimbang mangkal bersama kawan-kawannya di bengkel langganan mereka.

Setelah satu tahun lamanya, kawan-kawannya sudah cukup terbiasa dengan sifatnya. Jumlah yang menuduhnya mencari sensasi juga berkurang banyak. Seiring dengan itu, nilai-nilainya di sekolah terus merangkak naik. Jumlah yang menuduhnya sok rajin menyusut banyak. Tak ada lagi yang menyebutnya penjilat pantat semenjak dia menolak menghafalkan undang-undang negaranya di depan kelas meski sang guru mengancamnya dengan pengurangan nilai sampai separuh. Namun dia tetap sebisu pencuri. Semakin lama semakin dia merasa kehilangan alasan untuk kembali berkata-kata.

Saat kelulusan tiba, dia mendaftar di sebuah universitas di seberang pulau. Tanpa kesulitan yang berarti, dia diterima di universitas tersebut. Hal pertama yang dilakukannya saat masuk kuliah adalah mencari letak stasiun radio kampus. Di sana dia melamar menjadi anggota tim penyiar. Pengurus radio yang ragu menyuruhnya untuk menunjukkan kemampuannya secara langsung. Dan semenjak siaran percobaannya yang luar biasa bising, dia tak pernah mau berhenti bicara. Apapun resikonya.

Dia menjadi begitu populer di kampus itu. Pandai berbicara sekaligus berpengetahuan luas. Tak hanya kawan-kawan sesama mahasiswanya yang mengaguminya. Semua dosen juga mengakui kemampuannya. Saat dia berhasil meraih gelar kesarjanaannya, dia langsung mendapat tawaran dari kampusnya untuk menjadi pengajar dan langsung meneruskan studi lanjut ke sebuah negeri asing.

11. 25

“Jika memaksa berangkat, kita akan tiba di pantai itu pada saat matahari menenggelamkan apinya. Itu tentu menyenangkan. Namun kita harus bermalam. Aku tak punya waktu sebanyak itu. Masih banyak hal yang harus kuselesaikan … seperti mengemasi dokumen-dokumen dan membeli barang-barang. Dan haruskah kau kecewa dengan toko buku?

12.03

“Jemputlah aku di tempat biasa”, pesanku 1 menit yang lalu sambil mengunci pintu apartemen. Ketika aku sampai di bawah, dirimu sudah celingak-celinguk di dalam sebuah taksi biru. Seperti biasa kau menyapaku dengan membuka tas tenteng yang kau pangku, mengambil sebuah tas plastik putih dari dalamnya, dan mengeluarkan setumpuk sandwich dan satu kotak kopi dingin.

“Okay, sekarang aku jelaskan kembali apa yang tak kau dengar lewat telepon tadi. Tadi malam aku bergadang di pasar basah. Minum sekaleng bir dan satu liter coca cola. Baru pulang pukul empat. Tak bisa tidur sampai pagi … Apakah kau membawa aspirin dan air mineral?”

13.12

Ini sopir taksi kesekian yang kau bikin melirik ke belakang. Dan ini kesekian kalinya aku malu dengan sentimentalismemu. Memelukku, mencium bahuku, menyandarkan kepala di dadaku, memilin-milin rambutku, dan seterusnya. “Kenapa kita tak bercakap-cakap saja?”

13.15

Entah karena apa, mal ini membenci orang-orang yang masuk dengan membawa tas-tas besar. Apalagi tas ransel. Namun, tak kalah anehnya, mal ini mempunyai beberapa penjaga pintu yang mendapat bonus setiap akhir bulan jika tak lalai untuk tersenyum kepada orang-orang yang keluar dengan tas-tas besar. Apalagi tas plastik.

Mal aneh. Bagaimana menurutmu? “Hei, di mana kamu? Kenapa kau selalu lambat seperti siput?”

13.23

Toko buku di lantai 5 mal ini sangatlah lengkap. Paling tidak yang terlengkap di kota ini. “Ada dua buku yang kucari. Sebuah memoar penulis besar dan sebuah petunjuk cara mencegah bonsai mekar. Bantu aku mencari yang kedua. Mau? Ya atau tidak? Mau tukar? Jangan diam saja! Baik, baik, maaf, lupakanlah, ayolah, jangan merajuk seperti itu.”

14.50

Sudah empat tumpuk buku kudekap. Tak satupun berisi memoar. Buku yang pertama adalah kiat jitu dalam berinvestasi saham. Yang kedua tentang brigade SS Nazi. Yang ketiga adalah seni berperang ala Sun-Tzu. Yang terakhir adalah gaya berpakaian muda-mudi Paris di tahun 60-an. Keadaan tak jauh berbeda tampaknya. “Apa ini?… Jane Eyre, Kumpulan Soneta Italia, Anna dan Sang Raja … Marquiz de Sade?!”

15. 15

Segelas kopi dan sebungkus rokok akan membantu.

***

Di sebuah negeri asing, hiduplah seorang perempuan yang luar biasa pendiam. Pada waktu keluar dari rahim ibunya, dia tak mengeluarkan sedikitpun suara. Dokter muda yang membantu kelahirannya harus menusukkan jarum tiga kali pada pantatnya untuk membuatnya merengek. Saat berumur dua tahun, dia belum mampu berbicara. Orang tuanya sempat menganggapnya bisu.

Namun pada saat berumur dua tahun setengah dia tiba-tiba berkata-kata, meski itu tak pernah lebih dari satu-dua kata. Orang tuanya lalu membeli sebuah radio transistor kecil dan mewajibkan si gadis kecil untuk membawanya kemana-mana. Mereka berharap dia bisa belajar banyak kata-kata baru darinya. Harapan itu tak sepenuhnya gagal. Si gadis mengetahui banyak kata, namun tetap enggan membuka mulutnya.

Sifat pendiam bukanlah sifat yang mudah ditemui di negerinya yang hangat. Sejak kecil, ia sudah diperlakukan seperti benda bertuah. Kedua orang tuanya berulang kali mengundang pendeta-pendeta untuk memimpin kebaktian di rumahnya untuk mengusir penguasa-penguasa langit yang menyelimuti anak perempuannya dengan ‘kesusahan hati’. Tak ada yang berubah selain kekayaan orang tuanya yang kian menyusut akibat biaya-biaya kebaktian yang tak kecil.

Pada saat si gadis berusia tujuh tahun, orang tuanya mengirimkannya ke sekolah dasar. Mereka sempat bersitegang dengan kepala sekolah yang menyarankan mereka untuk memasukknya ke sekolah anak-anak idiot. Mereka menantang kepala sekolah untuk menguji anak mereka dengan soal-soal penambahan, pengurangan, dan menulis. Si gadis sanggup menyelesaikan semua ujian yang diberikan kepala sekolah dengan sempurna.

Si gadis sempat mengalami kesulitan besar di masa kelas satu dan dua. Pasalnya dia harus membaca keras-keras di kelas. Gilirannya selalu ditunggu-tunggu. Tak jarang seluruh kelas bertepuk tangan ketika si gadis berhasil menyelesaikan bacaannya. Selepas kelas satu dan dua, penderitan gadis itu berkurang jauh. Hanya dua pelajaran yang terus mengganggunya, yaitu bahasa dan agama; dia harus melafalkan berbagai puisi-puisi dan doa-doa. Uniknya, si gadis itu mendapatkan nilai-nilai yang cukup bagus dalam pelajaran-pelajaran tersebut, terutama bahasa. Dia pandai menulis prosa, yang, uniknya, mengalir dan cenderung panjang.

Ketika penjurusan di sekolah lanjutan tingkat atas tiba, dia terlempar ke dalam kelas bahasa. Kelas tersebut dijejali oleh perempuan-perempuan yang bermimpi menjadi penyiar televisi, artis, humas, guru bahasa asing, dan pramugari. Jika penduduk negeri itu bisa disebut sebagai rakyat bising, penghuni kelas tersebut layak dinobatkan sebagai pakar-pakar kebisingan. Si gadis tak mempunyai masalah dengan itu. Semenjak kecil, dia terbiasa mendengarkan, bahkan menikmatinya. Semakin banyak yang bisa didengarkan, semakin senang dia.

Sayangnya, pada saat yang sama si gadis mulai merasakan ketertarikan terhadap pria. Dia sering cemburu dengan kawan-kawannya yang begitu mudah mendapat pasangan lewat tutur kata mereka yang lancar dan memikat. Sampai pada suatu pagi salah seorang gadis yang paling centil di kelas datang terlambat. Setelah marah-marah sebentar, si guru mengizinkan si centil masuk. Dengan terburu-buru si centil berjalan menuju bangkunya, duduk, dan membuka bukunya. Si guru tengah bersiap-siap untuk melanjutkan pelajaran kembali saat si centil menjerit histeris seperti hantu perempuan!

Si guru tak berhasil mengorek keterangan dari si centil yang pucat pasi. Tak ingin membuang lebih lama waktu, beliau meneruskan pelajarannya setelah menyuruh si centil pergi ke unit kesehatan sekolah. Lewat bisik-bisik selama pelajaran berlangsung seluruh murid mulai mempelajari apa yang sesungguhnya telah terjadi. Konon, pada saat si centil siap dengan bukunya, tiga tepukan mendarat di punggungnya. Terkejut nian si centil ketika menemukan bahwa tepukan itu berasal dari si gadis pendiam yang duduk di belakangnya. Hampir pingsan ia saat si gadis pendiam tiba-tiba menjelek-jelekkan si guru dan memuji keberaniannya dengan cerewet.

Ketika pelajaran selesai, si gadis pendiam bangkit berdiri dan menyapa beberapa kawannya dengan gaya akrab. Namun tak satupun menjawabnya. Sebagian dari mereka bahkan cepat-cepat menjauh. Dia mencoba bertanya kepada yang lain. Sama saja. Dia berpindah dari satu teman ke teman lainnya, seperti orang kesetanan. Semua menjadi semakin ketakutan. Mereka yang berada dalam radius dua meter dari bangkunya bermigrasi ke bangku yang lain.

Keesokan harinya, si gadis menjadi pendiam kembali, bahkan lebih diam dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia masih mengeluarkan dua-tiga kata, sekarang tidak sama sekali. Teman-temannya semakin yakin dengan dugaan mereka bahwa si gadis itu gila. Hanya orang gila yang bisa berubah secepat itu, dari diam, ramai, dan diam lagi. Berita itu begitu cepat menyebar ke penjuru negeri.

15. 45

Aku tak tahu apa ada kedai kopi di jalan utama seperti ini. Kenapa tak pergi ke kedai kopi langgananmu, tempat di mana aku biasa menikmati kecerewetanmu? Sudah tiga kilometer kita berjalan. Tak kurang dari empat cafe telah kita temukan. Tapi … “Bukan seperti ini tempat minum kopi di negeriku!” Gerutumu. Lucu, kamu selalu marah-marah setiap menemui cafe berinterior kosmo, indoor, ber-AC, dan melarangmu merokok. Aku sebal sebenarnya. Kakiku sudah seberat balok. Tapi sebenarnya aku juga tak ingin kita berhenti di kafe-kafe tadi. Tanpa rokok, kerjamu hanya marah-marah.

16.10

Mungkin kamu sadar bahwa tak akan ada tempat minum kopi seperti yang kau inginkan di sepanjang jalan utama ini. Kamu harus berselingkuh dengan salah satu gang kecil yang terjepit gedung-gedung raksasa ini. Mungkin kamu tiba-tiba ingat di tempat macam apa kedai langgananmu berada.

16.13

Secangkir kopi hitam dan segelas teh susu. Rokokmu yang pertama. Untuk pertama kalinya dalam hari ini aku merasa lega. Aku membetulkan tempat dudukku; siap mendengar ocehanmu untuk terakhir kalinya. Namun kelegaan itu terbang saat kulihat kamu bersandar ke punggung kursi, mengeluarkan buku-buku yang baru kita beli, dan mulai sibuk membolak-baliknya.

16. 17

Sudah lima menit berlalu. Sudah batang kedua. Kini kamu bahkan tak bicara sama sekali. Aku sudah ingin menangis rasanya. Benar rupanya. Meninggalkanku bukanlah hal yang pelik bagimu. Bukankah aku hanyalah sekedar pilihan yang harus kamu pilih? Sebab hanya padaku kamu bisa berbicara sepuas hati? Sebab hanya aku yang bisa mengerti bahasamu di sini? Dan, beberapa jam lagi, kamu akan mempunyai berjuta-juta pilihan kembali?

16.22

Kamu bahkan tak peduli berapa banyak air tersisa dalam gelasku. Bangkit, membayar, memberiku isyarat, dan melangkah pergi. Sampai berapa lama kamu memperlakukanku seperti penderita cacar menular? Bibirmu selalu mengepungku, namun tubuhmu selalu menjauh. Aku harus berlari-lari kecil untuk menyusulmu. Andai saja aku mempunyai keberanian untuk membuatmu marah, aku akan berhenti. Aku akan merajuk. Tapi akankah kamu berpaling dan peduli?

16. 45

Aku sempat berfikir kamu akan segera menghentikan taksi sesampainya kita di jalan utama kembali. Dan cuma seperti itu perpisahan kita.

Kusibak tirai jendela. Dari tempat ini aku bisa melihat dengan jelas toko buku yang kita kunjungi tadi. Tiba-tiba tirai itu tertutup kembali. Kamu sudah di sampingku, tanpa aku tahu.

17. 15

Entah sudah berapa kata yang kuhamburkan. Mulutku seakan tak bisa lagi kukuasai. Aku berteriak. Aku mencericau. Aku mengeluh. Aku menyumpah. Aku memuji. Aku tertawa. Aku mencobanya kembali. Sedang kamu hanya membisu. Bibirmu mati di bawah rahangku. Apakah kamu juga sedang mencoba sesuatu?

Tahun Baru Cina, 2019 Masehi

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/15/2005

Aku Cina. Ya, ini penting. Tak perlu repot-repot mengatakan ini tak penting. Terima kasih. Tapi, bukan, bukan, hari ini bukanlah waktu untuk cerita sedih, protes, perlawanan, dan semacamnya. Hari ini waktunya cerita gembira dari orang Cina. Dan itu pasti cerita tentang diriku sendiri; sebab, mudah-mudahan tak benar, siapa lagi orang Cina yang lebih gembira dari aku dalam kurun 39 tahun terakhir? Tak percaya? Akte kelahiran? Om Jatman, kepala pengadilan, teman sekolah mamaku semasa SMP. Kena kompas? Kulitku jauh lebih legam dari orang Sunda. Perkosaan dan pembakaran? Terlalu jauh dari desaku.

Mungkin aku sering bingung. Itu saja. Bukannya sedih. Namun aku pikir bagaimanapun juga lebih baik bingung dibanding diperkosa atau dibakar di depan papa, mama, kakak, anak, adik, dan suami. Kebingunganku, kupikir, cuma hal kecil yang aku besar-besarkan.

***

Waktu kecil, hanya satu yang kuinginkan: jadi hitam dan kurus. Ini semacam paspor untuk bermain bersama kawan-kawan di desaku. Jadi legam bukan soal yang sulit bagiku. Mandi di kali dan berlari-lari di pematang tiap siang merubahku segelap mendung. Namun aku tak pernah jadi kurus. Bahkan sampai sekarang. Mungkin kegemukan adalah alasan kenapa aku tak pernah sama.

Peranku dalam segala macam permainan tak pernah beranjak dari level alak-alak undi. Peran penggembira. Berapa kalipun tanganku menyentuh bola, sepak bola tetap dilanjutkan. Ini sangat memalukan. Selain aku, hanya adik kawan-kawanku yang memaksa ikut dan menangis jika tak dizinkan yang memegang posisi ini.

Tapi aku pikir aku masih beruntung. Paling tidak, aku masih bisa bermain dan melewati masa kecil dengan cukup bahagia. Tak banyak pilihan tersedia. Keluargaku satu-satunya orang Cina di desaku. Tak ada itu persekutuan Atari atau Nintendo Cina kecil yang kerap muncul di perumahan-perumahan di kota. Apakah aku pernah membenci kawan-kawanku? Sempat. Namun begitu aku menghabiskan suatu liburan di rumah engku-ku di kota, aku tulus merindukan mereka.

Aku tak kerasan dan ingin cepat pulang. Tiga sepupuku tak pernah menyukaiku. “Anak desa”, kata mereka setiap kawan-kawannya bertanya siapa aku. Aku bukan lawan tanding nintendo yang baik, memang. Tak suka diam di dalam rumah. Tak suka bersendal, memang.

***

Puber adalah masa yang paling membingungkan bagiku. Aku mulai menyukai perempuan. Aku butuh perhatian. Namun apa yang bisa kujual? Otakku? Semenjak masuk SMP, nilaiku hancur semua. Gitar jauh memukauku dibanding buku. Setiap di sekolah, yang kupikirkan hanya pulang secepatnya dan bermain gitar di penitipan sepeda kawanku. Namun aku tak berhasil jadi gitaris yang mumpuni karena, seperti kawanku bilang, “Tak ada bakat”.

Potonganku juga tak layak jual. Aku selalu kesulitan menemukan bintang panutan. Untuk berdandan bak Ryan Hidayat, mata, garis wajah, dan tubuhku tak mengizinkan. Untuk meniru gaya rambut Andy Lau yang sangat populer masa itu, rambut keritingku selalu menghadang.

Oh, ya, soal rambut keriting ini perlu kuceritakan. Rambut keriting ini bukan bawaan dari lahir. Semenjak lahir sampai sekitar kelas 6 SD, rambutku lurus seperti penggaris. Ketika demam New Kids on the Block melanda Indonesia, semua anak laki-laki di kampungku meniru tatanan rambut si Jordan. Rambut disisir kebelakang dengan tepian yang lebih tipis dari bagian tengah. Ini masalah besar bagiku. Setiap kali rambutku kusisir ke belakang, bagian tengahnya selalu terbelah.

Solusi pertama: kuminyaki rambutku sebanyak-banyaknya dengan pomade milik papa saat berangkat sekolah. Namun ketika pomade itu mulai mengering, biasanya waktu istirahat, rambutku kembali terbelah. Tak lama kemudian kudapatkan resep dari seorang kawan. Katanya, “Olesi rambutmu dengan limau dua hari sekali dan keramas dengan sampo merang.”

Dan efeknya benar-benar dahsyat. Tak lebih dari tiga bulan rambutku berubah ikal. Bahkan keriting. Belum lama aku menikmati tatanan rambut ala Jordan, Andi Lau datang menyerang. Kini rambut harus dibelah di tengah-tengah. Rambutku sudah terlanjur keriting dan tak bisa dibelah.

***

Akhirnya hanya satu yang tersisa bagiku untuk menarik perhatian orang: jadi nakal. Tak perlu kujelaskan macam-macam kenakakalanku sebab ini bisa membuatku menangis sekarang. Taktik ini cukup berhasil. Orang-orang sangat tertarik melihat anak Cina nakal. Sayangnya, kenakalanku bukan hanya menarik perhatian perempuan, tapi juga guru, kepala sekolah, dan orang tuaku tersayang. Sudah tak terhitung nasihat, perintah, dan ancaman yang kuterima. Namun aku tak bergeming. Aku sendiri sering heran sekarang: kenapa aku bisa setolol itu?

Kenakalanku berhenti ketika kuliah. Namun itu bukan berarti kebingunganku berkurang. Orang tuaku, setelah melego beberapa petak tanah, mengirimku ke sebuah universitas swasta yang penuh orang Cina. Setelah 14 tahun belajar di sekolah negeri, aku mengapung di semesta baru. Tak ada lagi yang menghardikku, “Hei, Cina!” Tak ada lagi yang tertawa ketika aku menyebut cece saat aku bercerita tentang kakakku.

Aku justru merasa kehilangan sesuatu. Secara terselubung aku memproklamasikan diriku sebagai non-Cina dan bergaul dengan non-Cina-non-Cina lain yang jumlahnya tak banyak. Dengan melakukan itu, aku merasa banyak mahasiswa Cina yang takut dan mau mendengarku. Sedemikian takut mereka, ada yang mengangkatku menjadi semacam tukang pukul. Dan aku tak keberatan. Cukup dengan meninju beberapa muka mahasiswa Cina, aku mendapatkan macam-macam. Dan tak ada resiko, sebab tak ada yang berani membalas. Lapor ke polisi? Itu kemungkinan terakhir yang mereka pikirkan.

Mungkin aku kejam. Tapi, kapan lagi? Hanya yang kejam yang tak dikejami. Hanya yang memerintah yang tak diperintah. Mungkin aku salah. Namun aku bisa minta maaf sekarang kepada mereka yang pernah kutinju mukanya. Kenapa tidak?

