Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

chika

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/29/2007

saat melihat chika dalam keadaan seperti ini, aku baru menemukan genealogi dejavu yang menabrakku di akhir pekan ini. sekitar 2 tahun yang lalu, aku pernah mencoba menulis cerita dengan judul “chika dari belakang”. tak ada alasan khusus aku memilih nama chika. nama-nama itu biasanya muncul begitu saja, seperti wahyu tanpa usaha. cerita itu sendiri adalah satu dari sekian banyak cerita yang tak pernah kuselesaikan. tapi aku masih menyimpan kepingan itu. remah-remahnya bahkan kupakai saat aku melukiskan “warangkana”.

chika yang kubayangkan memiliki beberapa kesamaan dengan chika yang sekarang. sama-sama rupawan. sama-sama profesional muda. sama-sama suka merajuk. sama-sama memandang hidup dengan ringan. dan, tentu saja, sama-sama pernah muncul dalam keadaan seperti ini. tapi demi semesta aku tak pernah bermimpi, seperti yang terlihat dari judul itu sendiri, melihatnya dari depan.

9 hari menuju sesat

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/25/2007

sudah genap 9 hari sekarang. antara sadar dan tidak sadar beberapa perubahan terjadi. terlalu menarik untuk kutulis di sini. biarlah kubawa mati, seperti cerita sejati yang tak pernah kamu ketahui. baris-baris ini adalah serat-serat besi di kunci waktu. jika suatu saat di masa depan yang gilang-gemilang aku menemukannya kembali, aku akan ingat bahwa kejadian-kejadian menarik ini pernah terjadi di masa terunaku.

untuk keperluan perbaikan ke depan, perlu kucatat keraguan sebagai salah satu masalah utama dalam urusan ini. tapi kehidupan telah begitu baik mengaruniakanku ketekunan, atau lebih jujurnya, kemampuan untuk menciptakan rutinitas baru. membaca adalah hal yang banyak membantu. mendengarkannya disebut adalah suplemen dosis tinggi. dan, mengamati perbedaan adalah tepukan di bahu.

kereta api dan pohon bunga

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/24/2007

seperti halnya trotsky, aku menyukai kereta api. ada perasaan nyaman dan aman yang belum bisa sepenuhnya kupahami. malam jum’at kemarin sebuah kereta api membawaku ke stasiun yang belum pernah kukunjungi. aku berjalan-jalan di sekitar stasiun asing itu dan tiba-tiba ingin mandi. kubuka ranselku dan tak kutemukan sabun mandi. aku berjalan lebih jauh dan terantuk pada sebuah gedung sekolah sederhana. di belakang sebuah kelas kutemukan beberapa jenis bunga, tapi warnanya hanya merah dan merah muda. atau paling tidak itu yang kepercayai sebab mataku tak begitu sempurna. bunga-bunga itu tumbuh di atas pohon-pohon besar. pemanjat yang buruk, kutarik saja dahannya yang paling bawah. pohon bunga itu mengikuti malu-malu. dengan rakus kuraih bunga-bunga yang kuanggap merah dan merah muda itu. terkumpul satu tangan penuh. kucari kamar mandi terdekat sampai kemudian aku tertunduk lesu.

mimpiku dan semangat mereka

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/16/2007

Aku lahir sebagai pemimpi profesional. Gemar sekali membuat rencana-rencana. Dan, paling tidak untuk satu tahun terakhir, selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Ada masa di mana aku meragukan mimpi-mimpiku, seperti tahun lalu. Namun sampai juga masa di mana aku mampu melihat hanya sekian dari jutaan mimpiku yang tak tercapai. Sampai juga kesadaran bahwa aku hanya gagal saat aku kehilangan fokus dan terlalu banyak bicara. Jika aku harus membayar kesadaran itu dengan salah satu mimpi terbesar yang pernah kumiliki, aku tak menyesal dan tak akan pernah.

Hari-hari ini aku melakukan kembali pekerjaan yang tak pernah benar-benar bisa kutinggalkan itu. Dengan semangat dan cara baru, tentu. Tadi malam aku bercerita pada salah satu kawan baikku tentang mimpiku yang terbaru. Menyenangkan sekali rasanya. Sudah cukup lama aku tak membagi mimpiku dengan orang lain sejak kepergian Arun Meni. Sebenarnya aku tak begitu sering membagi mimpiku dengannya. Tak banyak kesempatan. Arun Meni suka sekali berbicara, termasuk membicarakan mimpi-mimpinya. Dengan Arun Meni aku lebih sering mendengar, ketrampilan yang baru kupelajari.

Mendengarkan mimpi orang lain tak kalah mengasyikkan dengan bermimpi sendiri. Pada awalnya tentu untuk tujuan yang cukup egois. Dengan mendengarkan mimpi orang lain, aku bisa mendapatkan penegasan (bahwa mimpiku lebih superior) atau umpan balik (bahwa mimpiku lebih inferior). Kadang-kadang masalahnya bukan mewujudkan mimpi, seperti yang sering dipikirkan, tapi kualitas mimpi itu sendiri. Seringkali setelah mewujudkan suatu mimpi, aku merasa bahwa aku sebenarnya bisa bermimpi lebih baik dari ini. Jadi ini cukup bagus meskipun akan segera dilalui.

Sebab pada akhirnya aku merasa bahwa aku tak bisa membandingkan mimpiku dengan orang lain. Pak Sartre mengatakan bahwa setiap orang menentukan atau paling tidak mendapatkan makna keberadaannya di dunia yang kosong ini. Dan mereka hanya akan mengerjakan apa yang mereka anggap bermakna, bukan yang mereka anggap rasional (sebagai alat dan ukuran universal). Dengan demikian superioritas dan inferioritas tidak bisa diukur dengan membandingkan mimpiku dengan orang lain, tapi dengan membandingkannya dengan makna hidup yang kupercayai. Semakin relevan dengan makna itu, semakin baik mimpi itu.

Lalu apa yang tersisa untuk kureguk dari mimpi kawanku, Arun Meni dan orang-orang lain? Pameran semangat yang menggairahkan. Contoh kehendak-kehendak berkuasa yang menyegarkan.

Demikian sabda Dewey Setiawan.

mantra pop-ku

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/11/2007

berusaha mengingat-ingat kembali kata-kata itu. kata-kata konyol itu. kata-kata dari otak penulis naskah mata duitan itu. kata-kata dari mulut aktor yang cuma tampan itu. kata-kata dari dari film bodoh itu. kata-kata yang menutup hari-hari victorianku.

sudah kulakukan apa yang kata-kata itu tuntut. namun saat tuntutan itu sudah hampir kupenuhi, baru kusadari aku sudah lupa kata-kata itu sendiri. mantra? mungkin juga. konon, menurut seorang resi yang sungkan untuk kusebut di sini, “mantra menjadi sempurna saat sang pengucap tak mengingat apa yang dia ucapkan.” dus, dia sudah lupa dengan mantra itu sendiri karena mantra itu sudah menjadi bagian integral dari dirinya.

meski terlalu ngepop? adakah yang pernah mengatakan bahwa mantra harus terdengar seram atau khidmat? siapa yang pernah mengatakan mantra tak boleh datang dari film semacam shakespeare in love?

hehehe…jayus, ya?

menghajar keyboard

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/09/2007

jika dulu kukatakan aku tak bisa berhenti, mungkin aku melebih-lebihkannya. dan itu memang terdengar sangat menarik, bukan? apa yang lebih memukau dari ketidakberdayaan yang diucapkan dengan kecerdasan?

tapi jika sekarang, aku mengatakan yang sesungguhnya. aku sudah mulai bisa memahaminya. aku sudah mulai menangkap bahwa bukan kita yang menemukan tugas, tapi sebaliknya.

papa yang tak pernah berhenti menggoda

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/07/2007

papaku adalah orang yang sangat memperhatikan dan membanggakan kesehatannya. di usianya yang sudah menginjak angka 60 satu-satunya gangguan yang beliau punyai adalah asam urat. jadi kalau lagi pamer sakit-penyakit, kegiatan absurd para manula, papaku selalu merelakan posisinya sebagai dominator pembicaraan. tiap hari minggu pagi papaku selalu mencoba rute jalan-jalan baru untuk menguji vitalitasnya. kadang-kadang jarak yang ditempuhnya keterlaluan sehatnya: 15-20 kilo!

tentu sedikit sulit baginya menemukan anaknya adalah pemuda yang selalu berhasil menambah satu kebiasaan buruk tiap tahunnya. karena aku sudah terlalu beruban untuk diancam tidur di kandang ayam, beliau hanya bisa menghimbauku untuk berhenti. “iya, pa”, jawabku sambil mengepulkan asap rokok.

mungkin karena merasa mustahil menghentikanku, beliau mencoba untuk mengurangi efek buruk kebiasaan-kebiasaan burukku. akhir-akhir ini, misalnya, setiap 2 hari sekali beliau membelikanku susu sapi murni. aku tidak tahu persis apakah susu bisa mencuci paru-paru seperti yang kebanyakan orang percayai selama ini. namun yang pasti aku merasa lebih segar. cuma masalahnya ini perlahan-lahan mulai mengancam pertahanan berat badanku…hehehhe

ya, aku cukup senang dengan berat badanku sekarang. kurang sedikit ke titik yang kuimpikan. titik di mana aku berangkat ke thailand dulu. waktu di thailand, apalagi beberapa bulan sepulangnya dari sama, berat badanku melambung luar biasa sampai hampir mencapai 100 kg. tapi itu sebelum aku dilukai oleh kehidupan….cieee…hehehehe

anyway, untuk mengurangi ancaman itu, aku selalu meminumnya tanpa gula. awalnya agak sulit, tapi lama-lama malah swueger kalo tanpa gula. tengah sibuk-sibuknya aku membangun pertahanan, papa mulai menyerang lagi dengan armada baru. akhir-akhir beliau sering pulang bawa beberapa kotak durian. katanya supaya penyakit kuningku nggak kambuh. hadoooooh. aku selalu dapat alokasi 2 kotak. dan aku tak mampu menolak niat mulia semulia itu.