Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

tak akan kuberikan bagianku

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/30/2007

minggu yang gencar. sering kukatakan, pukulan selalu datang seperti kereta. hukum kehidupan yang baik. sekalian. cepat selesai. tak bisa lebih buruk lagi…hehehe…argh, dan aku masih sempat mengeluh ini bukan bumi yang menarik?

ssst…pemikiran lain tentang masalah. selalu ada 2 pihak di belakang setiap masalah. diriku dan dunia. tanpa dunia, aku tak akan pernah terpukul. tentu aku tak akan memukuli diriku sendiri tanpa sebab, bukan? sebaliknya, tanpa aku, dunia tak akan memukul. siapa juga yang harus dipukul? atau, jika diriku tak lemah, dunia tak akan berani untuk memukulku.

jika harus ada aku dan dunia pihak di belakang setiap masalah, tak akan kuberikan bagianku. aku tak mungkin mencegah dunia memukulku. tapi mungkin aku bisa mencegah diriku untuk terpukul atau kuat dipukul.

semudah itu? sekali-kali tidak. menahan diri adalah keahlian yang paling sulit dikuasai di muka bumi ini. manakah yang membutuhkan kekuatan yang lebih besar: membuat kuda berlari atau menghentikannya?

tapi, melihat hasilnya, tampaknya keahlian ini layak dipelajari. mau belajar bersama-sama aku?

how ole can you go?

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/28/2007

27. gembira sekali tahun ini aq masih mendapat kesempatan untuk memperingatinya bersama segenap anggota keluarga. ah, apalah artinya laki-laki 27 tahun ini tanpa mereka? seperti tahun lalu, kami memperingatinya di sebuah rumah senyap di salah satu bukit yang aku sukai. seperti tahun lalu, keluarga kakakku turun dengan formasi lengkap. seperti tahun lalu, keluarga tante nanik meluangkan waktu dan tenaga untuk menyenangkan keponakan dan sepupunya yang tidak baik-baik amat ini. padahal pada saat yang sama mertua tante sedang menjalani kemoterapi. semesta terima kasih untuk mereka.

ulang tahunku kali ini juga dimeriahkan dengan keikutsertaan keluarga tanteku yang lain, tante tutik. selain itu, tahun ini kami juga kedatangan bintang tamu: nyonya tarah, mantan bunga desa sidowaras, janda tuan tlt, ibu suri dinasti tlt, ibu dari nyonya t. hartini dan nenek dari tuan dewey setiawan nan agung hehehe. asal tahu saja, sesuai pengakuan beliau sendiri, tuan dewey setiawan adalah cucu yang paling beliau sayangi. dari sepuluh anak dan berpuluh-puluh cucu beliau, hanya tuan dewey setiawan yang dipilih mewarisi ilmu klenik dari beliau…hehe.

hari pertama tak ada acara yang langsung berhubungan dengan ulang tahun. kami sibuk makan, minum, curhat dan bercanda. jarang sekali kami bisa berkumpul dan bersenang-senang bersama seperti saat itu. begitu terus sampai malam hari. seperti biasa, aku memimpin sepupuku yang seluruhnya masih abg itu melakukan kenakalan-kenakalan kecil. puncaknya aku ‘menghimbau’ mereka berenang malam-malam. wuadem en sweger, bhuos….hehehe. yeah, renang kegiatan yang sangat aku sukai meski tak pernah bisa kujadikan hobi.

esok paginya aku dibangunkan oleh aroma mi goreng. mama ternyata membuatkanku sepiring besar mi goreng lengkap dengan telur yang diwarnai. ngantuk campur haru. kemudian dalam keadaan setengah sadar tuan dewey setiawan diseret ke balkon untuk acara ulang tahunan. seperti tahun lalu, ada acara tiup lilin, nyanyi hepi birthday, biskuit ayat, kuis dan wejangan. soal tiup lilin, kalo tahun lalu lilinnya dilesakkan ke kue black forest, kali ini ke tumpukan kue sus. kata tante nanik ini ada filsafatnya. tumpukan kue sus itu tampak seperti tumpukan batu. itu melambangkan perjalanan hidupku yang meniti dari batu ke batu untuk mencapai puncak…cie…hehe. kebetulan aku juga bekerja di petra yang berarti batu karang. selain itu, itu juga mengandung harapan agar aku tetap melestarikan sifat kepala batuku…hehehe.

yang dimaksud dengan biskuit ayat adalah cracker yang ada tulisan ayat alkitabnya. tante nanik yang membelinya. masing-masing dari kami di minta mengambil selembar dari kotak dan membacanya keras2. tahun ini aku kebagian ayat yang berbunyi: “jangan lagi ada perasaan benci”. tanpa dikomando segenap mulut-mulut yang tak bertanggungjawab berteriak riuh rendah begitu aku selesai membacanya. apalagi ada gambar cinta di bawah ayat itu…hehehe…diperlukan waktu tak kurang dari 5 menit untuk meredakan pembantaian yang menyenangkan itu.

om maju dengan memamerkan ang pau yang nyalang tebalnya. barangsiapa bisa menjawab pertanyaan darinya akan mendapatkan ang pau itu. om bercerita pagi itu dia berdiskusi dengan papa tentang sejarah, terutama sejarah perang paregreg pada sekitar tahun 1401. pertanyaan, jika 1401 ada perang paregreg, ada apa di 1730? lovin, sepupuku, menebak itu jam kelahiranku. salah, sebab aku lahir sekitar pukul 05.30, tepat saat adzan subuh. papa menjawab itu adalah waktu hujan abu pada saat gunung agung di bali meletus. gak nyambung. terlalu jauh. aku menjawab di 1730 ada angka. terlalu plesetan, katanya. setelah semua menyerah om memberikan jawabannya. di 1730 ada adzan maghrib…hehehe. karena tidak ada yang bisa menjawab, ang paunya diberikan ke yang berulang tahun. ternyata jumlahnya 27 ribu.

setelah quiz bubar, papa meminta waktu untuk memberi wejangan. beliau membahas sebuah pernyataan filsafat jawa kuno yang berbunyi giri lusi tan kena dihina. giri berarti gunung. lusi berarti rumput. tan kena dihina berarti tak bisa dihina. well, kalian bisa menebak kira-kira artinya apa. tapi in case kalian lagi males mikir….hehehe….setinggi-tingginya gunung masih bisa ditumbuhi rumput di puncaknya. jadi aku tak boleh meremehkan siapapun, terutama yang kelihatannya nggak penting. papa menambahkan meskipun pendidikan formalku cukup baik belum tentu bisa menabuh gamelan satu ancak. setiap orang pandai menurut bidangnya masing-masing. nggak nyangka ternyata papa punya kesadaran tentang multiple intelligences nech…hehehe.

setelah itu bubar. yang tua-tua melanjutkan curhat seperti hari sebelumnya. yang muda-muda nyebur ke kolam lagi sampai jam pulang. rasanya tak ingin keluar dari berkubik-kubik air itu. tapi segala sesuatu ada masanya. kami mengakhiri hari yang menyenangkan itu dengan turun ke depot mbok sri di pasuruan sebelum pulang dan menghajar hujan!

ingin melihat penampakan the birthday boy and his great family? langsung aja klik di sini

ruang korban bakaran

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/20/2007


tinggal aku, sebotol air cola dan sebungkus tabung tembakau berhulu ledak api. joong il mungkin sudah meninggalkan bandara ini, mungkin juga masih sibuk menghentikan derai-derainya. sejarah telah terulang kembali. 2 tahun yang lalu joong il juga yang melepasku kembali ke dunia yang menarik. bedanya waktu itu dia menyewa taksi, tapi kali ini dia memboncengku dengan skuternya yang lucu. 2 tahun yang lalu joong memelukku di pintu masuk dan menangis tersedak-sedak hingga beberapa pasang mata menatap kami dengan pandangan seolah-olah kami adalah pasangan gay. bedanya kali ini dia tak perlu melihatku bertengkar dengan bule petugas yang tak tahu adat.

joong il adalah orang yang membuatku percaya kembali kepada hal-hal yang sudah ditinggalkan kertas dan tinta. dia membuatku percaya kembali pada kemanusiaan, persahabatan sejati, cinta kasih, penghargaan, hormat, perhatian, drama, tragedi, komedi, dan hal-hal jompo lainnya yang pingsan di lipatan-lipatan kitab-kitab tua, yang kini hampir selalu di-ghetto-kan di toko-toko buku, didiskon berulang kali sampai akhirnya disumbangkan ke perpustakaan kota, dan dighetto-kan kembali di sana. joong il membuat amsal-amsal menjadi bermakna kembali, meskipun dia tak pernah berniat menjadi nabi.

dan semua itu cuma berawal dari gulungan sushi:

“aku adalah perantau miskin, saudara. datang dari negeriku dengan beasiswa. bukan karena aku pintar, tapi karena aku melarat. aku datang demi selembar kertas yang bisa merubah jumlah digit dalam slip gajiku.”

“aku juga perantau miskin, saudara. aku datang untuk bekerja. gereja membantu kepergianku. 9 bulan yang lalu aku adalah kuli kapal pesiar. kemudian aku pindah ke pabrik kotak makanan dan sekarang aku pelayan restoran sushi di kota. apakah saudara suka sushi?”

“sushi? terus terang aku belum pernah mencobanya. kata orang-orang itu ikan mentah. aku takut muntah. ah, sebenarnya aku hanya tak punya uang untuk pergi ke restoran jepang. eh, tahukah saudara bahwa makanan cepat saji adalah kemewahan di negeri kami? musik kaum miskin di amerika jadi musik miliarder di negeri kami. aku masih bisa menyebutkan yang lain, namun aku tak ingin membuat saudara bosan.”

“tidak, tidak, tentu saja tidak…mmmh… apakah saudara mau mencoba sushi-sushi dingin ini, mungkin beberapa sedikit basi?”

“ya, apa salahnya, tentu, terima kasih. jangan khawatir, di negeri ini kuantitas bagiku selalu lebih penting dari kualitas. bolehkah? hmm, mungkin yang kecil ini dulu. ayam, ya? aku akan coba yang ikan…mentah… itu nanti, bolehkah?”

“tentu, tentu, saudara. jika saudara suka, aku akan membawa lebih besok dan…mungkin setiap hari. restoranku hanya menjual sushi yang segar. banyak sisa setiap malam.”

dan tiba-tiba perjalananku menjadi jauh lebih tertanggungkan. setiap kesesakan mencekamku, aku akan meneleponnya sebentar, menanyakan apakah dia mau menemaniku malam ini. kemudian aku akan berjalan ke halte, menunggu bis ke bondi junction. setelah itu membeli karcis kereta terakhir ke kota. berjalan dari town hall ke pitt street. menyapanya dari balik jendela, memberitahu bahwa aku telah datang. dengan kesabaran seorang kawan, aku akan menunggu sampai restoran sushi itu tutup. lalu kami akan berpelukan lazimnya dua gangster yang bertemu, melompat-lompat dan pergi ke manapun kami suka.

biasanya kami akan pergi ke bar di pojok pitt street, di seberang gloria jeans. bar yang sepi. tak pernah ada lebih dari 10 pengunjung. tak ada live music. tak ada disko dari stereo. yang ada hanyalah bar, beberapa tivi, dan meja-meja kecil tinggi bundar. kita akan membeli bergelas-gelas victorian bitter, bir murahan yang diakrabi perantau-perantau miskin dari asia. kami akan berbicara tak ada habisnya dan hanya berhenti untuk jeda toilet. kami akan saling memuji satu sama lain. kami akan menentramkan satu sama lain dan, tak kalah seringnya, menangis bersama. ya, di dunia yang kejam terhadap laki-laki ini, kau hanya diizinkan menangis saat mabuk saja.

atau kami pergi ke darling harbor. kami akan mampir dulu ke bottle shop membeli satu tas plastik victorian bitter. kita akan menenteng tas plastik itu bersama. joong il memegang satu ujung dan aku ujung lainnya. sesampainya di sana kita akan duduk di undak-undakan kayu. biasanya yang paling bawah. lalu dia akan mengeluarkan beberapa kotak sushi dingin dari tasnya. aku menggelar kaleng-kaleng itu di dekatnya. seperti orang berpiknik pokoknya. kami akan minum sembari menyantap sushi sembari melihat bayangan ubur-ubur hitam di bawah kaki kita. di darling harbor, yang kami bicarakan hanya luka dan luka. tak ada pujian, penghiburan. kadang-kadang kita juga menyanyi lagu yang sama-sama kita tahu, meski pada akhirnya tak pernah bisa tuntas menyelesaikannya.

kadang-kadang kami pergi ke taman dekat queen victoria. kami akan duduk di salah satu bangku-bangku merah bundar. kami tak pernah minum di sana. biasanya yang kami lakukan adalah merokok tanpa putus. kadang-kadang aku memintanya memijit pundakku. dia selalu melakukannya meski dengan keterpaksaan yang jelas. kami suka menggoda satu sama lain di sana. dia menggodaku tentang eun ji. dan aku menggodanya tentang juliana. kami tak pernah bosan melakukannya meski kami sama-sama tahu bahwa kotak hati kami bagian itu tertinggal di rumah.

kadang juga kami pergi ke halte bis yang akan langsung membawaku kembali ke bondi. kami akan berjalan pelan-pelan, berusaha membicarakan hal sebanyak mungkin. kebanyakan hal remeh-temeh. tak ada pujian, penghiburan, ataupun luka-luka. saat sampai di ujung hyde park, kami akan berlari dan berlari, berusaha mencapai bis 308 yang akan segera meninggalkan halte. jika berhasil, kami akan melambaikan tangan dengan tentram. jika gagal, kami akan duduk menunggu 308 selanjutnya di halte itu selama satu jam.

segalanya jauh lebih mudah saat joong il ada di dekatku. kabar baik sekaligus buruknya adalah dia muncul hanya saat aku dalam kesesakan saja. aku pernah curiga dia adalah sejenis dengan jonathan, malaikat baik yang dulu selalu kutonton siang-siang. datang, menolong dan pergi. atau hulk. atau siapapun yang sejenis dengan jagoan-jagoan itu. tapi jika aku sekarang meninggalkannya lagi, itu bukan berarti aku sudah lepas dari kesesakan sama sekali. keadaan seperti itu bahkan mungkin tak pernah ada di dunia yang menarik ini. mungkin lebih tepat jika kukatakan aku sudah siap untuk dipalu kembali…cie…hip, hip, huray! ini dadaku, mana dompetmu…hehehehe.

tinggal aku, sebotol air cola, sebungkus tabung tembakau dan lambang garuda indonesia, yang baru saja terlihat di kejauhan, yang selalu memunculkan perasaan bangga yang tak jelas, dan yang mengakhiri satu lagi pembuangan.

kamar adik joong il dan menulis

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/18/2007


joong il memberiku kamar yang terbaik di rumahnya. melihat ukuran dan kerapiannya, ini pasti kamar adik perempuannya. tentu saja sebagai korban terbaik dari peradaban jawa aku menolak kenyamanan itu pada awalnya. dan dengan menggunakan pendekatan yang sama joong il berhasil membujukku untuk menerimanya. katanya dalam budanyanya adalah kewajiban bagi tuan rumah untuk memberikan yang terbaik dari yang mereka punyai kepada tamu. dan jika tamu itu menolaknya itu akan mencederai perasaan tuan rumah sebab itu sama dengan menuduh bahwa tuan rumah tidak memberikan yang terbaik untuknya.

aku jadi teringat pada perayaan ulang tahunku yang ke 25 di sydney. kawan-kawan koreaku bersikeras untuk menanggung segala keperluan perayaan itu. kata mereka sudah menjadi adat mereka untuk mentraktir yang ulang tahun. mereka juga yakin bahwa itu sudah menjadi kebiasaan universal juga. di thailand begitu. di china begitu. di amerika juga begitu. mereka kesulitan menerima pernyataanku bahwa di budaya kita yang ulang tahun yang menanggung. budaya yang aneh, timpal mereka.

akhirnya jang seob, pemimpin alami kami, menawarkan jalan tengah. aku bisa membelikan masing-masing dari mereka 1 gelas bir dan 1 pak makanan ringan di bar dekat restoran sushi tempat joong il bekerja. setelah itu aku harus membiarkan mereka menanggung apapun yang akan kami lakukan (makan malam di restoran korea, menyanyi di karaoke korea, nyamil dan minum kopi di darling harbour, dan duduk2 di lobi kasino menunggu kereta pagi). aku setuju saja sebab uang sakuku waktu itu cuma tinggal 500 dolar belaka sementara aku masih harus bertahan di sana untuk 2 minggu…hehehe

kembali ke kamar adik joong il, aku betul-betul menyukainya. kamar itu letaknya paling tinggi. di atap rumah. dari situ aku tak perlu mendengar lolongan-lolongan anjing. asal tahu aja bapak joong il menghidupi keluarganya dengan menjual daging anjing…hehehe. selain jauh dari lokasi pembantaian anjing, jendela kamar itu menyuguhkan pemandangan yang tak kalah memilukan dari apartemen di mana aku menemukan surat-surat yang publisu naso mustahil kirimkan lewat pos. dari situ aku bisa melihat ratusan kolam dengan ribuan angsa liar.

ini adalah sorga bagi orang yang bermimpi untuk menjadi menulis. aku berhasil menambah beberapa paragraf untuk ceritaku di kamar ini. ini adalah satu capaian, asal tahu saja. entah kenapa aku merasa begitu mudah menulis di jurnal tapi selalu berdarah-darah setiap berusaha menyelesaikan sebuah surat dan cerita. aku berharap aku bisa pulang dengan paling tidak 5 surat yang mustahil kukirimkan lewat pos dan 1 cerita formal. mimpi tergila ini (menjadi penulis) harus digenapi, seberat apapun yang harus kutempuh.

sementara itu aku juga terhibur dengan mengingat keadaan tulisan-tulisanku sebelum aku menghindar sejenak ke ranah ini. terakhir aku mendengar dari editor jurnal ilmiah itu bahwa tulisanku dan dan salah seorang kawan tentang film babel akan diterbitkan tahun depan (terima kasih untuk arun meni yang menemaniku memperhatikan film itu). draft terakhir cerita pendekku yang berjudul arun meni sudah kukirimkan ke beberapa kawan dan mendapat tanggapan yang hangat (terima kasih untuk onie dan carol). draft yang sama kini juga berada di tangan profesor budi darma. ini pertama kalinya aku menunjukkan tulisanku ke beliau. semoga bukan yang terakhir. jika ada masalah dengan cerita ini, itu lebih datang dari diriku sendiri. aku masih belum yakin akan menerbitkannya atau tidak. terus terang aku masih trauma dengan kejadian tahun lalu saat divina menganggap semua yang kutulis dalam ceritaku betul-betul terjadi.

demikianlah kekuatan sebuah tulisan, selemah apapun kualitasnya dan penulisnya. tapi, mimpi tergila ini harus digenapi, apapun yang harus kuberi.

rosefield dan gereja

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/16/2007


dengan surat naso di dalam ranselku, aku terbawa menuju rosefield. perjalanan ini seperti kematian. perjalanan menemui kawan lama. perjalanan menuju sorga. semua begitu sepi. bersihnya mengerikan. anginnya menenggelamkan. cahayanya redup senja, meski di jam ini matahari masih meronda.

sorga, kawan-kawan, adalah kebalikan penuh dari yang kita punyai hari lepas hari. sebab itu, bagiku, kawan-kawan, sorga adalah sebuah pedesaan di dunia yang kalian sering sebut pertama.

aku tersuruk di rosefield. stasiun desa. kuhisap semua. kulihat segala. kumasukkan semua. tak lama kemudian sorga yang lain memanggilku. sorga yang lebih besar. sorga yang kukejar. aku sudah sampai, joong il. kemana aku harus pergi? dia menyuruhku keluar dari stasiun dan menuju ke halte di depannya.

kuletakkan tabung tembakau berhulu ledak api di mulutku. joong il menelpon kembali. katanya dia sudah melihatku. mutan ini. aku tak boleh bergerak. dia yang akan menjemputku. dia tersenyum. bajunya putih-putih. ditinjunya aku, seperti dulu. vampir ini. katanya: mari, kutunjukkan gerejaku.

ke gereja? jangankan kalian, aku sendiri tak percaya. aku tersalib di bangku gereja. mendengarkan apa yang tak kumengerti. melihat apa yang tak kumengerti. tapi beberapa waktu kemudian aku mendengar apa yang ingin kudengar, meski tetap tak kumengerti. melihat apa yang ingin kulihat, meski tetap tak mengerti. apa kalian tahu bahwa bukan malaikat saja yang bisa menyanyi dan menari, tapi juga sorga sendiri?

malam bersendawa. senja terkunyah. orang-orang masih bernyanyi dan menari di dalam. kami duduk di bawah oak tua persis di depan pintu gereja. gereja yang janggal. orang keluar masuk kapanpun dia mau. orang mengambil jeda sesuka hati. aku memuji penampilannya. joong il sibuk menyangkal dan tersenyum senang. kami berebut menghabiskan tabung itu yang tinggal satu, seperti dulu.

***

malam paskah. aku menangis dalam kegelapan. kesesakan, kesesakan kembali. kekecewaan, kekecewaan sekali lagi. aku tak bisa mengerti. kudapatkan setiap sorgaku dengan ketekunan dan kerja keras, setekun dan sekeras seorang laki-laki mampu lakukan. tak pernah ada yang cuma-cuma bagiku.

sementara kulihat di bawah matari ada seorang laki-laki memungut sorga begitu saja. tiba-tiba dia menemukan dirinya di waktu dan tempat yang tepat. tiba-tiba dia menemukan dirinya tengah melangkah pergi dengan ringan. tapi, hei, sebentar, sepertinya aku pernah melihat punggungnya.

sebelum aku mengingat kembali laki-laki itu, cahaya berhamburan masuk ke kamarku. joong il masuk dan berbaring di sebelahku.

“selamat paskah, judas,” bisiknya.

Surat yang Mustahil Kami Kirimkan lewat Pos

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/15/2007

Jika kalian menuduhku pecundang, aku takkan menyangkalnya. Seperti kata seorang kawanku yang pintar, selain melawan, setiap orang berhak untuk melarikan diri sejenak dari kehidupan. Ya, sering kudengar bahwa kekecewaan, seperti halnya kepuasan, adalah soal hati. Tapi mungkin orang-orang sering melupakan bahwa hati sering menurut perubahan pada musim, cuaca, angin, air dan cahaya.

Sekali lagi perasaan purba itu mencederaiku. Sekali lagi aku harus menarik ranselku yang tak pernah benar-benar kosong dari atas lemari. Kali ini kekecewaan membawaku ke sebuah kota kecil di bawah bukit di negeri asing dan dingin. Tak seperti biasanya, aku memilih mencari apartemen saat pertama kali tiba. Sebelumnya aku lebih memilih kos di rumah janda tua atau veteran perang. Selalu ada kedua jenis orang tua di setiap pojok dunia. Dua malaikat penolong pelarian sedunia.

Selain murah, aku senang diganggu. Janda tua biasanya memberiku masalah baru dengan kenyinyirannya. Kalian pasti sudah pernah mendengar bahwa masalah bisa terlupakan karena masalah baru yang lebih menjengkelkan. Veteran perang menggangguku dengan kisah-kisah heroik yang tak ada habis-habisnya. Aku seringkali merasa lebih kuat setelah mendengar cerita perang.

Jika sekarang aku memilih apartemen, itu berarti aku sedang malas sembuh. Seorang penyapu jalan yang kutemui saat turun dari bis memberitahu tentang apartemen ini. Katanya ini satu dari dua apartemen yang ada di kota ini. Bersih, murah dan tua, katanya. Aku juga bisa menikmati puncak gunung yang tertutup salju abadi dari balkon. Dia tak berbohong. Bahkan mungkin terlalu meremehkan. Apartemen ini terlalu bersih, terlalu murah dan terlalu tua. Dan gunung itu menawan secara keseluruhan.

***

Apartemen ini dibangun sekitar 100 tahun yang lalu. Aku tak tahu persis oleh siapa. Untuk kepentingan apa, aku juga hanya bisa menerka-nerka. Yang pasti bukan untuk perumahan kelas pekerja seperti lumrahnya. Di sekitar sini tak ada bekas industri atau pertambangan. Juga bukan untuk pelesir mereka. Kukira di zaman itu kaum buruh belum memiliki kegenitan untuk berpelesir. Kalaupun ya, mereka tak akan punya cukup waktu luang hingga merasa perlu menyewa apartemen. Kukira juga bukan untuk kelas feodal atau borjuis besar. Tuan-tuan tanah atau bos-bos pabrik itu tak akan sudi tinggal di apartemen. Mereka membangun rumah-rumah peristirahatan pribadi, seperti yang berserakan di atas kota ini.

Kemungkinan besar apartemen ini dulunya untuk borjuis kecil semacam ilmuwan atau seniman. Mereka memiliki waktu yang lebih luang dari para buruh. Mereka juga jauh lebih genit dari kelas pekerja, kadang-kadang bahkan lebih dari kelas di atasnya. Tapi mereka terlalu miskin untuk membangun rumah perisitirahatan sendiri. Dugaanku ini semakin kuat setelah apa yang kutemukan beberapa hari yang lalu.

***

Kutemukan kotak besi itu pada sore keempat. Sudah kuhafal semua nama lorong dan nama pelayan bar lokal. Penderitaan menderaku kembali. Kukeluarkan lap topku dan mulai menulis surat kesekian untuknya. Surat-surat yang tak pernah kuberikan kepadanya. Surat-surat yang sempat kugenggam di dalam tas dan nyaris kuberikan kepadanya di depan pagar rumah induk semangnya pada malam pertemuan terakhir kami. Surat-surat yang mustahil kukirimkan lewat pos.

Baru saja kuselesaikan baris ketiga saat tubuhku terguncang-guncang kedinginan. Setelah beberapa kesibukan di dapur, aku kembali dengan segelas coklat panas. Saat meletakkannya di meja tulis, secara tak sengaja tanganku menyandung kotak uang recehku. Kotak itu jatuh ke bawah meja, memuntahkan isinya yang tinggal 3 keping. Yang 2 dengan mudah kutemukan dekat kaki meja. Yang 1 hilang entah ke mana.

Dasar petualang miskin, tak lama kemudian aku sudah sibuk menyurukkan kepalaku ke sana kemari. Singkat cerita kekalapan sudah membawa kepalaku ke bawah ranjang. Tak puas dengan posisi itu, kutempelkan pipiku ke lantai. Kujangkau satu-satu gundukan yang terlihat, tapi ternyata hanya kumpulan-kumpulan debu. Rabaanku ke lantai di semakin tak selektif sampai akhirnya merasa menyentuh bentuk keping logam itu. Entah bagaimana, uang logam itu bisa bersembunyi di bawah karpet.

Setelah meneliti lebih lanjut, kutemukan bahwa ada robekan di sekitar klip itu. Saat kucungkil, robekan itu ternyata melebar dan melebar. Robekan itu ternyata cukup besar. Bentuknya seperti lidah. Kujumput kepingan sialan itu. Ada yang terasa aneh di jariku. Aku seperti tak menggaruk lantai. Kuraba-raba lagi dan dengan cepat aku bisa menyadari bahwa aku tengah meraba logam. Dan begitulah akhirnya aku menemukan kotak besi yang berisi segepok surat.

***

Nama penulisnya Publius Naso. Laki-laki. Menilik pemikiran dan cara pengungkapannya, aku menduga usianya sekitar 25-30 tahun. Publius, seperti akunya sendiri, adalah seorang penulis miskin. Pada awalnya, terlepas dari isinya yang sungguh menarik, surat-surat itu tak begitu bermakna bagiku. Tapi lama-kelamaan aku merasa ada sesuatu di antara kami. Setelah membacanya 2-3 kali, aku mulai bisa menemukan kaitan di antara kami. Pada pembacaan keempat, aku sudah terisak-isak seperti anak kecil. Lengkap dengan raungan tanpa suara macam Don Miguelle Corleone ketika menemukan buah hatinya tertembak mati.

Mungkin ini adalah contoh lain dari apa yang Paulo Coelho sebut sebagai “selera humor Tuhan yang buruk”. Atau kebetulan sejarah yang keterlaluan betulnya. Apa yang Publius tulis adalah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan dalam surat-suratku. Apa yang aku tulis adalah jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan dalam surat-suratnya. Dan sama sepertiku, dia tak pernah memberikan surat-suratnya kepada orang yang dia kasihi. Tak beda denganku, Publius juga merasa mustahil untuk mengirimkannya lewat pos.