***

Setelah lulus kuliah, aku mendapat kesempatan emas dari kampusku untuk belajar di luar negeri. Ini juga kupikir karena kebetulan. Kebetulan tak banyak yang melamar. Tak banyak dari kawan-kawanku yang mau jadi dosen. Kebanyakan memilih bekerja di perusahaan swasta atau mengambil alih usaha papa-mamanya. Aku sebenarnya sempat gamang juga. Dari kecil sampai besar tak ada bakat didengar. Tapi pilihanku tak banyak. Untuk masuk kantor aku harus pandai berhitung. Padahal nilai matematikaku jarang sekali mendekati angka 5. Meneruskan usaha orang tua? Perutku selalu mual setiap menyeduh jamu.

Aku pergi ke negeri yang tak jauh. Thailand, negeri yang konon penuh senyum. Universitas yang kudapat adalah sebuah universitas internasional yang disesaki oleh keturunan Cina di Thailand. Sekali lagi, aku malah membaurkan diriku dengan mahasiswa-mahasiswa non-Cina yang belajar di sebuah universitas negeri di dekat kampusku. Dan, jangan salah, mereka bukan bangsa Thai, yang jumlahnya mayoritas di penjuru Thailand, tapi bangsa Melayu, yang terjebak dalam kerajaan Thailand setelah kekalahan laskar kesultanan Pattani dari balatentara dinasti Rama sekitar satu abad yang lalu.

Hari-hariku bukan kulewati dari satu bar ke bar lain seperti yang dilakukan mahasiswa di kampusku, tapi dari satu kedai kopi ke kedai kopi lainnya bersama-sama mahasiswa Melayu itu. Mereka juga orang yang bingung. Sama denganku. Mau menyebut diri Melayu, orang Malaysia bilang mereka Thai. Hidup dalam wilayah Thailand, tak sekaya orang Malaysia, dan tak bisa bahasa Melayu standar. Padahal dalam setiap percakapan denganku, mereka kerap keluarkan empat-lima pantun untuk tunjukkan bahwa mereka berbudaya Melayu. Tiap hari juga putar lagu-lagu rock Malaysia.

Mau menyebut diri Thai, orang Thai bilang mereka Melayu. Agamanya Islam, hidupnya dibilang penuh aturan. Belum lagi tuduhan bahwa mereka rewel, tak higienis, dan kampungan. Padahal sudah banyak hal mereka lakukan. Tiap minggu rutin nonton Muay Thai (Thai Boxing) di Stadion Lumpini. Tak pernah melewatkan kesebelasan Thailand dan Paradorn bertanding di Rajamangala.

Tak heran beberapa dari mereka bercita-cita memerdekakan diri. Membangunkan kembali kesultanan Pattani dari kubur. Cuti kuliah, pulang, dan mengangkat senjata. Dua orang dari mereka tak pernah kembali ke Bangkok. Gugur di kebun karet entah oleh siapa. Aku sempat berfikiran konyol untuk mengikuti jejak mereka. Tapi buru-buru kubatalkan. Kemana aku akan pergi dan memulai gerilya? Dari Gunung Kawi? Apa yang akan kubangkitkan? Kekaisaran Ming?

***

Kebingunganku sejak kecil sampai sekarang memang tak lebih dari hal-hal kecil yang aku besar-besarkan. Aku sepatutnya bersyukur dengan apa yang sudah kudapat. Setelah menyelesaikan studi lanjutku, aku menyunting gadis berambut ikal, beralis yang tegas, berkulit sawo matang, berhidung rendah hati, dan bermata lebar. Pestanya sendiri bergaya Jawa Tengah-an, yang memaksaku memamerkan tubuh tambunku di hadapan 500 orang.

Banyak hal yang kupikirkan menjelang pernikahan kami, termasuk nama anak-anakku, dan bagaimana mereka harus dididik. Aku sudah membuat daftar nama-nama yang harus dihindari seperti Robert, Frans, Richard, Verawati, Yuliawati, dan Melani. Dan keturunanku harus sekolah negeri jika tidak ada halangan yang berarti. Kulit kuning dan mata sempit ini lama-lama terpugar. Kebangsaan keturunanku kian mantap.

***

Harus kuakui jarang sekali, jika bukan tidak ada sama sekali, kawan-kawan perempuanku di Universitas yang menunjukkan ketertarikannya padaku. Mungkin karena aku dipikir bukan bujang Cina atau tak menunjukkan ciri-ciri sebagai demikian. Aku sendiri juga kurang bersemangat untuk mencari. Pilihanku, mungkin karena pergaulan, lebih mengarah ke perempuan Jawa.

Tak ada cinta pada pandangan pertama dalam kisah kami. Mungkin penampilanku tak memadai untuk itu. Kami sama-sama satu sekolah di SMP. Aku sering melihatnya tapi tak ada kesempatan untuk berkenalan. Dia hanya satu kali melihatku; waktu aku ditunjuk sebagai komandan Upacara Bendera hari Senin. Kami satu kelas waktu kelas satu dan dua SMA. Namun kami mulai dekat ketika berpisah di kelas tiga. Dia mengambil kelas Bahasa dan aku kelas IPS.

Perpisahan membuatku menyadari bahwa aku baru saja melewatkan sesuatu yang indah. Aku mulai gencar mengirimkan sejuta tanda ke udara. Sayangnya, tanda-tanda yang kukirimkan ternyata menguap sebelum sempat terbang. Dan aku tak cermat. Dengan kepercayaan diri yang tinggi aku bertanya padanya di sebuah sore, di depan musholla belakang tempat kursus Bahasa Inggris, di bawah pohon mangga yang rendah.

“Selama ini, awakmu ngganggep aku apa (kamu menganggapku apa)?”

“….. Eh, apa koen pengen tak anggep masku dewe (apa kamu ingin kuanggap seperti kakakku sendiri)?”

***

Kisah kami penuh belukar. Kami sama-sama belajar. Mungkin tak terlalu sulit bagiku. Aku sudah lama berpura-pura. Untuk dia, ini tantangan baru. Suatu saat aku mengantarnya pulang sekolah dengan Tornadoku yang makin butut. Kami melewati rumah orang Cina yang terkaya di kotanya. Dua hari sebelumnya beberapa bagian rumah itu terbakar.

“Kenek apa (Kena apa)?” Tanyaku.

“Gak ruh, paling konslet (Tidak tahu, mungkin hubungan arus pendek).” Jawabnya.

“Parah, ta (kah)?”

“Iya… Gak pa-pa, wong Cina ae (Tak apa. Toh orang Cina)?!”

Esok harinya dia minta maaf di dekat musholla sekolah. Aku bingung sendiri. Ah, mungkin aku sudah kelewat mati rasa. Biasa.

Tahun baru Cina tahun sebelumnya kutenteng satu tas penuh kue ke rumah salah seorang sahabatku.

“Gawe ibukmu (Untuk ibumu).” Kataku.

Aku hormat sekali dengan ibu kawanku yang satu ini. Selalu ramah dan menghargaiku setiap aku berkunjung. Kawanku tampak senang sekali dengan pemberianku. Dibawanya tas itu ke dalam rumah sambil memanggil ibunya:

“Bu, jajan riyaya Cina teka (penganan Hari Raya Cina dari) _____!”

Ibunya keluar ke ruang tamu. Celingak-celinguk sebentar. Aku kebetulan masih di luar, di atas motor. Kudengar dia berujar ke anaknya:

“Buaken kana (Buang sana). Jajane wong Cina…gak ana babine, ta (Penganan orang Cina…apa nggak ada babinya)?… Oh, oh, eh, mas _____ , mlebet mriki (silakan masuk sini), mas.”

Biasa.

***

Belajar dari pengalaman-pengalamanku sejak kecil sampai besar, aku menyimpulkan bahwa untuk menjadi Cina yang gembira sangatlah mungkin. Caranya gampang: jadi robot. Cara jadi robot juga tak terlalu rumit: berlatih kebal sekaligus bebal. Cara jadi kebal dan bebal lumayan banyak. Bisa dengan terus menerus membohongi diri sendiri sampai kau lupa kalau kau berbohong; bohongi dirimu sendiri dengan meyakinkan sampai kau yakin bahwa kau tak berbohong.

Atau dengan mengerjakan sesuatu sepanjang hari. Setiap hari. Kerja, kerja dan kerja. Berhentilah kalau waktu tidur saja. Kenapa? Terlalu banyak waktu luang membikin orang berfikir macam-macam. Melihat kembali. Kalau sudah begini jadi gampang sedih. Tak percaya? Mungkin perlu aku katakan bahwa selama menulis cerita gembira ini aku telah berhenti dua puluh sembilan kali untuk menangis.

Menulis selalu membuat orang berfikir, teringat masa lalu, dan jadi sedih. Ah, sebenarnya tak persis seperti itu. Aku tak sedih. Tak percaya? Coba kembali ke atas dan baca lagi. Yang kuceritakan dari tadi cuma kebingungan-kebingunganku saja. Namun aku pikir bagaimanapun juga lebih baik bingung dibanding diperkosa atau dibakar di depan papa, mama, kakak, anak, adik, dan suami. Kebingunganku, kupikir, cuma hal kecil yang aku besar-besarkan..

***

Anakku menyebutku dingin. Aku tertawa lepas. Anak kecil, tahu apa? Dia memang periang, seperti ibunya. Semoga seperti itu seterusnya. Semoga dia tak menemukan apa yang aku temukan dalam perjalanan hidupku; bahwa dingin itu emas. Aku berharap bahwa zaman akan berubah, meskipun pada saat yang sama aku juga menyadari bahwa kenyataan seringkali berbicara lain dari harapan dan perencanaan. Seperti apa yang kuhadapi sekarang.

***

Jauh dari rencanaku, anakku sangat ‘Cina’, setidaknya jika dibandingkan dengan diriku. Matanya hanya seperti garis. Rambutnya cuma menyimpan sedikit gelombang. Wajahnya bundar seperti telur ceplok. Kulitnya emas. Teman-temannya adalah Rico, Jimmy, Roy dan Robby. Kerjanya sepulang sekolah bersepeda keliling perumahan, berhenti di rumah temannya, bermain computer game. Sore sedikit, les ini dan les itu. Malam tak boleh keluar oleh mamanya. Belajar atau paling tidak mengerjakan PR.

Sekitar 11 tahun yang lalu, aku pindah ke sebuah perumahan di dekat kampusku. Istriku lebih cepat beradaptasi dibanding aku di lingkungan kami yang baru. Semua tacik-tacik di perumahan mengenal dan dikenalnya. Anakku dididik seperti mereka mendidik anak-anaknya. Adatnya sudah seperti Cina fundamentalis. Setiap tahun baru Cina dialah yang pertama kali menelpon orang tuaku. Dialah yang membungkus angpau untuk keponakan-keponakanku. Dialah yang selalu mengkritik orang non-Cina sembari memuji-muji orang Cina. Bahasanya juga sudah seperti pedagang Pasar Turi: “Pa, kalok (kalau) pulang, ojok (jangan) lupa beli kuweh (kue), lho yo (ya)?!”

***

Anakku bertanya padaku. Kenapa namanya Sumitro? Aku tersenyum. Lalu aku ceritakan soal kebingungan-kebingunganku. Dan kegembiraanku juga, tentunya. Nama itu keberikan untuk kegembiraannya. Lalu dia menimpali, “Papa nggak percaya diri, ya?… Papa pikir aku sukak (suka)?… Jadi males sekolah. Tiap hari diabsen. Tiap hari anak-anak ketawa.” Hidupku memang banyak berubah. Anakku, berlawanan dari keinginanku, masuk sekolah katolik. Mulai TK sampai sekarang, SMP. Ini keinginan istriku.

UK. Petra , pagi benar.

hoek

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/03/2005

bagaimana jika kamu begitu menunggu angka 4 dan 12? bagaimana jika ada lingkaran yang lama untuk menyentuh mereka? bagaimana jika kau bangun terlalu siang? bagaimana jika kau tak bernafsu makan? bagaimana jika perut hanya kau isi rokok dan air hitam? bagaimana jika kau belum tidur saat subuh menjelang? bagaimana jika kau merasa kekurangan kalau tak minum kopi jam 9 malam? bagaimana jika kau merasa terlalu lelah saat menstandardkan sepeda motormu sepulang kerja? bagaimana jika kau harus pulang petang sebab terlambat datang?