Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Terbang dan Keluarga

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/04/2015

Untuk ukuran masyarakat Petra yang konon elit itu, saya bisa dikatakan sedikit terlambat naik pesawat. Pengalaman pertama saya naik pesawat adalah pada usia 22 tahun dengan tujuan ke Bangkok untuk studi lanjut. Jadi, sekali naik pesawat langsung keluar tanah air serta transit dan mendarat di negara lain.

Tak ada ketakutan sama sekali hari itu. Yang ada adalah kegembiraan dan rasa ingin tahu. Hampir2 menyamai perasaan saya saat mendapatkan motor pertama waktu kelas dua SMA. Saya begitu menikmati tahap awal take off, yang saya bayangkan seperti perlombaan drag race. Begitu juga saat persiapan dan momen landing. Saya mengamati dengan detil gerakan2 penampang di sayap. Dan puncaknya adalah gemuruh saat pesawat melakukan pengereman. Hari itu…

Kegembiraan yang sama masih saya nikmati untuk beberapa penerbangan selanjutnya. Sampai suatu titik saya merasa sudah biasa dan tak ada lagi yang saya tunggu. Ini adalah tahap mati rasa. Pesawat adalah pesawat. Penerbangan adalah penerbangan. Saya tetap memilihnya karena cepat dan aman. Seperti manusia modern memilih sesuatu. Miskin perasaan yang ruwet2.

Aman? Ya, bahkan dengan kejadian memilukan akhir2 ini, transportasi udara secara statistik masih secara absolut menduduki posisi transportasi teraman di dunia. Silakan dicari sendiri di google dan situs2 terpercaya.

Itulah kenapa dulu saya sering bingung lihat orang2 di sekitar saya merem2 dan merapal doa saat take off dan landing. Itulah kenapa saya pernah menertawakan Pak Satya Limanta yang mengajak saya naik kereta api saja waktu mau menghadiri ujian terbuka Pak Ribut Basuki di Jakarta.

Itu dulu. Kegembiraan dibunuh kebiasaan dan statistik. Kini kebiasaan dan statistik dibunuh wajah anak dan istri. Hari2 ini saya dengan kerelaan hati ikut dan bahkan mengawali merem2 dan merapal segala japa-mantra-doa yang saya tahu menjelang take off dan landing. Bahkan di antara dua prosesi besar ini saya bisa mengadakan sekian persekutuan2 kecil, terutama saat pesawat bergeronjalan menerjang awan atau tiba2 turun atau miring. Wajah anak dan istri terus-menerus me-mukul2 mata saya.

Simpati saya yang terdalam untuk seluruh penumpang dan keluarganya. Saya bahkan tidak mampu membayangkan perasaan Anda. Semoga, entah karena semacam mujizat atau kebetulan, Anda dapat dipertemukan kembali. Saya hanya bisa merem2 dan berdoa. Kali ini dari rumah. Kali ini untuk Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: