Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

kabelwan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/24/2009

saat terjebak dalam keruwetan menarik-masukkan kabel ke liang usb tadi pagi, aku baru menyadari betapa dekat hidupku dengan kabel. sidang pembaca yang terhormat, izinkan saya memperkenalkan BEBERAPA di antara mereka:

1. kabel data ponsel
2. kabel charger ponsel
3. kabel handsfree ponsel
4. kabel data kamera
5. kabel charger kamera
6. kabel ethernet
7. kabel charger notebook

dan aku masih harus menahan diri untuk tak menyebut kabel yang lebih dulu mengepungku semacam kabel tivi, lampu belajar, kipas angin, rice cooker, discman, dan seterusnya. sedikit atau banyak, mau tak mau, bangga atau benci, aku harus mengaku bahwa kabel juga membentuk hidupku. paling tidak seberapa sering aku mengeluarkan kata-kata kotor juga, seperti tadi pagi.

mungkin kabel mempunyai tempat yang istimewa dalam hidup kalian juga. aku berani bertaruh siapapun kalian yang membaca ini mempunyai hubungan intim dengan kabel juga. hey, bukankah kalian kelas menengah yang mampu dan merasa perlu bermain internet, yang membutuhkan komputer dan modem, yang kemungkinan besar juga punya ponsel, yang suka menghiasinya dengan software unduhan dari internet, yang juga punya kemampuan membeli kamera digital, yang suka memamerkan hasilnya di facebook?

pie,

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/18/2009

kita bermufakat saat aku tengah jemu dengan puisi, prosa, dan drama. aku tahu kegemaranmu pada ironi. jadi anggaplah ini sebagai semacam dokumen. aku belum menentukan dengan cermat apakah ini kabar baik atau buruk bagimu. dan aku juga tak akan meminta maaf seperti yang lazim kulakukan di zaman-zaman yang lebih gelap. tentu saja ini karena aku juga tengah bosan meminta maaf. tapi paling tidak kamu tahu ini, dan ini bisa menyelesaikan beberapa pertanyaan yang mungkin melompat di saat mengaso.

demikian juga aku tak pernah mengajakmu berkendara mencari hujan, seperti dengan mereka yang berhati mulia. jika aku pernah menyesal dan khawatir, itu hanya ketika aku merasa membuat mereka terkena pilek dibanding bermain-main dengan hati-hati mulia. aku selalu bertaruh dengan sekeras-kerasnya atau tidak sama sekali. andai saja aku adalah petaruh yang bijaksana, tentu aku sudah bisa menghias diriku seklimis raja salomo di hari-hari tuanya. tentang remeh-temeh dan keributan di luar, aku cuma bisa mengatakan kehidupan tengah melukai mereka, dan mereka tengah berjuang untuk melewatinya. untuk ini kamu harus banyak maklum dan berdoa.

dan, lihatlah, kali ini hujan yang mencari kita. hujan menderu-deru seperti kekasih yang pencemburu. namun serahkan masalah ini pada lebar badan, baik harafiah maupun kiasan. aku akan menghalanginya seperti bukit. aku akan membuatmu sekering kulit ayam sang kolonel. dan betapa beda dirimu. betapa nyalangnya. betapa sederhananya kita. jika ada yang menjahitmu dengan yang sudah-sudah, aku sekedar bisa menjelaskan bahwa aku sering tumbuh di masa-masa basah.

mario puzo tak berlibur tahun ini

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/03/2009


liburan kali ini membuatku lebih mahir dalam bercakap-cakap lewat telpon & pesan singkat dan menyanyi (waks). di sela-sela kegiatan-kegiatan penting itu, aku menikmati novel-novel hebat mario puzo. ya, ya, ya, laki-laki sekali. tapi rasanya semakin penting untuk menjadi ‘laki-laki’ di dunia yang semakin ‘politically correct‘ dan karenanya membosankan.

banyak orang tertarik melihat film karena terpukau dengan novel darimana film tersebut didasarkan. tak sedikit juga orang yang tertarik membaca novelnya setelah melihat filmnya. tentu saja perkenalanku dengan novel-novel mario puzo berawal dari trilogi film the godfather. salah seorang kawan di thailand dulu memberiku trilogi itu sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-22 (thx again, sista). aku begitu menyukai trilogi itu dan tak pernah bosan melihatnya. demikian kagum terhadap film-film itu, sampai-sampai aku mencari, mengunduh, dan membaca script-nya. dialog yang kuat. aforisme yang menarik. aku selalu suka aforisme (alasan yang sama kenapa aku menyukai tetralogi bumi manusia).

pembacaanku terhadap script-script itu semakin membuatku semakin menyukai film itu. pada saat yang sama aku semakin ingin membaca novelnya. mencari novel the godfather bukanlah hal yang sulit, bahkan di surabaya. tapi karena satu dan lain hal aku selalu urung membelinya (soal kapital biasanya hehehe). yang kuratapi sampai saat ini adalah kenapa tak pernah terlintas di benakku untuk mengunduhnya sebelum liburan ini. padahal sudah hampir satu tahun ini aku mengurangi kunjunganku ke gramedia dan doyan mengunduh e-book, mulai dari yang amat sangat tidak penting seperti biologi evolusioner sampai yang luar biasa gawat seperti khasiat temulawak bagi kesegaran kulit.

dan malam itu betul-betul efifanik. setelah menutup telpon dari seorang kawan yang tidak lazim, tiba-tiba aku langsung teringat pada novel the godfather dan teringat bahwa aku punya kesempatan 100 persen untuk menemukannya di internet. tidak berhenti dengan the godfather, aku juga mengunduh tiga novel maria puzo lainnya: the sicilian, the last don, dan omerta. aku sudah menyelesaikan the godfather dan the sicilian dan tengah membaca the last don. omerta, yang berarti sumpah bisu, akan menjadi penutup yang cantik.

yang pasti aku tak akan melakukan omerta. aku akan bercerita sedikit-sedikit tentang apa yang baru kubaca di entri selanjutnya.