Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

papa dan candy

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/30/2007

hah? bukan, papa bukanlah hidung belang yang doyan permen belia. papa tak berubah dan, mempertimbangkan segala kondisi obyektif, tak akan pernah. laki-laki ini sudah lama melampaui kebosanan dengan menjadikannya gaya hidup. ini tentu saja membuat mama menjadi satu dari sedikit perempuan yang paling beruntung di bumi manusia. saat seluruh dunia memunggungi gadis kelas 2 smea ini sekitar 31 tahun yang lalu, sang pemuda rantau keluar dari rimba kalimantan, pulang dan menatap keluarga si gadis tepat di kumparan mata mereka: “biarpun dia buntung kakinya, saya akan tetap menikahinya.”

demikianlah, sidang pembaca yang terhormat, papa yang kudengar dari orang-orang dan yang kukenal sendiri. detil cerita boleh berubah. buntung kaki boleh berganti menjadi maag, diabetes, myom, batu liver dan silakan teruskan sendiri. tapi kegigihannya dalam mencintai mama tak bertambah dan berkurang adanya. kepadanyalah ungkapan “he can’t love her more” menjadi bermakna benar.

tentu, melihat hidupku sendiri, aku mau tak mau sering merasa begitu rendah dalam soal moral. tapi yang membuatku bersemangat adalah kata-kata papa di kebun surealis kreasinya setelah mendengar catatan perjalananku: “papa bangga kamu tahu kesalahanmu….sadar itu salah…dan mau membayarnya lunas….dengan harga yang paling mahal…tanpa menggerutu…tanpa menyalahkan orang lain.” titan moral, begitu aku suka menyebutnya.

tak bisa kutahan ketertarikan saat menemukan akhir-akhir ini sang titan tak pernah ketinggalan menyaksikan sinetron ‘candy’ di televisi. bahkan sudi melewatkan ajakan-ajakan kawan-kawannya untuk bergadang di kuburan-kuburan kuno. saking seringnya aku sampai (terpaksa) hafal lirik lagu sialan yang jadi soundtrack sinetron itu. papa dan candy adalah keniscayaan yang tak harmonis. apa gerangan?

kami, yang terus berbeda

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/27/2007

bangun sore, minum kopi dan melayang di punggung kota. halimun dan halimun saja. sekedar pohon-pohon yang bisa bergerak saja. sudah siapkah kamu di rumah? tahu tanggal berapa? borjuis mini seperti kita terus bergantung pada akhir pekan dan tanggal muda. jika ada yang belum kamu lihat, katakan. katakan sebelum datang tagihan-tagihan. jika ada yang belum kamu simpan di lemari, katakan. katakan sebelum datang masa mengais-ngais yang tersimpan.

semoga kita bertemu dengan keadaan yang tepat. semoga kita begitu berbeda sore ini. entah kamu tengah tumbang ke bawah dan aku melentik ke langit atau sebaliknya. dengan demikian banyak yang kita bicarakan. banyak yang bisa kita bagi. banyak yang bisa kita betulkan satu sama lain.

tak tahu aku bagaimana meringankan kebosananmu. sebab pada akhirnya justru akulah kebosanan itu. dalam bentuknya yang paling membosankan. mungkin bukan aku yang kamu perlukan sepanjang tahun. begitukah? jika datang masa yang tegang, tiba-tiba kamu ingin berhenti, berkerjap-kerjap pada tetha, meludah pada perca-perca warna, menemukan satu yang hitam, kamu selalu tahu kemana harus pulang. pejamkan mata sebentar, nyanyikan kama gayatri dan panggillah taxi.

tapi mungkin pada saat itu aku tak ada di rumah. mungkin pada saat itu aku tengah muak pada kesunyian, ingin menjadi jalang yang lajang atau sebaliknya, menyala pada beta, kalap terhadap mozaik-mozaik dan menemukan ketertakhinggaan yang kaya. pada saat yang demikian cobalah untuk mengerti, seperti aku tiap hari. aku tak pernah menatap mata mereka jika itu bisa menghiburmu. jatuhkan sedikit pesan di meja dan jangan lupa mengunci pintu saat pergi.

ini semua tak serumit kelihatannya. semua bisa diatur, seperti halnya hasil akhir. percayalah. percaya saja kita pasti menang.

jumat yg kusukai

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/26/2007

adalah mutlak bagiku untuk sejauh mungkin tidak terlibat dalam masalah dan orang lama. sering kukatakan sebelumnya, secara intelektual, aku belajar luar biasa banyak dari mereka dan segenap pencariannya. tapi, soal watak, bisa dikatakan tak banyak yang bisa kupigura di dinding kamar. biarkan yang mati mengubur yang mati.

saat kerangka tak bisa kutemukan di meja kerja, adalah kewajibanku untuk menciptakannya. atau paling remeh membuat perbedaan. demikianlah dogma semesta. jika seseorang tak melakukannya, orang lain harus melakukannya.

listrik mati

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/21/2007

jika saja ada suatu mekanisme biologis yang membuat kita langsung sakit gigi setiap berfikir dan bertindak bodoh, kita tak akan pernah terjerembab terlalu jauh. dengan demikian perasaan tergelap yang dikenal dalam pengalaman manusia hanyalah kekecewaan, bukan ratapan. tentu saja aku sedikit melebih-lebihkan di sini. jika tak ada fisikawan yang sanggup membelah gelombang dan garis dari sebilah cahaya, tentu aku tak akan berharap mampu membagi dunia yang jauh lebih abu-abu ke dalam petak-petak. yang ingin kutekankan adalah bagaimanapun juga keduanya adalah 2 pengalaman yang berbeda. jika tidak, tentu manusia tak akan merasa perlu menciptakan 2 kata.

bagiku sendiri kekecewaan selalu membawa dalam ranselnya sebungkus dendam. adalah penghinaan bagi pengalaman kemanusiaan kalian jika aku harus menguraikan apa yang bisa kalian lakukan dengan energi yang penuh vitalitas ini. yang pasti kalian tak akan terlalu menentangku jika kusebutkan perbaikan sebagai salah satunya. tapi bagaimana dengan ratapan? banyak yang bisa kalian harapkan, sebenarnya, tentu saja jika kalian tak merasa terlalu dangkal dengan semesta benda-benda seperti selembar sapu tangan, sebungkus tisu, berkaleng-kaleng bir dingin atau bahkan sebuah alkitab. demikianlah ketidaktahuan akan menyakiti kalian sebagai hangover sesudah malam yang gila, bukan sebagai muntahan di pundak atau paha kawan-kawan sebagai peminum amatir.

sayang sekali ketidaktahuan justru menjanjikan dan bahkan memberikan keamanan dan kenyamanan, 2 dari sedikit hal yang paling manusia buru di muka bumi. dengan tidak tahu kita tak perlu dihantui pertanyaan-pertanyaan profan di setiap masa melamun tiba. dengan menjadi gelap kita tak perlu berbeda dengan banyak orang dan menerima perlakuan yang cukup menyebalkan. begitulah sering kita dengar orang demi orang mengutuki hari di mana mereka pertama kali menerima pencerahan. tapi aku cukup yakin kutukan semacam itu tak pernah mencapai derajat ketulusan yang cukup tinggi. seperti keluhan ibu kepada tetangganya tentang anaknya yang tak mau belajar tetapi selalu juara 1 di sekolah. rasa bersalah dan apologia buruk kelas menengah.

banyak alasan yang bisa diangkat. tapi salah satu yang paling manusiawi dan, karenanya, paling meyakinkan bagiku adalah penderitaan dalam kesadaran, apapun derajatnya, jauh lebih tertanggungkan. oleh sebab yang sama manusia takut pada tempat yang gelap atau malam hari. apa yang lebih buruk daripada merasa menderita tanpa tahu sebabnya? apa yang lebih menyebalkan dari gigitan nyamuk saat listrik mati?

Ratu Bunga

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/17/2007

Dalam pembuanganku yang kedua, aku tersuruk di sebidang taman alami yang memisahkan hutan lebat dan padang luas. Taman itu disebut oleh penduduknya sendiri sebagai Negeri Warna. Kunjungan ini seperti kematian itu sendiri. Semua begitu sepi. Bersihnya mengerikan. Anginnya menenggelamkan. Cahayanya redup senja, meski di jam ini matahari masih meronda. Di negeri Warna setiap suara adalah lagu. Setiap gerak adalah tarian. Setiap tulisan adalah puisi. Dan setiap pandangan adalah lukisan.

Hal yang pertama kulakukan di sini adalah bertanya ke sana kemari untuk menemukan jalan menuju rumah penguasa taman ini. Hal yang lazim kulakukan sebelumnya, kecuali kali ini aku harus bertanya kepada bangsa peri. Bangsa peri di negeri ini tinggal di kelopak-kelopak bunga. Mereka hidup dengan tenteram dan damai dalam pemerintahan Ratu Bunga. Ratu Bunga mendapatkan kekuasaannya bukan dari orang tuanya. Kedua orang tuanya cuma peri pekerja yang tinggal di ujung timur taman itu. Bukan juga karena pengaruhnya terhadap orang-orang bijak dan angkatan perang. Dia dipilih oleh bangsa peri berdasarkan kebaikan rupa dan sifatnya.

Bangsa peri adalah pemilih yang baik. Ratu Bunga muncul di pintu rumahnya bak Malaikat Ratana, satu-satunya malaikat perempuan yang pernah diciptakan untuk melukis pelangi. Kedua-duanya memiliki kaki jenjang serupa lilin. Rambutnya hitam legam lebat bergelora. Wajahnya adalah paduan terbaik yang tak bisa dipecahkan rumusnya. Keduanya juga memiliki, tentu saja, sayap yang terus menerus menabur butir-butir cahaya keemasan. Satu-satunya perbedaan yang ada sekaligus nyalang adalah ukuran mereka. Ratu bunga tak lebih besar dari jari kelingking Malaikat Ratana.

Sifatnya juga cantik jelita, jika saja sifat mempunyai rupa. Senyum Ratu Bunga tergantung dengan sempurna, menunjukkan hati yang terkendali. Keramahannya menyeruak tak dibuat-buat, menggambarkan sifat menghargai dari dalam hati. Tekanan suaranya pada saat menjelaskan hukum setempat, bagaimanapun juga, menunjukkan bahwa dia juga menyimpan hukuman mati di salah satu sekat hatinya.

(Bersambung…Sesuai dengan Jumlah Gaji Bulan Depan)

megalomania

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/16/2007

semakin lama kunikmati liburanku, semakin menjadi-jadi megalomaniaku. bayangkan, tiap hari tak ada yang kulakukan selain mempelajari segala sesuatu tentang perang dunia mulai dari tokoh sampai pertempuran besarnya. tak puas dengan sumber kedua, aku turun jauh sampai diari dr goebbels. semua kulahap tanpa khianat. bahkan daftar pustaka.

aku kira aku bisa berhenti sampai dengan pembangunan ‘dinasti’. tapi liburan ini telah membuatku memikirkan tentang umat manusia. menjadi nabi atau kaisar. kutuk apa ini?

liburan dan dinasti

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/14/2007

2 hari pertama liburan tak memberiku kemewahan bangun siang. kamis pagi om dan tante dari pihak papaku datang dari ibukota…hehehe. bukan untuk berlebaran, sebenarnya. kebetulan mereka ada urusan ‘bisnis kaki-kaki’ di surabaya dan mampir. seperti biasa mama tak akan melewatkan kesempatan seperti ini untuk memamerkan perkembangan berat badanku.

jumat pagi harus antar makku dari pihak mama untuk napak tilas ke peristirahatan para leluhur. tujuan pertama adalah ke pasar mojokerto. loch? bukan, syukurlah tak ada leluhurku yang dikubur di pasar. iya, kami harus beli bunga dulu. setelah itu langsung ke desa ciro, kecamatan balongbendo, kabupaten sidoarjo, tempat mak lahir. bapak dan saudara-saudara kandungnya beristirahat di sana. bagaimana dengan ibu kandungnya? ceritanya cukup panjang dan tragis. suatu saat aku akan mendokumentasikannya secara khusus.

dari kuburan kita mampir ke keponakan-keponakannya yang tinggal tak jauh dari situ. mak meninggalkan satu kaleng cat, beberapa lembar kertas gosok, 1 kuas besar, 1 kuas kecil, dan beberapa lembar uang ke mereka. mak mengulang beberapa kali komandonya, dengan penekanan khusus tentang pentingnya menulis nama-nama almarhum dan almarhumah di nisan masing-masing. asal tahu aja, mak buta huruf.

setelah itu kami meneruskan perjalanan menuju desa sidowaras, kecamatan wringinanom, kabupaten gresik, tempat mak dibesarkan. mak dibesarkan oleh bu dhe dari pihak bapaknya. bu dhe-nya ini bernama minten, yang bersuami pak dhe nariman, mandor jahit karung pabrik gula belanda. sebagai informasi tambahan, lokasi pabrik gula itu dulu tepat di pabrik ratatex sekarang, balongbendo, balongbendo. tambahan lain: pak dhe nariman ini yang dipercaya di kalangan tua menitis ke aku. seperti sebelumnya, kami mampir ke keponakan-keponakannya yang berdomisili di desa setempat. seperti sebelumnya, mak juga meninggalkan perlengkapan mengecat beserta komandonya.

setelah itu kami meluncur ke desa penambangan, kecamatan balongbendo, kabupaten sidoarjo, tempat mak menghabiskan lebih dari separuh usianya sebagai istri dan ibu. kami berdoa dan menabur bunga di makam tanteku. tanteku adalah anak mak yang ke-7. total anak mak adalah 9 orang. mamaku sendiri anak yang ke-5. tanteku ini adalah yang merawatku waktu kecil dan yang paling dekat denganku. terakhir aku mengunjungi makamnya adalah tahun 2002, sesaat sebelum aku berangkat ke thailand. selain tanteku, kami juga mengunjungi makam anak pertama tanteku yang lain, anak mak yang ke-3. sepupuku ini meninggal dalam kandungan.

sebagai penutup, izinkan sang pembangun dinasti setiawan ini mengutip kata-kata bijak dari don vito, sang pembangun dinasti corleone: “good. cause a man who doesn’t spend time with his family can never be a real man.”

ibu dan bapak

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/11/2007

masih pantaskah saya memanggil demikian? saat menulis entah apa ini, perasaan saya tak lebih baik dari robert melemma sekitar satu abad yang lalu di atas kapal dagang belanda. tapi saya berfikir, seperti ibu dan bapak sudah tunjukkan, terlalu picik jika saya harus mengasihi orang lain dengan alasan, apalagi oleh sebab pengakuan. begitulah saya terus membiasakan diri memanggil orang demi orang sesuai dengan perasaan saya, bukan karena penerimaan.

mungkin tak mudah bagi ibu dan bapak untuk mempercayai perasaan saya lagi. perasaan itu sungguh tak sesuai dengan apa yang sudah saya lakukan terhadap divina, wujud terindah dari ibu dan bapak. mungkin terdengar mengejek jika saya katakan hanya yang mencintai yang pernah menyakiti. saya memang pernah begitu mencintainya. mencintainya dengan kalap. dengan membabi-buta. dan cinta seperti itulah yang menghanguskan saya suatu malam janggal di awal februari 3 tahun yang lalu.

tak lama kemudian saya tenggelam dalam permainan yang saya ciptakan sendiri namun tak pernah bisa kuasai. demikian biadab, saya bersyukur saya bisa berhenti menyakiti, meski harus dengan berhenti mencintai. demikianlah kebodohan dan kepengecutan teruna yang sudah tak ingin saya bela lagi, namun akan terus saya akui, kenang dan pelajari. malam mengajar saya sebaik kapten miller di atas jembatan di rammel:”…earn this…earn it.” tak pantas saya ceritakan bagaimana saya berusaha menjalani kehidupan sekarang. tapi, dengan pengorbanan seindah divina, terkutuklah saya jika menjalani hidup dengan sia-sia. semoga masa depan yang gilang-gemilang menyaksikan saya terus tumbuh lebih manusiawi dan bahkan melampauinya.

hari-hari dibesarkan manusia untuk mengingat. demikianlah saya mengingat ibu dan bapak sepenuh-penuhnya pada lebaran kali ini. terkenang-kenang bagaimana kita menghabiskan waktu bersama di tahun-tahun yang kian menjauh. teringat bagaimana kita melewati lebaran tahun lalu. jika keindahan adalah harmoni kebaikan dan keburukan, tak berlebihan jika saya katakan kita melewati lebaran tahun lalu dengan indah. kita masih bisa melewatinya bersama-sama. itu baik. itu adalah lebaran terakhir kita. itu tak baik.

mohon maaf lahir dan batin, ibu dan bapak. saya tak bisa datang lebaran kali ini dan mungkin untuk selama-lamanya. mungkin ini yang termudah sekaligus yang terbaik bagi semua. hati masih tersenyum dengan kesadaran bahwa pada putaran akhir keterpisahan adalah ilusi. jauh di mata, satu dalam kasunyatan. mohon izin berhenti dulu. ada kawan saya yang meninggalkan onde-onde pecah di atas meja kantor. saya tak tahu apa maksudnya. tapi tak baik jika saya diamkan begitu saja.

baca, belajar dan bergerak

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/08/2007
akhirnya, setelah beberapa putaran waktu, terjemahanku atas pamflet trotsky melawan fasisme menemukan pemberhentiannya di http://www.marxists.org/indonesia/archive/trotsky/1944-Fasisme.htm
terjemahan ini sebelumnya pernah aku kirim ke situs-situs marxis lain. tapi rupanya pengelolanya sudah cuti luar tanggungan…hehehe. sempat juga aku kirimkan ke penerbit buku di jokja, tapi rupanya mereka sudah mual dengan karya-karya kiri klasik. beberapa waktu yang lalu aku publikasikan ke blog buatanku sendiri di www.trotskyisindonesia.blogspot.com.

tapi aku masih berharap terjemahan ini bisa dimuat di situs yang lebih pouler supaya bisa dibaca, dipelajari dan diamalkan oleh lebih banyak orang. karena itu aku mencoba untuk menghubungi pengelola http://www.marxist.org. seksi bahasa indonesia. sambutan antusias datang dari kawan ted s. prague, pengelola baru seksi tersebut.

terjemahan ini disunting oleh orang yang sama. kolaborasi pertama dari kami. semoga ada yang selanjutnya.

Powered by ScribeFire.

lapor (zonder renungan)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/07/2007

akhir pekan yang menyebalkan…hehe. keteganganku tak juga menurun sampai saat ini. biasanya hari jum’at sudah membawa penurunannya sendiri. sampai detik aku menghadapi gelas kopi di cak to seluruh kabel-kabelku masih penuh listrik. sabtu tak lebih baik. kemampuanku untuk bangun sore tiba-tiba menghilang. pukul 10 menarikku dari kamar mama. kuhabiskan hari dengan membalas e-mail, potong rambut, ngopi, mencuci motor dan mengisi borang. malam memeluk suara. tak kunjung memuncak dan rebah.

mudah-mudahan tak sampai malam ini. mungkin waktunya untuk mabuk kembali. whuah! 😀

exchanging

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/07/2007

it’s free to dream and to dream is free.

belum bisa menyusulmu

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/05/2007

Arun Meni, memang betul kesunyian ini tidak mudah. Seringkali menjengkelkan juga. Tapi kepuasan terus berteriak setiap kali mengingat bahwa ini untuk sebuah kepercayaan. Kepercayaan? Betapa remehnya bagi hati yang kanak; betapa mengerikannya bagi hati yang menua. Hati membuih, menenggelamkan sepi di luar.

Jalan ramai, Arun Meni, tak lebih baik. 5 tahun kuhabiskan mengumpulkan bukti. Keramaian mengepung dari segala arah dan setiap waktu. Tak bisa menyuap keraguan. Tak bisa duduk satu meja dengan diriku semdiri. Pada putaran akhir meledak kesunyian. Hati membakar, mendebukan sorak-sorai di luar. Letaknya di dalam. Yang satu ini sungguh menyesakkan.

Kesunyian ini memang tak mudah, namun penuh kelegaan. Sebab tahu pilihan kulingkari sendiri. Dan tahu harga kutentukan sendiri. Bangga aku mau membayarnya. Tahu aku mencintaimu sekuat remaja. Maka, jika kamu bisa menemukan aku di balik setiap kegagalan, berbahagialah. Mudahkan murkamu, perhebat penebusanku. Merangkaklah, berdirilah, melangkahlah, berlarilah dan terbang kencang-kencang!

Sudah sebesar apa kamu sekarang? Bagaimana ternyata wajah malaikat? Salam untuk seluruh kenalan barumu. Jangan lupa memberitahu bunga apa yang kau suka untuk bulan depan.

paulo puts it so damn well

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/04/2007

The Wounded by Love Agreement

General Provisions:

A] Considering that it’s absolutely correct the saying that states that “all is fair in love and war”;

B] Considering that in war we have the Geneva Convention, adopted in August 22nd of 1864, that determines the fate of the wounded in battlefields whereas there is no agreement that was promulgated until this day that deals with the wounded of love, who are much more populous;

It is hereby declared that:

Art. 1 – All lovers, male or female, are now being notified that love, besides being a blessing, is also something very dangerous, unpredictable and able to cause serious damages. Consequently the one who decides to love has to know that his body and soul are exposed to many types of wounds and will not be able to blame the partner in any moment, since the risk is equal to both.

Art. 2- Once a lost arrow from the bow of Cupid hits a person, that person has to immediately ask the archer to dart another arrow in the opposite direction, so that one will not fall prey to the wound famously known as “non-reciprocal love”. In case Cupid refuses such act, the Agreement here promulgated demands that the wounded immediately retrieves the arrow from his heart and throw it in the bin.

In order to achieve this effect, the wounded has to avoid phone calls, internet messages, flower deliveries, or any other act of seduction, since these acts may achieve short term results, but are inevitably erased by time. The convention declares that the wounded has to quickly seek the company of other people in order to control the obsessive thought “it’s still worth to fight for this person”.

Art. 3 – In case the wound comes from third parties, meaning, the loved one is interested in someone else who was not expected in the pre-established plans, it is hereby expressly forbidden any act of revenge. In this case, it is permitted the profuse use of tears, some punches on the wall or pillow, talks with friends where the wounded can freely insult the ex-partner, allege his complete lack of good-taste, but refraining to lessen the partner’s honor.

The agreement determines that art. 2 can also be applied: the wounded may seek the company of other people, preferably in places where the partner does not dwell.

Art. 4 – In case of light wounds, hereby classified as small betrayals, fulminating passions that do not last long, transitory sexual disinterest or dysfunction, one has to quickly and abundantly apply a medicine called Forgiveness. Once this medicine applied, one must never look back and the subject must be completely forgotten, never being mentioned as an argument in eventual fights or moments of wrath.

Art. 5 – In the case of definitive wounds, also called “brake-ups”, the only medicine capable of truly healing one’s heart is Time. It’s pointless and ineffective to find consolation with fortune-tellers (that will always allege that the lost love will return), romantic books (in which the endings are always happy ones), TV soap operas or other similar things. One has to suffer with intensity, completely avoiding the use of drugs, painkillers, prayers. Alcohol is only allowed in moderation, never surpassing more than two glasses of wine per day.

Final Provision: the wounded of love, contrary to the wounded of armed conflicts, are neither victims nor torturers. They have chosen something that is part of life and therefore they have to face the agony and the ecstasy of their choice.

And for those that were never wounded by love, they will never be able to say: “I lived”. Because they haven’t.

This text was written in Geneva, June 25th, 2007