Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

ibu dan bapak

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/11/2007

masih pantaskah saya memanggil demikian? saat menulis entah apa ini, perasaan saya tak lebih baik dari robert melemma sekitar satu abad yang lalu di atas kapal dagang belanda. tapi saya berfikir, seperti ibu dan bapak sudah tunjukkan, terlalu picik jika saya harus mengasihi orang lain dengan alasan, apalagi oleh sebab pengakuan. begitulah saya terus membiasakan diri memanggil orang demi orang sesuai dengan perasaan saya, bukan karena penerimaan.

mungkin tak mudah bagi ibu dan bapak untuk mempercayai perasaan saya lagi. perasaan itu sungguh tak sesuai dengan apa yang sudah saya lakukan terhadap divina, wujud terindah dari ibu dan bapak. mungkin terdengar mengejek jika saya katakan hanya yang mencintai yang pernah menyakiti. saya memang pernah begitu mencintainya. mencintainya dengan kalap. dengan membabi-buta. dan cinta seperti itulah yang menghanguskan saya suatu malam janggal di awal februari 3 tahun yang lalu.

tak lama kemudian saya tenggelam dalam permainan yang saya ciptakan sendiri namun tak pernah bisa kuasai. demikian biadab, saya bersyukur saya bisa berhenti menyakiti, meski harus dengan berhenti mencintai. demikianlah kebodohan dan kepengecutan teruna yang sudah tak ingin saya bela lagi, namun akan terus saya akui, kenang dan pelajari. malam mengajar saya sebaik kapten miller di atas jembatan di rammel:”…earn this…earn it.” tak pantas saya ceritakan bagaimana saya berusaha menjalani kehidupan sekarang. tapi, dengan pengorbanan seindah divina, terkutuklah saya jika menjalani hidup dengan sia-sia. semoga masa depan yang gilang-gemilang menyaksikan saya terus tumbuh lebih manusiawi dan bahkan melampauinya.

hari-hari dibesarkan manusia untuk mengingat. demikianlah saya mengingat ibu dan bapak sepenuh-penuhnya pada lebaran kali ini. terkenang-kenang bagaimana kita menghabiskan waktu bersama di tahun-tahun yang kian menjauh. teringat bagaimana kita melewati lebaran tahun lalu. jika keindahan adalah harmoni kebaikan dan keburukan, tak berlebihan jika saya katakan kita melewati lebaran tahun lalu dengan indah. kita masih bisa melewatinya bersama-sama. itu baik. itu adalah lebaran terakhir kita. itu tak baik.

mohon maaf lahir dan batin, ibu dan bapak. saya tak bisa datang lebaran kali ini dan mungkin untuk selama-lamanya. mungkin ini yang termudah sekaligus yang terbaik bagi semua. hati masih tersenyum dengan kesadaran bahwa pada putaran akhir keterpisahan adalah ilusi. jauh di mata, satu dalam kasunyatan. mohon izin berhenti dulu. ada kawan saya yang meninggalkan onde-onde pecah di atas meja kantor. saya tak tahu apa maksudnya. tapi tak baik jika saya diamkan begitu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: