Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

peringatan ke-28

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/30/2008

herodia,

aku ingin membawamu pulang, dan melipatmu seperti sapu tangan. jika kerja melelahkanku sangat, kamu setia menyekaku setiap saat. hari-hari ini begitu panas, di dalam dan di luar rumah. hampir tak ada alasan lagi untuk tak memasang pengatur udara. mungkin kami hanya bersikeras menjaga hubungan cinta kami dengan kesederhanaan. kesederhanaan yang telah mencukupi mulut kami dan beberapa yang lain. kesederhanaan yang pernah mereka cibir saat keadaan baik menegur mereka beberapa saat. berfikir buruk terhadap kami setelah apa yang terjadi adalah tanda pikiran yang tak peka.

hidup baik itu sulit. lebih sulit lagi mempersiapkan diri untuknya. adalah penting untuk tak terpana sebab keterpanaan membuatmu lupa daratan. dan ini menjadikanmu tak pantas untuk hidup baik. sejarah membenci pekerjaan menunggu. yang tak pantas pada sebuah keadaan baru akan dikembalikan ke keadaan lama. dan mereka harus menunggu lagi. dan kali ini, atas nama frustasi, akan jauh lebih lama dari sebelumnya. yang tak belajar apa-apa, dan ini sungguh ada, tentu akan dikutuk untuk mengulanginya.

terpujilah kesadaran yang mengingatkan sebelum, ketika, dan setelah perubahan datang.

h-3

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/28/2008

mungkin di suatu masa aku akan merobekmu kembali seperti kertas. hari-hari ini aku suka dipusingkan dengan celana pendek yang kelewat batas. jika aku mendekat dari belakang dengan beberapa folder di tangan, maukah kamu menghentikanku seperti pukulan?

aku ingin mengelompokkan dan memberikan pengertian pada yang lalu lalang. aku tahu cukup banyak namun sedikit yang bisa kupakai dalam urusan-urusan. dan tanpa aku sadari aku sudah mahir bergembira sebelum tidur. ada ketakutan yang baik sesuka hatinya berjalan mundur.

bapakku menambah angka pengalamannya hari ini. tak ada kado namun kami berjabat tangan. aku ingin membelikannya kapal pesiar sendiri lengkap dengan bak cuci piring. membiarkannya mereguk cita-cita pensiunnya. mungkin kami akan berhenti sebentar di singapore untuk mengagumi bagaimana peraturan menciptakan dunia.

merunut-turut gambar-gambar michelle. kubentuk dia seperti cintaku yang kuat kepada carrera. namun aku ingin menyempurnakannya seperti kasus rosa. biar yang meledak adalah percakapan-percakapan kecil di dekat toilet. sebelum hari kami berdua, merpati-merpati suka berdiri di bahu-bahu lemah. jika suatu saat bapaknya menceraikan kami, aku bersumpah tak akan mendaftar kursus memasak lagi.

ada yang menjual begitu murah. ada yang bahkan tak menjualnya sama sekali. di masa itu semua diberikan cuma-cuma. yang harus kulakukan cuma berjingkat-jingkat dari dada ke dada. namun saat keinginan itu begitu diinginkan, mendapatkan tiupan pun menjadi persoalan hidup-mati.

aku ingin memelihara marmut seburuk pengalamanku dengan ikan dan kura-kura. aku ingin memakaikannya rok dan merubah dietnya dengan daging. di negeri jauh itu sayuran konon tak sesombong di negeri ini. aku ingin mengajaknya jalan-jalan dengan jendela terbuka. aku ingin menunjukkannya betapa buruk hidup binatang di pertanian kolektif. jika dia sedih dan terkenang pada kelucuan-kelucuan dunia, aku ingin mengelus kepalanya dan berkata:

hidup ini sungguh indah.

keluar rumah

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/22/2008

akhir-akhir ini rasanya banyak orang yang suka keluar rumah. jalanan lebih ramai dari biasanya. seperti tadi pagi yang menyiksa. kemacetan sudah menghadangku di bypass krian. tak biasanya di jam-jam keberangkatanku yang cukup memalukan bagi bangsa indonesia di zaman kapitalisme tak jelas dan membanggakan bagi bangsa romawi di zaman kepemilikan budak. sudah begitu truk dan bus besar tak mau bersabar, membanting setir ke kiri, turun dari badan jalan, dan mengambil hak istimewa satu-satunya yang masih kami, para pengendara motor, miliki. kebetulan di by pass masih banyak tanah yang mirip-mirip no man’s land di zaman perang dunia pertama dan karenanya tak pernah ada yang menyirami. kami seperti ditenggelamkan lautan debu. kebetulan lagi aku menggunakan jaketku yang paling baik. jaketku yang paling kedap udara. aku basah kuyup sendiri di dalamnya.

minggu lalu pada suatu sore aku dan sugar mill menyentuh beberapa titik surabaya yang jarang kami kunjungi. kalian yang mengenalku dengan cukup baik mungkin sudah tahu betapa payahnya aku soal arah. 5-10 kali kunjungan belum tentu membuatku hafal dengan suatu daerah. satu-satunya hal yang masih membuatku gembira dengan cacat mental ini adalah kenyataan bahwa idolaku lev davidovich juga memilikinya. dia sendiri menyebutnya dengan nama yang kedengarannya keren tapi menyakitkan: “topographically imbecile”. keadaan si sugar mill tak lebih baik dariku. itu masih diperparah dengan helmku yang suka nutup-nutup sendiri kacanya padahal waktu itu hari sudah gelap. walhasil kami sempat kesasar dan kebablasan dan berhenti untuk bertanya beberapa kali. kecapaian, kami memutuskan untuk mencari makan dan minum kopi dalam perjalanan pulang. seperti biasa yang muncul di otakku yang murahan ini adalah cinema cafe. jadilah kami pergi ke royal untuk menemukan bahwa tak ada tempat parkir lagi bagi kami. lalu kami memutuskan untuk pindah ke marina hanya untuk menemukan hal yang sama. bahkan ketika kami mendapatkan sebuah sudut di pizza hut jemur suasananya ramai luar biasa.

aku berharap bahwa ini semua tanda baik. aku berharap ini adalah tanda bahwa perekonomian semakin meningkat dan rakyat jadi punya kemampuan untuk jalan-jalan dan berbelanja. tapi seperti biasanya aku selalu memelihara keraguan untuk beberapa tingkatan. jangan-jangan perekonomian sedang memburuk dan rakyat begitu setresnya sampai memutuskan untuk keluar rumah daripada jadi gila. aku sendiri belum memutuskan berada di yang mana.

akademik

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/19/2008

oya, aku belum mendokumentasikan di sini bahwa terhitung sejak juli tahun ini aku sudah memiliki jabatan akademik. surat resmi dari dikti sendiri baru aku terima bulan agustus kemarin. ini tentu sesuatu bagiku. jabatan akademik adalah karir sesungguhnya dari seorang dosen. dia bersifat permanen dan akan melekat kemanapun seorang dosen pergi. demikian pula dengan tunjangannya hehehe. beda dengan jabatan struktural yang bersifat periodik seperti sekjur, kajur, dekan, wakil dekan, dekan dan seterusnya. paling banter lima tahun. jika tidak terpilih lagi, ya sudah. demikian pula dengan tunjangannya. dengan kata lain, jabatan akademik itu abadi sementara jabatan struktural itu fana hehehe

bukan berarti jabatan struktural itu buruk dan tidak perlu dilakukan secara serius. sekali-kali tidak. banyak yang bisa seseorang dapatkan melaluinya. yang pasti bukan lonjakan finansial karena tunjangannya terus terang bukan apa-apa jika dibandingkan dengan obyekan seperti proyek, penerjemahan, atau kursus privat. bagiku pribadi, tanpa bermaksud menjadi sok suci, jabatan struktural memberiku kesempatan luar biasa untuk pengembangan diri dan profesional. jika kubandingkan diriku sekarang dan sebelum tahun 2006, aku sekarang misalnya lebih tenang (ciee), menghargai diri sendiri (waks), optimis (glodak), berani (halah) dan semacamnya. secara profesional, aku juga lebih terbiasa misalnya berfikir strategik, menjelaskan pemikiran tersebut, melaksanakan rencana seefektif dan seefisien mungkin, melakukan delegasi, melakukan koordinasi antar komponen dan masih banyak yang lainnya. (tentu penilaian ini sangat subyektif. aku berharap bisa menemukan momen untuk mendapatkan feedback dari kawan-kawan sekerja. tapi paling tidak aku bahagia dengan keadaanku.)

namun aku berusaha untuk selalu mengingatkan diriku agar tak hanya memperhatikan jabatan struktural dan mengabaikan karir dosen yang sesungguhnya. banyak cerita sedih yang kudapatkan dari para senior tentang hal ini. mereka kehilangan lebih dari separo kemampuan ekonominya saat jabatan struktural mereka lepas sementara kebutuhan semakin banyak dan tenaga untuk melakukan obyekan di luar sudah tergerus usia. untuk mulai mengejar jabatan akademik juga sudah cukup terlambat. tak mudah juga untuk menulis dan melakukan penelitian di usia yang sudah banyak dan di depan deretan kebutuhan yang harus segera dipenuhi. belum lagi waktu tunggu yang harus ditempuh dari satu tingkatan ke tingkatan di atasnya.

dalam dunia yang ideal, aku bermimpi untuk bisa mensinergikan keduanya. keduanya tak harus selalu dalam oposisi biner; yang satu menggagalkan yang lain. dari pengalamanku sendiri yang belum banyak, aku malah menemukan keduanya bisa saling mendukung. bukti konkretnya adalah aku tak pernah menghasilkan penelitian atau tulisan sepanjang 2005-2006. itu adalah masa ketika aku belum menjabat dan mempunyai begitu banyak waktu luang. ketiadaan beban tinggi justru membuat pingsan otak dan ototku. suasananya malas banget pokoknya. justru ketika aku mulai menjabat secara struktural, aku mulai menghasilkan beberapa tulisan dan mengurus jabatan akademikku. keaktifan di bidang organisasi merembet ke bidang intelektualku. kuncinya tentu saja pada pengaturan dan kemauan untuk mematuhi pengaturan itu. sebisa mungkin aku menulis atau menambahkan sesuatu pada tulisanku pada akhir pekan, terutama setiap dini hari seperti sekarang sebab aku tetap harus memperhatikan hura-hura di sore harinya…hahaha.

mudah-mudahan praktik ini bisa berlanjut terus. sebagai catatan, aku sekarang masih menyelesaikan outline artikel tentang coetzee’s in the heart of the country, draft pertama artikel tentang bram stoker’s dracula, dan outline artikel tentang dewi persik hehehe.

pengen aja

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/11/2008

tadi malam ketemu si gaby di royal. it was super fun. makan kaya orang kalap. minum kaya orang di gunung kendeng. and we never worry…karena cinema cafe murah banget hahaha. wuih, masih ada juga daerah yang ramah kantong di surabaya ini. anyway, kita ngelihat foto2 mama waktu di thailand dan beri komentar-komentar yang, seperti biasanya, ngga jelas. terus fotoku yang model komisaris adam air itu…hehe…butuh skill loch. nahan perut, ngangkat kaki, terus pada saat yang sama tersenyum tak tahu diri hihih. terus ngomong-ngomong yang ngga jelas. mulai teman kantornya, kambing gunung, elang, bisnis dan seterusnya. berbicara tentang yang terakhir, aku baru tahu kalo dia berkorban banyak untuk kesejahteraanku. jadi guilty feeling, gitu. sabar ya, gab. bentar lagi.

tadi siang ketemu perempuan yang, masya allah, mirip betul dengan arun meni di warung soto amigos (agak minggir got sedikit). aku terpana, saudara-saudara. mulutku betul-betul menganga. saat dia melepas helm dan jaketnya, aku sudah ada di rosefield dan tengah sibuk mencangkul ingatan. sang arun meni jilid dua ini tak kalah kagetnya juga, melihat ada laki-laki tak jelas di dalam warung yang melihatnya dengan cara tak jelas pula…haha. pokoknya aku jadi ngga konsen dengan baik soto maupun pertanyaan kawan-kawan. tapi ngga tahu bagaimana aku yakin betul aku akan bertemu dengan si jilid 2 ini lagi dalam minggu ini. amin.

hujan pertama

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/07/2008

siang ini ada kejutan yang menyenangkan di jalan. tak seperti biasanya, aku memutuskan pulang ke rumah sebelum akhir pekan berlalu. rindu bertemu kawanku yang lagi pulang kampung. sudah lama tak membenturkan cerita bersamanya di depan cangkir-cangkir kopi di warung cak to. terus terang sudah tak banyak lagi yang mengelemku dengan kampung halamanku. salah satu dari yang sedikit itu adalah kawanku ini. saat dia akhirnya merantau ke borneo, aku lebih sering menghabiskan waktuku di rumah kakakku. berusaha meneruskan pelajaran hidup di suburbia yang pertama kali kudapatkan di thailand dan tak kunjung kukukuasai sampai sekarang. aku selalu (dan mungkin suka) berada dalam dua dunia dengan segala ketidakjelasannya.

sampai di depan polsek balongbendo hujan menyambutku seperti pengantin. aku tertawa histeris di dalam helm. berapa lama? sudah berapa lama, kawan? tiba-tiba aku merasa perlu berhenti di sebelah jalan dan membiarkan diriku kehujanan. menghirup tanah basah. melihat diriku dengan terpejam. dan tiba-tiba semua yang baik kembali di kepalaku. yang indah tersenyum genit di mata pikiranku. yang lucu membuka gas di batang otakku. melihat diriku menggiring dan menendang bola di dekat kebun kelapa. melihat diriku terkena beling di sungai belakang rumah. melihat kawan remajaku yang telah tiada. melihat diriku bolos sekolah dan terdampar di sebuah kampung yang tak kukenal. melihat diriku mengendarai motor pertamaku di driyorejo. melihat yang tertanam dalam. melihat diriku yang belum paham dan bahagia.

hujan adalah nyonya indera dan, oleh sebab itu, penguasa kenangan.

next stop: vientiane

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/03/2008

hidup ini cepat benar. tak terasa sudah memasuki paruh kedua tahun 2008. banyak yang harus dan ingin kulakukan dalam periode ini. yang harus kulakukan mungkin tak banyak berubah dari sebelumnya. aku hanya ingin melakukannya dengan lebih baik, tidak kurang dan mudah-mudahan lebih. sementara aku sudah bermimpi tentang pucuk tahun ini. demi keyakinan dan kenyataan…bahwa hidup ini cepat benar.

jika keadaan membaik, aku ingin mengunjungi vientiane di akhir tahun ini. aku ingin menemui seorang kawan pengangkat botol di rantau dulu. tak terhitung sudah berapa kali dia mengundangku, baik ketika kami sama-sama di rantau maupun kembali ke negeri masing-masing. tak terbilang berapa kali aku mengiyakannya saja dan menganggapnya basa-basi percakapan orang dari belahan dunia yang berbeda. minggu lalu aku tiba-tiba memikirkannya secara serius. dan undangan itu menjadi bermakna bagiku. ya, kenapa tidak?

sudah lama aku tak berpergian jauh. sudah rindu kegairahan memasukkan baju dan mengangkat ransel. apalagi kali ini vientiane, salah satu ibukota paling tidak populer di dunia atau bahkan di asean. jika orang lain mungkin membayangkan kejenuhan, aku justru sudah membayangkan kegembiraan klasik di depan. melihat ibukota stalinis yang masih tersisa. menyaksikan budaya indochina dalam bentuk terbaiknya. petualangan. cerita yang tak pernah di dengar orang. selain itu perjalanan ini kemungkinan akan menjadi perjalanan yang cukup murah. apakah yang akan kubeli di vientiane? apalagi kawanku tadi berkata: “belilah tiket pulang pergi, dan biarkan aku mengurus sisanya”.

ah, apa kubilang? tak ada yang lebih memegang kesetiakawanan dibanding para pemabuk.