Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

mom

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/23/2006

apa yang kamu rasakan jika pada suatu pagi, saat kamu menghisap kopi sembari memakai sepatu, menjelang keberangkatanmu ke tempat kerja, ibumu, yang dari tadi hanya duduk menunggui kamu, tiba-tiba menangis dan berkata bahwa kamulah satu-satunya yang membuatnya belum mau menyerah?

terbuat dari apakah suara seorang ibu?

bondowoso=

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/20/2006

asyik 🙂 salut untuk the kere! great to have you guys in this month of thinking dangerously 😀

ke timur

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/17/2006

akhir minggu yang memburu matahari. besok pagi aku bersama the kere akan melayang ke timur. kami akan berhenti di bondowoso. pracoyo, aka coy, salah seorang anggota the kere, menikah dengan gadis kota tape ini. dengan demikian resmilah aku menjadi sebagai sorangan terakhir dalam the kere…hihihihi…ya, pasti ada rencana yang indah di balik ini…menghibur diri banget, ya…hehehe…nggak, nggak, siapa tau aku memang diberi kesempatan untuk menjelajahi beribu-ribu hati dulu…hihihihi…

papa juga akan memburu matahari terbit besok. seperti kutulis beberapa waktu lalu, papa mau ikut gerak jalan mojokerto-suroboyo untuk kesekian kalinya. besok sore adalah waktunya. kalo nggak salah papa akan start habis maghrib dan kira-kira finish menjelang subuh. sayang sekali aku tak bisa memberi semangat kali ini. padahal dulu sempat kepikiran mendampingi sampai surabaya dengan sepeda.

tapi dalam semangat, kami sama-sama memburu matahari.

kukucup, kukucup kamu

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/16/2006

sekarang sudah 20.00. masih di kantor. masih ada beberapa dokumen tersisa dan beberapa e-mail untuk dibalas.

aku tak menyangka nafasku bisa sepanjang ini. kawanku, kamu tahu benar pada dasarnya aku pemalas..hehehe..

ntar malam harus baca first draft lengkap anak bimbingku. ngatur jadwal observasi untuk language clinic minggu depan. besok bangun pagi-pagi ada tamu dari pattimura.

sudah sesempurna itukah metamorfosa? mudah-mudahan tidak. aku tak suka menjadi serangga.

yang pasti aku tak merasa pengap. belum ingin menangis. objek devosi yang satu ini juga tak begitu rewel. dan kebosanan yang baru (ah, betapa paradoksal frase ini) belum menyerang.

kerjaku, kukucup, kukucup kamu…

pesan di helm

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/15/2006

kemaren sore waktu mau pulang aku menemukan sebuah pesan (atau pertanyaan) di helmku. kertas perotolan buku tulis yang dilipat-lipat dan dijepit dengan kaca helmku. kubaca dengan cepat. aku sempat menoleh ke kanan-kiri sebelum memasukkannya ke dalam tas, memastikan tak ada yang melihatnya.

ya, aku curiga ini cuma guyonan the kere, gank makan siangku, belaka. aku membayangkan mereka akan muncul entah dari mana dan menertawakanku. tapi tidak. tak seorangpun keluar dari persembunyiannya. tak seorangpun mendekat. dan aku tahu ini bukan tulisan tangan salah satu dari mereka. ya, aku tahu kalo mereka bisa saja menyuruh seseorang. tapi berdasarkan pengalaman, kejahilan mereka, segila apapun, nggak pernah sampai level niatnya segitu.

aku batal langsung pulang. aku pergi ke warung mak di belakang kampus dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan. sialan, lama-kelamaan aku malah jadi takut sendiri. isi pesan itu sendiri mungkin akan bikin seorang pria tersenyum. tapi jika kuhubung-hubungkan dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini aku merasa tengah diburu-buru seorang psikopat.

atau aku yang terobsesi menjadi selebritis kaya iklan itu?…hehehehe

3 orang

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/15/2006

tadi malam aku malas keluar. mas nanang kebetulan lagi masuk malam. jadi nggak ada temen ngopi ke sekelor. aku males-malesan depan tivi. udara panas banget. denger-denger sampai 38 derajat celcius. lampu di matikan semua kecuali ruang makan.

papa pulang jam 10.00. habis latihan untuk gerak jalan mojokerto-surabaya. pria parobaya yang perkasa. hampir tiap malam latihan mulai dari perempatan bakalan sampai perempatan tarik. papa melepas lelah di kursi di belakangku. melihat tivi atau mungkin melihatku melihat tivi. aku tak berusaha mencari tahu.

mama bangun. membuka pintu warung kami. menyalakan lampu dan kemudian sibuk mencari-cari sesuatu. param kocok rupanya. untuk papaku. duduk di kursi warung dan dengan tekun membuka tutup botol dengan gunting.

aku berbalik ke layar tivi kembali. mataku mencair. kawanku, sadarkah kamu bahwa kami tengah melakukan satu hal yang sama? kami tengah menua bersama-sama.

di rumah kami, yang juga ikut menua.

warna hari: no peter, please

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/14/2006

aku mulai tahu apa yang merusak hariku. tiap pagi, tiap baru datang, hal yang pertama kulakukan adalah membuka email-email yang kupunyai. yang pertama, tentu saja, deweysetiawan@gmail: pribadi banget nech….hehehee. selanjutnya brenkes@yahoo: berita dari kawan-kawan tercinta. lalu deweysetiawan@yahoo: kabar mutakhir kehidupan susastra nusantara. dan akhirnya dewey@peter: masalah (ingat, sekali lagi, masalah) pekerjaan.

yang terakhir ini yang selalu menghancurkan moodku. benar-benar pencuci mulut yang buruk. dan, you know, kalo mood sudah hancur pagi-pagi, hari akan membunuh potensi warnanya. semuanya menjadi hitam-putih, kadang-kadang bahkan sephia. meski aku menderita buta warna separuh, aku bisa mengapresiasi warna hari lho.

so, untuk taman mao, hindari peter.

no man’s land

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/13/2006

tanah apa ini, sahib?

kawanku, sudah cukup bagiku melihat kamu menyala.

maaf, sahib, apa tadi nama jazirah ini?

orang yang menunggu akhir pekan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/10/2006

tadi malam aku agak suntuk. dan seperti biasa udara datang dan membujukku. akhir-akhir ini malam panas sekali. hujan belum juga sampai rumah. bagaimana di sana?

cerita bergelung-gelung. memenuhi gedung. mengintip di sana-sini. di belakang punggung. sampai di sini aku tega-teganya tertawa. tega-teganya aku terkenang barthes. tega-teganya aku memikirkan ‘kematian seorang penulis’. tega-teganya aku menghubungkan cerita kita dengan filsafat.

kesuntukan yang lain adalah menyaksikan seseorang yang lebih suntuk mengajariku bagaimana supaya tidak suntuk. ya, bapa, selamatkan aku dari para pengikutmu.

tapi, besok sabtu. ya, ampun, kenapa aku merasa paulo menuding-nudingku sebagai gila.

…orang yang terus menunggu akhir pekan meski tahu minggu siang adalah neraka.

mengail saat air keruh

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/06/2006

sabtu kemaren aku bangun sedikit lebih siang dari hari kerja; tapi terlalu pagi untuk hari libur…hehehe. waktu bangun yang langsung muncul di otakku adalah…mancing!

ya, aku belum sempat cerita di sini bahwa ternyata aku bisa mancing. waktu itu kamp mahasiswa. kawanku datang dari surabaya untuk memberi 1 sesi. dia ngajak calon suaminya. nah, waktu si calon istri lagi sibuk presentasi, si calon suami ngajak aku keluar mancing. kebetulan ada kolam pancing deket lokasi kamp.

singkat kata kami berangkat. kami mancing. seumur hidup baru kali ini aku mancing meskipun desa kami adalah desa seribu sungai. aku dah keburu berprasangka nggak mungkin orang sekompulsif aku bisa tahan mancing..hehehe… tapi, eh, langsung dapat 4-6 ekor nila! tapi sampai di situ aku masih belum yakin dengan bakat terpendam ini…hehehe… khan baru satu kali. perlu bukti-bukti tambahan.

