Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

enak koq

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/24/2008

suatu waktu di minggu ini aku memasang beberapa fotoku dengan dosen-dosen lain di facebook. foto-foto tersebut diambil pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. tak lama kemudian salah seorang alumni memberikan komentar, yang kukutip di bawah ini secara verbatim:

“Wah, prasaan dari tadi fotonya makan2 mulu pak… Enak banget ya jadi dosen???”

kemudian alumni yang lain:

“Lagi ngapain nih? Bancakan?”

kemudian yang lain lagi:

“Wih, enak yo, wik, jadi dosen. Mangan karo mlaku2 terus.”

harus kuakui reaksi pertamaku saat membaca komentar-komentar itu adalah cenderung defensif. eh, tak tahu darah dan air mata yang kami keluarkan waktu ketika mempersiapkan kuliah & ujian, ya? tak tahu rasanya bagaimana di negeri ini dituntut untuk selalu lebih tahu dan mempunyai segala jawaban, ya? tak tahu susahnya mengatur irama 20 atau lebih mulut, tangan, dan otak yang berbeda, ya? tak tahu betapa menyiksanya masa-masa koreksi yang bertepatan dengan mahasiswa libur, berkumpul bersama yang terkasih, bermain air di bali atau berjalan-jalan di luar negeri?

namun setelah melihat-lihat foto-foto itu kembali aku jadi tersenyum sendiri. sebenarnya tak salah jika orang-orang berfikir demikian. lha wong hampir semua foto yang kupasang memang menunjukkan kami sedang makan atau jalan-jalan hehehe. ya, gimana lagi? lha wong bisanya ketemu dan foto bareng kalo pas lagi break. bukan pas kerja. lepas dari itu aku pikir soal makan-makan, jalan-jalan, waktu luang, dan semacamnya kami memang lebih beruntung dibanding kawan-kawan yang bekerja di bisnis atau manufaktur. cuma ya itu gajinya tentu tak bisa setinggi mereka. tapi dengan waktu luang itu sebenarnya kami bisa melakukan sesuatu untuk mengejar ketertinggalan itu. cukup fair lah kalau dipikir-pikir.

not bad, uh?

well, mungkin nanti akan aku revisi lagi lah kalau sudah menghidupi anak orang dan anak sendiri…hehehe.

sore-sore

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/15/2008

di minggu ini selalu ada undangan di sore hari. cukup menyenangkan mengingat tak banyak yang kulakukan di masa itu. cukup melelahkan mengingat di waktu itulah aku bisa meluruskan punggung barang sebentar sebelum tiba masa menatap komputer kembali.

di suatu sore aku dan kesasarian menghadiri pernikahan reza dan neni di singasana (hilton). pesta yang ekslusif dan menyenangkan. poolside, bhuoss. bergidik membayangkan biaya yang harus dikeluarkan. aku berfikir untuk menjadikannya semacam cita-cita yang harus kukejar. toch bermimpi itu tak bayar. biar lebih semangat juga dalam bekerja. kalaupun tak sampai, selalu ada kesempatan untuk memodifikasinya menjadi got-side. kebetulan di depan rumahku ada got besar hehehe. anyway, selain dengan kesasarian yang lain, aku juga bertemu dengan kawan-kawan yang hampir 6 tahunan tak penah kutemui.

di sore yang lain aku menghadiri perpisahan mahasiswa yang sekaligus kawan baikku stefani hid (mudah-mudahan tidak salah spelling. gara2 salah spelling bukunya yang baru harus ditarik dari peredaran…hehehe…sabar ya, hid). si hid baru saja lulus dari jurusan kami dan akan menyusul mama dan saudaranya di jerman. achtung, panzer! aku berangkat dengan salah seorang kawan dosen. ada sedikit cerita lucu sebelum keberangkatan kami. aku mengajak kawanku ini untuk langsung berangkat dari tempat kerja. dia bertanya apakah tak sebaiknya kita pulang dulu untuk berganti baju. waktu itu dia menggunakan kemeja lengan panjang dan aku sendiri kemeja lengan pendek. setelah mempertimbangkan karakter si hid dan kawan-kawan yang diundangnya, aku menyimpulkan mungkin kemeja terlalu formal untuk undangan ini. dus aku menyetujui usulan kawanku dan langsung meluncur ke rumah kakakku untuk mengganti kemejaku dengan kaos. setelah itu aku menjemput kawanku di kosnya dan…ternyata beliau malah memakai kemeja yang jauh lebih formal dari yang siang tadi hahaha. jadi sementara aku berfikir bahwa yang kami pakai siang tadi terlalu formal, dia malah berfikir masih informal. setelah berdiskusi beberapa saat, dia memutuskan untuk mengikuti aku dan untungnya analisaku tak salah. kebanyakan yang datang adalah mahasiswa-mahasiswa kami yang lain.

btw, makanannya betul-betul mak nyus dan mak gelender (hormat kepada pak bondan). sangat direkomendasikan: fu yuan restaurant, jln pregolan 1, surabaya. tapi ingat, pemirsa, sendok dan garpunya…keras hehehe (hormat kepada mas onie). selain makan seperti orang kalap tentu aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mempermalukan diri dengan menyumbangkan suara perungguku.

next, di sore yang lain lagi, aku memarkir jaketku di rumah untuk pertama kali dan meluncur ke gramedia basuki rachmat. ada apa gerangan? ada pertunjukan komedi musikal “miss kadaluarsa” dari ekakarmawibangga indonesia (eki). kebetulan salah seorang manajer (?) eki adalah mahasiswa bimbingan skripsiku yang baru saja lulus. dia memberikan 2 tiket kelas 1 gratis ke aku….hehehe…ngga minta loch, ya? yang beri sudah lulus loch, ya? takut diseret ke kpk nech. anyway, aku mengajak si gaby dan yang bersangkutan sangat tertarik juga. sayang 1 jam sebelum pertunjukan ternyata ada prahara di bursa akibat inflation report boe yang negatif. sterling jatuh sampai 400-an point! sebagai broker yang bertanggungjawab, dia tak berani meninggalkan tempat dan aku sangat memahaminya. kebetulan di sana bertemu dengan salah seorang kawan dosen dan beberapa kesasarian. pertunjukannya sendiri cukup baik. ceritanya sendiri mungkin tak baru bagi kami yang sekolah, bekerja, dan bermain dengan cerita. tapi aku membayangkan ini cukup menarik bagi kawan-kawan yang bergumul dengan bidang lain dalam kesehariannya. panggung dan lightingnya bagus. yang paling aku suka adalah tari-tariannya.

di sore ini aku menyiapkan diri untuk soreku di akhir pekan.

minggu pararel

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/09/2008

ini minggu yang aneh, seperti minggu-minggu lainnya hehehe. semakin hari semakin tipis kepercayaanku pada dikotomi; sulit percaya jika aku tengah produktif itu berarti aku tak bermalas-malasan; tak dapat menerima begitu saja jika aku tengah suntuk itu berarti aku tak bersenang-senang; tak bisa memahami bahwa jika aku tenang itu berarti aku tak khawatir. tidak. sekali-kali tidak. bukan maksudku untuk memperumit hal yang tak rumit. ya, aku sempat curiga bahwa ini satu dari sekian masalah kepribadian yang aku punyai hehehe. namun aku merasa lega setelah menubruk beberapa literatur yang mendukung keraguanku. well, after all, am not that bad hahaha.

1 atau 2 tahun yang lalu aku pernah menulis di jurnal ini dengan mengkutip beberapa penelitian psikologi bahwa kegembiraan dan kesedihan ternyata bukan dua sisi dari mata uang yang sama. keduanya adalah dua entitas independen yang tak mempengaruhi satu sama lain secara langsung. dengan demikian aku betul-betul bisa gembira dan sedih sekali dalam waktu yang bersamaan. beberapa hari yang lalu ketika tengah membolak-balik situs richard dawkins aku menemukan cuplikan video dari kuliah umum helen fisher, seorang antroplog kondang yang mempunyai keahlian akademik dalam bidang cinta. nah, loch. eh, serius, nech. ternyata ada loch ilmu dan penelitian tentang cinta. ada yang tertarik untuk s3 di bidang ini? hehehe. anyway, dalam salah satu artikelnya fisher menyebutkan bahwa ternyata lawan dari cinta itu bukan benci. seperti halnya kegembiraan vs kesedihan, keduanya adalah dua keping mata uang yang berbeda. jadi frase populer seperti “benci tapi rindu” ternyata valid secara ilmiah dan bukannya kecengengan penyanyi indonesia atau sopir truk belaka, seperti yang kerap disampaikan orang-orang sinis.

okay, cukup landasan teorinya. minggu ini aku tak produktif sekaligus produktif. pilot project penerjemahan di ILC tak bergerak maju. artikelku tentang bram stoker’s dracula tak tersentuh. persiapan studi lanjut jalan di tempat. hari kamis malah pelesir ke taman safari sama kawan2 eltc. makan seperti orang kalap di putri sunda, naik gajah (hal yang belum pernah kucoba bahkan saat di negeri gajah putih), naik kursi terbang, naik roller coaster, lihat sirkus ega si harimau sumatra, lihat monyet petting, makan udang di cak gundul, dan lain-lain. hari jum’at makan-makan lagi di resto ikan cianjur dalam rangka pertemuan awal semester dan langsung pulang. namun minggu ini juga aku berhasil menyelesaikan terjemahanku yang terbaru atas manifesto seni trotsky, breton, dan rivera. belum lagi menulis entri ini, yang cukup panjang dan pseudo-ilmiah hehehe.

minggu ini aku khawatir sekaligus tenang. siapa yang tak khawatir terkena call margin sampai dua kali dan situasi belum membaik sampai sekarang? tapi pada saat yang sama aku juga cengengas-cengenges di taman safari dan cianjur. masih sempat-sempatnya menenangkan brokerku yang baik sampai dia bilang: “marahi aku! kamu jangan baik-baik sama aku. aku mau bunuh diri nech!” yach, gimana? aku betul-betul tak mendapatkan dorongan untuk marah-marah.

hidup ini mungkin bukan abu-abu, tapi pararel.

pasar

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/04/2008

ternyata ini bukan soal mengeruk atau dikeruk saja. lebih dari itu, ini menyerupai pusat kebugaran mental. kau akan belajar bagaimana, misalnya, tetap menulis di blog sementara uang yang kau kumpulkan dengan darah dan airmata selama 1 tahun di ambang kepunahan. ini sudah bukan soal adrenalin belaka; ini sudah soal formalin dan sejenisnya.

untuk yang tumbuh dan besar dari lingkungan yang memuja ketenangan dan menyembah keamanan, aku tak bisa melebih-lebihkan ketegangan yang kurasakan. namun anehnya justru akhir-akhir ini aku merasa jauh lebih aman. mungkin aku sudah menetapkan batas aman yang baru sehingga apa yang dulu terdeteksi oleh otakku sebagai bahaya kini sudah tak berarti apa-apa.

selebihnya, aku mungkin sudah harus mulai memasukkan pampers dalam daftar belanja mingguan.