Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

juri kontes kecantikan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 04/29/2008

pengalaman baru bisa datang dalam bentuk apa saja. minggu lalu seorang mahasiswa menghubungiku untuk menjadi juri kontes miss-miss-an yang pertama kali diadakan di kampus. aku tak tahu persis kenapa panitia menghubungiku di antara sekian pekerja yang ada di kampus. yang jelas aku tak mengenal seorangpun dari mereka. tak satupun dari mereka adalah mahasiswaku. mungkin yang lain tak ada yang mau karena malu dan mereka mendapatkan informasi bahwa masih ada seseorang yang tak tahu malu…hahaha. mungkin juga mereka menganggapku punya kompetensi dalam menilai perempuan…hahaha. kata salah seorang the kererian, andai saja mereka tahu…hehehe.

aku mengiyakan permintaan panitia. sempat berfikir bahwa acaranya urung diadakan karena mereka tak segera memberiku job des yang jelas. tapi tepat satu hari sebelum acara mereka muncul kembali. ternyata aku diminta untuk menjadi juri uji pengetahuan umum, bukan sesi baju zirah atau gaun malam seperti yang aku duga…hahaha. mereka menawarkan untuk menjemputku…cie…tapi aku tolak sebelum sindrom donald trump menghinggapiku terlalu jauh. aku sudah cukup terhibur karena permintaan itu setelah didera evaluasi diri program studi sampai jum’at larut malam. karena itu aku bersedia bersepeda ria dari democratic people’s republic of krian (dprk) sekaligus merelakan liburan sabtu pagiku. toh aku masih mempunyai sabtu sore dan malam untuk…ya begitulah….ngga ngapa-ngapain…hahaha.

peserta yang harus kuuji ada sepuluh orang. umumnya mereka pandai bersilat lidah tapi pengetahuan umumnya, seperti prasangkaku, cukup memprihatinkan. ah, mereka terlalu kaya untuk merasa perlu mengetahui hal-hal yang tak menguntungkan. ketika mereka tak bisa menjawab siapa menteri pemberdayaan perempuan, aku curiga bahwa mereka bahkan tak tahu siapa nama walikota surabaya, kecurigaanku ternyata benar. cuma ada satu yang bisa menjawab, itu pun terbalik. jadi walikotanya adalah arif affandi dan wakilnya adalah bambang d.h. padahal mereka tergolong mahasiswi-mahasiswi yang cerdas. ipknya semua di atas 3,2. jadi memang betul bahwa kecerdasan beda dengan pengetahuan. dan ipk, seperti biasa, adalah cuma satu dari sekian indikator.

malamnya aku bermimpi menjadi juri kontes ketampanan.

malam pantasmagoria

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 04/25/2008

demikian kutulis pada malam-malam menjelang keberangkatanku menjemput didikan baru. kubuat beberapa omong kosong untuk kenang-kenangan bagi kawan-kawan pada didikan lama. seperti calon mayat, aku ingin diingat. tiba-tiba aku mendapatkan ide untuk menyebut setiap omong kosong itu sebagai ‘peringatan’. dan ternyata aku tengah memperingatkan diriku sendiri untuk episode-episode yang dramatik.

hidup selalu mengajar dengan cara yang unik. jika dipikir dengan baik, harus kuakui tak ada cara lain yang lebih baik dan menarik dari yang kualami. semuanya tampak tertata sekarang. dibutuhkan keterpisahan dalam tingkatan tertentu untuk bisa mengagumi rancangan ini. bagi yang pernah melihat bumi dari udara akan mengerti maksudku dengan lebih mudah. semakin dekat kita, semakin kacau tampaknya. semakin jauh kita, semakin sempurna keindahannya.

bersyukur bahwa tugas dendamku ternyata di luar mutu, jika bukan tidak bermutu. terdapat keheranan dan keraguan diri saat pertama kali menemukannya. hanya untuk onggokan inikah segala keributan dan air mata? tapi pengetahuan akhirnya menjahitku dan mencegahku kembali pada kesesakan. lebih dari itu, pengetahuan telah memberiku salah satu hal yang paling diburu di bumi manusia. bukan hanya dua, tapi sebanyak yang mampu kukuasai. semenjak itu aku semakin mencintai proyek yang belum tuntas ini beserta segala keangkuhannya. seburuk apapun, belum ada yang lebih bisa dipercaya sebagai kawan. ini bukanlah pencerahan baru, tapi serasa pulang ke rumah saja.

