Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Sou Yeon

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/21/2008


Sou Yeon sebenarnya hanyalah sejarah pribadi yang sedikit lebih dari biasa. Sebelum pertemuan kami, aku adalah seorang pria yang hanya mempunyai bayangan, dan karenanya, berusaha dengan keras untuk mencintainya. Entah oleh sebab apa, perjumpaanku dengan perempuan yang benar-benar kusukai tak pernah memberikan kesempatan bagiku untuk mencintainya dengan seganas-ganasnya. Biasanya pertemuan itu terjadi di tempat atau dalam situasi yang tak membolehkanku untuk menghampirinya, mengajaknya berkenalan, bercakap-cakap, merayu, dan seterusnya, seperti halnya di jalan atau dalam perjalanan.

Tapi Sou Yeon memberiku apa yang belum pernah aku punyai. Kami bertemu di sebuah kelas yang tak penting di sebuah negeri yang janggal. Kesempatan itu ada, jika tidak bisa dibilang berlimpah. Dan yang utama, aku menyukainya. Bukan karena alasan-alasan menarik yang kerap dibikin orang pintar, tapi karena dia rupawan. Itu saja. Tidak kurang, tidak lebih. Tak perlu kulukiskan secara khusus di sini sebab kecantikannya rasa-rasanya tak perlu lagi didiskusikan, apalagi diperdebatkan. Jika hatimu bergetar saat melihat film-film cengeng oriental, kau pasti bisa membayangkan sendiri sosoknya.

Aku tak langsung memperhatikannya pada pertemuan kami yang pertama. Waktu itu aku masih terlau bingung. Baru tiba dari bandara, langsung masuk kelas, menerima pelajaran dan menemukan tak satupun dari kawan-kawan sekelas berasal dari negeriku. Dan kebetulan 6 dari 8 perempuan yang ada dalam kelasku cantik semua. Aku agak bingung harus membayangkan dengan yang mana. Baru pada keesokan harinya aku mulai memiliki bayangannya. Hari itu aku sudah cukup beradaptasi dengan kehidupanku yang baru. Kesadaranku mulai pulih seperti sedia kala. Pelan-pelan aku mulai bisa memilah bahwa dia yang tercantik di antara yang cantik-cantik di kelas kami, dan mulai memikirkan yang tidak-tidak. Apa yang kubayangkan, meskipun seru, bagiku, mungkin tak menarik untuk kugelar di sini.

Tak ada kemajuan berarti sekitar tiga minggu sesudahnya. Kami hanya saling menyapa setiap pagi dan berpamitan ketika pulang. Tapi pada saat yang sama kami sebagai kelas bertambah akrab. Untuk kali pertama kami membikin janji untuk bertemu di kota di akhir pekan dan menghabiskan malam di sana. Sekolah kami memang berada di suburbia. Dari seluruh penghuni kelas kebetulan hanya aku dan Sou Yeon yang tinggal di dekat sekolah. Yang lain tinggal di kota dan beberapa tinggal di suburbia lainnya. Kawan-kawan meminta Sou Yeon untuk berangkat bersama denganku sebab aku belum pernah sama sekali ke kota. Sou Yeon sudah hampir satu tahun tinggal di negeri itu dan ratusan kali ke kota.

Kami berjanji untuk bertemu di stasiun kereta bawah tanah pada pukul 4 sore. Sou Yeon membimbingku naik ke tingkat dua, memilih kursi, mempersilakanku duduk sebelum kemudian duduk di sebelahku. Itulah kesempatan pertamaku untuk berdua-duaan dengannya. Meski tahu betapa pentingnya kesempatan itu, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sebab aku memang tak mahir merayu perempuan. Maka aku berusaha mengajaknya bicara seperti yang sudah-sudah sebab cukup sulit mengharapkannya memulai pembicaraan. Cuma karena kali ini bukan dalam situasi diskusi kelas, topiknya secara otomatis lebih bersifat pribadi.

Aku bercerita tentang hal-hal yang menyangkut diriku. Dia sendiri hanya tersenyum, mendengarkan dan kadang-kadang memberi semangat dengan ya, ya, dan ya. Ini lama-kelamaan membuatku merasa bodoh sendiri. Sou Yeon pasti berfikir aku tengah membual tentang kehebatan-kehebatanku. Jangan-jangan di negeri Sou Yeon ada juga peribahasa semacam tong kosong nyaring bunyinya atau air beriak tanda tak dalam. Karena ketakutan itu, aku berusaha berbicara sesedikit mungkin semenjak kami turun dari kereta. Ini berlangsung terlalu jauh hingga aku merasa sudah tak nyaman untuk kembali berbicara padanya.

Demikianlah sampai kami bertemu dengan kawan-kawan yang lain di resto barbekyu. Sepanjang sore itu aku malah memilih duduk bersama kawan-kawan perempuan yang lain. Seperti di dalam kelas, aku kembali menjadi pusat perhatian mereka sebab aku satu-satunya yang berbeda dari mereka dan karenanya lebih aneh di banding yang lain. Untuk menunjukkan penghargaan, kujawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan seantusias mungkin.

Sebenarnya aku kembali merasa khawatir. Sou Yeon, yang duduk di ujung meja dan sesekali melihat ke arah kami, pasti menganggapku berkepribadian ganda. Mengingat kesalahan-kesalahan itu, kuputuskan untuk tak lagi memikirkan bagaimana untuk membuatnya terpesona malam itu. Jelas, malam itu bukan malamku. Yang kupikirkan kini hanyalah bagaimana melewatkan malam itu dengan kehancuran sekecil-kecilnya.

Setelah puas dengan barbekyu, kami bergerak dari satu bar ke bar yang lain, dari tengah kota sampai ke seputar pelabuhan. Ketika kami membubarkan diri malam sudah benar-benar hitam. Sudah tak ada kereta lagi ke tempatku dan Sou Yeon. Kami harus menunggu sampai pagi. Ketika kawan kami yang terakhir melambaikan tangan, rasanya aku ingin melompat ke air dan bertemu jutaan ubur-ubur penyengat di sana. Peran apa yang harus kumainkan kali ini? Apakah aku harus menjadi ceria, seperti ketika pertama kali berbicara dengannya di atas kereta dan ketika bersama kawan-kawan tadi? Atau menjadi sosok yang muram, seperti ketika kami meninggalkan stasiun dan menuju ke resto barbekyu tadi?

Sou Yeon sendiri juga tampak gugup. Setelah berusaha keras menguasai dirinya, dia tersenyum dan menunjuk arah kembali ke kota. Ini membantuku memutuskan peranku. Kupikir jika Sou Yeon tak berbicara dan hanya menggunakan bahasa tubuh, kenapa aku harus? Yang penting aku harus konsisten kali ini. Kami berjalan berdampingan cukup lama, membelah sebuah taman yang luas dan menyusuri trotoar yang mulai sepi sekitar lima blok. Di depan sebuah kafe di sudut persimpangan blok ke enam, dia berhenti, berputar-putar sebelum kemudian melihatku sembari menunjuk ke dalam. Aku mengangguk.

Kami masuk dan langsung berjalan ke arah salah seorang pelayan. Sou Yeon dan aku masing-masing memesan segelas coklat hangat dan secangkir kopi hitam panas.
Sou Yeon mengambil majalah gosip dan berjalan ke sebuah meja. Kuambil sebatang rokok, memperlihatkan padanya, dan menunjuk keluar. Sebenarnya aku tak begitu ingin merokok. Cuaca di luar terlalu dingin. Aku hanya sekedar menunda kekikukan meskipun tahu cepat atau lambat aku harus menyerah. Kuhabiskan semua batang yang ada. Kepalanya yang suntuk pada majalah di depannya perlahan mendongak saat merasa bahwa ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Dia tersenyum ketika menemukan mataku di depannya.

Kubalas senyumnya. Kuambil kursi di depannya. Dia kembali menekuni ke majalahnya, sedang aku tak tahu harus berbuat apa. Sempat terfikir untuk mengambil majalah yang lain, namun ini sama dengan menunjukkan bahwa aku, selain pembual dan berkepribadian ganda, juga seorang pengekor. Sekali lagi Sou Yeon menyelamatkanku. Dia menyorongkan majalahnya ke arahku. Ternyata dia tengah mencari 10 perbedaan dalam dua gambar. Teka-teki kanak-kanak. Sou Yeon baru menemukan tiga perbedaan. Dia mengundangku untuk membantunya. Tak lama kemudian aku sudah lupa pada peran murungku. Kupikir pergantian ini tak terlalu memalukan sebab dia yang memulai duluan. Dengan lantang kudikte jawaban demi jawaban teka-teki itu. Kebanggaan menyelinap dalam dadaku, membayangkan betapa kagumnya Sou Yeon dengan kecermatanku.

Saat aku menunjuk perbedaan kedelapan, Sou Yeon tiba-tiba bertanya padaku apakah aku memperhatikan laki-laki dan perempuan yang tadi duduk di sebelah kami. Kujawab aku bahkan lupa apakah ada orang di sekitar kami tadi. Kata Sou Yeon mereka berasal dari negerinya. Tapi rupanya mereka tak tahu itu. Pasangan itu ternyata berbicara tentang masalah yang mereka hadapi di ranjang. Si pria suka menangis setiap kali klimaks datang dan si perempuan sangat terganggu dengan itu. Kami tak bisa tak tertawa membayangkannnya.

Tawa Sou Yeon masih berderai-derai ketika aku sudah membisu kembali. Aku baru menyadari sesuatu. Sesungguhnya bukan aku yang cermat, tapi dia yang tak mempedulikan teka-teki itu. Sou Yeon tampaknya melihat perubahan pada diriku karena dia tiba-tiba juga menghentikan tawanya. Suasana menjadi aneh seperti semula. Sou Yeon pelan-pelan kembali lari ke majalahnya. Aku sendiri tak tahu harus lari ke mana.

Menyerah, aku bangkit, berjalan ke rak majalah, dan kembali dengan sebuah majalah di tangan. Saat kutaruh di atas meja, aku baru tahu bahwa itu majalah pria eksekutif muda. Gambar demi gambar perempuan seksi memenuhi halaman-halaman depan namun tak ada satupun yang menarik perhatianku. Kemudian masuk ke halaman-halaman wawancara dengan seorang CEO muda yang sukses dalam kehidupan dan cinta. Yang ini malah membikinku sakit hati.

Tiba-tiba ada yang berbicara denganku. Aku menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang sebelum meyakinkan diri bahwa Sou Yeon lah berbicara kepadaku. Akhirnya. Aku meminta maaf dan memintanya mengulang kata-katanya. Ternyata Sou Yeon bertanya padaku apakah aku mempunyai kisah memilukan dalam hidupku dan bagaimana hancurnya perasaanku saat itu. Bagiku membikin cerita semacam itu tak terlalu susah. Aku bahkan tak perlu mengarangnya karena toh cerita hidupku adalah cerita laki-laki yang kerap dilukai oleh kehidupan.

Aku sengaja menghela nafas dan kemudian tersenyum kecut. Dia bertanya padaku apa yang terjadi. Kujawab tak ada apa-apa, namun dengan tetap memelihara kekecutan itu. Umpanku termakan, dia jadi sangat penasaran. Dengan setengah memaksa, dia bertanya sekali lagi pertanyaan yang sama. Dan mulailah aku bercerita tentang…KODOK.

Kodok mengingatkanku pada kisah sedih masa kecil yang selalu menghantuiku sampai sekarang. Aku lahir di desa padi. Keluargaku cukup terpandang di desaku. Bapakku orang pertama di desaku yang berprofesi sebagai pegawai kantor. Yang lain adalah tuan tanah atau petani penggarap. Memang kami tak sekaya para para tuan tanah, tapi kami unggul dalam soal pendidikan dan gaya hidup.

Kawan-kawanku kebanyakan adalah anak-anak petani penggarap. Hubungan kami seperti hubungan bapakku dan bapak-bapak mereka. Mereka selalu ingin menyenangkanku dan menuruti kata-kataku padahal aku sendiri tak pernah pusing dengan mereka dan kata-kata mereka. Seperti Frodo dan kawan-kawannya. Yang paling dekat denganku adalah Sokran. Kami seperti tak terpisahkan. Bermain, belajar, makan, dan tidur bersama-sama. Salah satu kegemaran kami adalah berburu kodok di sawah, terutama setelah hujan. Sebenarnya yang berburu adalah Sokran. Yang makan juga dia dan keluarganya. Aku hanya berteriak-teriak seperti mandor dan kadang-kadang membantu membawa kodok-kodok hasil tangkapan Sokran. Yang aku gemari hanyalah ketegangan menyaksikan Sokran mengintai dan menjebak kodok-kodok itu.

Suatu saat, saat kami berpamitan sebelum berangkat berburu di sawah, ibuku berpesan padaku dan Sokran untuk membawa pulang ke rumahku beberapa kodok. Sebelumnya beliau tak pernah meminta hal serupa. Sokran tampak bersemangat ketika mengiyakan permintaan ibuku. Baginya itu adalah kesempatan untuk menyenangkan hati orang tuaku. Namun pada hari itu kodok-kodok seperti enggan keluar rumah. Kami sudah menjelajahi hampir seluruh sawah desa namun baru tiga kodok yang terlihat dan cuma satu yang tertangkap.

Saat terdengar adzan maghrib, kami sudah hampir kembali ke tempat kami memulai perburuan tadi. Hasilnya tetap tiga kodok terlihat dan satu tertangkap. Kuajak Sokran untuk bergegas pulang. Dengan sopan dia menjawab sebentar lagi. Baru kali itu dia tak menuruti kata-kataku. Namun aku tak marah sebab, dia melakukannya demi kesenangan orang tuaku. Sokran memintaku untuk naik ke dekat sungai kecil dan menunggunya di sana. Tapi Sokran tak pernah menyusulku. Tubuh mungilnya tersengat listrik yang dialirkan ke sawah desa setiap usai adzan maghrib untuk membunuh hama tikus. Semangatnya menyenangkan orang tuaku telah membuatnya lupa pada jam listrik. Aku sendiri lupa tanpa alasan.

Aku tak tahu siapa yang pertama menemukan kami. Tiba-tiba di sekitarku sudah gaduh luar biasa. Orang tua Sokran menangis lirih memeluk jenazah anaknya. Ibuku meraung-raung karena aku tiba-tiba menjadi seperti orang linglung dan tak mau diajak pulang. Kelinglunganku bertahan sampai 3 minggu lamanya. Orang tuaku membawaku ke beberapa dokter dan dukun. Semuanya tak mampu menyembuhkan kelinglunganku. Kelinglungan itu memuai dengan sendirinya ketika aku mampu menitikkan airmata untuk pertama kalinya. Ibuku terisak menyaksikan itu dan berujar, “Tumpahkan, Nak, tumpahkan semua.” Lalu aku meraung-raung di dada ibuku.

Sejak saat itu aku selalu bercita-cita menjadi peternak kodok meski belum kesampaian sampai saat ini. Jika aku mempunyai peternakan kodok, anak-anak petani penggarap tak perlu mati tragis seperti Sokran. Mereka bisa ambil sepuas-puasnya untuk lauk keluarganya.

Kuakhiri ceritaku dengan menyeka air mata dengan punggung tanganku. Kulihat mata Sou Yeon jauh lebih berair dari punyaku. Dia menarik tisu di meja dan membaginya denganku sebelum kemudian melingkarkan tangannya dibahuku. Kusembunyikan mukaku di dadanya yang hangat. Aku terhanyut dalam suasana yang kuciptakan sendiri dan tak kunjung bisa menghentikan air mataku. Semakin keras kutahan, semakin keras dia melawan. Aku menyerah dan meraung-raung di dadanya. Lamat-lamat kudengar Sou Yeon berkata:

“Tumpahkan, Nak, tumpah semua. Cup, cup, cup. Aduh, bayi kuda nil-ku.”

Sejak saat itu lah aku tak sanggup untuk menangis lagi.

Untuk kawan di tikungan, Hee Jina

Petra Little Theatre: Night, Mother

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/19/2008

Petra Little Theatre
Prodi Sastra Inggris
UK PETRA, Surabaya

Mempersembahkan sebuah pertunjukan drama berbahasa Inggris*:

“NIGHT, MOTHER”

Karya : Marsha Norman
Sutradara : Stefanny Irawan, S.S.

Pernahkah kita mencurigai orang yang kita sayangi merasakan kesepian yang ngeri justru
ketika kita tengah bersamanya?

Petra Little Theatre, Gedung B, lantai 2
Universitas Kristen Petra.
Jln. Siwalankerto 121- 131.
Surabaya

Rabu, 3 Desember 2008, 14.00WIB
Kamis, 4 Desember 2008, 14.00 WIB
Jum’at, 5 Desember 2008, 14.00 WIB
Sabtu, 6 Desember 2008, 18.00 WIB

Tiket sebelum tanggal 26 November 2008: Rp. 10,000,-
Tiket sesudah tanggal 26 November 2008: Rp. 15.000,-
Kelompok : 9 GRATIS 1

Dapatkan juga Merchandise Pementasan dengan harga terjangkau.

Hubungi:
Yulita: 08175147985
Frety: 081703445630
Atau dapat dibeli langsung di Selasar Gedung B, UK Petra.

Pementasan ini didukung oleh:
Istana Foto, Prambors Radio, Hard Rock FM, Colors Radio, PT. Alfa Omega, OQCS.

* sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris,
terutama Listening dan Pronunciation.

Pembatasan Pemutaran Lagu Indonesia: Jangan-Jangan*

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/14/2008

Jika ada orang Indonesia marah-marah dengan desakan Persatuan Karyawan Industri Musik Malaysia (Karyawan) ke pemerintahnya untuk membatasi pemutaran lagu-lagu Indonesia, mungkin ada baiknya untuk mempertimbangkan kegusarannya sekali lagi. Jangan-jangan ini bukan ‘kabar buruk’ bagi Indonesia seperti yang sudah-sudah. Jangan-jangan ini waktunya untuk bersimpati terhadap langkah buruk jiran kita dan berharap tak melakukan hal yang sama. Paling tidak terdapat tiga kerugian yang Malaysia akan hadapi jika pemerintah mereka jadi menerima usulan ini.

Pertama, pembatasan ini akan semakin menegaskan konteks permusuhan dan menang-kalah yang terlanjur tercipta dalam hubungan Indonesia-Malaysia. Bukankah pembatasan mengasumsikan adanya ancaman? Yang datang dari musuh? Yang hendak mengalahkan? Tak seharusnya hubungan Indonesia-Malaysia terus menerus ditempatkan seperti dua jagoan pencak silat di pertunjukan orkes melayu. Dan jika pemerintah Malaysia jadi melakukan pembatasan alias permusuhan ini, mereka mau tak mau harus siap dianggap ‘kalah’. Pembatasan, di manapun juga, adalah tindakan panik dan putus asa. Sebuah tindakan yang akan diambil ketika kita sudah tak mampu untuk menyaingi yang dianggap lawan. Seperti halnya orang tua yang membatasi anaknya keluar rumah setelah nasehatnya kalah terus-menerus melawan bujukan kawan anaknya. Pembatasan dengan demikian jarang keluar dari pihak yang tengah berada di atas angin. Manakah, misalnya, yang lebih sering membatasi rakyatnya? Amerika Serikat yang ‘menang’ atau Uni Soviet yang akhirnya ’tumbang’?

Kedua, pembatasan sebenarnya adalah tindakan yang tidak canggih dan tidak efektif dalam apa yang disebut ‘pertahanan budaya’. Pembatasan bergerak secara keras, terang-terangan, dan terbatas. Dia memaksa orang untuk patuh dan menghukum yang tidak. Sudah naluri orang untuk membenci paksaan dan hukuman, kecuali para masokis, tentu saja. Masyarakat tak akan pernah mematuhinya dengan sepenuh hati. Cepat atau lambat ini akan menimbulkan reaksi negatif. Reaksi ini tidak hanya akan datang dari musisi Indonesia, tapi justru dari rakyat Malaysia sendiri. Pembatasan juga memamerkan peraturan, tindakan dan pelakunya secara nyalang. Mudah bagi masyarakat Malaysia untuk mencari celah, berkelit dan bahkan melawannya. Pembatasan akhirnya tak akan berdaya saat seseorang memasuki ruang pribadinya yang tak terjangkau oleh aparatur negara. Apalagi di zaman cyber dan di antara masyarakat yang relatif melek internet seperti Malaysia. Pemerintah Malaysia mungkin bisa belajar dari kegagalan Soeharto dengan segala aturan, tindakan, lembaga pengawas dalam menghadapi ‘pengaruh-pengaruh negatif westernisasi’, ‘nama-nama yang tidak Indonesia’, ‘bahaya laten komunis’, dan sejenisnya.

Akhirnya, pembatasan hanya akan mempersulit kesenian dan pekerja seni Malaysia sendiri dalam jangka panjang. Kebudayaan dengan kesenian akan maju dan berkembang jika bersentuhan dengan kebudayaan dan kesenian lain. Kebudayaan Arab menjadi maju lewat persentuhannya dengan kebudayaan Yahudi dan Yunani. Demikian juga dengan kesenian Amerika Utara yang menangguk keuntungan dari penerimaannya terhadap khasanah Afrika, Amerika Latin dan Asia. Membatasi produk kebudayaan lain sama dengan mematikan sumber pertumbuhan budaya sendiri. Tengoklah kebudayaan Cina yang tidur pulas di zaman menutup diri. Atau Kamboja di masa Pol Pot mengosongkan kota. Kenapa lagu Indonesia lebih diterima dibanding lagu Malaysia? Jangan-jangan ini karena Indonesia bersikap ramah terhadap kebudayaan manca. Musisi Indonesia banyak belajar dari kepedihan Britpop, ledakan hip metal America, keromantisan pop Korea dan Taiwan, dan bahkan kemelodiusan rock Malaysia. Jangan-jangan ini karena pada dekade 80-an pemerintah Malaysia membatasi kehadiran musisi Indonesia karena kejayaan Koes Ploes dan koleganya pada dekade sebelumnya. Jangan-jangan ini karena pada suatu masa rocker Malaysia pernah dilarang menggondrongkan rambutnya karena dianggap tak Melayu.

Sekali lagi, pembatasan kehadiran lagu-lagu Indonesia cepat atau lambat justru akan mencederai Malaysia sendiri. Selain menempatkan Malaysia pada perseteruan dan, bahkan, ’kekalahan’, pembatasan juga menimbulkan perlawanan dan menghentikan sumber pertumbuhan musik Malaysia sendiri. Lalu apa yang bisa dilakukan? Malaysia dan Indonesia harus berhenti mendekati segala urusan yang melibatkan keduanya dalam bingkai permusuhan dan menang-kalah. Jangan-jangan ini hanya chauvinisme yang dikembangkan untuk mengaburkan ketidakmampuan masing-masing untuk mengangkat keberadaannya. Pada titik ini kedua bangsa menemukan musuh bersama dan bahu-membahu mengatasinya.

*Entri ini oleh Tuan Dewey Setiawan didedikasikan untuk Amy Search dan, tentu saja, Dewi Persik.

duh, dik anne

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/13/2008


tepat pada saat mendengar scarlet johansson bertunangan, aku ingin berlibur di bahumu saja. bukan masalah jika hari-hari ini kamu belum siap menerima tamu. aku akan membersihkannya sendiri, meski aku sudah lupa cara menyapu sejak kepulanganku dari chao phraya. aku ingin membangun kemah di sekitarnya, bukan untuk kutiduri, tapi arena kita bersembunyi dan berlari-lari. apakah ini cukup mengingatkanmu pada bollywood dan segala keriangannya?


tepat pada saat mendengar coldplay menjadi band terlaris sejagat, aku ingin berlibur di bahumu saja. haruskah aku meminta maaf karena menjadi laki-laki yang serampangan? bermimpilah. demi semesta, lebih baik aku menjadi nelayan dan menangkap ikan tongkol sampai maranatha. aku tak pandai membuat jaring, namun tanganku terampil dengan kayu. aku ingin membangun bahtera yang luasnya memalukan. yang membuatmu tak mampu mencandra buritan dan haluannya. akan kutanam dua kursi kecil di anjungannya. kau boleh menghilang, namun tinggalkan bahumu di kursi sebelah.


saat mendengar anne hathaway patah hati, aku ingin berlibur di bahunya saja. mohon diambil bahu di kursi sebelah. aku hendak membuat kegaduhan-kegaduhan kecil di lehernya, sebelum mengaso di bawah dagunya yang rindang. duh, dik anne, bolehkan kubacok wajahmu saat bangun nanti?

Call for Papers, International Conference on Media, Bali, May 7-9

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/13/2008

Call for Papers
The International Conference on “Media in a Fast-Changing World”
May 7-9, 2009
Bali, Indonesia

http://mediacon.petra.ac.id

1. Background

Media in today’s world has undoubtedly become a significant part of human everyday life. There have been many complex and varied stories on how the media forces around us cause rapid changes in our world as it is witnessing a freer and faster flow of information. In this globalized world, media have made a breakthrough in the nexus of various human cultures. This condition has offered great deal of contributions in promoting world businesses, political agendas, various popular cultures, as well as individual performances. On the other hand, practices in the contemporary media have also brought about a paradoxical situation in which media control us as much as we do them.

Petra Christian University is determined to take the initiative of gathering scholars, intellectuals, students, and media practitioners to discuss how media operates in a fast-changing world. With this bold enterprise, we endeavor to encounter media’s threatening yet exciting challenges with critical minds. Four social science departments at Petra Christian University, namely, English, Communication, Visual Communication Design, and Business Marketing Department will jointly conduct the International Conference on “Media in a Fast-Changing World”. Each discipline will not only examine various aspects of today’s media from its own perspective but also learn from diverse points of views.

This conference is the first of its kind held in Indonesia in its attempt to bring together different minds both in its depth and breadth of substance and scope. Therefore, we are of confidence that the seminar will bring benefits to individual intellectuals, academic worlds, media communities, and society in general.

2. Topic and Sub-topics

Topic of the Conference:
• Media in a Fast Changing World

Sub-topics:
• Media and Multiculturalism
• Media and Globalization
• Media and Politics
• Media, Popular Culture, and the Construction of Identities
• Representation of Gender / Ethnicity in Media
• Ideology, Power-Relation and Media
• Understanding Media Discourses
• Mediamorphosis, Mediaspora, Mediaddict: A Media-Minded World
• Quo Vadis Postmedia?
• Media for Brand Communication
• CSR in marketing media
• Codes of Ethics in Media Practices

3. Venue and Date:
• Venue: Hardrock Hotel, Kuta, Bali, Indonesia
• Date: May 7-9, 2009

4. Agenda: Plenary and Parallel Sessions

5. Conference Fee:
• Deadline for the early bird registration: March 5, 2009
• Indonesian Participant: Rp. 2.500.000,-
• Indonesian Paper Presenter: Rp. 2.250.000,-
• International Participant: US$ 575, –
• International Paper Presenter: US$ 550, –
• The accommodation is for two persons each room. US$ 100 charge per night
will be added for single supplement.
• After March 5, 2009 Registration:
Indonesian Participant : Rp. 3.000.000,-
International Participant : US$ 600.-

6. Facilities: accomodation, lunch, coffee break, visit to media
enterprises/cultural sites, seminar kit, and certificate.

7. Expected Participants:

• Scholars, media practitioners, researchers, media observers, and students
• Maximum participants: 150 people

8. Paper Submission:
• Deadline: January 15, 2009
• Format: 6-8 pages, full paper typed in A4 paper, with 12 size font, Times
New Roman, single spaced
• Notification of Paper Acceptance: March 2, 2009

9. Contact Persons:

• Liem Satya Limanta, satya@petra.ac.id (+62-31-2983064)
• Grace Swestin, gswestin@petra.ac.id (+62-31-2983046)
• Theophilus Jokri, jokri@petra.ac.id (+62-31-2983065)
• Dwi Setiawan, dewey@petra.ac.id (+62-31-2983061)
• Correspondence Address:

The Committee of International Conference on Media
Petra Christian University, B Building
Siwalankerto 121-131,
Surabaya, 60236
INDONESIA

zi, fron, mam (rip)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/08/2008

halo, zi, fron, mam? gimana? takut juga ya? hehehe. modelmu itu loch. pake teriak-teriak segala. nutup-nutupi kecilnya hati hehehe. ya biasa aja lah. kata pakar-pakar motivasi: dont feel bad about your fear…hehehe. lha wong sudah kadung diprogram begitu otak kita ini. ngga ngerti, ya? pernah baca darwin, mam? dawkins? ngga ya?

yo, wis. gak penting. sekarang sudah lewat, to? gimana? ngga ada ya bidadarinya? hehehe. surprise! gimana, langsung masuk ke hot country, ya? well, what can i say, brah…hope they serve beer in hell. cheers!

walah, jangan-jangan malah ngga ada apa-apa sama sekali. hahaha. hayo, ngaku. ngga usah malu-malu…hehehe.

menjadi relijius

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/04/2008

hidup memang semakin menyenangkan dan menjanjikan. tapi bukan berarti tak ada kemandegan, kejatuhan, dan kemunduran di lipatan-lipatan minggu. jika masa itu datang, tak ada pilihan lain selain menjadi lebih relijius dan spiritual dalam waktu yang sama. berikut adalah bacaan yang selalu menguatkanku dalam pergumulan ini:

http://www.cracked.com

dan, jadilah menyebalkan!