Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

chika: sebelum mendengarkan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/19/2007


aku sudah berdamai dengan peran sebagai pendengar sejak 1 tahun lalu. ada seseorang yang mengajariku. tidak, bukan, lebih tepatnya ada seseorang mengambil posisi pembicara yang sudah kugenggam sejak…tuhan tahu sejak kapan. dia lahir dengan paru-paru putri scheherazade di cerita seribu satu malam. aku tak mampu menyamai panjang nafasnya. tak hanya berdamai, pelan-pelan aku juga mulai menyukai peran itu. akhir-akhir ini, pada banyak kesempatan, aku sudah dengan sengaja memilihnya. menjadi pendengar sebenarnya bukan pekerjaan yang buruk, terutama jika kita mau meluangkan waktu untuk mencoba memikirkan dan memahami faedahnya.

mendengar tak menuntut banyak hal, chika. yang diperlukan hanyalah telinga dan kesabaran. kesabaran memang bukan hal yang mudah untuk dimiliki. tapi coba bandingkan dengan beban pembicara. kita harus mengeluarkan energi yang tak sedikit untuk menggerak-gerakkan perkakas suara seperti bibir, rahang, lidah, larynx, glotis, paru-paru dan seterusnya. belum lagi pasokan pelumasnya (air ludah dan macam-macam cairan lumas lainnya). kita juga perlu memikirkan secara cepat dan konstan apa yang harus kita katakan. belum lagi cara menyampaikan pesan tersebut. bagaimana supaya pesan itu mudah dipahami, tidak menyinggung orang lain, tidak terdengar bodoh, tidak terkesan cengeng, tidak dianggap sombong dan …?

pada saat yang sama kita juga harus terus-menerus memperhatikan umpan balik pendengar kita. memperhatikan mimiknya, pertanyaannya, dehemannya, batuknya, senyumnya, tertawanya, dan seterusnya. pekerjaan ini juga menuntut kesabaran di atas rata-rata, terutama saat pendengar kita telmi, tuli, idiot, berkonsentrasi lemah, penggemar detil, kritis dan seterusnya. mudah-mudahan aku tidak termasuk dalam golongan pendengar macam ini. amin.

tahukah kamu, chika, hanya dengan modal telinga dan kesabaran, kita bisa mendapatkan intan-berlian-emas-perak-perunggu-piala-setrika-handuk-kaos? jika sang pembicara adalah orang hebat dan situasinya adalah transfer ilmu, paling apes kita akan mendapatkan tips-tips darinya. tak jarang kita bahkan bisa mencapai momen magis pencerahan. jika yang berbicara adalah orang non-hebat dan situasinya adalah curhat, well, kita bisa belajar dari masalah dan kesalahan mereka. pendengar yang kejam bisa bersyukur tak sesial mereka. kalo yang curhat itu musuh, kita bisa tahu kelemahan mereka, dari mulut mereka sendiri, secara cuma-cuma lagi. bandingkan dengan apa yang didapatkan seorang pembicara. ya, pembicara yang hebat tentu mendapatkan uang, pengaruh, kepuasan dan lain-lain. tapi mereka juga harus membayarnya dengan perasaan terbeban, persiapan yang melelahkan, grogi yang tak berkesudahan dan seterusnya. penutur biasa harus menanggung itu semua, plus risiko ketahuan rahasianya dan/atau gobloknya. lebih tragis lagi, tidak mendapat apa-apa selain perasaan lega yang patut dipertanyakan juga.

tentu kamu bukan pembicara yang biasa. penutur yang hebat? aku belum memutuskannya. maka matikan tape mobilmu, bungkam ave maria dan berceritalah.

chika: kerangka mula-mula

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/15/2007

pendekar yang berjuluk si tangan nitro itu meninju perutku saat aku baru memasang kuda-kuda untuk jurusku yang ke 15, jurus pamungkas. yang kutahu kemudian tubuhku terbebas dari hukum gravitasi untuk beberapa waktu sebelum kemudian menindih bumi macam orang berahi. aku tak punya kesempatan untuk menghitung dengan teliti berapa tulang igaku yang patah. yang jelas tak mungkin di bawah lima. sayup-sayup kudengar ratu bunga memanggil-manggil namaku dengan cemas. aku sudah hampir bangkit dari posisi memalukan itu saat si tangan nitro bergegas menghampiri dan melesakkan tangannya kembali.