malam pantasmagoria. malam ini aku digaruk tiga batu penjuru waktu. bukan menggaruk-garuk seperti yang kulakukan pada malam-malam penuh bunyi. seperti kata penggurat dari tangkuban perahu, ada yang memilih menjadi arus, ada yang memilih menjadi batu. aku pernah menjadi air yang berhenti. membusuk dan menyembah batu. apa yang lebih mengharukan dari menemukan diriku sendiri tengah berlari sekencang-kencangnya ke laut? tak ada yang bisa kubakar sebagai pengucapan syukur selain senyum penuh keharuan.

turutlah aku melihat air besar.

lima detik sebelum selama-lamanya

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 04/24/2008

sangat menyenangkan jika hidup mempunyai tombol ‘undo’. akan lahir cerita-cerita yang lebih baik. akan sangat membantu jika kita bisa berlari mengejar kalimat yang terlanjur berangkat. akan lahir lebih banyak kegembiraan dan lebih sedikit kesedihan. lebih mengasyikkan lagi jika di kepala kita ada tombol ’empty trash’. akan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan pekerjaan dan membangun masa depan.

sementara yang kita miliki hanyalah lima detik. lima detik sebelum melangkah. lima detik sebelum mulut membuka. lebih lama dari itu kita akan mendapat gelar ‘lambat’ atau membuat suasana tercekat. dan ini tentu masalah baru. lima detik ini tak mempunyai tombol dan tak pernah mau menunggu. dan berapa kali kita membuang satu-satunya kesempatan itu?

oya, malam ini aku rindu dengan lima orang dalam waktu yang bersamaan. dua laki-laki dan tiga perempuan. dua saudara dan tiga bukan siapa-siapa. aku sudah menggunakan lima detikku sebelum menulis itu.

kakek, akan kubangkitkan kamu (1)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 04/19/2008

kutenteng tubuhku ke el alamein dan berakhir membuat kebodohan yang sama lagi. sejak kapan menaruh hati berubah menjadi perlombaan merubah angka di kartu? kupanggul tubuhku ke tobruk untuk bisa merasa cemburu dan berakhir merobek-robek hati yang baik kembali. sejak kapan kalah menjadi sulit? aku akan pulang dengan honey, tanpa pernah menaruh simpati pada monty.

kuseret tubuhku ke tanjung perak dan berakhir menembaki tiga serdadu gurkha yang hendak melucuti gadis bangsawan madura. dan setelahnya aku masih sempat mencari petualangan bodoh dengan arek-arek kali asin di gorong-gorong kota. gencatan senjata diumumkan. menumpang tank tentara australia dan melompat di perempatan legundi. tentara rekiblik masih mundur di mojokerto. sejak kapan begitu mudah berganti musuh dan kawan?

kuburu wajah putriku yang belum pernah kulihat, membuatnya mati terkejut saat itu juga. ah, anakku yang jawa, melihat wajah eropa sudah cukup membuatmu meregang simpul nyawa.

bahagia itu tak membosankan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 04/17/2008

kembali ke dunia yang tak pernah muncul atau dinubuatkan dalam alkitab. rumah menyambutku seperti adik kecil yang penuh tipuan menggemaskan. tiba-tiba aku sudah kehilangan huruf g di laptopku. seperti abang yang sabar, aku memberikan pengakuan atas kecerdikannya dengan berpura-pura gusar. dan hanya itu yang sesunguhnya dibutuhkan setiap orang yang bersiasat. betapa banyak gangguan yang selesai hanya dengan mengakui bahwa itu mengganggu.

tak lama kemudian huruf g sudah muncul kembali di medan acak-acak. jalannya masih tertatih-tatih, seperti korban penculikan yang terlalu lama disekap dalam kotak. ingin rasanya memberinya rehat, namun rencana tak boleh tak dibuat. sebenarnya aku lebih memilih tempo lambat. namun cita-cita tak pernah mau menunggu, layaknya pekerja dari daerah di hari sabtu.

untuk yang berrumah tangga di kepala, kukatakan kepadamu: tak ada yang salah dengan menjadi bahagia. jika detak adalah semacam tujuan hidupmu, kuyakinkan padamu bahwa tak ada yang lebih mendebarkan dari hidup dalam kebahagian. kau akan terus dihantui perasaan tak pantas dan bertanya-tanya kapan ini akan berlalu. dan mereka tentu saja akan membebaskanmu dari kebosanan yang membunuh.

untuk yang mengasah lelap: hafalkan detik-detik kau membuka baju.

jay-z, pram, divina, dan beasiswa

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 04/09/2008

sudah hampir satu minggu tidak menjenguk ruang terapi ini. seperti biasa, rentetan tugas memukau perhatianku. kabar baik di belakang setiap kesibukan adalah aku tak sempat untuk berfikir macam-macam. setipis apapun, bakat alami untuk menjadikan kekosongan menjadi masalah masih menggelayut di kepalaku. cukup banyak yang terjadi, kupikirkan, kulakakukan dan ingin kebenturkan di sini. tak ada hubungan yang jelas antara satu dan lainnya kecuali bahwa kesemuanya bermuara pada benda di kepalaku.

di minggu ini aku memikirkan jay-z. bukan masalah lirik lagunya yang tambah hari tambah bejat itu. bukan juga masalah pacarnya yang…aduh…gimana gitu. tak ada hujan, tak ada angin, tiba-tiba aku teringat pada jawaban jay-z saat ditanya media apa yang dia ingin sampaikan ke r.(aden) kelly yang tengah berseteru dengannya. katanya: RELAX…, brah. sederhana sekali, tapi diucapkan dengan penuh iman. selaras dengan muka dan gerak badan. aku membayangkan alangkah senangnya jika aku bisa mengidap penyakit santai seserius jay-z.

di minggu ini aku membaca kembali anak semua bangsa dari pak pram. sudah lama sekali. kebetulan buku itu dipinjam mahasiswa dari sekitar satu tahun lalu untuk proposal skripsinya. kini dia menjadi mahasiswa bimbinganku. jum’at lalu dia mengembalikan kembali buku keramat itu. membaca kembali buku itu, aku baru menyadari bahwa yang membuatku menyukai karya pak pram adalah tebaran kalimat-kalimat altruistik di dalamnya. semakin tambah umur, semakin aku mampu menghargai altruisme. yang dulu kuanggap klise menjadi berarti. mungkin karena dulu belum kualami sendiri. apalagi altruisme pak pram tidak terlalu jamak-jamak sekali. penuh gelora juga. penuh api. halah.

di minggu ini aku mempersiapkan dua acara di jurusan. yang pertama adalah pembacaan puisi dan diskusi aan mansyur dan faisal kamandobat. acaranya sudah terlaksana dengan baik siang tadi. untuk ukuran petra, tentunya. senang sekali melihat mahasiswa semester 2 tertawa dan terpana mengikuti puisi yang dibacakan. demi semesta, ini mungkin pembacaan puisi pertama yang pernah mereka ikuti. aan rocks! faisal rules! sering berhubungan dengan insist, on/off, dan tanda baca ternyata. dunia yang sempit, bukan? yang kedua adalah acara talkshow tentang permintaan maaf perdana menteri oz kepada generasi yang hilang. yang ini akan dihelat jum’at besok. semoga baik-baik saja juga.

di minggu ini aku bermimpi tentang divina, “kawan luka sebaya” yang pertama dan terlama. setelah sekian lama, aku melihatnya kembali di ruang bebas tekanan. anehnya kakakku juga bermimpi tentangnya pada suatu siang. pengalaman membuatku menghargai kegaiban. atas nama segala sesuatu yang baik, mudah-mudahan tak terjadi sesuatu yang buruk dengannya dan keluarganya. tetap bekerja dan semakin bergembira, seperti jay-z.

di minggu ini aku menyempatkan diri menekuni kembali desain cita-cita tertinggiku: sekolah lagi. ada tawaran menarik dari salah seorang kawan. tawaran ini tampaknya lebih menjanjikan dibanding beasiswa yang sudah kukenal sebelumnya. jumlah pelamarnya tidak sebanyak yang lain. jenjangnya kemungkinan juga lebih sedikit. persyaratannya tidak semengerikan yang lain. kawanku itu juga punya posisi yang baik di organisasi pemberi beasiswa itu. masalahnya adalah nominalnya cukup riskan untuk negara yang ingin kutuju. kemungkinan hanya cukup untuk akomodasi dan makan. untuk tuition fee tidak mungkin cukup. tapi aku teringat pendapat seniorku bahwa yang penting sampai di sana dulu. nanti di sana banyak skema beasiswa dan relatif mudah mendapatkannya. bukan tidak mungkin aku akan menguji tingkat kenekatanku yan baru.