Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Memilih Bidang

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/23/2011

Memilih bidang yang ingin kita tekuni sesulit menemukan tujuan hidup. Bahkan bisa dikatakan keduanya sama; atau paling tidak satu adalah prasyarat sebelum lainnya. Kebingungan ini lebih membingungkan bagi orang-orang yang suka banyak hal, seperti saya. Saya menyukai Sastra, Sejarah, Manajemen, Kepemimpinan, dan masih banyak lainnya. Adalah sulit bagi saya untuk memilih mana yang paling saya suka di antara yang saya suka itu. Kebingungan saya, kata teman saya yang suka menghibur, adalah kebingungan orang multi talenta. Mungkin dia sebenarnya sungkan untuk mengatakan saya tidak fokus. Hahaha.

Di satu sisi, saya merasa tidak ada salahnya dengan memiliki banyak minat. Zaman dahulu kala ini bahkan menjadi semacam ideal: the Rennaisance Man. Contoh terbaiknya adalah Leonardo Da Vinci, yang mungkin akan nyambung ketika kita ajak ngobrol soal apa saja. Spesialisasi hanya menjadikan kita sebuah sekrup saja karena tidak memberi saya perspektif yang lebih luas bagaimana sebuah sistem berjalan. Di lain sisi, saya harus mengakui kebenaran zaman ini, bahwa setiap orang perlu memiliki spesialisasi. Karena harus membagi waktu dan energi ke banyak bidang, saya merasa cuma menjadi mediocre di setiap bidang itu. Akibatnya saya sendiri merasa bersalah karena tidak pernah bisa berbuat secara optimal. Orang lain yang menggunakan jasa saya mungkin juga merugi karena merasa tidak mendapat yang optimal.     

Pada tahap awal kita seolah-olah bisa dengan cukup mudah menyelesaikan masalah ini. Misalnya: kita bisa tetap memiliki minat ke banyak bidang tapi pilih lah salah satunya sebagai spesialisasi. Beres, kan? Sayangnya tidak karena pertanyaannya tetap sama: bidang yang mana yang saya pilih sebagai spesialisasi. Semua rasanya sama-sama menarik buat saya. Saya berfikir penyelesaian dari ini adalah bukan dengan memilih karena ini akan jadi lingkaran setan. Solusinya adalah integrasi. Kita perlu mencari bidang yang dapat (sebanyak mungkin) mengintegrasikan bidang-bidang yang kita sukai itu.

Dengan cara ini, saya merasa saya menemukan bidang yang akan saya tekuni. Pada hari Sabtu lalu saya tercangkul ke sebuah laman tentang sebuah bidang … Leadership in Literature. Saya betul-betul baru tahu tentang keberadaan bidang ini. Ini rasanya seperti momen Eureka. Dari namanya saja ini sudah mengintegrasikan dua bidang yang saya suka, yaitu Sastra dan Kepemimpinan. Selanjutnya, minat saya terhadap Manajemen bisa diintegrasikan ke dalam Kepemimpinan sementara Sejarah bisa bergabung ke kedua bidang tersebut.

Perjalanan tentu saja masih panjang. Tapi paling tidak saya tahu harus ke mana dan tidak berputar-putar saja.

Kata-Kata Bijak untuk Status FB

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/19/2011

Gara-gara Facebook, saya suka memikirkan hal-hal yang bijak. Betapa tidak, hampir tiap menit saya dibombardir untaian kata-kata mutiara baik yang orisinil atau yang kawan-kawan saya kutip dari orang-orang hebat. Saya tidak tahu apakah mereka tengah berharap mendidik orang lain atau tengah mendidik dirinya sendiri. Kalau saya sendiri, rasanya lebih yang kedua. Saat berbagi kata-kata bijak, seringkali saya tengah menguatkan diri sendiri dan tidak sedang berharap mencerahkan orang lain. Pertanyaannya adalah: jika itu untuk diri saya sendiri, kenapa saya merasa perlu untuk membaginya di Facebook (FB)?

Orang yang sinis akan mengatakan bahwa kita sebenarnya berharap kawan-kawan kita menganggap itu hasil buah pikir kita. Supaya kita dianggap pintar atau bijak. Mungkin saja itu benar. Tapi saya yakin ada juga orang yang tidak berharap seperti itu. Ada orang yang tahu betul bahwa kawan-kawannya pasti tahu itu bukan kata-katanya sendiri. Ada orang yang bahkan selalu mengindahkan kaidah pengutipan dengan memberikan tanda kutip, menyebut penulisnya, nama bukunya, dan seterusnya. Jadi apa?

Ini memang tidak mudah untuk dijawab. Mungkin harus melibatkan psikoanalisa atau teori-teori gawat lainnya untuk mendapatkan jawaban yang tepat. Yang bisa saya sampaikan di sini mungkin hanya dugaan-dugaan. Ini pun berdasarkan perasaan saya yang konon gampang berubah.

Dugaan saya yang pertama adalah, dengan menuliskan kembali kata-kata bijak yang kita dapat, kita dapat mengingat dan memahami dengan lebih jelas kata-kata tersebut. Jadi ini semacam ‘strategi pembelajaran’ saja. Saya, misalnya, merasa lebih mudah mengingat dan memahami sesuatu dengan menulisnya kembali.  Mungkin karena menulis tidak hanya melibatkan syaraf sensorik kita tapi juga motorik. Kata orang belajar akan lebih sip jika kedua syaraf tersebut terlibat.

Mungkin ada yang bertanya, jika itu alasannya, kenapa tidak ditulis di media lain saja seperti buku harian, blog, atau lainnya. Saya kira jawabannya cukup sederhana: FB lama-kelamaan sudah menjadi one-stop media bagi kita. Mau mengunggah foto okay. Mau chat cukup okay. Mau email bisa. Mau kirim dokumen sekarang juga bisa. FB disadari atau tidak telah menjadi media yang paling dekat dan intim dengan kita. Akibatnya kita semakin enggan untuk mengakses media yang lain dalam keseharian kita.

Kedua, dengan membaginya di Facebook, kita berharap dapat mendapatkan dukungan atau sanggahan. Biasanya, sebijak apapun kata-kata mutiara itu, kita belum yakin seratus persen pada saat kita membaginya. Kita berharap kawan-kawan kita akan membenarkannya, menyetujuinya, atau cuma sekedar memberikan contoh-contoh penerapannya. Sebaliknya, kita juga diam-diam berharap ada yang menguji kata-kata bijak tersebut. Kita berharap ada yang menyanggah atau paling tidak mendiskusikannya. Dengan demikian kita jadi tahu apa yang tengah kita pelajari dan akan terapkan ini memang benar atau salah.

Ketiga, apa ya? Bagaimana menurut Anda?

jalan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/13/2011

saya merasa kosong satu minggu ini. saya membuka buku untuk mencari jawaban. saya juga bertanya ke beberapa teman. saya memutar film. saya melihat teater. saya bekerja. saya merubah. saya ingin menemukan jawaban. saya mendapatkan pertanyaan.

saya ingin berhenti. tapi kaki terus berlari. mungkin saya tengah penuh. 

di minggu lain saya merasa senang. mungkin minggu depan. saya tidak bertanya. saya tidak membaca. saya tidak mencari. saya mengerti.

saya ingin berlari. tapi saya justru berhenti. mungkin saya berada dalam kekosongan. tenaga saya perlu diisi.

Malas Cemburu

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/09/2011

Kadang-kadang saya bisa cemburu dengan kemalasan orang. Enak sekali orang itu, demikian pikir saya, tidak bekerja tapi mendapatkan upah yang sama bahkan kadang-kadang lebih besar. Tapi setelah saya renungkan ini adalah kecemburuan yang bodoh. Terlebih jika saya menuruti kecemburuan saya dengan ikut-ikutan malas. Kenapa saya menurunkan derajat kerja saya? Kenapa saya yang malah jadi rugi dan bukan dia?

Cemburu yang baik adalah cemburu yang membuatmu semakin baik.

 

Pengamal Jurus Mabuk

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/09/2011

Kalau saya lihat kembali hidup saya 1,5 tahun terakhir, tanpa saya sadari sebelumnya, saya mungkin tengah mengamalkan Jurus Mabuk. Nah lo? Bukan, bukan seperti itu. Sampai saat ini saya bersyukur saya belum menjadi alcoholic meskipun sudah lama memegang kartu anggota coffeholic. Yang saya maksud dengan Jurus Mabuk di sini tidak bisa dimaknai dalam tataran praksis dan harus diresapi secara filosofis (halah). Jika Anda pernah menyaksikan film Jackie Chan yang berjudul Drunken Master, Anda akan menemukan makna filosofis ini dari uraian papa si Jackie dalam sebuah adegan.

Menurut Tuan Wong, demikian nama beliau jika saya tidak salah ingat, kekuatan utama dari Jurus Mabuk sebenarnya terletak pada keadaan mabuk dan bukan pada kuda-kuda, tendangan, pukulan, apalagi anggur kolesom-nya. Dalam keadaan mabuk, anda tidak terlalu peduli dengan rasa sakit atau bahkan tidak merasa sakit sama sekali. Biarpun ratusan Ade Ray memukuli Anda dengan Gada Rujak Polo, Anda mungkin hanya merasa tengah menjalani fisioterapi di sebuah klinik kecantikan. Dalam keadaan mabuk, Anda juga menjadi lebih berani jika bukan tidak kenal takut. Anda tiba-tiba merasa berani menantang marinir satu pangkalan meskipun biasanya Anda sudah pipis dihardik dengan anak kemarin sore.

Anda juga tidak gampang merasa malu dan bahkan dalam banyak kasus bisa memalukan saat mabuk. Jika biasanya Anda sudah tersipu-sipu mendengar suara Anda sendiri, dalam keadaan mabuk Anda bisa menyanyi dan bergoyang dengan luwesnya bak biduan di tengah-tengah perempatan. Dalam keadaan mabuk, Anda bisa merasa bahagia tanpa memerlukan alasan yang kuat dan jelas. Anda bisa merasa demikian riang meskipun tebal tagihan Anda sudah melampaui tebal kamus Purwadarminta. Anda juga cenderung berani bertindak dulu dan tidak teralu berfikir panjang soal resiko. Mengikuti intuisi dulu dan baru memikirkan aturan-aturan secara komprehensif nanti saat sadar.

Jurus Mabuk mempunyai semacam tingkatan. Jika Anda seorang pemula, Anda mungkin membutuhkan anggur kolesom, arak, tuak, cukrik, dan sejenisnya, untuk membuat Anda mabuk dan mengeluarkan jurus legendaris ini. Jika anda sudah mencapai tingkatan mahir, anda sudah tidak memerlukan bantuan mereka dan dapat mencapai keadaan mabuk ini sesuai kehendak. Demikian juga dalam hal fungsi. Jika Anda seorang pemula, mungkin Anda hanya mengamalkannya di dunia adu jotos saja. Jika Anda mau masuk lebih dalam lagi, jurus ini sebenarnya dapat diterapkan dalam hampir semua bidang kehidupan. 

Tentu saja saya tidak mengatakan bahwa saya telah mencapai tingkatan fenomenal seperti dalam contoh-contoh di atas. Bisa dikatakan mabuk saya belum terlalu dalam. Masih bergelantungan di cakrawala kesadaran, begitu. Satu hal yang pasti saya bersyukur hari-hari ini saya merasa lebih tahan pukul, lebih berani, lebih tidak tahu malu, lebih riang, dan lebih bertindak. Dan semuanya itu tanpa campur tangan anggur Chateau Lafitte atau sampanye Dom Perignon (halah, lagi). Semoga saya semakin mabuk karena cinta kasih (halah!)