Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Bahasa Inggris sebagai Bahasa Pengantar di SMU: Awas!*

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 06/06/2006

Dalam kurun 15 tahun terakhir ini telah terjadi perubahan signifikan pada peran Bahasa Inggris di sekolah dan universitas di Indonesia. Sebelumnya Bahasa Inggris hanyalah sebuah atau serangkaian bidang ajar. Pada perkembangannya bahasa tersebut secara praksis telah menjadi bahasa pengantar dalam proses belajar dan mengajar bidang ajar yang bermacam-macam (English as a Medium of Instruction, EMI). EMI di Indonesia pada awalnya muncul di program-program S-2 di universitas, terutama program MBA. Tapi sekarang wabah ini telah menjangkau S-1, SLTA, SLTP, SD, TK dan bahkan Playgroup. Demikian juga jika sebelumnya masih bermain di sekolah dan universitas swasta (yang kaya raya), sekarang EMI mulai merambah ke institusi pendidikan negeri (yang favorit).

Tengoklah, misalnya, berita akhir-akhir ini (Jawa Pos, Selasa, 24 Januari 2006) tentang Sekolah Nasional Berstandar Internasional (SNBI), terobosan baru Dinas P & K Jawa Timur. SNBI konon adalah beberapa kelas SMU yang dibuat dengan standar internasional, salah satunya dalam bahasa pengantar. Dalam kelas SNBI, siswa dan guru wajib menggunakan Bahasa Inggris dan materi-materi berbahasa Inggris dalam proses belajar-mengajar. Tidak disebutkan secara langsung kenapa SNBI menerapkan EMI. Namun kemungkinan besar masih berkisar soal ‘sambil menyelam minum air’. Dengan EMI, siswa diharapkan dapat menguasai Bahasa Inggris dengan cepat karena mereka akan menggunakannya dalam frekuensi dan intensitas yang tinggi. Selain itu, siswa juga dapat menyerap informasi luas yang terekam dalam atau dikomunikasikan melalui bahasa ini.

Tulisan ini ingin memberikan sedikit gambaran tentang apa yang akan terjadi jika EMI jadi diterapkan di SMU dengan harapan pihak-pihak yang berkepentingan lebih bisa mempersiapkan diri untuk hasil terbaik. Secara lebih khusus, tulisan ini akan membahas tantangan-tantangan akademis dalam dan dampak-dampak sosiolinguistik, sosiobudaya dan sosioekeonomi dari pelaksanaan EMI.

Tantangan Akademis

Kesulitan akademis yang pertama, seperti yang disinyalir sendiri oleh pihak P & K, adalah kesiapan guru dan siswa. Rilis Educational Testing Service menunjukkan bahwa rata-rata nilai peserta TOEFL berbasis komputer dari Indonesia antara 2004-2005 mencapai 214, sebuah nilai yang cukup menjanjikan. Namun ini tidak bisa menjadi indikator kuat kesiapan guru dan siswa kita untuk EMI. Yang pertama, TOEFL generasi mutakhir tersebut masih belum memasukkan kemampuan berbicara sebagai salah satu variabel tes. Padahal kemampuan tersebut adalah salah satu syarat yang penting dalam pelaksanaan EMI. Yang kedua, mayoritas pengambil TOEFL tersebut adalah mereka yang akan mengambil program S-2, bukan S-1, juga bukan SMU. Selain itu, TOEFL tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran kesiapan. Membicarakan EMI, kita tidak hanya menyinggung Bahasa Inggris umum tetapi Bahasa Inggris akademis dan sampai tingkatan tertentu Bahasa Inggris khusus sesuai dengan bidang ajar.

Bagaimana dengan pelatihan? Percayalah, ini tidak segampang yang dibayangkan, bahkan dengan mendatang mentor dari Cambridge University sekalipun. Mencari mentor Bahasa Inggris akademis apalagi khusus cukup sulit. Kalau fasilitator Bahasa Inggris umum memang tersedia luas, mulai dari yang impor sampai yang lokal. Kalau mendapatpun, persoalannya jauh dari selesai. Misalnya, pelatihan EMI biasanya menuntut waktu yang cukup lama dan harus dilaksanakan secara komprehensif. Kalau hanya satu-dua pelatihan, apalagi yang seminggu atau bahkan sehari, tak akan memadai. Sedang beberapa dosen yang cukup lama belajar di negeri-negeri berbahasa Inggris pun mengaku masih sering gamang jika harus melaksanakan EMI dalam kuliah-kuliah mereka (Setiawan 2002). Demikian juga pengakuan mahasiswa-mahasiswa mereka yang lulus dari SMU bertaraf internasional. Nah, apakah para siswa dan guru kita, yang sudah menanggung beban berat itu, masih mempunyai waktu dan energi untuk persiapan-persiapan yang bakalan panjang dan banyak itu?

Tanpa kesiapan dan persiapan yang dimaksud, siswa akan menanggung resiko penurunan prestasi akademis secara drastis. Guru yang tidak bisa berbicara Bahasa Inggris dengan lancar dan tepat akan mengalami kesulitan dalam menjalankan peran paling tradisonal mereka: penceramah (Ibrahim 2001). Pengulang-ulangan, jeda-jeda panjang, sirkumlokusi, kesalahan tata bahasa, pemilihan kata, dan pengucapan akan mewarnai sebagian besar penjelasan mereka. Pada pihak lain, siswa yang lemah dalam mendengar akan ketinggalan banyak pokok-pokok penting penjelasan. Yang lemah dalam membaca tentunya akan kesulitan memahami materi. Yang kurang dalam berbicara tidak akan berani bertanya saat bingung atau membutuhkan penjelasan lebih.

Masalah-masalah ini bisa langsung memicu penurunan prestasi akademis siswa. Beberapa penelitian mendukung sinyalemen ini (Baker & Jones 1998, dikutip dalam Ibrahim 2001). Salah satunya adalah riset terhadap siswa-siswa keturunan Hispanik di Amerika Serikat yang mengambil kelas-kelas EMI tanpa kesiapan dan persiapan yang seharusnya. Riset tersebut menunjukkan bahwa performa akademis mereka langsung menurun secara siginifikan. Perlu dicatat bahwa dalam kasus di atas lingkungan di luar sekolah cukup mendukung. Siswa-siswa keturunan Hispanik tersebut tinggal di negeri yang mayoritas penduduknya berbahasa Inggris. Jika mereka harus menghadapi masalah akademis, bagaimana dengan siswa kita, yang hidup di lingkungan yang kurang mendukung?

Dampak Sosiolinguistik, Sosiobudaya, dan Sosioekonomi

Selain masalah akademis, kita juga perlu memikirkan dampak sosiolinguistik, sosiobudaya, dan sosioekonomi. Sering disebutkan bahwa penggunaan Bahasa Inggris di sekolah telah membatasi peran bahasa-bahasa lokal. Bahasa lokal dalam kasus kita bisa berarti Bahasa Indonesia dan juga bahasa-bahasa daerah. EMI di sekolah negeri akan semakin mengancam kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pendidikan. Jika sekolah negeri sudah ‘menyerah’, siapa lagi yang tidak? Seiring waktu, Bahasa Indonesia akan benar-benar ‘turun kelas’ menjadi bahasa pergaulan sehari-hari. Ketika Bahasa Indonesia menjadi bahasa pergaulan sehari-hari, bahasa-bahasa daerah akan kehilangan wilayah. Bukannya melebih-lebihkan atau menakut-nakuti, ada kemungkinan bahasa-bahasa tersebut lambat laun akan punah seperti apa yang sudah terjadi di negara-negara Afrika dan Pasifik (Crystal 2000).

Bahasa adalah produk sekaligus garda kebudayaan. Jika bahasa terancam, begitu juga dengan kebudayaan yang melahirkan dan dijaganya. Penyebaran Bahasa Inggris selama ini identik dengan keruntuhan kebidayaan lokal dan kejayaan kebudayaan global-barat. Ini bukannya tanpa alasan. Bahasa Inggris tidak menyebar dengan netral tapi seringkali ditunggangi oleh kepentingan kapitalisme global-barat (Phillipson 1992). Media anak SMU seperti MTV, misalnya seringkali menanamkan kecanggihan serta ke-gaul-an Bahasa Inggris serta budaya negeri penuturnya dan keterbelakangan serta ke-ndeso-an bahasa dan budaya lain. Citra yang tertanam di benak anak-anak SMU ini akan menjadi semakin kuat manakala Bahasa Inggris menjadi bahasa mereka di sekolah. Kubota (1998, dikuti dalam McKay 2002), peneliti Jepang, menemukan bahwa buku-buku teks Bahasa Inggris seringkali merepresentasikan superioritas penutur asli Bahasa Inggris beserta budayanya. Jepang dalam buku-buku teks adalah masyarakat feodal; Afrika seringkali hanya muncul sebagai suaka margasatwa; dan seterusnya. Jika generasi muda sudah meninggalkan budaya lokal mereka, dunia tentunya semakin seragam dan semakin mudah dibungkam.

Pada akhirnya, penggunaan Bahasa Inggris di sekolah juga bisa membawa dampak ekonomi yang negatif. Terdapat hubungan yang kuat antara kekayaan ekonomi dan kemahiran berbahasa Inggris (Tollefson 1991, dikutip dalam McKay 2002). Contohnya, karyawan yang bisa berbahasa Inggris biasanya akan mendapatkan lebih banyak apresiasi dari perusahaan daripada yang tidak. Penggunaan Bahasa Inggris model SNBI akan menggiring siswa pada jurang perbedaan ekonomi yang semakin dalam. Mereka yang karena alasan ekonomi cuma mampu bersekolah di sekolah miskin atau yang cuma mampu masuk ke dalam kelas-kelas non-SNBI karena kebetulan tidak mempunyai minat dan bakat dalam bahasa asing akan mengalami kesulitan ekonomi di masa depan. Siswa-siswa yang tidak beruntung itu akan kesulitan mendapatkan kerja dan/atau bersaing dalam pekerjaan dengan sejawat mereka yang lebih beruntung.

Akhirnya, pihak-pihak yang berkepentingan diharapkan untuk lebih berhati-hati dengan janji-janji yang ditawarkan EMI. Seringkali EMI merepresentasikan dirinya dalam kemunduran akademis, genosida bahasa lokal, erosi budaya lokal dan kesenjangan ekonomi yang makin parah. Jika ingin mengadopsi EMI untuk SNBI, P & K harus menemukan bentuk kurikulum yang bisa memaksimalkan berkah-berkah EMI dan meminimalkan efek-efek sampingnya.

— 00 —

* artikel ini sudah mengalami dua kali penolakan dari dua media massa…hehehe…yang satu karena…..nggak tahu….yang kedua karena dianggap tidak menyuguhkan sesuatu yang baru….hehehe….nasib, nasib.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: