Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Pub, Perpustakaan, dan Mahasiswa Asia

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Pergi ke perpustakaan adalah hal yang sangat jarang sekali saya lakukan saat di Indonesia. Saya baru ke Perpustakaan di Kampus jika ada undangan yang tak dapat saya hindari atau mengantar tamu yang ingin melihat-lihat. Hampir semua adalah karena tuntutan pekerjaan saya sebagai ketua jurusan saat itu, bukan karena kebutuhan sebagai akademisi apalagi minat pribadi. Untuk menulis artikel atau mempersiapkan bahan kuliah, saya lebih mengandalkan bahan-bahan yang tersedia di internet, terutama ebooks dalam bentuk PDF. Terus terang saja, warung kopi dan makhluk-makhluk yang bersemayam di sana jauh lebih menarik bagi saya.

Di Leicester, hampir tiap tengah malam sampai subuh saya bergentayangan di Perpustakaan Kampus. Salah satunya memang karena tugas penelitian. Tapi sebenarnya tidak juga. Saya masih tetap mengandalkan e-books dan e-journals untuk penelitian saya. Alasan sesungguhnya adalah pengalihan atau variasi. Hampir sebagian besar waktu saya habiskan di dalam Flat saya. Di musim dingin seperti ini, kemampuan saya untuk bertahan di udara terbuka cuma sekitar 15 menit. Saya sangat memerlukan alternatif ruangan tertutup lainnya tiap harinya untuk menjaga saya tetap waras dan riang-gembira.

Sebagai manusia yang menghabiskan pagi dan siang menghisap ujung selimut, dan beroperasi dengan lebih efektif saat matahari terbenam, mencari alternatif ruangan tertutup untuk malam sampai dini hari menjadi tantangan tersendiri. Di Leicester, dan mungkin kota-kota kecil-menengah lain di UK, segala sesuatu tutup setelah pukul 5-6 sore. Yang masih buka tinggal 1) pub/bar/disko dan 2) perpustakaan. Pub buka sampai kurang-lebih pukul satu malam. Perpustakaan buka 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu.

Sebenarnya bukan soal moral, dosa, hati nurani, dan sejenisnya yang menghalangi saya pergi ke pub. Saya sih asyik2 saja. Tantangan sesungguhnya adalah finansial dan budaya. Harga satu gelas bir di pub sekitar 3 pounds. Kebetulan saya ini dikaruniai konsentrasi tinggi, termasuk dalam hal minum2. Kalau sudah minum, saya sangat fokus dan susah berhenti. Bisa dibayangkan jika saya tiap hari ke pub. Mungkin saya akan pulang ke tanah air dengan ucapan terima kasih dari Jack Daniels, bukan sertifikat kelulusan dari kampus. Selain itu, saya perlu menabung sedikit-sedikit juga untuk persiapan kedatangan anak-istri di bulan Mei nanti.

Secara budaya, saya sampai sekarang, dan mungkin sampai lulus, masih merasa ‘asing’, ‘minor, ‘liyan’, dan sejenisnya. Rikuh juga harus mengawali dan bersosialisasi dengan orang2 lokal yang mendominasi pub. Kebetulan juga sahabat saya di sini adalah orang Arab yang menganut prinsip kejawen: cegah bir kalawan whiskey. Terkutuklah saya jika mengajaknya ke pub atau tempat2 yang tidak diridhoi.

Jadi, pada akhirnya Perpustakaan menjadi alternatif yang murah dan ramah. Sebagai gambaran, harga cappuccino di Perpustakaan cuma 1 pound sementara di luar perpustakaan 2-3 pounds. Kadang-kadang saya membuat kopi sendiri di Flat dan membawanya dalam tumbler ke Perpustakaan. Di Perpustakaan orang sibuk dengan aktivitas masing-masing. Jadi saya tidak perlu menghadapi keanehan dan kekikukan sosial seperti di pub atau bar.

Setelah saya amati beberapa bulan, saya ternyata tidak sendirian. Perpustakaan Kampus didominasi oleh orang-orang Asia pada malam dan dini hari. Dominasi ini semakin kentara saat akhir pekan. Perpustakaan bisa menjadi semacam tempat ‘All-Asian Final’. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa beasiswa seperti saya, yang kecerdasan finansialnya tiba-tiba melambung di negeri orang. Sementara mahasiswa-mahasiswa lokal mabuk, melompat2, bersorak-sorai di flat kawan atau bar, mahasiswa-mahasiswa Asia suntuk di depan buku/komputer di Perpustakaan.

Dalam hati, saya pernah berujar dengan bangga, “Tidak salah lagi, abad ini adalah milik Asia!” Akhir pekan lalu, saya jadi berpikir ulang, “Jangan2 kita kurang bersenang-senang.” Kali ini, saya berfikir, “Mungkin kita bersenang-senang dengan cara yang berbeda”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: