Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

uar-uar

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/12/2006

sudah satu minggu ini aku nggak ngisi blog. selain emang sibuk dengan perkuliahan yg mulai berjalan lagi, aku lagi nggak gembira. mhhh, sebenarnya sangat gembira sich , cuma kurang lengkap gitu…hihihihi…bingung ya?!

ya, diajeng, aku sebenarnya bingung apa yang harus kulakukan terhadap tantangan terbaru kita. aku sempat berharap kamu tahu apa yang aku tidak. ternyata kita sama-sama bingung hehehe…oalah, diajeng…katiwasan, katiwasan…

aku sempat berjongkok di antara dua kutub yang sama-sama mengesankan. menunggu dan berbuat. masing-masing menyimpan janji gilang-gemilang. masing-masing menyimpan kengerian yang malas untuk dibayangkan. tapi lambat laun aku sadari bahwa, sementara menimbang, aku sebenarnya sudah memilih untuk menunggu.

dan, diajeng, kamu tahu aku tak pernah berbakat untuk menunggu. bisa, tapi tak berbakat. kaki dan mulutku sudah gatal untuk dihantar. hadapi, sepahit apapun, lalu selesaikan. begitu kira-kira modelku bertahan hidup. mungkin aku sedikit takut, jika itu pertanyaanmu. tapi aku lebih takut ketika semua di depanku buram seperti kaca di musim hujan.

apakah aku harus menunggu beberapa waktu lagi? menunggu biar kepercayaan itu jadi mati sama sekali? atau, jangan-jangan, menunggu kepercayaan bangkit kembali dengan sendirinya? seperti kata gus dur, ada masalah yang memang tak perlu diselesaikan dan justru lebih ruwet kalo diselesaikan? apakah masalah ini yang jenis demikian, diajengku? aku butuh uar-uarmu.

beta tan peng liang zonder kuntauw

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/05/2006

semarang…jauh lebih layak dihuni dibanding surabaya. nggak terlalu macet. masih punya trotoar-trotoar lebar. beberapa bangunannya berkarakter. orangnya sopan-sopan…kadang-kadang aku heran sendiri bagaimana si brutus itu bisa berasal dari kota yang menyenangkan ini? tapi aku baru ingat kalo dia produk kota lain yang emang terkenal sebagai penghasil tukang intrik. semarang? kayanya tak mungkin.

di semarang ini juga aku akan menanam dan meninggalkan kebaikan. cinta begitu? mau khan? di semarang ini aku akan membuatmu bahagia, seperti tan peng liang kepada tinung. kau harus ingat bahwa di tubuhku, dari mama, mengalir darah ‘tan’, hokkien, dan pedagang. lalu apa kekuranganku dari tan peng liang kecuali bahwa aku tak bisa kuntauw?

bukan, sayang, aku tak menyamakanmu persis seperti tinung. yang terang kamu bukan ca bau kan. bukan juga nyai seperti mak-ku. dan aku yakin akhirmu akan jauh lebih baik dari tinung. kamu jauh lebih pintar darinya. tapi memang kalian sama cakepnya…hehehe…sama-sama pandai menyanyi, dan sama-sama tangguhnya!

sudahlah, lupakan yang sudah-sudah. sore nanti kita berjalan-jalan mencari kelenteng tan. kalo kau minat, kita bisa mengucap yang tak terucap di sana.

bagaimana, nung?

maju perang (chairil anwar dlm perusakan)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/04/2006

kalau kau mau kembali
akan kurengkuh kau pasti
untukku sendiri tapi
sedang dengan cermin
aku enggan berbagi

boeng, ajo, boeng!
gempoer semarang!

berita baik di dwi pekan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/03/2006

