Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Sastra Inggris di Inggris

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/29/2016

Mungkin banyak mahasiswa dan alumni Sastra Inggris yang senyum-senyum sendiri membaca judul artikel dari The Atlantic di bawah ini. Isinya menarik dan, secara terbatas, saya saksikan dan alami sendiri di kampus saya sekarang di Inggris. Mahasiswa Asia-Afrika, yang relatif lebih terbatas kemampuan ekonominya, menguasai fakultas dan program studi yang eksakta, praktis, dan semacamnya. Sementara mahasiswa Inggris dan Eropa, yang relatif lebih makmur, menguasai humaniora, seni, desain, dan sejenisnya.

Saya sendiri, misalnya, satu-satunya mahasiswa Asia-Afrika di program studi saya, English Language and Literature, dan diduga secara meyakinkan paling kere di antara kawan2 bulenya. Setiap berkenalan dengan orang/mahasiswa dan menjawab tengah belajar di program studi tersebut, mereka selalu menyambutnya dengan kekaguman yang memabukkan. Awalnya saya pikir ini kesopanan dan sekaligus sarkasme khas Inggris. Anda tahu, orang Inggris, saking halusnya, kalau menyindir baru terasa sakitnya dua bulan kemudian.

Tapi setelah hampir satu tahun kok ya saya rasa mereka tulus kagumnya. Selain soal kekaguman melihat ada orang yang Bahasa Inggrisnya pas2an seperti saya nekat mengambil Ph.D bidang Sastra Inggris, mungkin mereka mengasosiasikan bidang saya dengan latar belakang ekonomi mapan tadi. Mungkin mereka pikir saya dan keluarga sudah melewati masalah duniawi dan sibuk memikirkan segala sesuatu yang subtil untuk mengisi hari-hari yang menjemukan. Sudah level bingung menghabiskan uang, begitu.

Di Indonesia, situasinya mungkin secara umum sebaliknya, paling tidak di kampus asal saya. Ini membuat saya berfikir apakah ini sekedar membuktikan bahwa dunia ini jamak dan tidak linear atau … orang kaya kita memang masih kurang kaya ekonomi dan/atau mentalnya untuk belajar Sastra.

http://www.theatlantic.com/business/archive/2015/07/college-major-rich-families-liberal-arts/397439/