Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Ratu Bunga

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/17/2007

Dalam pembuanganku yang kedua, aku tersuruk di sebidang taman alami yang memisahkan hutan lebat dan padang luas. Taman itu disebut oleh penduduknya sendiri sebagai Negeri Warna. Kunjungan ini seperti kematian itu sendiri. Semua begitu sepi. Bersihnya mengerikan. Anginnya menenggelamkan. Cahayanya redup senja, meski di jam ini matahari masih meronda. Di negeri Warna setiap suara adalah lagu. Setiap gerak adalah tarian. Setiap tulisan adalah puisi. Dan setiap pandangan adalah lukisan.

Hal yang pertama kulakukan di sini adalah bertanya ke sana kemari untuk menemukan jalan menuju rumah penguasa taman ini. Hal yang lazim kulakukan sebelumnya, kecuali kali ini aku harus bertanya kepada bangsa peri. Bangsa peri di negeri ini tinggal di kelopak-kelopak bunga. Mereka hidup dengan tenteram dan damai dalam pemerintahan Ratu Bunga. Ratu Bunga mendapatkan kekuasaannya bukan dari orang tuanya. Kedua orang tuanya cuma peri pekerja yang tinggal di ujung timur taman itu. Bukan juga karena pengaruhnya terhadap orang-orang bijak dan angkatan perang. Dia dipilih oleh bangsa peri berdasarkan kebaikan rupa dan sifatnya.

Bangsa peri adalah pemilih yang baik. Ratu Bunga muncul di pintu rumahnya bak Malaikat Ratana, satu-satunya malaikat perempuan yang pernah diciptakan untuk melukis pelangi. Kedua-duanya memiliki kaki jenjang serupa lilin. Rambutnya hitam legam lebat bergelora. Wajahnya adalah paduan terbaik yang tak bisa dipecahkan rumusnya. Keduanya juga memiliki, tentu saja, sayap yang terus menerus menabur butir-butir cahaya keemasan. Satu-satunya perbedaan yang ada sekaligus nyalang adalah ukuran mereka. Ratu bunga tak lebih besar dari jari kelingking Malaikat Ratana.

Sifatnya juga cantik jelita, jika saja sifat mempunyai rupa. Senyum Ratu Bunga tergantung dengan sempurna, menunjukkan hati yang terkendali. Keramahannya menyeruak tak dibuat-buat, menggambarkan sifat menghargai dari dalam hati. Tekanan suaranya pada saat menjelaskan hukum setempat, bagaimanapun juga, menunjukkan bahwa dia juga menyimpan hukuman mati di salah satu sekat hatinya.

(Bersambung…Sesuai dengan Jumlah Gaji Bulan Depan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: