Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

TJ’s Burger

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/18/2015

Paling tidak satu hari dalam seminggu saya berhenti makan makanan kalengan dan memperbaiki diet saya dengan mengganyang burger di TJ’s. Bagi beberapa orang, ini adalah perpindahan dari sampah ke sampah yang lebih baik. Bagi saya, tidak ada makanan sampah, apalagi kalau harganya 100 ribuan. Nggolek duwek angel, cak! grin emoticon Apalagi rasanya…burger ini terenak di dunia. Selamat makan.

Sampai Sang Tiran Menyerah

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/18/2015

Sebagai demonstran goblok dan lebih banyak ikut2an, saya ingat dulu senior2 saya yang pintar dan karismatik sering berteriak lantang di depan gedung2 pemerintahan: “satu bumi merah/jangan patah/sampai sang tiran menyerah!” Saya tidak tahu siapa yang menciptakan slogan ini. Pasti orang pintar juga. Tapi saya sangat senang mendengarnya. Ada yang puitik dalam slogan ini, ada yang bergelora juga. Apalagi masa2 itu sering hujan. Pas sekali di hati.

Saya tidak pernah lupa slogan ini dan semacam mengimaninya sampai sekarang. Usaha menciptakan hidup yang lebih baik di republik ini tidak berakhir dengan memilih Orang Solo dan tidak memilih Sang Jenderal. Tirani pencolengan belum menyerah dan tampaknya masih lama juga. Mungkin kita kalah modal dan jaringan. Yang penting jangan sampai kalah nafas. Terus bangkit dan memukul lagi, kawan2.

Satu bumi merah/jangan patah/sampai sang tiran menyerah!

Hasil Semester Satu 2014-2014

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Progress Report Dwi Setiawan_Page_2

Pub, Perpustakaan, dan Mahasiswa Asia

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Pergi ke perpustakaan adalah hal yang sangat jarang sekali saya lakukan saat di Indonesia. Saya baru ke Perpustakaan di Kampus jika ada undangan yang tak dapat saya hindari atau mengantar tamu yang ingin melihat-lihat. Hampir semua adalah karena tuntutan pekerjaan saya sebagai ketua jurusan saat itu, bukan karena kebutuhan sebagai akademisi apalagi minat pribadi. Untuk menulis artikel atau mempersiapkan bahan kuliah, saya lebih mengandalkan bahan-bahan yang tersedia di internet, terutama ebooks dalam bentuk PDF. Terus terang saja, warung kopi dan makhluk-makhluk yang bersemayam di sana jauh lebih menarik bagi saya.

Di Leicester, hampir tiap tengah malam sampai subuh saya bergentayangan di Perpustakaan Kampus. Salah satunya memang karena tugas penelitian. Tapi sebenarnya tidak juga. Saya masih tetap mengandalkan e-books dan e-journals untuk penelitian saya. Alasan sesungguhnya adalah pengalihan atau variasi. Hampir sebagian besar waktu saya habiskan di dalam Flat saya. Di musim dingin seperti ini, kemampuan saya untuk bertahan di udara terbuka cuma sekitar 15 menit. Saya sangat memerlukan alternatif ruangan tertutup lainnya tiap harinya untuk menjaga saya tetap waras dan riang-gembira.

Sebagai manusia yang menghabiskan pagi dan siang menghisap ujung selimut, dan beroperasi dengan lebih efektif saat matahari terbenam, mencari alternatif ruangan tertutup untuk malam sampai dini hari menjadi tantangan tersendiri. Di Leicester, dan mungkin kota-kota kecil-menengah lain di UK, segala sesuatu tutup setelah pukul 5-6 sore. Yang masih buka tinggal 1) pub/bar/disko dan 2) perpustakaan. Pub buka sampai kurang-lebih pukul satu malam. Perpustakaan buka 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu.

Sebenarnya bukan soal moral, dosa, hati nurani, dan sejenisnya yang menghalangi saya pergi ke pub. Saya sih asyik2 saja. Tantangan sesungguhnya adalah finansial dan budaya. Harga satu gelas bir di pub sekitar 3 pounds. Kebetulan saya ini dikaruniai konsentrasi tinggi, termasuk dalam hal minum2. Kalau sudah minum, saya sangat fokus dan susah berhenti. Bisa dibayangkan jika saya tiap hari ke pub. Mungkin saya akan pulang ke tanah air dengan ucapan terima kasih dari Jack Daniels, bukan sertifikat kelulusan dari kampus. Selain itu, saya perlu menabung sedikit-sedikit juga untuk persiapan kedatangan anak-istri di bulan Mei nanti.

Secara budaya, saya sampai sekarang, dan mungkin sampai lulus, masih merasa ‘asing’, ‘minor, ‘liyan’, dan sejenisnya. Rikuh juga harus mengawali dan bersosialisasi dengan orang2 lokal yang mendominasi pub. Kebetulan juga sahabat saya di sini adalah orang Arab yang menganut prinsip kejawen: cegah bir kalawan whiskey. Terkutuklah saya jika mengajaknya ke pub atau tempat2 yang tidak diridhoi.

Jadi, pada akhirnya Perpustakaan menjadi alternatif yang murah dan ramah. Sebagai gambaran, harga cappuccino di Perpustakaan cuma 1 pound sementara di luar perpustakaan 2-3 pounds. Kadang-kadang saya membuat kopi sendiri di Flat dan membawanya dalam tumbler ke Perpustakaan. Di Perpustakaan orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Jadi saya tidak perlu menghadapi keanehan dan kekikukan sosial seperti di pub atau bar.

Setelah saya amati beberapa bulan, saya ternyata tidak sendirian. Perpustakaan Kampus didominasi oleh orang-orang Asia pada malam dan dini hari. Dominasi ini semakin kentara saat akhir pekan. Perpustakaan bisa menjadi semacam tempat ‘All-Asian Final’. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa beasiswa seperti saya, yang kecerdasan finansialnya tiba-tiba melambung di negeri orang. Sementara mahasiswa-mahasiswa lokal mabuk, melompat2, bersorak-sorai di flat kawan atau bar, mahasiswa-mahasiswa Asia suntuk di depan buku/komputer di Perpustakaan.

Dalam hati, saya pernah berujar dengan bangga, “Tidak salah lagi, abad ini adalah milik Asia!” Akhir pekan lalu, saya jadi berpikir ulang, “Jangan2 kita kurang bersenang-senang.” Kali ini, saya berfikir, “Mungkin kita bersenang-senang dengan cara yang berbeda”.

Makanan Timur Tengah

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Gara2 bersahabat dengan mahasiswa Yordania, saya jadi lumayan sering diperkenalkan dan menikmati kulinari dari jazirah Timur Tengah. Satu hal yang saya perhatikan adalah porsi makanan Timur Tengah rata2 besar, bahkan untuk orang yang daya tampung dan nafsu makannya superior seperti saya. Ambil contoh Chicken Sawarma yang saya pesan dan makan sore ini. Bahkan kamera saya tidak mampu menampungnya secara utuh tanpa berdiri menjauh.

Saat Keturunan Petani Merantau

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Susah disangkal, nenek moyang saya adalah petani, bukan pelaut. Tak seperti para pelaut yang gandrung berpetualang, saya tidak terlalu menikmati bepergian, apalagi meninggalkan keluarga. Lebih-lebih untuk waktu yang cukup lama. Kalaupun saya keluar rumah, biasanya untuk pergi ke tempat2 yang secara reguler saya kunjungi seperti kantor dan warung kopi. Bukan untuk mengeksplorasi tempat2 baru dan bertemu orang2 baru seperti ajaran2 psikologi populer dewasa ini. Dalam konstelasi psikologi populer, dengan mudah saya akan terjerembab dalam golongan orang2 yang membosankan.

Mungkin karena ingin menjadi pribadi yang lebih menarik, saya beberapa kali berusaha melawan tendensi alami ini. Dengan sengaja saya mencoba untuk meninggalkan sarang, bepergian jauh, untuk waktu yang lumayan. Di sini saya menemukan bahwa, seperti Dante Alighieri, Gusti kang Akarya Jagat ini maha humoris. Saya yang sebenarnya kurang suka bepergian jauh dan lama ini justru beberapa kali mendapatkan kesempatan untuk melakukannya. Mungkin lebih sering dari orang2 yang secara alami suka bepergian. Apakah saya sudah menjadi pribadi yang menarik, ini masih merupakan bagian dari Rahasia Ilahi.

Tentu saja ini saya lakukan dengan segala keruwetan perasaan. Pada pengalaman pertama dulu, saya menangis Bombay di bandara, disaksikan keluarga dan kawan2 baik. Waktu itu saya masih belia, ekspresif, dan romantik. Singkatnya, masih lebay lah. Pada pengalaman terakhir tiga bulan yang lalu, saya sudah tidak terjerumus dalam sedu-sedan. Namun saya terserang panik beberapa kali di kamar mandi menjelang keberangkatan. Keberangkatan selalu merupakan bagian tersulit. Di satu sisi, saya tahu saya perlu atau wajib berangkat. Di lain sisi, saya sadar bahwa saya sebenarnya masih dapat membatalkan keberangkatan itu dengan segala risikonya.

Dari beberapa pengalaman, saya belajar cara yang termudah untuk melewati keberangkatan bagi keturunan petani yang kebetulan lebay seperti saya ini adalah sebagai berikut. Pertama, usahakan jangan berpisah dengan keluarga dan kawan2 tercinta di bandara. Entah karena terlalu sering nonton film, suasananya menjadi lebih dramatis jika berpisah di sana. Kalau harus, semakin sedikit yang turut ke bandara, semakin baik. Kedua, usahakan berpamitan dengan cepat. Jika harus berpisah di bandara, usahakan jangan datang terlalu awal supaya dapat cepat2 berpamitan. Semakin lama, semakin luluh-lantak hati ini (halah). Ketiga, usahakan lebih sering berada di ruang terbuka. Jangan terlalu lama berada di ruang sempit seperti kamar mandi, toilet, dan sejenisnya. Selain ruang sempit membikin perasaan jadi ikut sesak, terlalu lama di toilet mengganggu pengguna yang lebih membutuhkan.

Saat sudah berangkat dan tiba di tempat tujuan, biasanya perasaan saya menjadi jauh lebih baik. Paling tidak saya sudah tidak punya pilihan lagi selain melanjutkan hidup di tempat yang baru. Itu kalau lagi kere. Kalau sedang ada rezeki, saya mulai berfikir untuk pulang untuk berlibur. Secara umum, menanti kepulangan sangat menyenangkan. Begitu juga saat betul2 sudah pulang. Tak ada yang lebih menyenangkan bagi keturunan petani seperti saya ini selain bertemu keluarga dan ngopi bersama kawan2 lama. Yang susah adalah menjelang berangkat lagi karena saya harus mengulangi lagi proses yang susah tadi. Seperti halnya berangkat, pulang berlibur adalah buah simalakama bagi yang nenek moyangnya petani.

Kurang tiga hari lagi saya harus meninggalkan kembali keluarga dan kawan2. Kali ini akan lebih lama sebelum kepulangan saya selanjutnya, yang saya belum tahu kapan. Sampai jumpa lagi. Semoga keturunan petani yang mencoba merantau tak bisa dikalahkan.

Terbang dan Keluarga

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Untuk ukuran masyarakat Petra yang konon elit itu, saya bisa dikatakan sedikit terlambat naik pesawat. Pengalaman pertama saya naik pesawat adalah pada usia 22 tahun dengan tujuan ke Bangkok untuk studi lanjut. Jadi, sekali naik pesawat langsung keluar tanah air serta transit dan mendarat di negara lain.

Tak ada ketakutan sama sekali hari itu. Yang ada adalah kegembiraan dan rasa ingin tahu. Hampir2 menyamai perasaan saya saat mendapatkan motor pertama waktu kelas dua SMA. Saya begitu menikmati tahap awal take off, yang saya bayangkan seperti perlombaan drag race. Begitu juga saat persiapan dan momen landing. Saya mengamati dengan detil gerakan2 penampang di sayap. Dan puncaknya adalah gemuruh saat pesawat melakukan pengereman. Hari itu…

Kegembiraan yang sama masih saya nikmati untuk beberapa penerbangan selanjutnya. Sampai suatu titik saya merasa sudah biasa dan tak ada lagi yang saya tunggu. Ini adalah tahap mati rasa. Pesawat adalah pesawat. Penerbangan adalah penerbangan. Saya tetap memilihnya karena cepat dan aman. Seperti manusia modern memilih sesuatu. Miskin perasaan yang ruwet2.

Aman? Ya, bahkan dengan kejadian memilukan akhir2 ini, transportasi udara secara statistik masih secara absolut menduduki posisi transportasi teraman di dunia. Silakan dicari sendiri di google dan situs2 terpercaya.

Itulah kenapa dulu saya sering bingung lihat orang2 di sekitar saya merem2 dan merapal doa saat take off dan landing. Itulah kenapa saya pernah menertawakan Pak Satya Limanta yang mengajak saya naik kereta api saja waktu mau menghadiri ujian terbuka Pak Ribut Basuki di Jakarta.

Itu dulu. Kegembiraan dibunuh kebiasaan dan statistik. Kini kebiasaan dan statistik dibunuh wajah anak dan istri. Hari2 ini saya dengan kerelaan hati ikut dan bahkan mengawali merem2 dan merapal segala japa-mantra-doa yang saya tahu menjelang take off dan landing. Bahkan di antara dua prosesi besar ini saya bisa mengadakan sekian persekutuan2 kecil, terutama saat pesawat bergeronjalan menerjang awan atau tiba2 turun atau miring. Wajah anak dan istri terus-menerus me-mukul2 mata saya.

Simpati saya yang terdalam untuk seluruh penumpang dan keluarganya. Saya bahkan tidak mampu membayangkan perasaan Anda. Semoga, entah karena semacam mujizat atau kebetulan, Anda dapat dipertemukan kembali. Saya hanya bisa merem2 dan berdoa. Kali ini dari rumah. Kali ini untuk Anda.

Tahun 2014

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Kalau boleh dirangkum dan agak disederhanakan, tahun 2014 benar2 tahun yang sangat baik dalam hidup saya. Pertama, saya punya anak. Sampai sekarang saya masih merasa janggal bahwa saya yang masih suka mewek ini sudah punya anak. Kedua, saya jadi meneruskan sekolah yang sudah saya harap2kan sejak masih sekolah S2 dulu. Yach, meskipun ini berarti meninggalkan anak, istri, dan keluarga. Ketiga, hidup saya jadi lebih seru dengan mengenal kawan2 baru, terutama masyarakat FSD/DKV. Kalau kawan2 lama adalah empat sehat, kawan2 baru ini adalah susu. Eh. Semoga tahun 2015 tidak kalah serunya.

Yang Namanya Talenta

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Salah satu talenta Allegra yang mulai tampak adalah keahliannya dalam makan dan minum. Kalau anak lain harus dibujuk, Allegra dapat dengan mudah meraih predikat aktif-berprestasi dan sekaligus cumlaude dalam hal mengunyah dan menelan. Entah bakat ini menurun dari siapa. Saking sukanya makan dan minum, anak ini bisa sangat menikmati saat minum obat dan bahkan menangis minta tambah lagi saat obatnya sudah tandas. Papa bangga sama kamu!

Turun Tanah

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Hari ini di rumah orang tua saya kami mengadakan upacara dan syukuran kecil2an untuk menandai berakhirnya masa petualangan Allegra di dunia kasur yang nyaman dan dimulainya periode menginjak bumi yang penuh tantangan. Waktu dihadapkan dengan pilihan seperti ponsel, alkitab, make up, bunga, buku, dll, Allegra mantap mengambil buku. Konon menurut mitos Jawa, ini menunjukkan di kemudian hari sang anak akan mencintai ilmu pengetahuan dan suka belajar. Mungkin jadi dosen juga. Amin smile emoticon

Sebelum Libur

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Puji syukur mendapat umpan balik positif lagi dari Kanjeng Nyai Profesor di akhir tahun ini. Jalan masih sangat panjang dan semakin sulit tapi semoga kegembiraan2 sederhana seperti ini mampu menyangga kesulitan dan kebosanan. Bersyukur juga untuk keberadaan keluarga dan kawan2 yang selalu memberi semangat dengan caranya masing2. Next stop: formal registration to Ph.D by March 2015.

Perkembangan Allegra

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Waktu saya tinggal dulu, Allegra masih miskin gaya. Sudah bisa telungkup, tapi belum bisa kembali telentang sendiri. Betapa cepatnya pertumbuhan seorang malaikat! Ketika saya kembali untuk berlibur, Allegra sudah berubah dari anjing laut yang lucu menjadi pemain sirkus yang tangkas.

Masa2 paling melelahkan tapi sekaligus paling seru adalah menjelang dia tidur. Telungkup, telentang, berputar, maju-mundur, serong kanan-kiri, memanjat, dan seterusnya. Allegra tak pernah membiarkan kami tertidur saat dia masih atau sudah terjaga. Dia akan membangunkan kami dengan menghalalkan segala cara, mulai memanjat sampai mengobok2 muka. Demikian juga Allegra tak pernah membiarkan papa dan mamanya menekuni tab atau ponsel masing2 menjelang tidur. Anak ini, meminjam istilah anak sekarang, luar biasa ‘kepo’. Melihat sekelebat cahaya ponsel, dia akan langsung bangkit, memburu, merebut, dan memainkannya sendiri. Dengan semena-mena.

Saat lelah dan tertidurpun, Allegra jauh dari modus ortodoks. Gambar di bawah adalah salah satu nomor andalannya: ‘Sang Bulan Sabit’.

Allegra, seperti namanya, adalah tempo yang dinamis. Tetap sehat ya, Nak.

Laki-laki Penuh Rezeki

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Hari ini saya keluar bersama seorang kawan baik dari Timur Tengah. Singkat kata saya mendapat rezeki berupa capucino pagi, makan siang falael, dan sorenya teh rasa mint yang nikmat sekali dan seumur2 baru kali ini saya nikmati. Mungkin karena keenakan, saya jadi susah tidur lagi malam ini. Daripada sumpek di kamar saya mondar-mandir di depan apartemen dan tiba2 ada orang keluar dari mobil dan menghampiri saya. Saya langsung waspada dan hampir saja mengambil kuda-kuda Jurus Dewa Nyimeng. Dia bertanya apakah saya yang memesan pizza. Saya bilang tidak. Lalu dia bertanya apakah alamat yang dia sebutkan sudah benar. Saya jawab sudah sangat tepat. Mungkin karena saya ini grapyak, tidak lama kemudian kami sudah mengobrol karena yang memesan tidak muncul2. Sahib ini berasal dari Afghanistan dan sudah cukup lama di Leicester. Tak lama kemudian dia mendapat telpon dari kantornya. Dia berpamitan ke saya sambil mengatakan kalau pesanannya ternyata dibatalkan. Dia meninggalkan saya dengan dua kotak besar pizza karena, katanya, tidak boleh disimpan untuk dijual lagi atau dikirim ke pelanggan lain. Duh, Gusti, betapa tak terbatas rezekimu. *langsung ngeloyor balik ke kamar*

Ke Oxford

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Terus terang saya tidak pernah bermimpi kuliah di Oxford Uni. Tapi saya pernah bermimpi sebelum tutup usia (eh) untuk mengunjungi salah satu universitas tertua dan terbaik di dunia ini (selain menghabiskan masa pensiun di Prague dan naik kereta api Trans Siberia. Halah). Akhir pekan lalu, di tengah2 perseteruan dengan tenggat waktu tugas penelitian, saya mencopet waktu dan meluncur ke sana, yang ternyata berjarak dua jam dari Leicester. Oxford adalah kota kecil yang mudah dijelajahi dengan berjalan kaki. Kota ini tentu saja dihidupi oleh Oxford Uni dan kawan bertandingnya Cambridge Uni, yang mahasiswa Oxford sebut sebagai “the other place”. Kata kawan perjalanan saya dari Taiwan, orang2 di kota ini entah bagaimana terlihat lebih tertib dan pintar dibanding orang2 di Leicester. Saya hanya dapat meringis sedih … dan sedikit berdoa semoga kepandaian menular seperti Ebola. Amin!

Ulang Tahun Kesekian

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Terima kasih untuk seluruh perhatian dan kebaikan Bapak/Ibu/Saudara/Kawan/Mahasiswa di hari yang fitri ini smile emoticon Setiap ucapan Anda sangat berarti buat saya, dan entah kenapa mengingatkan saya pada pagi beku ini pada sebuah sajak Wordswoth (1804) yang berjudul “I wandered lonely as a cloud”.

Saya merasa seperti awan kecil yang mengembara di lanskap sepi yang menemukan ketenangan dan kegembiraan saat melihat Anda semua, sang bunga dafodil, di bumi dari mana saya berasal dan akan rebah smile emoticon

La luta continua. The struggle continues!

———————————————————————————————————–
I wandered lonely as a cloud
That floats on high o’er vales and hills,
When all at once I saw a crowd,
A host, of golden daffodils;
Beside the lake, beneath the trees,
Fluttering and dancing in the breeze.

Continuous as the stars that shine
And twinkle on the milky way,
They stretched in never-ending line
Along the margin of a bay:
Ten thousand saw I at a glance,
Tossing their heads in sprightly dance.

The waves beside them danced; but they
Out-did the sparkling waves in glee:
A poet could not but be gay,
In such a jocund company:
I gazed—and gazed—but little thought
What wealth the show to me had brought:

For oft, when on my couch I lie
In vacant or in pensive mood,
They flash upon that inward eye
Which is the bliss of solitude;
And then my heart with pleasure fills,
And dances with the daffodils.

Rekayasa Jam Tidur

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Saya tengah melakukan proyek pribadi berupa rekayasa jam tidur. Dari dahulu kala saya merasa lebih nyaman bekerja di malam hari. Itu lah kenapa saya ngampus siang 😛 Di sini saya bekerja mulai sekitar pukul 10 malam dan baru bisa tidur antara pukul 8-9 pagi. Biasanya saya bangun pukul 4-5 sore. Masalah terjadi kalau saya harus menghadiri kelas pada pukul 12 di hari Rabu dan Kamis. Rasanya seperti zombie, hidup badan tapi mati pikiran. Selain itu saya jadi susah jalan2 karena, berbeda dengan di Indonesia, hampir semua tempat tutup setelah pukul 5 sore. Mulai kemarin saya mencoba menggeser jam tidur ke jam 3 sore sampai 10 malam. Dengan demikian saya bisa masuk kelas secara manusiawi atau jalan2 melihat dunia, dan tetap bekerja di malam hari. Semoga keinginan mulia ini dapat terkabul 😛

Untuk Allegra, Anakku, di Rumah Tupai

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Hasil sementara “cegah dhahar lawan guling, lawan aja asukan-sukan, anganggo sawatawis” … berpuasa makan dan tidur, tidak berpesta-pora, dan memakai seperlunya (Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Serat Wulangreh, Pupuh II Kinanthi). Yang pasti Bapak tetap ngopi dan kadang-kadang minum apa yang disebut om-ommu sebagai “Air Belanda”. Di sini sangat dingin, Nak. Kopi saja kurang memadai. Eh.

Berfikir melakukan ini semua untukmu membuat yang tak tertanggung sedikit tertahan. Perjalanan masih sangat jauh. Tapi biarlah Bapakmu sebentar bergembira.

Untuk langkah selanjutnya, Kanjeng Nyai Profesor bertitah supaya Bapakmu menyelidiki kemungkinan menghubungkan Bapak Ahmad Tohari yang asli Banyumas itu dengan Tuan William Faulkner dari Mississipi. Entah bagaimana. Bapak sempat curiga mungkin mereka berdua mempunyai horoskop yang sama. Tapi google menyatakan berbeda. Mungkin Bapak perlu menelisik shio mereka.

Bapak pamit lagi. Sampai bertemu segera. Baik-baik dengan Mamamu.