Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

aku masih anak sekolah

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/18/2007

aku sering tertawa sendiri menyaksikan apa yang terjadi pada hidupku hari-hari ini. siapa sangka burung hantu beruban macam aku ini harus mengalami semua ini lagi? selengkap-lengkapnya? sepenuh-penuhnya?…hehehe…joya, joya, lihatlah, bagaimana kau menjadikanku seperti anak sma lagi. tak seperti di akhir, misteri di awal selalu menyenangkan, bukan?

tiba-tiba semua melipat diri dan berjalan sendiri ke pusat-pusat arsip. beberapa bahkan hilang tak teringat. aku jadi heran sendiri: apa yang dulu menahanku beberapa waktu? tahu kau jawabnya, joya? tampaknya bukan rasa sayang pada masa lalu, tapi kegentaran pada hari depan. saat hari depan itu datang, dan itu kamu, aku sudah tak tertahan.

atau, sekarang kamu yang menahanku? 😀

kamu, pasti

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/11/2007

mendengar ceritamu beberapa malam lalu, aku seperti dituntun kembali ke dunia yang tak pernah ingin kucairkan. tapi biarlah kudengarkan. aku terlanjur suka mendengar suaramu. terlebih caramu memeriksa apakah aku masih mendengarkan. mungkin kamu tak tahu bahwa separuh, kurang atau lebih, dari yang kamu beber sebenarnya adalah aku.

dengan demikian aku mereka-reka terbuat dari apa sebuah kehangatan. dan, tentu saja bagaimana sebuah kebekuan terbentuk. dan mau tidak mau aku kembali membuka-buka kembali dokumen-dokumen lapuk (atau kulapukkan). setelah penelitian yang sederhana namun jujur, aku harus mengakui bahwa kebanyakan aku lebih tekun menyusun kebekuan (meski waktu itu aku berfikir aku tengah melakukan yang sebaliknya).

tapi mungkin jauh dari dugaan kebanyakan orang, aku menemukan bahwa justru pengakuan ini begitu memerdekakan. bahkan, puji semesta, begitu menghibur. sebab oleh karenanya apa yang sudah terjadi antara aku dan dia adalah akibat wajar (dan, penuh) dari perbuatanku sendiri. aku terlalu narsis untuk mempercayai aku tak tahu apa-apa, tak berbuat apa-apa dan tak bersikap atas kebekuan itu.

jika ada yang menahanku untuk mendongeng juga, itu adalah aku mulai takut kehilangan lagi. segentar aku dengan perasaan yang pernah menghajar aku itu. di sini kamu boleh tertawa sepuasnya. namun, sebentar, berhentilah dulu. harus kugaris-bawahi bahwa pada saat yang sama aku memiliki setengah, kurang atau lebih, yang lain. yang kubutuhkan cuma anggukan api. lalu duduklah kembali. akan kurawat sendiri. beserta lepuhnya. akan kuperbesar, besar, membakar dan pada saatnya nanti akan kubakar kamu juga. tentu dengan rengkuhan yang hanya pernah kutemui, sialnya, di film porno mandarin.

tapi aku sudah membaca, seperti halnya kegembiraan dan kesedihan, kehangatan dan kebekuan bukan sisi dari koin yang sama. keduanya adalah dua koin yang berbeda; entitas yang independen, yang tidak mempengaruhi satu sama lain. menjadi gembira bukan berarti berkurangnya kesedihan vice a versa. kebekuan dengan demikian bukan berarti berhentinya kehangatan dan sebaliknya. jadi keduanya hadir. tapi dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah kurentang, aku akan menyerang neraka dan menjarah apinya.

dan, aku hanya memikirkan ini untuk kamu. aku belum pernah membakarmu. dan masih banyak dari dirimu yang bisa dibakar.

wikend

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/09/2007

aku tahu ini terdengar memalukan. aku tahu aku membuat banyak tindakan gugup dan bodoh. aku tahu aku tidak terlihat dingin, tenang dan percaya diri seperti yang kurencanakan. tapi aku juga tahu bahwa, setelah kesesakan hampir lebih dari setengah matahari, untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa gembira.

dalam perjalanan pulang, kubuka kaca helmku. aku menyanyi-nyanyi. keras-keras. aku tak peduli berapa banyak pengendara yang menoleh, sebelum kemudian menyalipku sambil geleng-geleng kepala. kawan-kawan, sesama pejalan kehidupan, izinkan aku merasa cukup baik, meski itu hanya sepanjang surabaya-rumah.

siapa sangka kegembiraan menunggu di tempat terkutuk seperti karangmenjangan?

kado tahun baru

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/05/2007

yang bisa kukatakan tentang tahun lalu adalah: what a year! dan begitu pula yang bisa aku ramalkan tentang tahun ini. aku rasa untuk 2-3 tahun ke depan aku masih belum bisa pada posisi menikmati. kehidupanku akan masih penuh pergolakan. years of turmoil. aku masih dikutuk untuk terus meraih dan meraih. berjuang dan terus berjuang. kabar baiknya, kawan, ini membuatku jarang mengeluh bosan. sedih, sering. senang, tak kalah sering.

tanda bahwa tahun ini masih tahun kejutan adalah kado tahun baruku. siapa sangka satu-satunya kawan sejati yang aku pernah miliki, yang tiba-tiba hilang tak tentu rimba satu tahun yang lalu, yang aku duga tak akan pernah bisa kutemui lagi bahkan sampai maut memisahkanku dengan para pemeran pembantu, tiba-tiba muncul begitu saja persis pada tanggal 1 Januari. mataku tak bisa tak meleleh menerima anugerah kehidupan ini.

lalu joong il bercerita tentang baladanya. setelah kembali ke korea dari oz januari tahun lalu, dia berusaha mencari kerja. kehidupan di korea sekarang secara kualitatif relatif tak berbeda dengan di indonesia. anak negeri kesulitan mencari kerja. pabrik-pabrik banyak yang tutup. pengangguran di mana-mana. jumlah orang gila karena stres meningkat, dan semacamnya. joong il tak kunjung mendapat kerja yang dia dambakan. kekasihnya tiba-tiba meninggalkan dia begitu saja. dan kawanku yang jauh lebih sensitif dari aku yang sudah termasuk kategori memalukan ini harus teronggok di pojok kamarnya, seperti kain basah.

karena itu dia tak kunjung menghubungiku. dia ingin aku menjadi bangga kepadanya. dia terus berjanji pada dirinya bahwa dia akan segera menghubungi jika dia sudah berhasil. namun keberhasilan itu berulah seperti godot. jika kalian mengenal joong il seperti aku mengenalnya, kalian tak akan menganggap ini alasan romantik yang kampungan. kalian tahu betapa rendah kadar kepercayaanku pada niat baik. jadi lebih baik kalian turut percaya dengan alasannya.

sekarang dia sudah kembali ke oz. mencoba bertarung kembali. memukul dan memukul sampai nasib buruk sendiri bosan. joong il kembali bekerja di restoran sushi yang dulu. restoran yang menopang hidup kami sekaligus kerap kami kerjai. mulai minggu depan dia akan belajar kembali. aku belum tahu apa.

tentu aku bercerita tragediku juga. roman picisan, lebih tepatnya…hehehe… dan kututup dengan seruan wajib orang kecewa sedunia: joong il, let’s fight back.