Seperti apa kebetulan yang keterlaluan betulnya itu? Surat yang mustahil kami kirimkan lewat pos…surat yang mustahil kami jadikan koran.

re: mbak johanson

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/14/2007

semesta terima kasih atas e-mail dan pesan singkat kalian. aku tak menyangka akan menerima umpan balik sebanyak dan secepat itu. andai saja kalian bisa seantusias itu saat aku menulis entri-entri yang lain. tidak, aku tidak sedang membicarakan serius tidaknya sebuah entri…sebab pada dasarnya, setiap entri di jurnal ini, panjang atau pendek, tak ada yang tak tak serius (hayo, serius atau bukan? dibaca sekali lagi frasenya. hayo? mmhh, nilai verbal reasoningnya berapa, ya? hehehe). jika kalian berharap di sini aku bisa sejelas, sedingin dan segawat di dunia nyata, lalu di mana lagi aku bisa berteduh dan menghidupi sisi diriku yang memalukan?

yang kubicarakan adalah panjang-pendeknya sebuah entri. kalian tahu bahwa ngawur yang panjang bagaimanapun juga lebih melelahkan dari ngawur yang pendek. please dech. masa cuma gara-gara 2-3 kalimat terus sama foto mbak johanson, semua jadi kalap. dasar sindikat hidung dalmatian. mmhh…tapi aku juga sich…hehehe…yach, siapa yang tidak kalap kalau melihat raut muka kurang istirahat gitu…hehehe…jangan-jangan aku mulai mengidap necrophilia, nech. seperti kalian…hihihi.

kapan-kapan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/13/2007


duh, mbak scarlett johanson. misalkan saja sampean kelahiran balongsari, kos di ketintang, lulusan tk darma wanita, madrasah ibtidaiyah, smpn 25, smea kosgoro, dan sekarang jadi kasir di royal.

mmmhh, suka makan apa? hehehe

10 nov, batman, tusuk sate dan sejarah

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/11/2007

selama bekerja di institusi pendidikan ini, terus terang belum sekalipun aku mengikuti upacara-upacara hari kenegaraan. bukan karena aku anti segala kegiatan seremonial seperti beberapa orang. seperti pernah kutulis tentang wisuda, tak jarang aku menemukan momen-momen poetik (walah, apa maneh iki?) dalam kegiatan semacam itu. bukan pula karena kain yang dibagikan belum terjahit menjadi seragam atau terlanjur di sekolahkan demi menyelesaikan masalah tanpa masalah seperti pengakuan kawan-kawan the kere di warung emak beberapa waktu yang lalu. almarhum penjahit faseh, depan bekas bioskop mutiara krian, sudah mem-vermaak kain itu menjadi safari ala anggota dprd sidoarjo untukku.

alasan utama dan satu-satunya adalah aku kesulitan bangun pagi. sebuah penyakit yang kudapatkan secara sistematik dan sadar ketika berjuang menaklukkan krung thep beberapa tahun yang lalu. sebuah penyakit yang ternyata diderita kawan-kawan lulusan krung thep lainnya. sebuah penyakit yang tak bisa benar-benar kusembuhkan sekuat apapun aku melawannya, seperti halnya gatal-gatal.

demikianlah aku gagal mengikuti upacara bendera memperingati hari pahlawan, sabtu kemarin. meskipun sudah kupasang ranjau waktu di ponselku yang meledak tepat pukul 6, aku baru keluar dari alam delta pada pukul 10. theta bahkan masih sempat menahanku di kasur sampai sekitar 30 menit kemudian. aku tak ingat sama sekali bagaimana ranjau itu meledak dan bagaimana aku membuangnya begitu saja ke luar jendela. (catatan saja: dulu waktu di rantau aku membutuhkan sedikitnya 2 weker untuk membangunkanku. 1 di dekat ranjang, yang hampir pasti gagal karena tendangan tanpa bayangan. yang lain di atas wastafel di kamar mandi. yang terakhir ini lebih jarang gagal sebab untuk mematikannya aku harus bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. di sana air akan menyelesaikan segalanya.)

bagaimanapun juga, aku mengakui bahwa aku salah. alasan di atas kutulis untuk memperjelas kesalahanku, bukan untuk menyangkalnya. aku memang masih bertinju atau kalau orang kristen bilang ‘bergumul’ (hehehe) dengan masalah penguasaan diri. anehnya jenis penguasaan diri yang sulit kutekuk adalah yang kecil-kecil seperti merokok dan tentu saja bangun pagi. sebenarnya aku punya dugaan menarik di belakang keadaan ini tapi masih terlalu prematur untuk kuungkapkan di sini.

jika saja para pahlawan menyaksikan bagaimana revolusi kemerdekaan yang mereka hela bermuara di revolusi spring bed seperti yang kulakukan, tentu mereka akan sangat kecewa. untuk itu aku mohon maaf setulus-tulusnya kepada mereka. mohon maaf kepada arek-arek suroboyo. mohon maaf kepada arek-arek sidoarjo yang, meskipun menyumbang banyak nyawa dalam pertempuran surabaya, jarang sekali disebut. begitu juga kepada arek-arek mojokerto, gresik, pasuruan dan lain-lain yang nasibnya sama dengan arek-arek sidoarjo.

terlebih kepada santri-santri jombang, yang paling banyak dimobilisasi, yang menurut nenekku hanya berbekal sujen (tusuk sate) entah karena janji kekuatan supranatural atau karena berfikir tentara sekutu dan gurkha tak bersepatu dan bisa dihambat lajunya dengan menancapkan tusuk sate di jalan-jalan, yang harus berjalan kaki dari jombang ke surabaya, yang menyediakan diri menjadi target bergerak demi siaran rri bahwa rakyat indonesia masih melawan, yang begitu mudah dilupakan.

seperti halnya penulisan fiksi, penulisan sejarah juga menuntut proses seleksi. ada yang diangkat dan ada yang tinggalkan. adalah tugas yang berjalan lebih belakang untuk memunguti sebanyak mungkin mereka yang ditinggalkan pejalan sebelumnya.

la historia santri jombang absolvera!

hiburan akhir pekan: tentang penolakan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/10/2007

sudah pernah ditolak? hehe….sebenarnya aku ingin melanjutkan dengan pertanyaan: ‘bagaimana rasanya?’, tapi aku sudah tak tega. tak perlu khawatir, kawan. kamu tidak sendirian. aku? eh, maaf, ya. jelek-jelek begini….sudah ribuan kali ditolak…hihi. serius, serius nech. betul, kok, tak seburuk yang kalian kira. ada seorang filsuf yang lagi-lagi sungkan kusebut namanya di sini yang pernah mengatakan mereka yang belum pernah ditolak dan patah hati belum boleh mengatakan bahwa dia pernah hidup…ciee. apa? buat apa hidup dalam patah hati? hmm…masih belum terhibur juga, ya? okay, kalau begitu pinjami aku telingamu.

kawan-kawan, ada dua alasan kenapa seseorang atau sesuatu ditolak. yang pertama, yang sudah jamak, yang menyedihkan, yang menyakitkan…hehehe…penolakan terjadi saat seseorang/sesuatu tidak terlalu bagus untuk yang lain. yang kedua, yang menghibur, yang melegakan, yang menggembirakan…hihi…penolakan juga terjadi saat seseorang/sesuatu terlalu bagus untuk yang lain. hmmm…seneng raimu? wakakakak. memang tidak mudah bagi sebagian dari kita untuk menerima yang kedua. apa betul seperti itu? bukankah seharusnya seseorang senang mendapat seseorang/sesuatu yang lebih bagus dari dirinya atau yang pantas dia dapatkan? sekali-kali tidak. kenapa?

yang pertama, bisa jadi mereka tidak tahu sama sekali bahwa itu adalah barang bagus. katakanlah kebanyakan dari kita sarjana sastra akan bersepakat bahwa novel metamorforsa dari kafka adalah novel yang bagus. tapi coba berikan novel itu ke suku nomaden di sub sahara afrika sana. atau bahkan anggota dewan kita yang terhormat di senayan. tak akan banyak yang mau menerimanya. atau mungkin diterima atas nama kesopanan, tapi akan diabaikan juga begitu kalian menghilang di tikungan…alias ditolak juga…hehehe. penolakan ini tentunya tak menjadikan metamorfosa novel yang buruk, meskipun banyak metamorfosa-metamorfosa (kebanyakan dari kita) yang terpancing merasa begitu….hihihi.

yang kedua, mereka tahu itu barang bagus tapi tidak memiliki kemampuan apresiasi yang diperlukan untuk menikmatinya. jika kita bertanya ke tuan jainun, a professional door-to-door singer, alias pengamen kampung kawakan, kawan mabukku dulu di perempatan, ‘jay, apakah menurutmu musik klasik itu musik bagus?’ tanpa berfikir barang sedetikpun, dengan mulut bau cukrik, dengan suara yang membuat aku pernah curiga ada megaphone built-in di kerongkongannya, tuan jainun akan menjawab: ‘ya mesti lah, bhuos!’ tak berhenti di situ, tuan jainun akan langsung unjuk pengetahuan dengan mengabsen nama-nama komposer klasik. tapi coba keesokan harinya berikan tuan jainun satu cd tuan johan strauss. tuan jainun akan mematikan megaphonenya dan berbisik lirik di teliga kita: ‘…bhuos, boleh tukar sama albumnya ricky likur?’ wekekek. penolakan tuan jainun tentu saja tak menjadikan tuan johan strauss pemusik yang buruk, meskipun banyak johan strauss-johan strauss (kebanyakan dari kita) yang mau-maunya berfikir begitu.

okay, wis seneng raimu? hah, belum? okay, okay, terpaksa nech keluarkan jurus rahasia. awas, teori nech. pseudo ilmiah nech…hehehe…. begini, adalah frekuensi kesadaran yang menentukan harmoni atau konflik dalam segala interaksi di semesta ini. ayam berkumpul dengan ayam. elang berkumpul dengan elang. ayam dan elang tidak berbagi sarang karena mereka berada di frekuensi yang berbeda. ketika 2 orang memiliki kesadaran dalam frekuensi yang sama, mereka akan berada dalam kondisi harmonis. mereka akan saling menarik satu sama lain. ketika mereka memiliki kesadaran dalam level yang berbeda, akan timbul konflik dalam dalam interaksi mereka. mereka akan saling menolak satu sama lain.

jadi, setiap kali seseorang menolak kita, sebenarnya kita juga tengah menolaknya. jika dia yang kebetulan menunjukkan penolakan itu, dan bukan kita, itu benar-benar karena kebetulan. kebetulan dia yang lebih jernih pikirannya. kebetulan kita terlanjur dibutakan oleh emosi. kebetulan dia yang lebih realistis. kebetulan kita yang bombastis. kebetulan dia perempuan yang, karena tradisi, harus mengambil lebih banyak peran menolak. kebetulan kita pria, yang karena nasib buruk, harus menerima peran ditolak. kebetulan dia lebih pandai bicara. kebetulan kita buta aksara. kebetulan dia lebih berani menerima kenyataan. kebetulan kita lebih takut sendirian. kebetulan dia lebih jujur dengan ketidaknyamanannya. kebetulan kita sudah menjadi asisten ahli dalam hal menipu diri. dan kebetulan-kebetulan lainnya. tapi, sekali lagi, segala kebetulan itu tidak menggagalkan kenyataan bahwa kita juga menolaknya. wis lega dada mentokmu? wakakakak.

pada akhirnya, dalam dirinya sendiri penolakan adalah hal yang tidak buruk. penolakan membantu kita menemukan mereka yang berada dalam frekuensi yang sama dengan kita dan karenanya mencegah kita menghamburkan waktu dan energi dengan mereka yang tidak. kita wajib berusaha dengan darah dan air mata untuk membawa yang kita kasihi mendekati frekuensi kita. tapi jika mereka tak bisa, kita harus berhenti menoleh dan melanjutkan perjalanan kita. kata kawanku penulis dari jokja: “tinggalkan segala sesuatu yang menghalangimu untuk menjadi besar.” kejam? ini adalah tindakan paling manusiawi bagi yang kita tinggalkan. adalah kejam untuk terus memaksa mereka turun atau naik ketika mereka berbahagia dengan frekuensinya. penolakan sesungguhnya adalah berkat sebab dia membebaskan semua dari habitat yang tak sesuai.

jika kita ingin maju, kita harus selalu siap dengan penolakan. semakin tinggi kita menapak jalan kita, semakin sering kita menemukan diri kita tidak berada di frekuensi yang sama dengan kebanyakan orang dan ditolak oleh mereka. hukum rata-rata menyatakan bahwa mayoritas dalam bidang apapun akan berada pada area antara titik tertinggi dan terendah. mereka yang berada di tengah yang jarang menerima penolakan, karena banyak yang berada di level mereka. karenanya, jika kita menemukan semakin sering kita ditolak, itu berarti kita telah naik jauh ke atas atau…

… turun jauh ke bawah…hihihi. ya, seluruh uraian di atas bukanlah suatu usaha dekaden untuk menipu atau menghibur diri. sekali-kali tidak. bukankah sudah kukatakan di awal alasan pertama kita ditolak kemungkinan adalah kita memang masih kurang bagus. jika memang demikian keadaannya, kita harus belajar menerimanya dengan sepenuh hati. tak ada jalan lain selain bekerja keras dalan memperbaiki diri dari hari ke hari. begitu kira-kira…hehehe.

a tale of two cities: revisited

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/07/2007

“It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, it was the season of Light, it was the season of Darkness, it was the spring of hope, it was the winter of despair, we had everything before us, we had nothing before us, we were all going direct to Heaven, we were all going direct the other way— in short, the period was so far like the present period, that some of its noisiest authorities insisted on its being received, for good or for evil, in the superlative degree of comparison only.”

” I denounce them to heaven and to earth.”

“It is a far, far better thing that I do, than I have ever done; it is a far, far better rest that I go to than I have ever known.”

bumi yang menarik (becak)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/06/2007

terus terang aku masih gagal untuk mengerti kenapa seseorang sanggup mengorbankan segala yang dia capai setelaten ayam untuk hal seperti itu. hal yang tidak mampu mencapai perasaan menghargai, suatu capaian pergumulan kemanusian selama jutaan tahun perang dan damai. hal yang memberikan yang lain tempat singgah dan, lebih buruk lagi, taman hiburan. itulah kenapa aku tak bisa mengangguk kepada raja arthur. itulah kenapa aku masih merasa canggung untuk menghormati diriku sendiri.

sebaliknya, aku lebih dari siap untuk memberikan hormat ala upacara bendera kepada dia yang bertarung sampai buyar untuk hal yang tak pernah memberikan yang lain pemikiran, lebih-lebih kesempatan. hal yang dijarah tanpa persetujuan sang hal. demi semesta, aku bisa mengerti avatar wisnu yang ketujuh dan segala cekcoknya. itulah kenapa aku mulai menghargai diriku sendiri akhir-akhir ini.

teringat kata-kataku sendiri beberapa tahun berselang: “bumi ini asing benar. ada yang lari karena diperhatikan sepenuh hati. ada yang tergila-gila meski dibiarkan tanpa perasaan.”

bumi yang menarik (becak).

l&w di jokja

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/05/2007

sidang penjahat yang terhormat, izinkanlah si berat meluncurkan satu lagi hasil olah pikir, olah rasa, olah raga dan, tentu saja, olah tkp beberapa tahun terakhir (lambat banget yach?:D:

Locaya dan Warangkana

satu lagi karya tuan dewey setiawan di http://www.tandabaca.org. salut untuk kawan-kawan di jokja untuk rumah tumbuhnya. maaf, belum menemukan alasan untuk berkunjung…hehehe…

hasta la victoria siempre!

umpan balik

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/05/2007

cerita apa lagi? begitu tanyamu siang ini. banyak sekali. salah satunya tentang air, tumbuh-tumbuhan dan rel kereta api yang aku lewati setiap malam. mereka yang menenggelamkan ketegangan yang belum hilang dengan perjalanan pulang dari kantor. aku ingat kamu belum mendengar yang ini.

dengan cerita, aku tidak hanya memutar apa-apa yang sudah terlewat. aku ingin mengajakmu membuatnya. menulis dan memerankan cerita kita sendiri. bermain tuhan dan manusia pada saat yang sama. sampai di sini kamu harus sudah melihat bahwa jurnal ini seserius dan sekonkret rencana kerja perusahaanmu. pengisinya bahkan mungkin jauh lebih berhitung dari bos besarmu.

tentu banyak yang harus dipersiapkan sebelumnya seperti misalnya kertas, pensil, rautan dan lain-lain. tapi yang utama kita harus belajar terbang mulai dari sekarang. kita harus melewati zona matrix yang mengikat dan mencapai silau yang membebaskan. asal tahu aja, aku sudah menemukan kursus terbang di kotaku.

apakah kamu tertarik, hai penakut profesional?

alterego

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/04/2007

tak perlu merasa buruk sendiri sebab aku tahu aku sendiri bukannya tak rumit. jika aku pernah mempercayakanmu pada kesunyian, saat itu aku percaya bahwa sisi kelam itu bisa menceritakan lebih banyak hal kepadamu. mari mengakui bahwa cerita-cerita itu tak terlalu buruk, jika bukan mengasyikkan. siapa yang bisa mendongak pada cerita tentang lembah dan hujan?

dan mari berhenti menghafalkan kekesalan-kekesalan akhir pekan. sebab kamu dan aku sudah melakukan yang terbaik, paling tidak untuk kemampuan kita saat itu. tentu kita bisa memberikan yang lebih baik untuk hal yang tak kunjung bisa kunamai dengan apa yang kita sudah capai sekarang. membandingkan keduanya tak lebih baik dengan mengharapkan kekaisaran romawi mengirim orang ke bulan. jika aku pernah meminta lebih darimu, maafkan aku atas nama waktu yang berpihak.

malam ini, kepada kawan baikku, di depan gelas-gelas kopi, kukatakan ini: “aku sudah siap bercerita lagi.”

angkatan kami yang tak takut untuk ngawur

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/02/2007

selanjutkan kita tampilnya (guyonan lawas, bhuos):

satu jam bersama kerol

sesama orang biasa harus saling membantu. atau paling tidak berniat untuk membantu. boleh saja disebut orang buta menuntun orang buta. terus terang, aku sendiri merasa seperti itu…hehehe.

tapi, rol, daripada nggak ada yang menuntun dan dituntun, ya, kan? lebih baik terperosok ke lobang bersama-sama daripada nggak kemana-mana bersama-sama…hehehe

argh, angkatan 98. angkatan kami.