nah, sabtu itu kayanya pas banget buat nambah keyakinan. aku ajak kawan luka tidak sebayaku. eh, dia mau. nggak lama kemudian dia datang menjemputku dengan motor legendarisnya. kita meluncur ke pacet. lewat mojokerto. sampe di rolak sanga, aku tanya dia: mancing atau minum bir? dia tanya balik. kita ketawa-ketawa. hati ini…hehehe…begitu mudah hati ini berubah.

sampe di pacet kita baru bisa mutusin: minum bir dulu. kita kan punya niat mulia pengen bawa hasil pancingan untuk keluarga kita. kalo kita mancing dulu baru minum bir, takutnya ikannya dah nggak segar waktu kita sampe rumah. kita pergi ke area pemandian air panas. di situ banyak warung-warung bir. kita pilih yang kita datangi 2 bulanan lalu. ada toiletnya sich.

habis 4 botol dan 4 kali ke toilet…hihihi….kita cabut ke kolam pancing. aku minta cacing ke penjaga. katanya nggak ada. yang ada umpan buatan mereka sendiri. kayanya campuran kacang tanah, telur dan lain-lain. umpan jenis ini nggak senyaman cacing. kalo agak kelamaan rontok sendiri di dalam air. kalo sentakan kita terlalu kenceng pasti rontok juga. mungkin ini taktik mereka biar kita nggak dapet-dapet.

ternyata taktik mereka tidak hanya itu. waktu umpan kita lempar ke dalam air, yang menghabiskan bukan sang nila, tapi ikan hitam kecil-kecil. ikan hitam ini gesit sekali. setiap sang nila mendekat, umpan itu sudah mereka habiskan. cepet banget makannya. kalo posisi sang nila dan si hitam sama-sama dekat dengan umpan, sang nila selalu mengalah. gara-gara ikan hitam ini, yang aku curiga sengaja ditanam pengelola kolam pancing, dua jam aku baru dapat 1 ekor nila. kawanku malah nggak dapet sama sekali. saking frustasinya, dia memutuskan untuk berhenti dan hanya membantuku menyiapkan umpan.

kami sudah kelaperen. akhirnya kami minta mereka ambil dan bakar 2 gurami untuk kami. Eh, sementara menunggu, aku malah terus-terusan dapet ikan. 3 ekor! rasanya tiba-tiba jadi gampang banget. aku tanya ke masnya apa gurami pesenanku bisa dibatalkan…ganti nila hasil tangkapanku…biar ngirit gitu. soalnya ikan yang sudah terlanjur kepancing tidak boleh tidak dibeli. dia bilang nggak bisa. sudah terlanjur dibakar.

waktu gurami kami datang, kami langsung lemes. besar banget. tahu gitu pesen 1 aja untuk berdua. perut kami masih terlalu penuh dengan bir. memang pada akhirnya aku berhasil menghabiskan guramiku. tapi itu karena aku makan nasi cuma sedikit. kalo kalian pernah dekat denganku, pasti kalian tahu bahwa ini adalah sebuah keajaiban…hehehe…kawanku cuma sanggup ngabisin separo guraminya. separonya minta dibungkus.

lalu bagaimana dengan 4 ekor nila tadi? aku suruh masnya masak sekalian. kalo aku bawa pulang mentah nggak ada yang masak. 2 digoreng, 2 dibakar. tepat pukul 4 kami meninggalkan kolam itu. dengan dendam, tentunya…hehehe….next time kita bakalan lebih sabar dan ekonomis. soalnya abis cukup banyak dink.

sampai di rumahku, eh, ternyata ada kakakku, suaminya, nenekku, omku, dan tanteku. mereka langsung menyerbu ikan-ikan tangkapanku. mama juga. papa lagi keluar. tapi masih sempat menikmati separo nila goreng waktu pulang.

kawan-kawanku, kejadian-kejadian kecil nan manusiawi inilah yang terus menguatkanku.

tak biasa

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/06/2006

hidup bisa menikung tajam hanya dalam dua donat dan satu cangkir kopi. ah, aku tak tahu ini hanya sekedar jalan memutar atau mencapai tujuan. tapi aku tahu selama ini aku terlalu kejam pada diriku sendiri. aku terlalu keras pada diriku. kusangkal diriku seperti calvinis kugiran.

sekarang aku baru percaya dengan penghiburanmu malam itu. aku tak biasa.