Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

Kenapa Leicester?

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/26/2016

Sebenarnya kebetulan saja saya memilih kota yang lagi kondang seantero jagat ini sebagai tujuan studi. Awalnya saya hanya ingin melanjutkan S3 dalam bidang adaptasi, terutama dari sastra ke film. Alasan sembrononya: saya semakin jarang baca novel dan semakin sering lihat film. Selain itu saya curiga masa depan prodi Sastra berada di situ. Mengikuti saran bijak mereka yang sudah S3, saya mencari pembimbing yang tepat sebelum kampus atau negaranya.

Ada dua jamhur dunia dalam bidang ini yang saya kagumi tulisan-tulisannya. Yang pertama adalah Prof. BM dan yang kedua Prof. DM. Saya menghubungi Prof. BM dulu karena beliau berkedudukan di Monash, Australia. Pikir saya enak kalau bisa sekolah di Australia karena dekat. Beliau membalas email saya dengan hangat namun menyatakan kalau sekarang sudah pensiun. Meski ‘gagal’, saya cukup senang karena beliau menghargai dan memberikan masukan untuk proposal penelitian saya. Pikir saya, paling tidak proposal saya, yang saya siapkan secara serampangan pada libur Natal 2013, tidak ngaco2 amat.

Akhirnya saya mencari kontak Prof. DM dan menemukan bahwa beliau berada di De Montfort, Leicester. Mungkin itu pertama kalinya saya sadar keberadaan kota dan kampus ini. Seperti banyak orang, waktu itu saya masih mengucapkannya sebagai lei-ces-ter (salah), bukan leis-ter (benar). Saya lihat universitas ini juga masuk dalam daftar rekomendasi DIKTI untuk beasiswa. Tak lama kemudian saya kontak beliau dan selebihnya adalah sejarah.

Waktu saya datang, Leicester City FC belum seheboh sekarang. Saya sendiri tidak suka berolahraga, apalagi melihat orang berolahraga. Terakhir saya menikmati melihat pertandingan olahraga macam English Premier League adalah saat SMA. Lulus SMA sampai tahun lalu saya terlalu sibuk memikirkan negara dan umat (halah). Tak lama kemudian tim ini tiba-tiba melambung dan saya terseret dalam eforia kota ini. Saya jadi semakin rajin mengikuti perkembangannya setelah berkesempatan menyaksikan secara langsung pertandingan Leicester vs Totenham Hotspur. Leicester kalah tapi bagi saya tidak penting karena tiketnya dibelikan kawan.

Selain klub sepakbola, kota ini lebih dulu terkenal gara2 ditemukannya kerangka Raja Richard Ketiga, tokoh antagonis dalam drama Shakespeare dan sejarah Inggris secara umum. Tapi soal ini tidak terlalu meledak di Tanah Air. Leicester juga resmi dinobatkan sebagai kota kelahiran Bahasa Inggris Modern karena di kota ini lah masyarakat Viking dan Anglo-Saxon sepakat untuk berhenti saling bacok, hidup berdampingan, dan membangun peradaban Inggris, termasuk bahasanya, seperti yang kita kenal sekarang.

Sampai sekarang kota ini masih multikultural dan mungkin yang paling multikultural di Inggris. Jumlah penduduk non kulit putih hampir mencapai 50 persen. Kebanyakan dari mereka adalah orang Hindustan dan Arab. Karenanya kami tidak kekurangan rempah-rempah di kota ini dan tidak ada masalah dengan urusan lidah. Yang belum kami temukan sampai saat ini cuma kluwek (untuk membuat rawon). Mungkin terkait dengan banyaknya imigran di sini, Leicester juga dinobatkan sebagai kota yang paling terjangkau untuk mahasiswa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: