Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Paskah

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/29/2016

Seperti Natal lalu, Paskah kali ini kami beruntung menerima undangan dari keluarga kawan untuk melewatinya bersama-sama. Sang pengundang yang budiman adalah The Lelys: Alex, Kiky, Olivia, dan Jonathan. Seperti kami, The Lelys ini pasangan interkultural. Alex dari England dan Kiky dari Nigeria. Alex ini lah yang mentraktir saya melihat pertandingan Leicester FC kapan hari.

Orang sabar, dan melas, banyak yang mentraktir, memang tongue emoticon

Keluarga Lely menyiapkan daging domba yang sangat lezat untuk kami. Allegra, Olivia, dan Jonathan sibuk dengan Easter Eggs dan Bunnies mereka. Setelah itu mereka membawa kami ke Western Park. Cuaca tiba-tiba berubah buruk dan kami harus kembali ke kediaman mereka untuk menikmati Apple Strudel dan Teh. Semuanya dibalut dengan percakapan dan candaan yang hangat.

Salah satu hari terbaik kami di sini.

Kenapa Leicester?

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/26/2016

Sebenarnya kebetulan saja saya memilih kota yang lagi kondang seantero jagat ini sebagai tujuan studi. Awalnya saya hanya ingin melanjutkan S3 dalam bidang adaptasi, terutama dari sastra ke film. Alasan sembrononya: saya semakin jarang baca novel dan semakin sering lihat film. Selain itu saya curiga masa depan prodi Sastra berada di situ. Mengikuti saran bijak mereka yang sudah S3, saya mencari pembimbing yang tepat sebelum kampus atau negaranya.

Ada dua jamhur dunia dalam bidang ini yang saya kagumi tulisan-tulisannya. Yang pertama adalah Prof. BM dan yang kedua Prof. DM. Saya menghubungi Prof. BM dulu karena beliau berkedudukan di Monash, Australia. Pikir saya enak kalau bisa sekolah di Australia karena dekat. Beliau membalas email saya dengan hangat namun menyatakan kalau sekarang sudah pensiun. Meski ‘gagal’, saya cukup senang karena beliau menghargai dan memberikan masukan untuk proposal penelitian saya. Pikir saya, paling tidak proposal saya, yang saya siapkan secara serampangan pada libur Natal 2013, tidak ngaco2 amat.

Akhirnya saya mencari kontak Prof. DM dan menemukan bahwa beliau berada di De Montfort, Leicester. Mungkin itu pertama kalinya saya sadar keberadaan kota dan kampus ini. Seperti banyak orang, waktu itu saya masih mengucapkannya sebagai lei-ces-ter (salah), bukan leis-ter (benar). Saya lihat universitas ini juga masuk dalam daftar rekomendasi DIKTI untuk beasiswa. Tak lama kemudian saya kontak beliau dan selebihnya adalah sejarah.

Waktu saya datang, Leicester City FC belum seheboh sekarang. Saya sendiri tidak suka berolahraga, apalagi melihat orang berolahraga. Terakhir saya menikmati melihat pertandingan olahraga macam English Premier League adalah saat SMA. Lulus SMA sampai tahun lalu saya terlalu sibuk memikirkan negara dan umat (halah). Tak lama kemudian tim ini tiba-tiba melambung dan saya terseret dalam eforia kota ini. Saya jadi semakin rajin mengikuti perkembangannya setelah berkesempatan menyaksikan secara langsung pertandingan Leicester vs Totenham Hotspur. Leicester kalah tapi bagi saya tidak penting karena tiketnya dibelikan kawan.

Selain klub sepakbola, kota ini lebih dulu terkenal gara2 ditemukannya kerangka Raja Richard Ketiga, tokoh antagonis dalam drama Shakespeare dan sejarah Inggris secara umum. Tapi soal ini tidak terlalu meledak di Tanah Air. Leicester juga resmi dinobatkan sebagai kota kelahiran Bahasa Inggris Modern karena di kota ini lah masyarakat Viking dan Anglo-Saxon sepakat untuk berhenti saling bacok, hidup berdampingan, dan membangun peradaban Inggris, termasuk bahasanya, seperti yang kita kenal sekarang.

Sampai sekarang kota ini masih multikultural dan mungkin yang paling multikultural di Inggris. Jumlah penduduk non kulit putih hampir mencapai 50 persen. Kebanyakan dari mereka adalah orang Hindustan dan Arab. Karenanya kami tidak kekurangan rempah-rempah di kota ini dan tidak ada masalah dengan urusan lidah. Yang belum kami temukan sampai saat ini cuma kluwek (untuk membuat rawon). Mungkin terkait dengan banyaknya imigran di sini, Leicester juga dinobatkan sebagai kota yang paling terjangkau untuk mahasiswa.

Kebebasan dan Persatuan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/15/2016

Di UK, kebebasan jauh lebih sakral dari persatuan. Biar Skotlandia terus-menerus minta merdeka, reaksi negara, publik, dan individu tergolong biasa2 saja. Kalau ada yang menonjol, umumnya berupa bujukan dan janji supaya sang ‘pemberontak’ tetap tinggal. Reaksi mereka lebih keras ke ‘Islamisasi’, yang dianggap mengancam kebebasan. Di Indonesia, persatuan adalah segala-galanya dan kebebasan nanti dulu. Itulah kenapa NKRI harga mati. Nyawa pemberontak bisa dinego atau tidak berharga.

“It’s Personal”

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/01/2016

Salah satu kutipan paling terkenal dalam film Godfather adalah “It’s not personal, Sonny. It’s strictly business.” Kalimat ini disampaikan oleh Michael Corleone menjawab olok2 kakaknya tentang rencananya menghabisi Solozzo dan polisi pelindungnya. Tidak hanya populer, ucapan ini menjadi semacam rumus manajemen dan bisnis dan dibahas di seminar2 terkait. Salah satu penyebabnya adalah ucapan ini klop dengan logika dan pengamatan umum bahwa banyak usaha yang gagal karena pelaku tidak dapat memisahkan urusan pribadi dan bisnis.

Yang sering luput adalah apakah Michael benar-benar mempercayai ucapannya itu atau hanya sebuah sarkasme saja terhadap kakak dan cecunguknya, yang doyan mengulang2 logika umum tersebut. Jika kita mengikuti jalan cerita selanjutnya dan juga Godfather 2 dan 3, cukup jelas Michael justru menjadikan semuanya sebagai urusan pribadi mulai dari pembunuhan kepala lima keluarga mafia New York sampai Don Altobello. Ini dikukuhkan oleh ucapannya kepada Tom Hagen menjelang bertemu Solozzo yang tercantum dalam novel namun tidak terangkat dalam film:

“Tom, jangan biarkan orang menipumu. Semuanya adalah masalah pribadi, setiap bagian dari bisnis. Tiap hal terkutuk yang orang harus hadapi tiap hari dalam hidupnya adalah masalah pribadi. Mereka menyebutnya bisnis. Baiklah. Tapi semuanya sangat pribadi. Kau tahu dari mana aku mempelajarinya? Sang Don. Ayahku. Sang Godfather. Jika sebilah petir menyambar kawannya, dia akan menjadikannya masalah pribadi . . . Itulah yang menjadikannya besar. Sang Don Besar. Dia menjadikan semuanya masalah pribadinya. Seperti Tuhan.”

Lepas dari soal mafia (dan Tuhan!), ada hal yang menarik dari pandangan Vito dan Michael Corleone ini. Banyak orang yang menjadi luar biasa karena menjadikan usahanya sebagai urusan pribadi. Soal sakit hati. Soal pembuktian diri. Soal harga diri. Sebaliknya, banyak yang tidak maju-maju karena hanya berfikir soal sisi bisnis belaka. Soal untung-rugi saja. Tentu saja ini bukan berarti orang tidak perlu berhitung dalam langkahnya. Untung-rugi itu semacam prasyarat awal yang wajib dipenuhi semua pelaku. Namun yang menjadikan usaha itu melesat atau berbeda dengan yang lain adalah masalah pribadi tadi.

Oh, yes?

Mimpi Kecil2an

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/01/2016

Kata motivator, “Hati2 dengan mimpimu; dia bisa menjadi kenyataan”. Waktu kami masih kecil, salah seorang kawan saya bertanya apa cita2 saya. Meniru guyonan zaman itu, saya jawab: “Pokoknya kerja yang cuma tandatangan saja”. Tentu saja maksud saya jadi boss. Timpal kawan saya: “Maksudmu jadi tukang karcis pasar?” Zaman itu kami sering menyaksikan petugas restribusi pasar memberi paraf ala kadarnya pada lembar karcis sebelum merobek dan memberikannya ke pedagang.

Kelak di kemudian hari, dalam kebosanan menandatangani ratusan sertifikat kegiatan yang diselenggarakan program studi kami, saya terkenang-kenang percakapan itu. Meskipun tidak melulu soal itu, menjadi mandor program studi melibatkan tandatangan yang tak ada habisnya.

Zaman masih kepanasan di balik jaket, di atas Tornado/GL Max/Mega Pro, dalam perjalanan pergi-pulang kampus (@ 35 kilometer), selama 12 tahun, saya sering berkata ke diri sendiri: “Andai saja rumah dan kampus ini di Eropa. Pasti dingin dan sejuk. Pasti semangat berangkat ke kampus. Memakai sweater, membaca, dan menulis di dekat jendela ditemani kopi panas”. Demikian gambaran saya soal Eropa dari tivi dan buku.

Saat ini, hidup dalam cuaca Inggris yang selalu murung, dengan Matahari paruh-waktu, dalam temperatur dekat2 nol, saat pergi ke balkon sudah menjadi beban berat, saat sweater serasa seperti kaus kutang, saat otak hanya mampu diajak melihat FB dan Netflix, saya teringat mimpi itu.

Hati-hati dengan mimpimu. Dia bisa menjadi kenyataan, walau dengan agak lucu.

Salju Pertama

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/01/2016

Salju pertama adalah peristiwa yang menyenangkan bagi orang ‘Timur-Jauh’, anak-cucu panas terik dan hujan tropis. Bagi saya sendiri, momen itu tiba sekitar lima tahun yang lalu saat saya mendapat kesempatan berkunjung ke Porstmouth, kota pelabuhan bagian selatan Inggris. Waktu itu salju turun begitu lebat, melumpuhkan transportasi di penjuru Inggris.

Musim dingin di Leicester tahun lalu hampir berlalu tanpa salju. Cuma tempias (wozzz) yang hilang dalam satu-dua jam saja. Tahun ini kami berharap dapat menikmati Natal Putih, seperti di tivi2. Kebetulan anak-istri belum mengalami salju pertamanya. Yang datang ternyata Natal Basah. Basah sekali, hampir menyamai Natal di Surabaya.

Minggu lalu keluarga angkat kami memberitahu kemungkinan hari Kamis malam Jum’at akan turun salju. Sampai keesokan harinya Leicester tetap bersih dari air beku. Tampaknya salju tengah tirakat pada malam itu. Menghibur diri, kami berkata masih ada tahun depan.

Sekitar pukul 22.00 tadi malam, kawan saya dari Yordania mengirim pesan: “Salju turun!” Saya bangkit ke jendela dan melihatnya turun pelan dan tipis, membelah pendar lampu kota. Saya berfikir ini akan seperti tahun lalu. Cepat datang, cepat hilang. Tapi semakin malam, semakin tebal turunnya.

Dan pagi ini, dalam perjalanan ke gereja, istri dan anak saya dapat menikmati salju pertama mereka. Salju pertama kami sebagai keluarga.

Inggris dan Pencakar Langit

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/01/2016

Kapan hari saya ngobrol dengan profesor dari Brazil yang lagi penelitian di pusat penelitian kami. Kenapa di Inggris ini jarang lihat gedung pencakar langit ya, bahkan di London? Kalaupun ada ya jauh lebih sedikit jumlahnya dibanding negara2 berkembang dan mencakarnya juga tidak tinggi2 amat. Saya tambahkan shopping malls di sini nggak ada apa2nya dibanding di Indonesia. Si profesor bilang sama juga dengan Brazil.

Apa mereka tidak punya uang? Yang jelas kita-kita yang dari negara berkembang ini lebih kere dibanding mereka. Teknologi? Apalagi. Kebutuhan? Setahu saya di Inggris masih lebih banyak orangnya dibanding Uni Emirat Arab, yang suka menyodok langit itu. Lahan? London dan kota2 lain sudah sangat sesak; sudah sewajarnya lebih ‘go vertical’.

Alasan yang paling jelas adalah soal politik dan undang-undang. Pecinta bangunan kuno punya kekuatan lobi politik yang sangat besar di sini. Jangankan membongkar, menghalangi pandangan ke bangunan-bangunan kuno melanggar undang-undang. Dan penegakan undang-undangnya memang baik. Sebagai ilustrasi sederhana, saya pernah berbuih-buih merayu sopir sewaan untuk menurunkan kami di dekat apartemen, yang sebenarnya dilewati dan punya tempat perhentian. Dan rayuan saya terus-menerus ditolak “karena tidak sesuai dengan perjanjian”, dengan kesopanan yang tidak kalah konsisten.

Tapi rasa2nya ini juga masalah yang lebih ‘halus’ semacam budaya, psikologi, atau selera. Orang Inggris ini suka dan bangga dengan budaya ‘understatement’. Semakin kaya/tinggi kelas, semakin doyan merendah-rendahkan diri. Tidak harus berarti mereka itu rendah hati betulan. Tampil rendah hati adalah cara mereka untuk sombong grin emoticon Hal ini sebenarnya banyak diangkat Oscar Wilde dalam karya-karyanya. Mungkin, sekali lagi mungkin, membangun gedung tinggi2 dianggap agak berlebihan.

Mungkin ada kaitannya dengan inferiority complex juga. Sebagai bekas bangsa penakluk dan masih sangat kaya-raya, mereka tidak terlalu merasa perlu membuktikan diri atau tampil kaya. Beda dengan kita2 yang lama terjajah dan masih kere atau baru kaya. Suka bangun yang megah-megah dan tinggi-tinggi tapi kalau mau menaikkan gaji buruh … Eh.

Ada pendapat lain?