aku tergeragap dan berteriak tertahan. tiba-tiba dunia di sekelingku berubah sama sekali. pandanganku dipenuhi seplastik bibir yang teramat puitik. terpikir aku akan mulut sorga. jika sorga mempunyai pintu, pintu itu harus serupa bibir itu. apakah ini kematian, ya, ratu bunga? kukerjapkan mata beberapa kali. dunia itu lalu berubah lagi. kulihat wajah chika yang meringis nakal. beberapa kerjapan kemudian mulai kulihat dua tangannya yang masih menggenggam di depan dada seperti petinju kelas bulu.

saat kesadaran memenuhiku, aku langsung menarik selimutku yang sudah turun hampir ke bagian itu. kuambil bantal di belakang kepalaku dan kututupkan ke mukaku. chika terkekeh-kekeh seperti nenek sihir tanpa sapu dan kuali. aku menyumpah-nyumpah dalam hatiku. bagaimana bisa gadis kolokan ini bisa menemukan rumahku, masuk ke kapsulku dan bahkan melihat itu? apa yang dilakukannya hingga bisa menembus barikade ning sumi, mak dan mama? namun siapa yang bisa melawan gadis yang tak pernah mengenal penolakan, yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan?

chika memanggilku lagi dengan suara yang membuatku menekan bantal lebih dalam ke mukaku. dia sudah berhenti memukuliku kali ini. dia mengguncang-guncang dadaku pelan. dan tiba-tiba aku ingin kehilangan seluruh kemampuanku untuk berjalan. aku ingin menjadi pemalas tangguh yang mengisi hidupnya dengan tidur-tiduran. pikiranku terlempar kembali ke suatu ritual yang sempat hilang dari hidupku untuk beberapa waktu. kapan dan siapa gadis yang terakhir kali menuntunku pelan-pelan dari delta, theta, alpha dan beta? jagad pramudita, aku tak mampu mengingatnya.

ketika bantal itu kubuka, aku hanya mampu memanjatkan hai saja. harusnya aku bisa mempersembahkan doa, pujian dan syukur kepadanya. dia tersenyum seperti venus yang baru lulus sma. pintu sorga itu. pintu itu lagi. hanya suara kering ning sumi di luar yang masih bisa menahanku untuk tak menarik dan mengajaknya melukis suara yang basah. hanya itu saja.

ketika aku menunjuk pintu dengan daguku, chika merajuk dan malah duduk di sisi ranjangku. aku berkata dengan mulut yang hampir tak terbuka: aku tak mengusirmu. aku harus memakai celanaku. dia baru mengerti, tersenyum lagi sebelum kemudian pergi. saat aku keluar kamar, kutemukan dia sudah bercengkerama dengan mama, mak dan ning sumi di ruang keluarga. begitu akrab, seolah-olah dia adalah salah satu dari sepupuku terkasih. chika bahkan sudah berani melingkarkan tangannya ke tubuh mama beberapa kali. dan ketiganya bahkan berani berteriak kepadaku: cepat mandi!

sihir apa ini? ketika aku melewati mereka untuk menuju ruang air, aku mulai memecahkan ramuannya. mama dengan sekotak pasta. mak dan ning sumi dengan sekerat pir. chika yang tak pernah dilukai oleh kehidupan. chika yang menghisap apapun dan siapapun di sekitarnya. dan kau, mama, hanya karena sekotak pasta kau jual kehormatan jagoanmu? dan kalian, mak dan ning sumi, sekerat pir ganti cucu dan majikan kesayangan kalian?

tak perlu kuceritakan apa yang kulakukan di ruang air. aku lebih peduli dengan hilangnya nasi goreng dan kopi di meja makan. aku merasa berhadapan dengan persekongkolan jahat. bukan dia, tapi kata mereka: cepat pergi. makan saja di perjalanan. nanti keburu siang. pergi? perjalanan? keburu siang? dan aku merasa lebih terjual lagi saat aku digiring masuk ke mobilnya, melihat dia mencium mama, mak dan ning sumi, melihat mereka melambaikan tangan dengan tertawa.

(bersambung, sesuai dengan jumlah bingkisan natal)

hai hati

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/12/2007

jika matamu meredup seolah cahaya menjadi terlalu jahat untuk bumi, yang bisa kau lihat hanya wajah yang pernah kau coba habisi pada malam-malam terburukmu, tapi kali ini kau mulai melihatnya seperti hadiah ulang tahun ketujuhbelasmu, lalu nafasmu mulai melamun seperti usia itu sendiri, cuma mengambil berkubik-kubik sitrus di udara, berselingan dengan bau tanah basah di kebun, dan kau mulai yakin itu bau yang pernah kamu tunggu setiap akhir pekan, kemudian lamat-lamat kau dengar suara dari suatu masa sebelum sekarang, yang kau ingat adalah gemuruh air yang berloncatan dari tebing, tapi ketukannya semanja hujan pelan di sore yang segan, lalu tubuhmu meringkuk tergoda angin segar gencar dari luar pagar, dan begitu saja kau paham sejak itu kau tak perlu mandi untuk selama-lamanya, seolah-olah ada yang memelukmu dari belakang sampai maranatha, terima dan tersenyumlah, sayang, sebab kau tak akan pernah bisa lepas dari pengirimnya.

mainan baru di b101

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/11/2007

adios, mi kompi lama. hip…hip…huray! berbahagialah mereka yang gemar bermain, sebab mereka akan selalu mendapat mainan baru. akhirnya, setelah menunggu sekitar 1 tahun anggaran, aku dapat menikmati kompi, printer dan speaker aktif baru di kantor. intel core duo, jay. monitor ceper, jay. printer laser, jay. speaker bening, jay. hehehe…norak, ya?

tentu tidak sebaru dan secanggih di perusahaan kalian. tapi, untuk kami pekerja yayasan dengan modal dalam negeri, kejadian semacam ini patut untuk dibekukan, dicatat dan dirayakan. hip…hip…huray!…hehehe. mudah-mudahan tambah baik kerjanya, tambah gila-gilaan ngomelnya di blogger, dan tentu saja tambah nyaman ngoroknya…hehehe. siapa yang bisa membuka mata saat waltz berjingkat-jingkat ke telinga?

kalau ratu elizabeth pada hari penobatannya berkata: “i am married to england,” dengan mainan baru ini di kantor aku ingin berkata: “i am married to the english department (and to chika, of course:).” semakin tahan pulang malam. semakin sabar menunggu macet hilang. yeah, hip…hip…huray!

cinderella: masalah lama tentang perebutan tivi

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/09/2007


puji semesta, cinderella, sinetron dengan penulis naskah yang kecerdasannya hampir menyamai penulis tersanjung, berakhir juga. selamat tinggal, cinta, rama, rado, mama, emak dan mbak sam. selamat datang kembali berita metro tv dan papa. papa, mari kita nikmati kembali kekuasaan ini, sesingkat apapun masanya. kudengar dari acara gosip bahwa amara lingua akan bermain di sinetron pengganti yang belum kulacak judulnya. aku bisa membayangkan sedalam apa sihir perempuan itu pada mama, emak dan mbak sam.

ya, tuhan, kau tahu aku masih bisa bertahan terhadap kesulitan, tapi tidak pada kebosanan. pada saat yang sama aku tak bisa mencintai ketidakjelasan yang diulang. sebenarnya ketidakjelasan sendiri adalah hal yang terpuji. bagaimanapun juga, setiap ketidakjelasan tidak membosankan, paling tidak pada awalnya. tapi jika seseorang mulai mengulangnya dengan suatu pola, dan aku mulai menghafalnya seperti butir-butir pancasila, ketidakjelasan itu akan menjadi kejelasan yang nyata. ketidakjelasan itu akan jadi membosankan.

bagaimana dengan kau, cahaya? dan, kau juga, putri indra lesmana? masih tega merampok jam-jam katharsisku bersama film lepas trans tv? masih tega melihat tagihan internetku membengkak lagi bulan ini?

semacam soneta u/ kawan yang baru memberikan bagiannya

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/07/2007

satu kali hujan violet runtuh
yang itu kami simpan sendiri
air memang tak punya bau
sebelum menutup tanah lirih
hilang berapa kali memunggung
rumah hentiku tak datang juga
derita tak pernah tak tertanggung
meski curiga, duh, ini mati rasa
mungkin rasa hujanmu tak pahit
mungkin baunya sesegar sirup
dan tahu, terus rela bersakit-sakit
nyawa segelas tandas terhirup

tanpa gigil merunduk bak maling
titik tujuan jangan berpaling

pagi berlubang, awal bulan, akhir tahun
tengah rumah

Oscar Wilde’s The Ballad of Reading Gaol, Pt. 1, St. 6-9

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/02/2007


The man had killed the thing he loved
And so he had to die.

Yet each man kills the thing he loves
By each let this be heard,
Some do it with a bitter look,
Some with a flattering word,
The coward does it with a kiss,
The brave man with a sword!

Some kill their love when they are young,
And some when they are old;
Some strangle with the hands of Lust,
Some with the hands of Gold:
The kindest use a knife, because
The dead so soon grow cold.

Some love too little, some too long,
Some sell, and others buy;
Some do the deed with many tears,
And some without a sigh:
For each man kills the thing he loves,
Yet each man does not die.