Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

berita-berita baik akhir-akhir ini

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 06/14/2005

sesuatu dan ke depan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 06/02/2005

dua minggu yang lalu, tepat pada hari minggu, aku dibangunkan oleh sebuah dering. dengan terhuyung-huyung aku berdiri mengambil mobile-ku yang kuparkir di dekat meja komputer. kupikir itu dari si pipin, mengingatkanku supaya cepat mandi dan mengantarnya ke juanda kembali ke thailand.

ternyata text itu bukan dari pipin, tapi dari bu flora, kawan kerjaku. ada apa gerangan? pada detik itu aku sudah mulai bisa berfikir lumayan normal. ternyata sebuah kabar yang menyenangkan, meski sempat membingungkan juga. begini bunyinya: selamat, ya? jangan lupa traktirannya.

dengan bego, aku text balik: selamat apa, bu? dengan jengkel, bu flora membalas: gimana sih kok nggak tau? tulisanmu menang dan masuk di antologi blah blah blah. sama onie juga. dengan gembira, aku langsung balas lagi: kok tau? dengan jengkel level dua, bu flora menjawab: baca koran dong?!

aku tak bisa meneruskan dialog itu sebab aku harus cepat-cepat mandi dan nganter pipin ke bandara. sepanjang jalan, setiap di perempatan, aku celingak-celinguk mencari anak jualan koran. entahlah, pagi itu mereka raib kemana. padahal di hari lain, mereka justru yang selalu memburuku. benar kata orang: kalau kita lagi butuh, barang itu susah didapat. kalau nggak, bersliweran di depan kita.

sampai di bandara, setelah menurunkan koper dari mobil, aku langsung pamitan ke pipin dan orang tuanya untuk beli koran. akhirnya aku menemukan di sebuah kafe kecil. tak tanggung-tanggung aku langsung beli dua. tambah rokok satu bungkus. saking semangatnya, rokoknya ketinggalan.

aku tak bisa langsung menemukan berita itu. sambil menunggu pipin check-in aku text bu flora sekali lagi: di bagian mana, bu? dengan jengkel level tiga, bu flora membalasnya. berita itu begitu terpencil. beritanya sendiri tentang seorang artis yang akan membaca satu dari sekian pemenang lomba cerpen itu, bukan tentang lombanya sendiri. tapi ini tak mengurangi kegembiraanku.

begitulah. meskipun mungkin terdengar kampungan, aku senang dan bangga sekali dengan kemenangan itu. sudah lama aku menunggu datangnya kabar baik semacam itu. sebagai seorang pemula, aku butuh banyak berita-berita semacam itu sebagai vitamin/tonik untuk terus memencet-mencet keyboard komputerku.

selama ini yang datang hanyalah vaksin/imunisasi. penolakan demi penolakan. sakit demi sakit. demam demi deman. memang pada akhirnya aku menjadi sedikit lebih kuat. namun lebih sering itu semua membuatku ragu: apakah memang di sini planetku? dan akhirnya membuatku agak berat untuk terus berlatih.

sore harinya, iseng-iseng aku text si onie: on, kita menang! dengan bego, onie balik bertanya: menang apa? ya, nih anak. lebih parah. terus aku langsung tunjukin nama koran dan halaman di mana berita itu berdiri. tak lama kemudian telpon di rumahku berdering. aku sudah menduga itu pasti dari si lama.

yup, benar. dari si onie. terus kita ketawa bareng-bareng. senang bareng-bareng. terus janjian untuk ketemu. kayanya telpon aja nggak cukup untuk merayakan hancurnya sebuah penantian panjang. tiga hari kemudian kami bertemu di sebuah kedai. reza ikut. tambah semarak. kita mengingat-ingat masa-masa ketika gedung b masih menjadi gedoeng rakjat!

reza balik. setelah satu-dua batang, aku mengingat si onie tentang proyek kita yang tertunda beberapa waktu: bikin novel bersama. kita sepakat untuk melanjutkannya sesudah onie menyelesaikan novelnya sendiri. kita sempat brainstorm sedikit-sedikit tentang penokohan, setting, dan plot-nya.

semoga berlanjut.