http://www.petra.ac.id/dwipekan/Content.php?Topic=Seputar&ID=24

Dialog Cerpenis Hoa Kiau Muda Menulis
DEKATKAN PENULIS DENGAN PEMBACANYA

Apakah latar belakang etnis anda mempengaruhi karya anda?. Itulah pertanyaan yang pertama kali diajukan pada dialog cerpenis yang bertajuk Hoa Kiau (Cina perantauan, red) Muda Menulis. Acara yang digalang oleh perpustakaan bekerjasama dengan Jurusan Sastra Inggris UK Petra ini berlangsung di ruang teater Gedung B lantai 2, Jumat (24/3) lalu. Dialog yang berlangsung santai ini menghadirkan empat pembicara muda yang sudah menghasilkan beberapa buku. Mereka adalah Dwi Setiawan, Stefani Irawan (keduanya adalah dosen Jurusan Sastra Inggris UK Petra), Stefani Hidayat (mahasiswi Jurusan Sastra Inggris UK Petra) dan Lan Fang (Jawa Pos). Kepala perpustakaan, Aditya Nugraha mengatakan, acara ini sengaja dibuat untuk memperkenalkan dan mengangkat penulis-penulis muda khususnya di UK Petra dan sebagai wadah diskusi bagi penggemar cerpen.
Sebelumnya, para peserta yang sudah mendaftar akan mendapat cerpen karya empat orang ini melalui email sebagai bahan diskusi. Keempat cerpen yang didiskusikan berjudul Hoa Kiau yang Gembira (Dwi Setiawan), Tidak Ada Kelinci di Bulan (Stefani Irawan), Majenun (Stefani Hid) dan Perempuan Abu-abu (Lan Fang). Empat penulis muda ini memiliki tanggapan masing-masing tentang pertanyaan yang diajukan diawal diskusi. Dalam cerpennya yang berjudul Hoa Kiau yang Gembira, Dwi Setiawan membawa dua budaya yang berbeda. Cerpen ini bercerita tentang seorang pria keturunan Tionghoa yang beristrikan seorang Jawa dan memiliki satu orang anak. Dalam ceritanya, Dwi memasukkan dialog-dialog bahasa Jawa yang juga digunakan dalam kehidupan pria dalam cerita ini. Monolog yang disajikan menyerupai dialog adalah keunikan dari cerpen ini. Jadi, apakah latar belakang etnisnya berpengaruh pada cerpennya, masih menjadi hal yang ambigu bagi Dwi. Lain dengan Dwi, Stefani Irawan dan Stefani Hidayat mengaku tidak terpengaruh sama sekali dengan latar belakang etnisnya. Meskipun latar belakang saya keturunan Tionghoa, tapi bisa dibilang, saya sangat Indonesia, ujar Stefani Hid. Penulis muda yang dikenal dengan novelnya yang berjudul Soulmate ini mengatakan jika menulis merupakan semacam terapi psikologis baginya. Saya menulis apa yang ingin saya tulis dan ternyata penerbit bisa menerima itu, tuturnya. Lan Fang, yang baru-baru ini meluncurkan kumpulan cerpen yang berjudul Laki-laki yang Salah mengaku sangat terpengaruh dengan latar belakang etnisnya. Saya sangat menyukai sesuatu yang berhubungan dengan budaya, katanya. Salah satu karyanya yang berisi tentang budaya Kalimantan adalah Kembang Gunung Purei.
Undangan yang hadir juga diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan kepada para pembicara. Salah satunya tentang makna yang ingin disampaikan melalui karya mereka. Mereka berpendapat, bahwa jika sebuah karya sudah dilempar ke pasaran, hak dari pembaca untuk memaknai karya tersebut. Meskipun begitu, masing-masing penulis pasti memiliki pesan yang ingin disampaikan untuk pembacanya. Dwi berpendapat, pembaca sangat berpengaruh dalam prosesnya berkarya. Apa yang saya tuliskan untuk pembaca adalah campuran dari pemikiran pribadi saya dengan penulis-penulis era sebelumnya, jelasnya. Dalam prosesnya, semua penulis akan mengalami suatu pematangan. Lan Fang berpendapat, penulis pemula menuliskan apa yang mereka tahu. Tapi, setelah berproses mereka akan menuliskan apa yang mereka tidak tahu dan mereka akan mencari tahu.
Acara ini juga mengundang beberapa perwakilan dari universitas lain seperti dari Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Universitas Bhayangkara (Ubhara), Universitas Wijaya Putra (UWP) dan Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Salah satu undangan dari IAIN, Hati yang ditemui Dwi Pekan mengaku sangat antusias dengan acara ini. Jarang ada diskusi yang memungkinkan kita untuk berdialog lebih dekat dengan penulisnya seperti ini. Acara seperti ini harus lebih sering dilakukan, ungkapnya.

cerita-cerita panas

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/01/2006

pin, tadi malam aku sudah bisa menulis cerita lagi. kamu pasti tahu kenapa. kamu pasti tahu bahwa aku hanya bisa menulis pada saat aku merasa bahagia. mungkin terdengar tak meyakinkan sebagai calon penulis. kubaca di sana-sini bahwa penulis-penulis besar baru bisa menulis saat dirundung malang. kawan-kawanku yang menulis juga mengatakan bahwa mereka baru bisa menghajar tuts saat dikepung masalah. beberapa di antaranya bahkan sengaja mencari-cari masalah…hehehe…

tidak, bukan, aku tak seperti mereka. sebuah masalah, terutama denganmu, sanggup memaksaku berhibernasi seperti ular di musim dingin. jangankan menulis, untuk berfikir bahwa aku ada saja aku malas dan tak mampu. mungkin aku tak mempunyai modal menjadi penulis, apalagi penulis besar. dan yang jelas aku tak suka cari-cari masalah, sebab tanpa dicaripun, dia datang dengan sukarela.

haha…kenapa aku berputar-putar di sini. mhhh…aku hanya ingin menceritakan betapa senangnya aku malam kemarin. lama nian tak kudengar suara kecilmu itu…hehehe…aku ingat betapa lemahnya suaramu saat kau masih kelas satu sma…hehehe…love it though. lama juga kita tak saling bertukar cerita. begitu banyak yang ingin kuceritakan padamu. tinggal kau sebut sebuah abjad, aku akan menceritakan cerita dengan tema yang diawali abjad itu. sebut abjad ‘a’, misalnya, akan kuceritakan petualangan-petualanganku di atas subway saat di ‘australia’.

aku juga ingin mendengar ceritamu. ingin benar-benar. aku ingin tahu segala sesuatu yang terjadi. bukan untuk mengkritik di sana-sini (aku tak sadar kalau secerewet itu..hehehe). aku hanya akan mendengarkan, memberikan komentar-komentar kecil supaya kau tambah bersemangat. ya, aku tahu aku bukan pendengar yang baik. tapi aku sudah mengalami kemajuan dibanding dulu.