Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

sutos

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/31/2008

akhir pekan kemarin pergi dengan seorang kawan ke sutos (surabaya town square). untuk kalian yang baru kali ini mendengar tempat itu, jangan merasa goblok sendiri. aku sendiri baru tahu satu hari sebelumnya…hehehe….bukan karena aku super sibuk. bukan karena aku anti mall (ya, bapa, ampuni kekalapan hambamu di depan benda-benda). tapi karena…ya ndeso itu…hehehe.

anyway, it’s a great one, brah. dari depan tidak meyakinkan sama sekali. tapi dalamnya lain dengan mall-mall lain di surabaya. ada ruang terbuka yang lumayan luas di dalam mall. kalau malam ada band maen di situ. bandnya okay juga. ruang terbuka itu dikelilingi oleh resto dan cafe. jadi bisa ngopi, nyamil, ngobrol sambil dengerin musik. serasa di darling harbor atau di paris begitulah (yang terakhir itu cuma praduga. belum pernah pergi ke sana…hihihi).

kalian harus melihat cinemanya. menurutku ini yang terbagus di seantero surabaya. lebih bagus dari cinema di ramkamhaeng the mall (itu dulu cinema langgananku di bangkok). kalah sedikit dengan cinema di oxford st, bondi (kalau yang ini pernah masuk, tapi nggak punya keberanian untuk membeli karcis. perantau beasiswa, brah). di depan sinema ada karaokenya inul…hehehe. yang suka mempermalukan diri bisa tersalurkan kelainannya dengan biaya yang konon lebih murah dari happy puppy.

dan masih banyak lagi yang lainnya…hehe….kaya rhoma irama, nech. okay, achtung! panzer!

hormat kepada hari

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/26/2008

ini badan yang melapuk atau cuaca yang bertingkah? dulu, dingin paling tidak berarti influenza. dulu, tak ada penemuan ilmiah yang lebih memukauku selain pendingin udara. dulu, tak ada damai di apartemen tanpanya. kipas angin sebesar apapun tak mampu membuatku melipat-lipat badan. dan jas hujan adalah aib terbesar dalam perjalanan.

tak ada lagi air yang mencurat-curat dari kepala, kini. bergidik melawan 7 sore antara surabaya dan dprk (democratic people’s republic of krian). memamah soto tanpa melepas jaket dan mengganyang tisu. melukis bantal tanpa kipas. hai, seteru, banyak keterampilan-keterampilan baru yang kukuasai hari-hari ini.

kamu tentu juga tengah mempelajarinya? berapa usiamu? menjelang 30 juga? oya, kakakku berulang tahun ke 31 kemarin. belum ada dingin yang mendidih di tengah matanya. seperti tuduh orang-orang yang kejam, mungkin orang tua kami berbohong urusan kakak-adik ini.

aku mau tersenyum seribu tahun lagi.

"menjerit pada halaman malam yang kosong"

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/20/2008

frase itu bukan milikku. milik seorang kawan baik dan penulis idolaku: puthut e.a. aku lupa persis frasenya, tapi kira-kira begitu. frase itu selalu muncul di kepalaku setiap kali aku, karena satu dan lain hal, menggigil pada malam hari.

seperti dini hari ini, aku harus menerobos hujan untuk mengirim dokumen di warnet. demi kehidupan yang lebih baik. tidak kurang, tidak lebih. kebetulan akhir pekan ini aku tidur di rumah kakakku yang tidak ber-viva la speedy.

cuma lampu-lampu di jalan tol yang entah kenapa belum dibuka secara resmi sampai saat ini. air yang melompat-lompat genit. motor yang berkelok-kelok mengikuti tulang-tulangku yang tak setangguh dulu.

dokumen sudah terkirim dengan baik. namun aku masih enggan balik. kali ini aku harus mendengar lagu-lagu mandarin yang diputar penjaga warnet. tahukah kalian kekonyolan bisa berubah menjadi keindahan dalam sekian detik saja? cuma dibutuhkan kerjasama baju basah dan pendingin ruangan di titik 22.

halaman blog ini selalu kosong. untukku sendiri. seringkali kujenguk saat malam. tanpa berdarah-darah. seringkali berbasah-basah. dengan kesenduan yang semakin indah dengan jeritan.

“aku menjerit pada halaman-halaman malam yang kosong”.

brrrr!

a 305

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/19/2008

tadi malam menginap di kampus. mahasiswa perhotelan mengundangku untuk tidur di hotel mereka dan menjadikanku semacam obyek pelayanan (btw, kata pelayanan selalu mengusik syaraf-syaraf sado masokisku). sayang sekali yang tersisa adalah business room. cuma dapat koran bisnis belaka. yang aku impikan sebenarnya jika bukan romance room (untuk suami-istri, dan tentu saja aku langsung terdiskualifikasi) atau entertainment room. yang terakhir ini ada dvd-dvd baru & playernya.

aku mengajak salah satu kawan di kantor. perlukah kusampaikan di sini bahwa dia laki-laki? enak, ada kawan ngobrol. selain itu ada kawan meringankan rasa takutku yang melegenda. kata orang, hotel itu agak spooky hehehe. dan…kami bercengkerama sampai malam. utamanya membicarakan lingkungan kerja kami yang tambah hari tambah surealis saja. kawanku meringkuk tepat pada jarum 1. seperti biasa, urusan menahan kelopak mata, di jurusanku aku belum ada tandingannya. ah, bolehkah aku berbangga untuk ini saja?

kawanku meninggalkan kamar lebih dulu karena ada kelas pagi. kamar mandi dan air hangat memukauku seperti halnya niat baik. perlahan namun pasti…aku mulai meragukan titik berangkat dan pulang waktu. mungkin ini yang kalian sebut dengan dejavu. terkenang aku pada perjalanan-perjalanan yang lalu. perjalanan-perjalanan yang begitu membanggakanku. perjalanan-perjalanan yang menaruh sebagian dari penyesalanku. dari akhir pekan satu ke yang lainnya. dari satu stasiun ke stasiun lainnya. dari hotel ke hotel. seriang tan malaka, zonder dari penjara ke penjara.

sebab kamar-kamar itu membebaskanku…seperti kitab-kitab baru.

ini waktu

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/17/2008


ini hari banyak yang membuat pintu-pintu baru. tak sedikit yang justru menambah gerendel dan paku. jika aku mengetuk, sudah berhiaskah kamu?

ini kali banyak yang percaya mati pada kepercayaan. tak sedikit yang justru menternakkan diri pada cuaca. ada juga persekongkolan jahat keduanya. jika aku percaya, maukah kamu mempercayainya?

ini sore banyak yang suka bertanya.

akhir pekan untuk kawan-kawan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/16/2008

bertemu dengan kawanku dulu waktu smp dan sma. kawan masa band-band-an dulu. kawanku yang satu ini pribadi yang menarik. punker yang polisi, polisi yang punker. salut aku dengan integritasnya. tahu tak mudah merawat api teruna di dalam kolam lumut. tak banyak lagi yang tersisa dariku.

kaget saat menerima offline message darinya. lupa pernah memberi alamat e-mailku ke dia. tak menyangka dia masih menyimpannya. malam yang penuh canda. dari ym berlanjut ke ketintang. sebenarnya kami berjanji untuk bertemu di tempat kerjanya (kantor polisi!). aku tak keberatan. siapa tahu bertemu polwan? hehehe. ternyata ada perubahan sebab dia harus membetulkan komputernya di rumah kawannya. aku tak keberatan. siapa tahu dapat software gratisan? hehehe.

dan, dunia yang sempit! ternyata kawannya itu juga kawanku! kawan zaman demo-demo dulu. kawanku yang kedua ini geek tulen. geek yang punker, punker yang geek. salut aku dengan integritasnya. tahu betapa banyak yang bisa dia kumpulkan dalam pundi-pundinya jika dia bermain mata dengan industri.

pagi ini aku menghadiri undangan kawanku yang lain. kawan tiga zaman. zaman kuliah, zaman kolegial, dan zaman sekarang. ulang tahunnya sekaligus selamatan kepindahannya ke kampus lain. kawanku yang ini adalah dosen yang kreatif. salut aku dengan lankah-langkahnya. tahu betapa mudah diri ini menjadi bebal saat kursi sudah mengangguk.

bertemu dengan kawan-kawan yang lain di acara itu. bak reuni the kere, sindikat pemuja kenaikan gaji di kampus kami. bertemu dengan the kererian yang pertama kali meninggalkan kampus ini. kawanku ini seorang programmer. setelah meninggalkan kampus kami, dia bekerja di sebuah institusi pendidikan asing sebelum kemudian beralih ke e-business. salut aku dengan semangat wirausahanya. tahu betapa sulitnya aku membedakan laba dan rugi.

selamat bekerja, kawan-kawan.

hujan rasa lemon

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/14/2008

yang segar adalah hujan rasa lemon. penganan dewa, untuk kawan-kawan yang berkendara. mereka yang menjelajah. bukan untuk yang menempa baju. bukan yang semakin sopan. bukan untuk yang baik-baik saja.

tahu aku tentang revolusi spring bed dan kacamata bundar. demi tuhan tak ada yang salah darinya. tapi seperti semua pengaso tahu, setiap henti menyimpan dendam baru. diri ini, sayangku, adalah mesin tua, keluaran pra natal, dirancang untuk badai, bukan untuk rumah susun. ketakjuban ini, sayangku, bukanlah pilihan. bukan pula diciptakan seperti bahtera atau tabut perjanjian.

hujan lemon membawa gigil…bahkan jauh ke pinggir. menyayat dalam. seperti redup mata ketika puncak itu rebah.

mengurai anyaman pelangi

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/10/2008

jika kau sudah terburai begini, tentu ada yang harus menghentikan dirinya. mungkin kotak-kotak bukti. mungkin berkas-berkas percaya. mungkin daftar pertanyaan itu sendiri. belum menggigit hitungan matari, pasti. beberapa sabbat, beberapa jumat, sebelum rehat menjadi masalah tersendiri. dan kau tahu betul…ini keniscayaan akan menjadi.

belum, aku belum menemukan rumus menghentikan keinginan. segagal usahaku mengenali dan memberi nama bagian-bagian dari susunan kenangan. tujuan demi tujuan dibuat, setekun pelaut dengan temalinya, tanpa alasan yang cukup mengerikan. manusia, aku, kesadaran, kehidupan ini, argh, adalah usaha-usaha abadi menggaruk wajah kebosanan.

dan semua tiba-tiba tampak jenaka. nyaris geram memahami…ini hati terlalu sederhana.

mata pencaharian lain

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/08/2008

aku tahu bahwa apa yang kupelajari selama ini sebenarnya cukup menjanjikan dari segi keuangan. ilmu ini bisa memberikan banyak bidang pekerjaan lain di luar mengajar dan meneliti. tapi rata-rata bukan bidang pekerjaan yang kusukai seperti memberikan kursus, menulis buku teks, merancang kurikulum dan semacamnya. terlalu ribet bagiku dan tidak banyak memberiku kenalan-kenalan baru.

tak pernah kubayangkan bahwa aku bisa menjadi konsultan juga seperti kawan-kawan dari arsitektur, manajemen, teknik sipil dan semacamnya. namanya kurang-lebih konsultan pemberitaan media. yang kulakukan adalah memberikan analisa terhadap pemberitaan suatu topik di media. informasi ini berguna bagi pemerintah, politisi, penanam modal, lsm dan siapapun yang ingin mengukur sejauh mana pesan yang ingin mereka sampaikan ditangkap oleh media dan masyarakat. sebagai keuntungan tambahan, analisa ini bisa langsung ku-convert formatnya menjadi penelitian akademikku.

aku dulu berfikir bahwa ini urusan pakar media atau komunikasi. ternyata bidang mereka adalah pemotretan hutan, bukan pohon. urusan mereka adalah arus informasi, jaringan dan pelakunya. urusan pohon atau teksnya sendiri adalah urusan kami orang-orang bahasa. diperlukan seorang kawan untuk membukakan cakrawala dan mengantarku ke ranah ini. terima kasih banyak, kawan. semoga kerjasama ini berlanjut dan meningkat.