Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

ada namaku di sebut

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/31/2007

hari ini ada wisuda di kampus. semenjak menjibit (sekali lagi, menjabat terlalu pongah untuk apa yang kukerjakan) sampai sekarang, aku belum pernah melewatkan acara wisuda. selain karena kewajiban, aku punya sejenis alasan pribadi untuk selalu mengikutinya. di acara wisuda selalu ada acara menyanyi bersama yang begitu kusukai….hehehe…

ada tiga ‘nomor’ yang selalu muncul…heheheh….”padamu negeri”, “hymne petra” dan “di doa ibuku”. di antara ketiganya aku paling suka yang terakhir. selalu berhasil membuatku berkaca-kaca dan merasa kuat untuk meninju kembali. sumber kekuatan apalagi yang kucari jika doa ibu sudah bersamaku?

tahu, kan, lagunya? lagu umum, kok. okay, in case kalian lupa, ini liriknya:

di doa ibuku

di waktuku masih kecil, gembira dan senang
tiada duka kukenal, tak kunjung mengerang
di sore hari nan sepi, ibuku bertelut
sujud berdoa kudengar, namaku disebut

di doa ibuku namaku di sebut
di doa ibu kudengar, ada namaku disebut

seringlah itu kukenang, di masa yang berat
di kala hidup mendesak, dan nyaris kusesat
melintas wajah ibuku, sewaktu bertelut
kembali sayup kudengar, namaku disebut

refleksi akhir tahun

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/25/2007

tanpa aku sadari keadaan sudah jauh membaik, bahkan dalam beberapa segi lebih baik dari sebelum tahun pergolakan. aku kerap melihat diriku sendiri di waktu-waktu ini seperti selembar sintesa. apa yang lebih baik dari sintesa? sebuah titik temu dan sekaligus elemen perubahan untuk pergolakan selanjutnya.

ibuku, orang yang paling kucintai dan kuturuti dalam hidupku, perlahan tapi pasti mulai menjauhi dunia orang sakit. tak ada lagi 2 minggu dalam selimut setiap bulannya. keriangan kembali dalam hidupnya, setelah meninggalkannya dengan semena-mena di usia yang masih begitu belia. yang menakjubkan adalah beliau sekarang suka menonton berita dan membaca buku-buku dari lemariku!

ayahku tetap meninju kehidupan segagah sebelumnya. semakin hari semakin dekat denganku. setiap sore sepulang kerja kami bercengkerama dengan hangat di meteor garden, taman surealis yang diciptakannya secara genius di dekat septic tank rumah kami. aku sering melihat kami berdua seperti gambar ideal hubungan bapak-anak dalam dongeng. sang bapak dengan bersemangat menurunkan segala semangat, pengalaman dan ilmunya ke sang anak yang mendengarkan dengan patuh. aku bahkan merasa semakin hari aku semakin mirip dengannya dibanding dengan ibuku. dulu aku berfikir sebaliknya.

keluarga kakakku juga semakin membaik. kakakku semakin jarang merajuk. semakin elegan. tak sekedar bertahan dengan kuat, aku perhatikan dia lama kelamaan sudah melakukan beberapa tindakan. tindakan yang baik, bahkan. dengan sendirinya aku sudah semakin jarang mengunjunginya. sebelumnya aku selalu tidur di rumahnya di akhir pekan. untuk memecahkan rutinitasnya, itu tujuanku yang paling kecil. untuk menguatkannya, tujuanku yang paling besar. ya, terus terang aku merasa sebagai abang dibanding adik. terus terang aku suka merasa lebih kuat darinya…hehehe

kehidupan sosialku tentu saja jauh lebih baik daripada masa-masa studi lanjutku dan beberapa waktu setelah aku kembali. aku punya the kere yang luar biasa kocak dan perhatian di tempat kerja. kawan-kawan dosen, yang mungkin karena perbedaan usia, gender dan/atau selera tak sedekat the kere, juga tak kalah mendukung dengan cara mereka sendiri. di kampung aku juga punya seorang kawan yang membantuku melewati malam-malam tersulit dalam hidupku satu tahun terakhir. oya, akhir-akhir ini aku berhasil membina kembali perkawanan dengan kawan-kawan masa kuliahku. dalam beberapa kesempatan kami bahkan bertemu muka secara langsung.

pekerjaan tak pernah tanpa tantangan. ini menjagaku selalu jauh dari kebosanan yang melemahkan. yang paling penting adalah adalah aku menyukainya, dengan tetap berusaha untuk tak terikat tentunya. aku berusaha bekerja seperti perawat bayi. merawat sang bayi dengan sebaik-baiknya dan setulus hati, tapi siap melepasnya kapanpun sang pemilik mengambilnya.

