Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

rumah tupai

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/29/2009

akhirnya, setelah bermimpi dan bekerja beberapa musim, aku dapat mengumpulkan beberapa jerami untuk membuat sarang. halah. hehehe. sebenarnya keinginan ini sudah ada sejak aku di thailand. tapi terus aku tunda karena aku masih bermimpi untuk studi lagi. aku pikir jika aku mengambil rumah sambil studi, itu akan mengganggu konsentrasiku dan merepotkan orang tuaku, yang akan aku mintai bantuan untuk mengurus ini dan itu.

tapi sejarah memberikan fatwa lain. cieee. aku tak dapat berangkat tahun ini seperti yang sudah kurencanakan empat tahun terakhir. aku juga masih harus mengurusi jurusan untuk empat tahun ke depan.  seperti sang alkemis, aku berusaha untuk membaca tanda-tanda. mungkin sudah saatnya aku melaksanakan mimpi mempunyai sarang ini dulu.

salah satu tanda itu adalah tiba-tiba salah satu tanteku mampir ke rumah. tiba-tiba dia menceritakan salah satu rumahnya di sidoarjo yang tak berpenghuni setelah ditinggal anaknya bermigrasi secara tiba-tiba ke jakarta. tiba-tiba dia menawarkannya kepadaku untuk aku tinggali secara gratis; daripada tak ada yang menempati dan cepat rusak. tiba-tiba aku berfikir kenapa tidak aku beli saja. tiba-tiba aku menawar sekejam-kejamnya. rumahnya sendiri sangat besar untuk ukuran bujangan, 150 m2. rumah ini baru saja mengalami renovasi. tinggi atapnya di naikkan 0,5 meter dan semua kayu atapnya sudah diganti.  aku tahu persis renovasi itu menghabiskan dana sangat besar.  lingkungannya sendiri cukup baik dalam pengertian sosiologis. dan tiba-tiba beliau setuju begitu saja dengan penawaran kelas pekerja dariku.

rumah itu sendiri belum aku bersihkan sampai saat ini dan belum tahu kapan akan aku tinggali. aku masih sangat nyaman tinggal di rumah orang tua karena, terus terang, di sini aku terawat dengan baik. hehehe. tapi aku yakin ini hanya soal waktu saja. aku sudah melihat diriku sendiri di kamar depan yang akan kusulap menjadi semacam ruang kerja dan baca. aku sudah melihat si pie mondar-mandir di depan tivi. aku sudah melihat anak-anak kami hilir mudik di tangga ke jemuran di atas.  ya, aku sudah mulai berfikir bahwa saat meluncurkan sebuah dinasti sudah tiba.

sebagaimana megalomaniak yang lain, aku sudah memikirkan nama yang jauh melampaui kesederhanaan rumah ini. aku sempat memikirkan dengan serius meniru nama-nama markas hitler seperti wolf’s lair atau eagle’s nest. hehehe.  atau nama-nama puri-puri dinasti di eropa seperti yang pernah kubaca di novel seperti castle dracula atau the house of ushers. hihihi. tapi seperti megalomaniak yang lain, aku selalu berjuang untuk sebuah orisinalitas, selemah apapun konsep itu sendiri. dan, di tengah aku menulis ini, tanpa alasan yang jelas, aku tiba-tiba berfikir tentang:

rumah tupai…

DIVINE SONNET X – DEATH BE NOT PROUD

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/27/2009

DEATH be not proud, though some have called thee
Mighty and dreadfull, for, thou art not so,
For, those, whom thou think’st, thou dost overthrow,
Die not, poore death, nor yet canst thou kill me.
From rest and sleepe, which but thy pictures bee,
Much pleasure, then from thee, much more must flow,
And soonest our best men with thee doe goe,
Rest of their bones, and soules deliverie.
Thou art slave to Fate, Chance, kings, and desperate men,
And dost with poyson, warre, and sicknesse dwell,
And poppie, or charmes can make us sleepe as well,
And better then thy stroake; why swell’st thou then;
One short sleepe past, wee wake eternally,
And death shall be no more; death, thou shalt die.

John Donne

satu matari setelah yang tak kunamai

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/13/2009

aku gurat ini saat keadaan masih belum berubah dan ketidakpastian begitu pekat seperti apa yang aku teguk di jeda-jeda hari. aku tulis ini satu matari sesudah apa yang belum pernah aku dapat sebut, apa yang tak pernah dapat atau ingin aku namai. dan demikian kita masih saling membantu seperti dua anak kecil yang selalu mengakhiri dendam permainan sepulang sekolah seiring dengan kantuk di meja belajar sore.

dan, apakah masa ini pernah berakhir? begitu lelah kita bersama memberi penanda-penanda waktu sementara pada saat yang sama kita tahu bahwa waktu tak ubahnya sungai di depan Sidharta. aku tekankan ini saat aku harusnya berkemas untuk kepergian yang berulang. untuk sebuah kehidupan yang lebih baik bagi yang hadir dari kita. jika waktu tak pernah betul-betul beku, mungkin kita cuma ingin menikmati dinginnya.

seperti pernah kukatakan dalam sebuah malam yang biasa-biasa saja, aku jauh dari baik. aku bukanlah pecinta yang tangguh dan selalu ingin melihat tata ruang kedai-kedai baru dalam perjalanan pulang. dan begitulah aku harus membiarkanmu menekuni dan mengartikan hakekat sebuah pintu kayu. namun tahukah kamu, bahkan dalam ketidaksadaranku yang paling mengerikan, aku selalu hafal letak sembilan pot bunga yang kau acak di depan rumah?

hidup ini aneh benar. ada masa di mana kita begitu ingin mencederai dia yang pernah membebat kita saat berdarah-darah.  dan, berharap, dengan sembunyi, ada yang menemukan dan menyembuhkannya. mungkin kita, dari awalnya, hadir dengan perasaan tak layak dan tak percaya terhadap kasih yang baik. dan aku berharap, dengan cemas, aku dapat merasa cemburu lagi.

dan seperti sidang jemaat di efesus, aku ingin kembali kepada kasih yang mula-mula. yang tak rumit. yang tak menarik. mungkin sudah tiba saatnya aku menghunus tinju ke arah lain  yang ngeri. dan mempersiapkan mereka yang hadir sesudah kita.

sebab, pada akhirnya, apa yang lebih kuinginkan daripada membangun sebuah dinasti?

Phantasmagoria (Sekian Peringatan yang Akhirnya Terbuka)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/02/2009


Kamerad yang Budiman,

Segala tulisan ini kurencanakan untuk mengingatkan, dan tak jarang mengajak untuk mengingat, bukannya memperingatkan, apalagi sampai mengultimatum segala. Memang, ada niatan untuk mempermalukan beberapa kawan, yang kebetulan sama-sama tak tahu malu juga. Pada akhirnya, selalu ada waktu untuk meminta maaf, sementara deru, ya deru, tak pernah menunggu.

Jelang Sidang Skripsi, 22/07/2002

Dewey Setiawan

Peringatan Pertama

Pernah mendirikan kata-kata, aku
Membangun kamu yang genap,
Dengan tangan, putarannya, suara, dan celakanya, ketawa itu
Itu dulu, bukan?
Waktu ruang kuliah di lantai-lantai atas masih sering jadi
Salah satu rutemu, rute yang benar-benar membosankan

Banyak perubahan, pada aku dan mereka
Entah dengan kamu,
Karena penanda-penanda yang kau ceruki pada pixel,
Sebelum menggeraham
Modem dan bola-bola listrik,
Rapuh, untuk menjulangkan gerikmu yang lengkap

Aku sangat pria sekarang, itu jelas
Pria sekali
Mungkin kamu telah menduganya, lewat kabarku
Pada malam yang, kusebut, penuh phantasmagoria
Penuh dengkur Kawan Min di ranjang sebelah

Dan ketika kamu membalasnya,
Cepat-cepat kukokang sekali lagi
Tak pernah kumuntahkan akhirnya
Persoalan sekitar cita-cita
Membuatmu sekali lagi berubah tak penting

Perubahan mereka?
Aku benar-benar tak tertarik bercerita
Karena mereka ikut-ikut tak penting
Bagi aku, yang pria sekali

Peringatan Kedua

Jika aku menulis lagi padamu,
Itu berarti kamu mulai sedikit penting lagi bagiku

Susahkah untuk mengakui
Bahwa aku sering tak penting bagimu,
Dan kamu sering tak penting juga bagi aku?

Banyak pasangan teruna
Menganggap pengakuan jenis ini kotor, sayang
Menjatuhkan cinta di urutan keong, katanya

Cinta? Aku?
Bukankah menjadi tak penting,
Ketika kau panik memikirkan jawaban soal ujianmu
Yang baru kau selesaikan satu nomor saja?
Ketika kamu panik memenuhi perintah atasanmu
Untuk menyelesaikan segala sesuatu dalam empat jam saja?

Cinta dan kamu hanya jadi penting,
Ketika ada waktu luang
Lalu aku tertarik duduk di dekat meja telepon,
Ketika ada kesempatan
Lalu aku tertarik mengajakmu bertemu
Mencocokkan bayangan mukamu
Yang aku arsir sebelum minum kopi

Ini pada waktu luang juga
Adakah yang salah padanya?

Berapa jamkah yang mereka lewatkan tanpa
Cinta yang penting, ya?!

Peringatan Ketiga

Ada busur dewa yang merebah pada pundaknya
Disekrup dalam-dalam
Menarik dadanya yang meniru padi
Selain bagian penting itu,
Dia menyerupai pabrik gula,
Secara keseluruhan

Jika sampai tanggal tiga puluh bulan ini
Dia belum memanggil orang tuaku datang
Ambilkan aku tali dan sediakan kamar tenang, Min
Tak perlu kau ikut berdoa
Karena dendam ini pasti sampai
Pada malam, di mana dia berusaha mempertahankan
Kelenturan kulit mukanya
Dengan masker bengkoang

Peringatan Keempat

Pria,
Bercanda, mari kita
Sebelum masing-masing tubuh ini turun,
Lalu tidur berdasi

Jika mereka berkata, pria sepertimu sungguh harus tenang
Kukatakan padamu, kita yang penuh lebam pada buku tangan
Sbab kata-kata yang kita tukang
Memang sedang dan pernah kalah

Kita yang punya cinta cepat jatuh,
Dan bersedia meneruskan jalan demam ini
Adalah jauh mulia
Dibanding mereka, yang mengganti peta ribuan legenda
Dengan tips-tips bersikap dari majalah

Tapi kita tahu berhenti, betul itu
Meski kita, seperti dulu, masih tertarik
Dengan perempuan-perempuan berkaki panjang
Sayang sekali, mereka suka tertawa separuh
Kupikir memang itu mencibir
Maka kita berhenti, benar itu

Berdoalah, agar kerajaan pria kian dekat

Juni dekat mesin ketik kantor,
Besok aku tumpas darah

Peringatan Kelima

Sampai dimanakah kamu?
Sampai dimanakah kita?
Siapkah untuk rasa sakit setelah berusaha?
Konon kabarnya lebih pedih

Jika satu gagal, anggap saja dia lemah
Dan tak perlu tangisan anak kucing seburuk itu
Karena menoleh seperti itu melemahkan, percayalah
Kau akan berhenti, ikut larut sedih, lalu
Jadi pecundang juga.

Adakah yang kalah mengangkat kaki lain dipundaknya?

Lajukan saja,
Saat kau sampai, lalu memenangkan bendera
Dengan baju baru satu setel,
Dan tonikum penuh energi, jemputlah ia

Untuk mengangkat yang kalah, harus menang dulu
Kalau kau lupa,
Mati keenakan, bahkan
Paling tidak tak perlu ada dua pecundang
Terbujur marah-marah

Peringatan Keenam

Kegiatan ini baru,
Empat kali kami pergi ke kelab malam
Sungguh menyenangkan, aku ceritakan
Meski tak lengkap,
Karena seperti kau tahu
Kami tak pernah sanggup memukau mereka
Yang memakai baju secara sembrono
Dan tahan masuk angin
Yang menyelipkan pengaman di saku kanan

Mereka cukup pemurah, untuk mata

Belajar menari, kita
Gaya Mr. Bojenggel di tivi-tivi, kita
“Hentikan tarian burukmu itu, Min!”

Melakukan retreat, kita
Sejenis pemenuhan rindu botol
Dengan cap yang tertera
Di seragam-seragam pemain bola Eropa

Beberapa jam di sana,
Berfikir kami, perjuangan yang miskin tak perlu ada
Tapi kala perjumpaan batas sadar itu rebah
Dan kita mulai berdarah sedia kala
Dan mampu mengingat,
Bahwa di pintu masuk selalu ada yang menumpang,
Seperti kita,
Perjuangan itu lagi ada

Peringatan Ketujuh

Hari-hari pada tahun-tahun akhir-akhir ini
Selain pada kekasih aku
Dan beberapa perempuan yang kukenal dekat
Aku mencurgai keindahan

Tak ada yang diperjuangkan untuknya
Bukan sesuatu yang hebat jadinya
Yang cantik kucurigai jatuh bebal
Karena yang cantik tak perlu melakukan
Semacam perjuangan untuk pintar
Mereka terberkati sesuatu yang menarik, sudah

Yang buruk kucurigai pintar,
Atau yang pintar kucurigai buruk
Karena yang buruk akan melakukan perjuangan untuk pintar
Untuk mengaburkan kodrat,
Pada muka dan pinggangnya, yang jelas tak menarik

Selain pada kekasih aku
Dan beberapa perempuan yang kukenal dekat
Aku mencurigai kecantikan

Aku, jelas, berjuta-juta debu kosmik berkoor setuju,
Memang tak elok,
Tahukah kamu rasanya jadi yang buruk, hei?
Berdoa, anak jadah pria berkumis sangkur tak datang lagi
Lalu bergenealogi tentang nilai ini

Peringatan Kedelapan

Sampailah pada pengingat-ingatan ke delapan aku,
Berfikir aku, pada siapa aku, menyerahkan
Semua peringatan-peringatan yang kuat

Kau pasti tahu ini bukan soal yang gampang
Menyerahkan pada tuan yang berjaya, takut mereka tak mau,
Ini benar tak bagus
Apakah sudah terlihat inlander benar kali ini, Min?

Mencetak sendiri, dianggap meniru medioker hebat
Kau pasti tahu, zaman ini penuh paradoks
Kau dan aku dituntut untuk selalu beda
Karena beda, berarti hebat dan orisinil

Padahal, Jose Maria jauh-jauh hari mampir ke rumah
Memperingatkan, bukan menulis peringatan, ku
“Tak ada tulisan yang baru di dunia ini, kawan
semuanya sudah pernah ditulis!”
Lalu juga Paman Karl yang mulia,
“Semua sudah seragam”

Terlanjur percaya aku, dan terlanjur menukil aku, pada narasi kedua:
“Tak ada lagi yang belum tertelusuri imajinasi di bumi manusia,
Mulai dari mencairnya sekelingking es di utara karena tertabrak rusa
Sampai pergumulan penguin di selatan.”

Lalu, harus bagaimana, Min?
Menyimpannya sendiri, dituduh menggugurkan gigi,
Berdecak-decak sembari membaca tulisan sendiri

Kau pasti tahu, kita hidup di zaman paradoks
Lalu, harus bagaimana, Min?

Peringatan Kesembilan

Teruslah menulis, diri
Karena lintasan semakin keriting
Dan lampion terang semakin sublim

Hanya untuk menunjukkan
Kamu masih hidup, itu saja arti

Untuk kamu, dan hasil sekolahmu
Menulis satu-satunya nada nadi
Bahwa kamu belum selesai; belum tahu; belum mati

Peringatan Kesepuluh

Kata mereka,
“Penghalang cita-citamu tinggal setebal halimun siang!”

Lalu aku mulai menyiapkan, segera
Sikat gigi dan beberapa celana dalam
Mengepak baju-baju
Mengangkat ransel baru yang menegakkan dada muka
Siap bertikai ke mana dan melawan apa saja

Seperti dinyana, ketakutan itu lagi mengancam
Hewan apa akan aku temui di sana?

Jutaan kali, sepanjang hidup, ketakutan kita makan, telah
Tapi seperti juga kesedihan
Kita tak pernah bosan
Dan terbiasa menghadapinya
Kesedihan dan ketakutan selalu tampak baru dan lain

Peringatan Kesebelas

Kita baru saja mengetikkan titik terakhir
Dalam bab yang tak terdigit lagi
Sudah terlalu jauh
Hadir dan turut campur, kamu
Dalam pekerjaan literer ini,
Prosa nafas yang lekas, demikian kita sering sebut

Ikut menulis cerita-cerita di dalamnya, kamu
Menampilkan ribuan karakter-karakter baru, seperti
Diantaranya bapak dan ibumu
Mencipta konflik-konflik yang menarik
Dan mempersiapkan penyelesaian-penyelesaiannya
Aku sendiri tak tahu, dan tak tertarik bertanya
Apakah pisah adalah salah satunya?

Tapi pikirkanlah dengan baik,
Sungguh tak adil,
Jika suatu misal kamu pergi, atau aku pergikan
Meninggalkan kerumitan cerita hasil ulahmu itu
Untuk aku selesaikan sendiri

Kamu harus tetap dengan aku,
Atas nama keadilan, dan juga
Cinta, yang menyusul kemudian

Peringatan Kedua Belas

Nyonya Intawa yang mulia,
Ketika lempengan besi itu distrukturkan untuk bertugas
Dan air itu dibakar
Dan turbin-turbin mulai bergetar
Hari-hari tiba-tiba pesat
Malam lalu seperti sekarang
Malam ini akan mensablon malam besok
Siang ibarat transisi roda gigi
Menggeram sejenak, kemudian pulas lagi
Bohlam dan neon semakin memburung bangkai
Produksi sosial tak ada gatra
Memenuhi mulut yang semakin banyak

Dan gadis-gadis seusia anda
Mulai sering berangkat malam
Shift tiga, keluhnya
Over produksi (mesias) itu tak kunjung tiba

Berderak lagi, dia
Yang dulu pokok tiba-tiba meranting,
Ada yang mengkuliti diri sebagai baru
Di epos kita sekarang, dalam kotak air-kotak air hijau

Jasa, tiba-tiba tak lagi sekedar kurir barang ke massa
Semenjak refleksi jadi penting bagi alien-alien kerja
Perangkat-perangkat mikro yang sayup
Menurunkan volume derum mesin-mesin raksasa

Tiran itu, ya Nyonya Intawa yang mulia,
Telah membangun jala-jala gelombangnya
Memberangkatkan ratusan satelit yang mencoreng-moreng
Kegenitan tak berlawan bulan kita,
Setelah ratusan juta tahun damai

Seru tiran itu,
“Berefleksilah di republik imajiner, hai kau yang cedal!
Hai kau yang disunyikan dalam barak-barak kunoku
Yang masih bersatpam dan bertentara
Dan bersertifikat tanah!
Ini kuangankan parsel terima kasih
Atau anggaplah jamsostek bahkan premi
Berangkatlah, bergila-gilalah, dan beraneh-anehlah
Tapi belilah komputer dulu, lalu pasang telepon,
Dan tanamkan modem dalam-dalam.”

Nyonya Intawa yang mulia, apakah tulisan sejenis ini
Hanya untuk menerangi dunia sekali lagi?

Peringatan Ketiga Belas

Tentu aku berharap bertemu kamu
Dengan baju hitam panjang,
Menyenyumi segala sesuatu,

Namun siapa tahu, itu tak pernah terjadi
Seperti pahit-pahit lain yang aku habisi,
Di halaman belakang rumah,
Di halaman belakang rumah,
Kutitipkan pada asap rumput, akhir mereka

Pernah aku rencanakan sesuatu yang baik bagi kita
Kamu juga begitu, mungkin
Meski dengan cita-cita yang lain.
Sebab aku adalah laki-laki sekali
Tentu aku memikirkan keadaan pikiran, perasaan,
kaki, tubuh, dan tentu mukamu.

Namun siapa tahu, itu tak pernah terjadi
Seperti pahit-pahit lain yang aku habisi,
Di halaman belakang rumah,
Di halaman belakang rumah,
Kutitipkan pada asap rumput, akhir mereka

Peringatan Keempat Belas

Sebelum menang,

Aku mencarinya ke hutan
Melompat-lompat, memilih jalan yang sepi duri tajam
Menerkam lurus dan berkelit pada lanskap rimbun kelam
Kusengaja, kusengaja ini susah, seperti manusia-manusia
Dia tak ada pada kelompok serigala, di rumah apeman, dan
Pondok penyekapan Hensel dan Gretel
Yang sarat kue dan buah-buahan
Tukas si nenek berhidung kunci Inggris,
“Bukan di sini tempat menang!”

Aku menghabiskan panjang hutan,
Menemui kota dagang
Kota pelabuhan, dimana kuli-kuli Afrika menaikkan bola-bola meriam
Ke kapal Diaz, bajak laut karatan
Kuketuk dan kutanyai berurutan semua pintu rumah
Mereka berkata, “Peruntungan tak ada di sini!”
Peruntungan? Aku tak mencarinya
Aku memburu kemampuan,
Aku teruna, belum berpengalaman

Kakek penempa sepatu kuda menawariku teh dan teduh teras gilda,
“Kamu ingin menang, menjadi salah satu langit minimal,
saat di atas langit selalu ada langit, tamuku?”
Aku tak menjawabnya,
“Dari bunyi desir darah ke otakmu, kau tak kalah pintar
Dari mereka yang lama men-tiran
Pada kerajaan yang seharusnya tak perlu beraja, apalagi berdinasti
Kau tak kalah gigih darinya
Tapi lihatlah, tamuku, mereka menciptakan lubang-lubang
Banyak pemuda bersemangat habis di dalamnya
Tamuku, hanya perlu keberuntungan dan sedikit keandalan berteman
Sehingga mereka memberimu peta, untuk datang makan malam
Dan merencanakan pagimu yang segera gemilang”

Peringatan Kelima Belas

Jalan ini bak kawan Afrika raksasa,
Berpanu lurus putus ditengah

Semirip diam aku melepaskanmu
Semuda padi menjemput bulan-bulan lunglai
Aku rekam ini satu hari berselang
Mencicipi ubin kayu di kamar sukawi seorang teman baik
Akankah taring berganti sungut, atau capit?

Peringatan Keenambelas

Akan tiba segera, Potieva, waktu dimana aku harus puas memunguti dirimu dalam serpihan-serpihan perak saja. Serpihan yang capai setelah perjalanan lewat gelombang dan proses rumit dalam kotak-kotak terpartisi yang kita teruna zaman ini nyala dan matikan setiap hari. Virtual, alangkah sedihnya. Untuk student-student yang melekang Hindia pada masa setelah tanam paksa kopi dicabut, yang tak biasa berintim sejauh kita, mungkin ini murni kisah sukses priyayi baru yang indah. Tapi kita, yang dirawat zaman untuk menggencatkan bibir dan berpelukan seperti kera memanjat pohon tinggi, ada sesloki duka tentang diculiknya bagian humaniora modern yang paling memabukkan. Atas nama cita-cita, tentu sedih lepas sedih itu harus minggir.

Aku berfikiran, sebelum malam-malam yang silau terang di kondo, mari saling banyak-banyak membikin pesan. Mari, saling banyak-banyak bertemu dan menyentuh. Kita tak punya waktu banyak, kamu tahu itu. Tapi risaumu tentang kesibukan meraih sarjana dalam 720 jam menikam dendamku yang terakhir tentang sebuah malam yang melinukan bibir dan memegalkan tangan. Atas nama cita-cita juga, tentu kenang-kenangan terakhir harus juga minggir.

Kita segera diberaikan, penuh derai. Sementara waktu yang pasti panjang. Pencobaan percaya yang paling berat, semenjak lima tahun lalu bersepakat untuk menjadi dekat. Kalaupun kita sudah berlatih berpisah pada hari-hari di akademi, aku di kota pelabuhan, dan kamu jauh di pedalaman, ini sungguh baru benar. Bukankah saat itu, pada Jum’at yang senyap, aku selalu bisa menciptakan dendam, bahwa minggu depan toh kamu akan pulang? Kita bisa tetap mengancam. Mendatang? Jangan kirakan. Pada malam Sinterklas bangkit dan kerja lembur, hanya dendam yang benar-benar patah ku bisa, bahwa satu lap lagi bumi mengelilingi sirkutinya, tiba waktu untuk pulang dan menemuimu. Jika itu tiba, semoga aku masih mendapatkanmu siap disana, menemaniku dalam acara menangis bersama.

Ini akan baru benar.

Akan menangisku sesampainya di sana. Demi manusia super yang akan tiba, akan menangisku sesampainya di sana. Meski bulan menjangkau Hindia dan Huamak, menaruh harapan padanya untuk menghantarkan lantakan jantung masing-masing hanya penghiburan diri para tukang kata. Akan menangisku sesampainya di sana.

Apakah kamu juga resah, bahwa inilah prolog awal perceraian yang sesungguhnya, seperti yang aku keringatkan saat ini? Cobalah mencari-cari apa saja yang telah kita perbuat, bersama, ataupun sendiri (tapi kita bagi berdua sesudahnya, di hari minggu dan sabtu yang selalu seru, meski tak semuanya damai). Semoga dengan itu kamu malas untuk membikin cerita baru, dengan karakter yang tak ada aku, tapi dia, yang aku kutuk sebelum ada. Aku pamit.

Jika kamu menerima ini
Dari seorang kawan yang kukutuk,
Buatlah sejuta siulan mencericit di dada
Bukan nada yang panjang, lalu sontak berhenti,
Tapi patah-patah, segegap piston jantung,

Cerita kita, Potieva
Jarang usai…
Sebelum mati,

Phantasmagoria kata
Megalomania cita