tentang pasangan, aku….hehehehe. yang pasti tak jauh beda dengan yang kuterapkan menyangkut pekerjaan.

aku berharap tahun ini benar-benar sudah berlalu dan aku, yang keluar hidup-hidup dan menerima banyak pelajaran yang demikian berguna, mulai membuat hal-hal yang lebih baik dari sebelumnya. malam yang begitu tepat untuk menjadi sentimentil…

ratu bunga

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/23/2007

“arun meni” hampir mencapai koda. aku sudah mulai kelelahan dan butuh mainan baru untuk pengalihan. tadi malam tidur di rumah tante. buka-buka lemari buku onie, sepupu kecilku. ada buku terjemahan dongeng hans c. andersen. sebenarnya sudah baca semuanya, tapi versi inggrisnya. waktu baca terjemahan itu serasa masuk dunia baru. salah satu yang menahanku adalah cerita tentang puteri bajang yang menikah dengan raja bunga.

aku jadi ingin menulis tentang ratu bunga. ratu bunga yang seindah malaikat ratana, satu-satunya malaikat perempuan yang pernah diciptakan untuk menjaga kenangan.

life is so interesting to the strong-willed

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/19/2007

bayangkan, baru beberapa satu jam yang lalu diterima jadi temannya coldplay…hehehe…ngga heran, ya?

tapi kalian pasti pingsan kalau aku beritahu bahwa baru beberapa menit yang lalu aku berhasil menghubungi subcomandante marcos! ya, subcomandante marcos yang pakai topeng kayak orang tengger itu. yang bawa-bawa ak 47 itu. yang suka menghisap pipa itu. yang jadi komandannya zapatista meksiko itu.

subcomandante, salute!

punya gie-gie

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/17/2007

lagi lihat gie di tivi. yang ketiga kalinya kalau nggak salah. ya, aku satu dari sekian banyak orang yang tidak keberatan menonton film yang sama berulang-ulang. mungkin karena daya tangkapku yang kurang bagus. setiap menonton sebuah film sekali lagi, aku selalu menemukan hal-hal baru atau mungkin hal-hal yang kulewatkan.

lalu lipatan apa lagi yang kubuka kali ini? kukutuki kamu perjaka indonesia. janganlah membangkitkan kebijaksanaan sebelum waktunya.

salah satu hal yang paling kubenci dari diriku adalah kepengecutan. aku penakut yang buruk. aku suka sekali berhitung sebelum atau dalam menghadapi masalah. kadang-kadang hal yang terlalu jauh hubungannya dengan masalah itu. tapi entah bagaimana aku selalu bisa menghubungkannya dan mengurusnya. dan aku kerap menipu diriku sendiri bahwa apa yang kulakukan adalah kebijaksanaan.

aku masih terlalu muda untuk itu semua. jadi ingat kata-kata morrison yang suka dikutip onie waktu zaman demo dulu: “you are too young to be old.”

kesan tak datang hari ini

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/15/2007

hari yang janggal. tawar, seperti air mineral. tak menggembirakan, tapi juga tak menyedihkan. tak menyegarkan, tapi juga tak melelahkan. berlalu begitu saja seperti perjalanan rutin ke tempat kerja. aku bahkan tak bisa menerima saat jam sudah menunjukkan pukul lima. kutunda kepulanganku beberapa saat. kutunggu dengan kesabaran tukang arloji. mungkin kesan tengah terjebak kemacetan. mungkin kesan lupa membawa dompet sore ini.

sampai saat kutulis ini di kapsulku yang nyaman, 6 jam sesudah kepulanganku, aku belum melihatnya muncul di pintu. sepanjang sore aku belajar menghargai saat-saat aku mengayun langkah dengan lelah dan bosan ke lapangan parkir.

4 mk sem ini

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/14/2007

minggu ini sudah mulai kuliah. kesibukan-kesibukan yang menarik. kebetulan bos lagi ke luar kota. bisa belajar ngurusi hal-hal akademik supaya agak ngeh kalo ada yang tanya.

semester ini mengampu 4 mata kuliah (8 sks). peningkatan dibanding semester lalu. semester lalu adalah semester pertamaku jadi pejibit (pejabat adalah terma yang terlalu congkak untuk pekerjaanku 😀 jadi nggak berani banyak-banyak. belum tahu bebannya, gitu.

selamat sampai tujuan, mas.

sejak usia berapa kemarin menjadi hari yang penting?

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/11/2007

ada satu pertanyaan yang terus menerus mengusikku hari ini di jemuran belakang rumah: sejak usia berapa manusia mulai memaknai masa lalunya? aku sudah berusaha mengingat-ingat pengalamanku sendiri. tapi aku tak bisa memutuskannya dengan pasti.

aku kira waktunya berbarengan dengan saat dia mulai memaknai sebuah kegagalan. tapi aku juga tak bisa mengingat kapan pertama kali aku menyadari makna kegagalan.

berbahagialah mereka yang berfikir seperti anak kecil, yang belum dikutuk dengan kemampuan untuk menghargai masa lalu, yang cepat melupakan kekalahannya bermain kelereng kemarin, yang kini sudah keluar rumah untuk bermain kembali dengan musuh yang mengalahkannya kemarin.

fix me

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/09/2007

god, thank you for creating a man like chris martin. thank you for giving this good fella gwyneth paltrow. by all means, he deserves every good thing on this awful earth. thank you for giving him a chance to fix me…

(Sort of) Eulogy for Pak Bin

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/06/2007


Dear Comrades in Arms,

I would like to repeat the bad news for you, for all members of the family, and
for those who adore hard work and simplicity, and that is that Pak Bintoro will
not come to school today.

For the final years of his life, his body was clouded by illness. That cloud has
now been lifted. He is himself again – perhaps more himself than at any time on
this earth of mankind. For we may be sure that the Big Guy Upstairs never
forgets those who strive to serve the healthier despite their illness.

We here still move in dark. But we have a beautiful firefly to guide us that Pak
Bintoro never had. We have his example. Pak Bintoro dedicated his life to set an
example for us, and he may continue his journey rightfully because of that
effort.

Let us give thanks today for a life that achieved so much for all of us.

k2dua

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/02/2007

salah satu hal penting yang kupelajari dari hidupku yang belum lama ini adalah selalu percayai yang kedua. bukan karena aku anak yang kedua atau nama depanku menunjuk ke angka itu. pengalamanlah yang mendidikku. bukan pengalaman khas si pembangun sebuah dinasti, sebenarnya. banyak orang yang sudah membahasnya dan, lumrahnya, sudah mengalaminya.

prinsip percayai yang kedua terutama berlaku dalam hal berfikir. menurut salah seorang filsuf jerman yang aku sungkan menyebutnya di sini, percayai hasil pemikiran kedua. pemikiran pertama biasanya kurang obyektif. kita masih terlalu dekat dengan obyek yang harus kita sikapi. emosi dan perasaan masih hadir dalam takaran yang gigantik. tak banyak informasi yang bisa kita kumpulkan. pada pemikiran kedua, jarak kita dengan masalah sudah lebih jauh namun juga tidak terlalu jauh. emosi hadir dalam proporsi yang pas. kita juga punya waktu lebih untuk memasukkan beberapa pertimbangan penting.

(itulah kenapa aku sering mengingatkan di jurnal ini: tidurlah barang semalam sebelum melakukan tindakan besar)

kenapa tidak yang ketiga? bukankah jarak semakin jauh? emosi semakin kempis? pertimbangan semakin banyak. justru itulah masalahnya. jika jarak semakin jauh, kita tak bisa lagi melihat masalah dengan jelas. kabur atau bahkan hilang sama sekali. tanpa emosi yang cukup, kita bahkan akan terlalu malas untuk berfikir. biasanya kita malah memilih untuk melupakannya. terlalu banyak pertimbangan hanya menjadikan kita pengecut.

hal mempercayai yang kedua juga berlaku dalam membaca masa depan. sang alkemis pernah berkata dalam suatu dialog interaktif dengan santiago sang gembala di sebuah gurun swasta: “apa yang terjadi satu kali tidak bakal terjadi lagi. tapi apa yang terjadi dua kali, pasti akan terjadi untuk ketiga kali”. kita tak bisa menebak masa depan hanya gara-gara satu kejadian saja. kita tak bisa memperkirakan masa depan seseorang gara-gara satu kesalahan. apakah dia akan jadi begal, kecu, bajak laut? kita belum tahu.

pada kesalahan pertama besar kemungkinan sang subyek memang belum tahu tentang atau belum mempunyai kemampuan untuk menghindari kesalahan tersebut. itulah sebabnya ada kata-kata bijak: “setiap orang layak mendapat kesempatan kedua”. tapi jika setelah mengetahui atau mempunyai kemampuan, dia masih melakukan kesalahan yang sama, selamat! kita tengah berhadapan dengan apa yang disebut sebagai karakter…hal yang paling sulit diubah di muka bumi ini setelah nasibku…hehehehe…..yang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya hanya masalah waktu belaka.

berhenti dulu. aku harus memikirkannya sekali lagi.