Jurnal Pembangun Sebuah Dinasti

ya, bapa, aku demikian biasa

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/18/2010

beberapa semester yang lalu aku menyadari aku tak pernah dan mungkin tak akan pernah sampai pada keadaan di mana aku tak bisa melewatkan hari tanpa menulis. sambil menghibur diri kukatakan, jika aku tak menulis, aku harus melakukan sesuatu yang layak ditulis. tak berapa lama kemudian aku menjadi demikian sibuk. namun aku juga harus mengakui aku tak pernah sampai pada keadaan di mana aku tak bisa melewatkan hari tanpa melakukan sesuatu. pada dasarnya aku masih menyimpan kemampuan laten untuk bermalas-malasan.

di waktu senggang yang terkutuk, aku dapat merasa cemburu dengan mereka. cemburu kepada mereka yang tiba-tiba sudah memiliki tujuan dan peta di tangannya begitu saja. sementara bahkan di detik ini aku curiga bahwa sebenarnya aku masih berputar-putar di perempatan. tak seperti yang kukhotbahkan, aku tak terlalu tahan dengan ketidakjelasan dan begitu menyembah jawaban. ya, bapa, aku demikian biasa.

tiba-tiba aku berfikir bahwa, mungkin, hidup ini tak ubahnya dengan rantai makanan di perusahaan. semakin ke bawah semakin jelas nasibnya dan apa yang harus dilakukan. bahwa semakin ke atas semakin penuh pertanyaan. tiba-tiba aku menempatkan diriku sendiri di atas. di tempat yang sepi itu. di tempat orang-orang terpilih bergulat dengan pertanyaan besar, seperti arah perusahaan. tapi, ya, tuhan, aku demikian biasa. lebih suka menghibur diri dibanding merumuskan.

untuk yang menjadi pemurung sebelum waktunya

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 06/12/2010

di masa ini sungguh tak mudah untuk mengetahui harus melakukan apa atau apa yang rasanya paling baik. bukan karena tidak ada informasi atau tidak ada yang memberitahu seperti dulu-dulu. tapi justru karena sebaliknya. terlalu banyak informasi, terlalu banyak yang memberitahu. dan, celakanya, semuanya tampak baik. semuanya terbukti masuk akal. semuanya terasa cocok di hati. sungguh aku ingin menjadi pintar dan mempunyai kemampuan membedakan dengan benar.

jika dulu orang-orang berlomba-lomba mencari sebuah kebenaran, hari-hari ini kebenaran-kebenaran berlomba-lomba mengepung seseorang. tidak salah jika seorang penulis hebat dari bandung mengatakan bukan kitalah yang menemukan ide, tapi idelah yang menemukan kita. dengan demikian untuk menjadi hebat di zaman ini adalah bukan dengan menemukan sesuatu dalam kebeningan, namun dengan menyuarakannya apa yang hinggap dalam diri kita secara lantang. selantang mungkin. dengan demikian kau tak tenggelam di tengah-tengah hiruk-pikuk atau riuh-rendah.

ah, sungguh sulit menjadi orang yang menekuni kesunyian hari-hari ini. sungguh sulit menjadi seseorang di patmos atau di padang gurun. ini zaman begitu ramah untuk orang-orang yang berseru-seru di pasar. demikian sabda zarathustra.

LOOW, PHK-I, and E-Fest

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 06/10/2010

What a week! Last week we accomplished many things. First of all, after a long preparation, on Tuesday and and Wednesday, we conducted the National Conference “Language in the Online and Offline World”. The number of the speakers and participants exceeded our expectation. Based on the survey, they were very satisfied with the conference and expressed a wish that we will conduct a similar event next year. And, as usual, the publications:

http://www.antara.co.id/berita/1275392870/pakar-facebook-rusak-bahasa

http://www.antara.co.id/berita/1275394889/prof-esther-kuntjara-facebook-rusak-bahasa

http://tekno.kompas.com/read/xml/2010/06/01/20375867/Facebook.dan.Twitter.Rusak.Bahasa-4

The news has been reposted in numerous forums and webs. Check this out:

http://www.google.co.id/search?hl=id&client=firefox-a&hs=dXV&rls=org.mozilla%3Aen-US%3Aofficial&q=esther+kuntjara+facebook&aq=f&aqi=&aql=&oq=&gs_rfai=

I’d like acknowledge the hard work of Bu Windy and her team. Special mention about Bu Windy who worked so well as the head of the committee and treasurer at the same time. I’d like to thank also others who were not directly involved in the committee but contributed to the success of the events in one way or another.

Second, I’d like to express my deepest gratitude to my team members in the PHK-I such as Pak Basuki, Bu Windy, Pak Satya, and Bu Yuli. Thank you for being so patient in facing the long and boring process. Thank you for going home very late at night, working in the weekend, and even sleeping at the campus for finishing the complete proposal, budget, tors, and self evaluation. Thank you for being so cool in the times of crisis like last week. All credits go to you, Ladies and Gentlemen. I am very happy to find out that the English Department has managed to propose the highest budget than the other departments. It testifies the seriousness and patience in identifying problems and solutions. If we win the PHKI, we will receive IDR 2.446.500.000. Enough money to open a new program and ‘make over’ the B Building.

Third, I’d like to thank and salute Bu Aylanda who shared with us on Friday her expertise in the Systemic Functional Linguistics. You have made it much more easier for the linguistically ignorant people like your most humble servant 🙂 I believe it will improve not only the knowledge of our linguistic colleagues but also the quality of instruction in their classes.

Fourth, I’d like to thank Pak Jokri and Angie for their willingness and help to judge the teen mag competition (the Final Round of the E-Fest) on Friday. This competition is the first held by our department and we have not formulated the fixed standard for the judging. So it must be a bit tough for you 🙂 Thanks a lot to Bu Liliek who led the E-Fest team. Let’s make the E-Fest next year better. And thank you everyone for your continued service to the Department.

FYI, the Department’s focus this week is back to the Accreditation. Hope we are given the physical and mental endurance to accomplish this, too.

PMI2 Connect di Media

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/14/2010

Berikut beberapa liputan di media massa tentang keberhasilan Sastra Inggris UK Petra  memenangkan PMI2 Connect:

Jawa Pos

Antara

Ada juga dari Sindo tapi sayang sekali versi web-nya tidak dapat diakses karena masalah akun mereka. Selain itu tentu saja di DwiPekan yang belum mengupdate webnya.

PMI2 Connect: We got it :)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 04/01/2010

Prodi Sastra Inggris bersama  dengan School of Languages and Area Studies, The University of  Portsmouth, UK, berhasil memenangi hibah kompetisi pendanaan kerjasama dari Pemerintah Inggris (Second Prime Minister’s Initiative 2010).  Hibah ini akan dimanfaatkan untuk persiapan pembukaan program  peminatan baru di Sastra Inggris (dual degree).  Pemberitahuan selengkapnya dapat dilihat pada potongan email di bawah.

Terima kasih kepada semua  pihak di luar Sastra Inggris yang telah membantu dalam perumusan  sampai pengiriman proposal. You know who you are 🙂

Semoga ini dapat memacu Prodi Sastra Inggris dan kawan-kawan lain
untuk mendapatkan PHK-I 2010 demi pengembangan Prodi masing-masing.

———————————————————————————————-

Application No: …
Project Title: BA Teaching English to Speakers of Other Languages

Thank you for your application for funding under PMI2 Strategic
Alliances and Partnerships project, Collaborative Programme Delivery
strand. I am pleased to inform you that your application has been
successful.

You will be interested to know that we received an  overwhelming number
of applications from the sector and the quality of the bids was
extremely high. Each application was assessed by an Evaluation Panel
made up of senior members of staff from universities and appropriate
sector bodies. Their recommendations have now been endorsed by the
PMI2 Programme Board and this decision is final.  Apologies for the
slight delay in this notification to you as we have been awaiting
final approval on the release of funds from the PMI2 Programme
Board.

tak terasa

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/06/2010

sebab tak terasa kamu telah menjadi keriuhan di setiap ujung. dan tiba-tiba aku ingin melipat hidup dan mencoba-coba membekukan yang terus berlalu.  di duniamu, aku tak perlu bergegas dan tak perlu mengingat di mana aku meletakkan arloji. di duniamu, aku tak akan pernah lagi berkemas-kemas.

tak terasa, ada yang ingin menetap dan bahagia dalam kebosanan.

sulitnya untuk menjadi baik2 saja

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/26/2010

pria seperti kita, phi, sulit untuk menjadi baik-baik saja. aku tak tahu persis ini kehidupan yang kurang ajar atau kita sendiri. apakah kau masih ingat ceritaku tentang kalajengking dan kodok?

syahdan ada seekor kalajengking yang ingin menyeberangi sungai.  karena keterbatasannya, dia meminta tolong seekor kodok yang tengah berjaga di pinggir sungai.

“gendong aku ke seberang, kawan. aku akan memberi tahu di mana para nyamuk bersembunyi jika kau melakukannya.”

“kau pikir aku gila?”

“tentu saja tidak, kawan. kenapa?”

“tentu saja kau akan menyengat  punggungku!”

“kau pikir aku gila? jika aku menyengatmu, aku akan tenggelam bersamamu.  aku bukan kalajengking jepang yang doyan ber-harakiri.”

setelah berfikir sejenak, si kodok menemukan kebenaran dalam logika si kalajengking. dia akhirnya menyetujui permintaan si kalajengking. si kalajengking segera naik ke punggung si kodok, dan si kodok mulai melompat ke sungai.

sampai di tengah, tiba-tiba si kodok merasakan panas di punggungnya. tubuhnya tiba-tiba melemah dan bersiap untuk tenggelam bersama si kalajengking yang telah mengkhianati janjinya. dalam sekian detik menjelang menghadap tuhan yang maha kuasa, si kodok berbisik lirih ke si kalajengking:

“kenapa?”

jawab si kalajengking, tak kalah lirihnya:

“maaf, kawan. aku tak kuasa. sudah kodratku untuk menyengat.”

rumah tupai

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/29/2009

akhirnya, setelah bermimpi dan bekerja beberapa musim, aku dapat mengumpulkan beberapa jerami untuk membuat sarang. halah. hehehe. sebenarnya keinginan ini sudah ada sejak aku di thailand. tapi terus aku tunda karena aku masih bermimpi untuk studi lagi. aku pikir jika aku mengambil rumah sambil studi, itu akan mengganggu konsentrasiku dan merepotkan orang tuaku, yang akan aku mintai bantuan untuk mengurus ini dan itu.

tapi sejarah memberikan fatwa lain. cieee. aku tak dapat berangkat tahun ini seperti yang sudah kurencanakan empat tahun terakhir. aku juga masih harus mengurusi jurusan untuk empat tahun ke depan.  seperti sang alkemis, aku berusaha untuk membaca tanda-tanda. mungkin sudah saatnya aku melaksanakan mimpi mempunyai sarang ini dulu.

salah satu tanda itu adalah tiba-tiba salah satu tanteku mampir ke rumah. tiba-tiba dia menceritakan salah satu rumahnya di sidoarjo yang tak berpenghuni setelah ditinggal anaknya bermigrasi secara tiba-tiba ke jakarta. tiba-tiba dia menawarkannya kepadaku untuk aku tinggali secara gratis; daripada tak ada yang menempati dan cepat rusak. tiba-tiba aku berfikir kenapa tidak aku beli saja. tiba-tiba aku menawar sekejam-kejamnya. rumahnya sendiri sangat besar untuk ukuran bujangan, 150 m2. rumah ini baru saja mengalami renovasi. tinggi atapnya di naikkan 0,5 meter dan semua kayu atapnya sudah diganti.  aku tahu persis renovasi itu menghabiskan dana sangat besar.  lingkungannya sendiri cukup baik dalam pengertian sosiologis. dan tiba-tiba beliau setuju begitu saja dengan penawaran kelas pekerja dariku.

rumah itu sendiri belum aku bersihkan sampai saat ini dan belum tahu kapan akan aku tinggali. aku masih sangat nyaman tinggal di rumah orang tua karena, terus terang, di sini aku terawat dengan baik. hehehe. tapi aku yakin ini hanya soal waktu saja. aku sudah melihat diriku sendiri di kamar depan yang akan kusulap menjadi semacam ruang kerja dan baca. aku sudah melihat si pie mondar-mandir di depan tivi. aku sudah melihat anak-anak kami hilir mudik di tangga ke jemuran di atas.  ya, aku sudah mulai berfikir bahwa saat meluncurkan sebuah dinasti sudah tiba.

sebagaimana megalomaniak yang lain, aku sudah memikirkan nama yang jauh melampaui kesederhanaan rumah ini. aku sempat memikirkan dengan serius meniru nama-nama markas hitler seperti wolf’s lair atau eagle’s nest. hehehe.  atau nama-nama puri-puri dinasti di eropa seperti yang pernah kubaca di novel seperti castle dracula atau the house of ushers. hihihi. tapi seperti megalomaniak yang lain, aku selalu berjuang untuk sebuah orisinalitas, selemah apapun konsep itu sendiri. dan, di tengah aku menulis ini, tanpa alasan yang jelas, aku tiba-tiba berfikir tentang:

rumah tupai…

DIVINE SONNET X – DEATH BE NOT PROUD

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/27/2009

DEATH be not proud, though some have called thee
Mighty and dreadfull, for, thou art not so,
For, those, whom thou think’st, thou dost overthrow,
Die not, poore death, nor yet canst thou kill me.
From rest and sleepe, which but thy pictures bee,
Much pleasure, then from thee, much more must flow,
And soonest our best men with thee doe goe,
Rest of their bones, and soules deliverie.
Thou art slave to Fate, Chance, kings, and desperate men,
And dost with poyson, warre, and sicknesse dwell,
And poppie, or charmes can make us sleepe as well,
And better then thy stroake; why swell’st thou then;
One short sleepe past, wee wake eternally,
And death shall be no more; death, thou shalt die.

John Donne

satu matari setelah yang tak kunamai

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/13/2009

aku gurat ini saat keadaan masih belum berubah dan ketidakpastian begitu pekat seperti apa yang aku teguk di jeda-jeda hari. aku tulis ini satu matari sesudah apa yang belum pernah aku dapat sebut, apa yang tak pernah dapat atau ingin aku namai. dan demikian kita masih saling membantu seperti dua anak kecil yang selalu mengakhiri dendam permainan sepulang sekolah seiring dengan kantuk di meja belajar sore.

dan, apakah masa ini pernah berakhir? begitu lelah kita bersama memberi penanda-penanda waktu sementara pada saat yang sama kita tahu bahwa waktu tak ubahnya sungai di depan Sidharta. aku tekankan ini saat aku harusnya berkemas untuk kepergian yang berulang. untuk sebuah kehidupan yang lebih baik bagi yang hadir dari kita. jika waktu tak pernah betul-betul beku, mungkin kita cuma ingin menikmati dinginnya.

seperti pernah kukatakan dalam sebuah malam yang biasa-biasa saja, aku jauh dari baik. aku bukanlah pecinta yang tangguh dan selalu ingin melihat tata ruang kedai-kedai baru dalam perjalanan pulang. dan begitulah aku harus membiarkanmu menekuni dan mengartikan hakekat sebuah pintu kayu. namun tahukah kamu, bahkan dalam ketidaksadaranku yang paling mengerikan, aku selalu hafal letak sembilan pot bunga yang kau acak di depan rumah?

hidup ini aneh benar. ada masa di mana kita begitu ingin mencederai dia yang pernah membebat kita saat berdarah-darah.  dan, berharap, dengan sembunyi, ada yang menemukan dan menyembuhkannya. mungkin kita, dari awalnya, hadir dengan perasaan tak layak dan tak percaya terhadap kasih yang baik. dan aku berharap, dengan cemas, aku dapat merasa cemburu lagi.

dan seperti sidang jemaat di efesus, aku ingin kembali kepada kasih yang mula-mula. yang tak rumit. yang tak menarik. mungkin sudah tiba saatnya aku menghunus tinju ke arah lain  yang ngeri. dan mempersiapkan mereka yang hadir sesudah kita.

sebab, pada akhirnya, apa yang lebih kuinginkan daripada membangun sebuah dinasti?

Phantasmagoria (Sekian Peringatan yang Akhirnya Terbuka)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/02/2009


Kamerad yang Budiman,

Segala tulisan ini kurencanakan untuk mengingatkan, dan tak jarang mengajak untuk mengingat, bukannya memperingatkan, apalagi sampai mengultimatum segala. Memang, ada niatan untuk mempermalukan beberapa kawan, yang kebetulan sama-sama tak tahu malu juga. Pada akhirnya, selalu ada waktu untuk meminta maaf, sementara deru, ya deru, tak pernah menunggu.

Jelang Sidang Skripsi, 22/07/2002

Dewey Setiawan

Peringatan Pertama

Pernah mendirikan kata-kata, aku
Membangun kamu yang genap,
Dengan tangan, putarannya, suara, dan celakanya, ketawa itu
Itu dulu, bukan?
Waktu ruang kuliah di lantai-lantai atas masih sering jadi
Salah satu rutemu, rute yang benar-benar membosankan

Banyak perubahan, pada aku dan mereka
Entah dengan kamu,
Karena penanda-penanda yang kau ceruki pada pixel,
Sebelum menggeraham
Modem dan bola-bola listrik,
Rapuh, untuk menjulangkan gerikmu yang lengkap

Aku sangat pria sekarang, itu jelas
Pria sekali
Mungkin kamu telah menduganya, lewat kabarku
Pada malam yang, kusebut, penuh phantasmagoria
Penuh dengkur Kawan Min di ranjang sebelah

Dan ketika kamu membalasnya,
Cepat-cepat kukokang sekali lagi
Tak pernah kumuntahkan akhirnya
Persoalan sekitar cita-cita
Membuatmu sekali lagi berubah tak penting

Perubahan mereka?
Aku benar-benar tak tertarik bercerita
Karena mereka ikut-ikut tak penting
Bagi aku, yang pria sekali

Peringatan Kedua

Jika aku menulis lagi padamu,
Itu berarti kamu mulai sedikit penting lagi bagiku

Susahkah untuk mengakui
Bahwa aku sering tak penting bagimu,
Dan kamu sering tak penting juga bagi aku?

Banyak pasangan teruna
Menganggap pengakuan jenis ini kotor, sayang
Menjatuhkan cinta di urutan keong, katanya

Cinta? Aku?
Bukankah menjadi tak penting,
Ketika kau panik memikirkan jawaban soal ujianmu
Yang baru kau selesaikan satu nomor saja?
Ketika kamu panik memenuhi perintah atasanmu
Untuk menyelesaikan segala sesuatu dalam empat jam saja?

Cinta dan kamu hanya jadi penting,
Ketika ada waktu luang
Lalu aku tertarik duduk di dekat meja telepon,
Ketika ada kesempatan
Lalu aku tertarik mengajakmu bertemu
Mencocokkan bayangan mukamu
Yang aku arsir sebelum minum kopi

Ini pada waktu luang juga
Adakah yang salah padanya?

Berapa jamkah yang mereka lewatkan tanpa
Cinta yang penting, ya?!

Peringatan Ketiga

Ada busur dewa yang merebah pada pundaknya
Disekrup dalam-dalam
Menarik dadanya yang meniru padi
Selain bagian penting itu,
Dia menyerupai pabrik gula,
Secara keseluruhan

Jika sampai tanggal tiga puluh bulan ini
Dia belum memanggil orang tuaku datang
Ambilkan aku tali dan sediakan kamar tenang, Min
Tak perlu kau ikut berdoa
Karena dendam ini pasti sampai
Pada malam, di mana dia berusaha mempertahankan
Kelenturan kulit mukanya
Dengan masker bengkoang

Peringatan Keempat

Pria,
Bercanda, mari kita
Sebelum masing-masing tubuh ini turun,
Lalu tidur berdasi

Jika mereka berkata, pria sepertimu sungguh harus tenang
Kukatakan padamu, kita yang penuh lebam pada buku tangan
Sbab kata-kata yang kita tukang
Memang sedang dan pernah kalah

Kita yang punya cinta cepat jatuh,
Dan bersedia meneruskan jalan demam ini
Adalah jauh mulia
Dibanding mereka, yang mengganti peta ribuan legenda
Dengan tips-tips bersikap dari majalah

Tapi kita tahu berhenti, betul itu
Meski kita, seperti dulu, masih tertarik
Dengan perempuan-perempuan berkaki panjang
Sayang sekali, mereka suka tertawa separuh
Kupikir memang itu mencibir
Maka kita berhenti, benar itu

Berdoalah, agar kerajaan pria kian dekat

Juni dekat mesin ketik kantor,
Besok aku tumpas darah

Peringatan Kelima

Sampai dimanakah kamu?
Sampai dimanakah kita?
Siapkah untuk rasa sakit setelah berusaha?
Konon kabarnya lebih pedih

Jika satu gagal, anggap saja dia lemah
Dan tak perlu tangisan anak kucing seburuk itu
Karena menoleh seperti itu melemahkan, percayalah
Kau akan berhenti, ikut larut sedih, lalu
Jadi pecundang juga.

Adakah yang kalah mengangkat kaki lain dipundaknya?

Lajukan saja,
Saat kau sampai, lalu memenangkan bendera
Dengan baju baru satu setel,
Dan tonikum penuh energi, jemputlah ia

Untuk mengangkat yang kalah, harus menang dulu
Kalau kau lupa,
Mati keenakan, bahkan
Paling tidak tak perlu ada dua pecundang
Terbujur marah-marah

Peringatan Keenam

Kegiatan ini baru,
Empat kali kami pergi ke kelab malam
Sungguh menyenangkan, aku ceritakan
Meski tak lengkap,
Karena seperti kau tahu
Kami tak pernah sanggup memukau mereka
Yang memakai baju secara sembrono
Dan tahan masuk angin
Yang menyelipkan pengaman di saku kanan

Mereka cukup pemurah, untuk mata

Belajar menari, kita
Gaya Mr. Bojenggel di tivi-tivi, kita
“Hentikan tarian burukmu itu, Min!”

Melakukan retreat, kita
Sejenis pemenuhan rindu botol
Dengan cap yang tertera
Di seragam-seragam pemain bola Eropa

Beberapa jam di sana,
Berfikir kami, perjuangan yang miskin tak perlu ada
Tapi kala perjumpaan batas sadar itu rebah
Dan kita mulai berdarah sedia kala
Dan mampu mengingat,
Bahwa di pintu masuk selalu ada yang menumpang,
Seperti kita,
Perjuangan itu lagi ada

Peringatan Ketujuh

Hari-hari pada tahun-tahun akhir-akhir ini
Selain pada kekasih aku
Dan beberapa perempuan yang kukenal dekat
Aku mencurgai keindahan

Tak ada yang diperjuangkan untuknya
Bukan sesuatu yang hebat jadinya
Yang cantik kucurigai jatuh bebal
Karena yang cantik tak perlu melakukan
Semacam perjuangan untuk pintar
Mereka terberkati sesuatu yang menarik, sudah

Yang buruk kucurigai pintar,
Atau yang pintar kucurigai buruk
Karena yang buruk akan melakukan perjuangan untuk pintar
Untuk mengaburkan kodrat,
Pada muka dan pinggangnya, yang jelas tak menarik

Selain pada kekasih aku
Dan beberapa perempuan yang kukenal dekat
Aku mencurigai kecantikan

Aku, jelas, berjuta-juta debu kosmik berkoor setuju,
Memang tak elok,
Tahukah kamu rasanya jadi yang buruk, hei?
Berdoa, anak jadah pria berkumis sangkur tak datang lagi
Lalu bergenealogi tentang nilai ini

Peringatan Kedelapan

Sampailah pada pengingat-ingatan ke delapan aku,
Berfikir aku, pada siapa aku, menyerahkan
Semua peringatan-peringatan yang kuat

Kau pasti tahu ini bukan soal yang gampang
Menyerahkan pada tuan yang berjaya, takut mereka tak mau,
Ini benar tak bagus
Apakah sudah terlihat inlander benar kali ini, Min?

Mencetak sendiri, dianggap meniru medioker hebat
Kau pasti tahu, zaman ini penuh paradoks
Kau dan aku dituntut untuk selalu beda
Karena beda, berarti hebat dan orisinil

Padahal, Jose Maria jauh-jauh hari mampir ke rumah
Memperingatkan, bukan menulis peringatan, ku
“Tak ada tulisan yang baru di dunia ini, kawan
semuanya sudah pernah ditulis!”
Lalu juga Paman Karl yang mulia,
“Semua sudah seragam”

Terlanjur percaya aku, dan terlanjur menukil aku, pada narasi kedua:
“Tak ada lagi yang belum tertelusuri imajinasi di bumi manusia,
Mulai dari mencairnya sekelingking es di utara karena tertabrak rusa
Sampai pergumulan penguin di selatan.”

Lalu, harus bagaimana, Min?
Menyimpannya sendiri, dituduh menggugurkan gigi,
Berdecak-decak sembari membaca tulisan sendiri

Kau pasti tahu, kita hidup di zaman paradoks
Lalu, harus bagaimana, Min?

Peringatan Kesembilan

Teruslah menulis, diri
Karena lintasan semakin keriting
Dan lampion terang semakin sublim

Hanya untuk menunjukkan
Kamu masih hidup, itu saja arti

Untuk kamu, dan hasil sekolahmu
Menulis satu-satunya nada nadi
Bahwa kamu belum selesai; belum tahu; belum mati

Peringatan Kesepuluh

Kata mereka,
“Penghalang cita-citamu tinggal setebal halimun siang!”

Lalu aku mulai menyiapkan, segera
Sikat gigi dan beberapa celana dalam
Mengepak baju-baju
Mengangkat ransel baru yang menegakkan dada muka
Siap bertikai ke mana dan melawan apa saja

Seperti dinyana, ketakutan itu lagi mengancam
Hewan apa akan aku temui di sana?

Jutaan kali, sepanjang hidup, ketakutan kita makan, telah
Tapi seperti juga kesedihan
Kita tak pernah bosan
Dan terbiasa menghadapinya
Kesedihan dan ketakutan selalu tampak baru dan lain

Peringatan Kesebelas

Kita baru saja mengetikkan titik terakhir
Dalam bab yang tak terdigit lagi
Sudah terlalu jauh
Hadir dan turut campur, kamu
Dalam pekerjaan literer ini,
Prosa nafas yang lekas, demikian kita sering sebut

Ikut menulis cerita-cerita di dalamnya, kamu
Menampilkan ribuan karakter-karakter baru, seperti
Diantaranya bapak dan ibumu
Mencipta konflik-konflik yang menarik
Dan mempersiapkan penyelesaian-penyelesaiannya
Aku sendiri tak tahu, dan tak tertarik bertanya
Apakah pisah adalah salah satunya?

Tapi pikirkanlah dengan baik,
Sungguh tak adil,
Jika suatu misal kamu pergi, atau aku pergikan
Meninggalkan kerumitan cerita hasil ulahmu itu
Untuk aku selesaikan sendiri

Kamu harus tetap dengan aku,
Atas nama keadilan, dan juga
Cinta, yang menyusul kemudian

Peringatan Kedua Belas

Nyonya Intawa yang mulia,
Ketika lempengan besi itu distrukturkan untuk bertugas
Dan air itu dibakar
Dan turbin-turbin mulai bergetar
Hari-hari tiba-tiba pesat
Malam lalu seperti sekarang
Malam ini akan mensablon malam besok
Siang ibarat transisi roda gigi
Menggeram sejenak, kemudian pulas lagi
Bohlam dan neon semakin memburung bangkai
Produksi sosial tak ada gatra
Memenuhi mulut yang semakin banyak

Dan gadis-gadis seusia anda
Mulai sering berangkat malam
Shift tiga, keluhnya
Over produksi (mesias) itu tak kunjung tiba

Berderak lagi, dia
Yang dulu pokok tiba-tiba meranting,
Ada yang mengkuliti diri sebagai baru
Di epos kita sekarang, dalam kotak air-kotak air hijau

Jasa, tiba-tiba tak lagi sekedar kurir barang ke massa
Semenjak refleksi jadi penting bagi alien-alien kerja
Perangkat-perangkat mikro yang sayup
Menurunkan volume derum mesin-mesin raksasa

Tiran itu, ya Nyonya Intawa yang mulia,
Telah membangun jala-jala gelombangnya
Memberangkatkan ratusan satelit yang mencoreng-moreng
Kegenitan tak berlawan bulan kita,
Setelah ratusan juta tahun damai

Seru tiran itu,
“Berefleksilah di republik imajiner, hai kau yang cedal!
Hai kau yang disunyikan dalam barak-barak kunoku
Yang masih bersatpam dan bertentara
Dan bersertifikat tanah!
Ini kuangankan parsel terima kasih
Atau anggaplah jamsostek bahkan premi
Berangkatlah, bergila-gilalah, dan beraneh-anehlah
Tapi belilah komputer dulu, lalu pasang telepon,
Dan tanamkan modem dalam-dalam.”

Nyonya Intawa yang mulia, apakah tulisan sejenis ini
Hanya untuk menerangi dunia sekali lagi?

Peringatan Ketiga Belas

Tentu aku berharap bertemu kamu
Dengan baju hitam panjang,
Menyenyumi segala sesuatu,

Namun siapa tahu, itu tak pernah terjadi
Seperti pahit-pahit lain yang aku habisi,
Di halaman belakang rumah,
Di halaman belakang rumah,
Kutitipkan pada asap rumput, akhir mereka

Pernah aku rencanakan sesuatu yang baik bagi kita
Kamu juga begitu, mungkin
Meski dengan cita-cita yang lain.
Sebab aku adalah laki-laki sekali
Tentu aku memikirkan keadaan pikiran, perasaan,
kaki, tubuh, dan tentu mukamu.

Namun siapa tahu, itu tak pernah terjadi
Seperti pahit-pahit lain yang aku habisi,
Di halaman belakang rumah,
Di halaman belakang rumah,
Kutitipkan pada asap rumput, akhir mereka

Peringatan Keempat Belas

Sebelum menang,

Aku mencarinya ke hutan
Melompat-lompat, memilih jalan yang sepi duri tajam
Menerkam lurus dan berkelit pada lanskap rimbun kelam
Kusengaja, kusengaja ini susah, seperti manusia-manusia
Dia tak ada pada kelompok serigala, di rumah apeman, dan
Pondok penyekapan Hensel dan Gretel
Yang sarat kue dan buah-buahan
Tukas si nenek berhidung kunci Inggris,
“Bukan di sini tempat menang!”

Aku menghabiskan panjang hutan,
Menemui kota dagang
Kota pelabuhan, dimana kuli-kuli Afrika menaikkan bola-bola meriam
Ke kapal Diaz, bajak laut karatan
Kuketuk dan kutanyai berurutan semua pintu rumah
Mereka berkata, “Peruntungan tak ada di sini!”
Peruntungan? Aku tak mencarinya
Aku memburu kemampuan,
Aku teruna, belum berpengalaman

Kakek penempa sepatu kuda menawariku teh dan teduh teras gilda,
“Kamu ingin menang, menjadi salah satu langit minimal,
saat di atas langit selalu ada langit, tamuku?”
Aku tak menjawabnya,
“Dari bunyi desir darah ke otakmu, kau tak kalah pintar
Dari mereka yang lama men-tiran
Pada kerajaan yang seharusnya tak perlu beraja, apalagi berdinasti
Kau tak kalah gigih darinya
Tapi lihatlah, tamuku, mereka menciptakan lubang-lubang
Banyak pemuda bersemangat habis di dalamnya
Tamuku, hanya perlu keberuntungan dan sedikit keandalan berteman
Sehingga mereka memberimu peta, untuk datang makan malam
Dan merencanakan pagimu yang segera gemilang”

Peringatan Kelima Belas

Jalan ini bak kawan Afrika raksasa,
Berpanu lurus putus ditengah

Semirip diam aku melepaskanmu
Semuda padi menjemput bulan-bulan lunglai
Aku rekam ini satu hari berselang
Mencicipi ubin kayu di kamar sukawi seorang teman baik
Akankah taring berganti sungut, atau capit?

Peringatan Keenambelas

Akan tiba segera, Potieva, waktu dimana aku harus puas memunguti dirimu dalam serpihan-serpihan perak saja. Serpihan yang capai setelah perjalanan lewat gelombang dan proses rumit dalam kotak-kotak terpartisi yang kita teruna zaman ini nyala dan matikan setiap hari. Virtual, alangkah sedihnya. Untuk student-student yang melekang Hindia pada masa setelah tanam paksa kopi dicabut, yang tak biasa berintim sejauh kita, mungkin ini murni kisah sukses priyayi baru yang indah. Tapi kita, yang dirawat zaman untuk menggencatkan bibir dan berpelukan seperti kera memanjat pohon tinggi, ada sesloki duka tentang diculiknya bagian humaniora modern yang paling memabukkan. Atas nama cita-cita, tentu sedih lepas sedih itu harus minggir.

Aku berfikiran, sebelum malam-malam yang silau terang di kondo, mari saling banyak-banyak membikin pesan. Mari, saling banyak-banyak bertemu dan menyentuh. Kita tak punya waktu banyak, kamu tahu itu. Tapi risaumu tentang kesibukan meraih sarjana dalam 720 jam menikam dendamku yang terakhir tentang sebuah malam yang melinukan bibir dan memegalkan tangan. Atas nama cita-cita juga, tentu kenang-kenangan terakhir harus juga minggir.

Kita segera diberaikan, penuh derai. Sementara waktu yang pasti panjang. Pencobaan percaya yang paling berat, semenjak lima tahun lalu bersepakat untuk menjadi dekat. Kalaupun kita sudah berlatih berpisah pada hari-hari di akademi, aku di kota pelabuhan, dan kamu jauh di pedalaman, ini sungguh baru benar. Bukankah saat itu, pada Jum’at yang senyap, aku selalu bisa menciptakan dendam, bahwa minggu depan toh kamu akan pulang? Kita bisa tetap mengancam. Mendatang? Jangan kirakan. Pada malam Sinterklas bangkit dan kerja lembur, hanya dendam yang benar-benar patah ku bisa, bahwa satu lap lagi bumi mengelilingi sirkutinya, tiba waktu untuk pulang dan menemuimu. Jika itu tiba, semoga aku masih mendapatkanmu siap disana, menemaniku dalam acara menangis bersama.

Ini akan baru benar.

Akan menangisku sesampainya di sana. Demi manusia super yang akan tiba, akan menangisku sesampainya di sana. Meski bulan menjangkau Hindia dan Huamak, menaruh harapan padanya untuk menghantarkan lantakan jantung masing-masing hanya penghiburan diri para tukang kata. Akan menangisku sesampainya di sana.

Apakah kamu juga resah, bahwa inilah prolog awal perceraian yang sesungguhnya, seperti yang aku keringatkan saat ini? Cobalah mencari-cari apa saja yang telah kita perbuat, bersama, ataupun sendiri (tapi kita bagi berdua sesudahnya, di hari minggu dan sabtu yang selalu seru, meski tak semuanya damai). Semoga dengan itu kamu malas untuk membikin cerita baru, dengan karakter yang tak ada aku, tapi dia, yang aku kutuk sebelum ada. Aku pamit.

Jika kamu menerima ini
Dari seorang kawan yang kukutuk,
Buatlah sejuta siulan mencericit di dada
Bukan nada yang panjang, lalu sontak berhenti,
Tapi patah-patah, segegap piston jantung,

Cerita kita, Potieva
Jarang usai…
Sebelum mati,

Phantasmagoria kata
Megalomania cita

menunggu beban

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/03/2009

harusnya yang kutunggu hanyalah kemerdekaan. namun cinta akan beban membuatku berjibaku di tengah pasar. tapi, apakah kemerdekaan hanya bisa diraih di goa dan jalan sunyi? tak ada yang ingin sepi sekaligus tak merdeka.

terlalu lama aku membaca.

12.32

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/11/2009


yang tak pernah pergi,
yang tak pernah benar-benar pergi,
yang terus mendatangi,

ini jalan tak ada mundur.
dan anak buruh pabrik ini tak punya rencana kalah.

jejak-jejak kecil JARimata

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/02/2009

JARimata’s Current Project

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 06/29/2009

Jaringan Masyarakat Transformatif (JARimata) dengan dukungan the International Republican Institute (IRI) berencana untuk mempertemukan anggota DPRD terpilih dengan para pemangku kepentingan di Jatim pada awal Agustus 2009. Demi memampukan kedua belah pihak untuk bekerjasama merumuskan inisiatif kebijakan publik, JARimata menyelenggarakan lokakarya yang relevan bagi kedua belah pihak.

Lokakarya Pemangku Kepentingan Jawa Timur sudah terselenggara dengan sukses pada

Hari/Tanggal : Sabtu & Minggu, 27 & 28 Juni 2009
Tempat : The Empire Palace
Waktu : 09.00-16.00
Fasilitator : Sony Maulana & Angger Jati

Senang sekali bisa bertemu dan belajar bersama kawan-kawan nelayan Puger, UKM seluruh Jawa Timur, aktivis perempuan desa, pengamat dan lain-lain.

Program selanjutnya adalah Forum Dengar Pendapat dan Lokakarya Anggota Dewan. Masih belum diputuskan apakah akan terpisah atau digabung demi budget-wise.

La luta continua! The struggle continues!

Introducing to You the JARimata (Jaringan Masyarakat Transformatif)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 06/19/2009

Institution Profile

A. General Description

JARimata was founded in Surabaya, Indonesia, 2008, as an active expression of deep concerns among a group of young academicians at Petra Christian University on the slow and narrow-spread transformation of East Java society. Starting with Quadrant (2007) whose core service was on consultation for East Java elites, JARimata tries to expand its concerns toward the elite and public domains by means of empowerment and mediation. Empowerment is mainly carried out through self-development and professional development programs. Mediation is manifested by implementing an active, intensive, and continuous assistance. With its campus background, JARimata has in its programs a steady supply of human resources both in numbers and qualifications.

B. Vision

To be one of the most prominent non-formal driving forces of East Java transformation.

C. Mission

1. To provide effective, efficient, and continuous empowerment programs for elites as
well as public in East Java.
2. To implement an active mediation between leadership and public aspiration in East
Java with a clear tendency toward reason and justice.
3. To develop a strong and wide network among public officers and stakeholders

D. Objectives

1. To provide up-to-date, appropriate, cumulative, and continuous workshops and
inseminations for public officers and society.
2. To provide intensive, continuous, problem-solving oriented assistance for public
officers and society.
3. To monitor and to provide continuing education to the participants who volunteer
to be a part of the JaRimata network.

E. Expertise

1. Organizational Development Strategy, including strategic planning, human-resources capacity building, organizational capacity building, organizational performance assessment, etc.
2. Communication Strategy, including communication design, public presentation, campaign strategy, working with media, communication performance asssesment, etc.

F. Organizational Structure

JARimata is led by a Director that is supported by two coordinators such as Program Coordinator and Capacity Building Coordinator. Program Coordinator is responsible for the empowerment and mediation programs being offered to external institutions and individuals. Capacity Building Coordinator assists the Director in administrative matters and internal development of the institution. The holders of the three functions constitute the permanent members of JARimata. JARimata is also supported by a number of facilitators in accordance with the programs’ needs.

Director

Ronny H. Mustamu
Obtained his bachelor degree from Airlangga University, Surabaya, and master degree from the Asian Institute of Management, Manila. Once led the evening daily Surabaya Post as Editor in Chief/Managing Director and the Faculty of Communication Science, Petra Christian University as Dean. Was a member of Indonesia-Sampoerna Best Lecturer of 2007 and a Visiting Faculty at University of Florida (2008). Is a Fellow of LEAD Internasional, London, member of Commission on Education and Communication IUCN, Gland, Switzerland, and member Scientists Without Border, New York.

Program Coordinator

Dwi Setiawan
Graduated from the English Department, Petra Christian University, Surabaya in 2002 and obtained his Master of Arts from Assumption University of Thailand in 2004. Was an I-Zone Adviser at the British Council of Thailand in 2003-2004. Participated in a professional training at the Australian College of English, Sydney, in 2005. Is currently teaching and working as Secretary of Department at the English Department, Petra Christian University, Surabaya.

Capacity Building Coordinator

Gatut Priyowidodo
Obtained his bachelor degree in Political Science from Hasanuddin University, Makassar, in 1992, and master degree in Social Science from Airlangga University, Surabaya, in 1999. Was a Research Fellow at SSRC Universitas Indonesia (2005) and a researcher on the governance sector at Balitbangda Prov. Sumbar (2004-2006). Is currently doing his Ph.D in Communication at the College of Art and Science, Universiti Utara Malaysia (UUM) and working as Head of Center of Communication Studies, Petra Christian University.

G. Experiences and Involvements

In Business:

PT Ispatindo, PT JayKay Files, PT Schering-Plough, PT Wings Surya, Bank BNI, Radio Kosmonita Surabaya, RS Darmo Surabaya, PT Mitra Media Espe, PT Starindo, UKMK under the auspices of PPPI East Java, UKMK under the auspices of PT HM Sampoerna, UKMK under the auspices of PT Telkom Divre V Jatim, etc.

In Organizational Capacity Building:

Kementerian Ristek RI, Selo Soemardjan Research Center Universitas Indonesia, Pemprov/Gubernur Jatim, DPRD Jatim, RS Siti Hajar Sidoarjo, Rotary International District 3400 Indonesia, Balitbang Provinsi Sumbar, Dinas Koperasi dan UKM
Kota Padang, etc.

In Human-Resources Capacity Building:

Direktorat Keairan Departemen PU, Dinas Pendapatan Propinsi Jatim, Pemkot Surabaya, Dinas Pendapatan Pemkot Surabaya, PKK Kota Surabaya, PDAM Surabaya, Surabaya Academy, Pascasarjana Universitas Airlangga, Pascasarjana Universitas Dr. Soetomo, Universitas Merdeka Malang, Universitas Brawijaya, John Roberts Power, Departemen Agama Sumbar, Pemda Tanah Datar, etc.

In Communication Strategy:

PDI Perjuangan Sumbar, The Bubu Center Sidoarjo Jatim, PBR Sumbar, PDK Sumbar, PDI Perjuangan Jatim, training programs for legislative candidates in General Election 2009, training programs of International Republican Institute (IRI) in eight provinces (NAD, Sumut, Sumbar, DIY, Jatim, Bali, Sulsel, Maluku), training programs of Pusham Universitas Airlangga, training programs of Puskakom Surabaya, etc.

H. Contacts

Jaringan Masyarakat Transformatif
PO Box 4265/SBS, Surabaya 60400
Jl. Durian I/D-104, Pondok Tjandra Indah, Sidoarjo 61256
Phone : 62 31 7076 9929
Fax : 62 31 867 2797
e-mail : jarimata.transonet@gmail.com
website : http://jarimata.110mb.com

Radiogram JSI: Mei 2009

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 05/15/2009

Selamat Hari Pekerja Sedunia 01 Mei 2009. Mari berharap dan berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.

Selamat ulang tahun untuk Ibu Flora D. Floris (02 Mei 2009). Semoga Ibu senantiasa
dikepung oleh kebahagiaan dan cinta kasih.

Selamat berjuang bagi Bapak-Ibu sekalian yang tergabung dalam Panitia Konferensi
Internasional Media in a Fast-Changing World, 7-9 Mei 2009, Bali. Sudah begitu banyak
yang sudah kita sudah kerjakan bersama sejak awal 2008. Tak terbilang lagi kejerihan,
kekesalan, kegusaran, dan kelelahan yang berkelindan. Dan ini lah kita, masih ADA, masih SATU, dan, tentu saja, masih TAK SUDI MENYERAH. Hard Rock Hotel, here we come! Hungry and sleepy. Zzzz….zzz…zzz.

Dan dalam hitungan beberapa jam lagi, sebagian besar dari kita akan menggempur Bali dari darat (naik travel), laut (naik feri), dan udara (yang bayar sendiri hehehe). Mari menjadikan apa yang sudah kita lakukan berarti dengan membangun akhir yang manis. Bagi yang tidak berangkat, we won’t let you down. Selamat berkarya di the legendary B Building. Titip rindu buat mahasiswa.

Selamat berbagi ilmu bagi Bapak-Ibu Dosen yang pernah berangkat seminar/workshop di luar kampus. Mohon maaf jika Jurusan belum bisa menyelenggarakan bulan lalu karena kesibukan. Jangan lupa minggu ketiga bulan ini. Daftar akan kami kirim secepatnya.

Selamat bekerja bagi Pak Jokri dan Panitia Seminar Youth Lifestyle. Jika tak ada aral
melintang, seminar ini akan dilaksanakan pada akhir Mei 2009. Yang seru: seminar ini
diisi oleh mahasiswa sendiri sebagai pembicara.

Agenda JSI: April 09

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/22/2009

Bulan April akan menjadi bulan yang cukup padat-merambat bagi JSI. Pada tanggal 2 April JSI, pukul 09.00-11.00, JSI akan mendapatkan kunjungan dari seorang penulis Amerika yang bernama Valerie Miner (www.valerieminer.com). Madam Miner akan memberikan kuliah umum yang bertajuk “American Creative Writing Programs and Pedagogy”. JSI akan mewajibkan seluruh mahasiswa kelas Sastra dan dan Writing 3-5, kecuali mereka yang kebetulan kuliah pada waktu yang sama. Free of charge. Mohon
disebarluaskan kepada mahasiswa.

Antara 5-11 April, JSI akan menerima lawatan dari salah seorang alumni kebanggaannya yang bernama Soe Tjen Marching. Beliau akan hadir dan berbagi pemikiran dengan para dosen JSI tentang “Intepretasi dan Studi Sastra di Indonesia”. Kami masih harus menentukan waktu yang paling sesuai karena kebetulan minggu tersebut adalah minggu sibuk nasional (pemilu, libur paskah, dll). Mungkin ada usulan waktu? Terima kasih kepada Bu Liliek yang sudah menjadi penghubung.

Pada tanggal 24 April, JSI akan mengadakan Workshop Sehari Penulisan Artikel. Workshop ini akan diberikan oleh Bapak Harry Baskara, Editor Senior The Jakarta Post, dengan didukung oleh beberapa dosen mata kuliah Writing. Workshop ini akan diwajibkan bagi mahasiswa Writing 4 & 5. FYI, mahasiswa IBM akan mengikuti workshop ini juga. Akan kami sampaikan detilnya secara terpisah. Terima kasih kepada Pak Jusuf yang telah mengusulkan dan mengarahkan lokakarya ini.

Pada tanggal 25 & 26 April, PLT akan menghela Spotlight Drama Competition. Kompetisi ini akan diikuti lebih dari 20 SMU dari berbagai daerah. Mari kita berikan dukungan penuh sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Yang bisa menjuri, silakan menjuri. Yang bisa memotivasi, silakan memotivasi. Yang bisa menonton, silakan menonton. Dan seterusnya. Salut untuk Bu Meilinda dan PLT!

Dan, akhirnya, Mediacon 09! Masa pengumuman artikel, pendaftaran awal, dan penjadwalan telah berakhir dengan baik. Bulan ini kita akan disibukkan dengan survei, benda-benda cetak, dan penambahan peserta. Tetap semangat dan bekerja dengan penuh kegembiraan. Apresiasi setinggi-tingginya untuk Bu Esther dan semua.

5 hal luar biasa penting dalam 10 hari terakhir

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 03/18/2009

1. dapat pembantu baru dari jombang. namanya…lisa…cieee…hehehe. katanya kalau di rumahnya dipanggil ‘lis’ atau ‘isah’. ya ampun, lisa, kami turut prihatin dengan rendahnya apresiasi orang-orang di kampungmu. keluarga setiawan sangat bangga denganmu (dengan namamu, lebih tepatnya).

2. tuan dewey setiawan bermalam lagi di hotel petra. a tribute to oasis: “so al start a revolution from my bed”. ya, aku baru saja meluncurkan sebuah revolusi dari kasur hotel petra. sebuah logika baru. bahwa SEMAKIN DEKAT, SEMAKIN TELAT. tidur dengan jarak kurang lebih 20 meter dari kantor tak membuatku datang lebih pagi. nyampe kantor malah jam 11. salut.

3. setelah tertunda selama jutaan tahun perang dan damai, listrik di rumah akhirnya diupgrade menjadi 1.350. apa artinya? artinya tak lama lagi, jika tak terjebak kembali dalam romantika udara tropis, tuan dewey setiawan akan menginstall air con dalam kamarnya. apa artinya? artinya besar kemungkinan tidurnya akan menjadi lebih nyenyak dan…semoga tidak lebih terlambat lagi datang ke kantor. kata-kata adalah mantra.

4. tuan dewey setiawan telah menyelesaikan surat rekomendasi untuk DIRINYA SENDIRI. dalam rangka mengejar impiannya menikahi gadis putri kepala suku indian, tuan dewey setiawan berencana untuk memburu beasiswa ke negeri pocahontas. salah satu syaratnya adalah sebuah surat rekomendasi dari orang besar. tuan dewey setiawan telah menghubungi salah satu idolanya untuk melaksanakan misi suci ini. seperti kebanyakan orang sibuk yang lain, beliau meminta tuan dewey setiawan untuk merancang surat tersebut sendiri dulu. beliau akan memeriksa dan melakukan perbaikan sebelum menandatanganinya. secara khusus, beliau akan meninggikan diri tuan dewey setiawan jika yang bersangkutan terlalu merendahkan diri. perlu diketahui, beliau berhubungan dekat dengan tuan dewey setiawan ketika masa-masa sang tuan masih rendah hati. hehehe.

bagaimanapun, bahkan setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini, tuan dewey setiawan masih merasa aneh memuja dan memuji dirinya sendiri. tapi itu sebelum semangat menghargai diri kembali menyerangnya tanpa ampun. yang terjadi selanjutnya adalah kekalapan belaka. tuan dewey setiawan menemukan dirinya kesulitan untuk berhenti. bahkan ketika sudah mencapai halaman ke lima.

5. kakakku mendapatkan panggilan tes kerja. ah, tak ada yang lebih penting dari ini. we all love you and wish you the very best of this interesting life.

soal rambut

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/11/2009


jika kalian merasa tiba-tiba mengalami waktu yang buruk, tiba-tiba semua urusan jadi lebih kacau dari biasanya, sementara setelah penilaian obyektif tak ada yang benar-benar menyerang atau menyabotase kalian, mungkin sudah waktunya untuk potong rambut. ah, bukannya aku tak pernah mengalami ini sebelumnya. aku hanya tak pernah meluangkan waktu untuk memikirkannya, karenanya, tak menemukan pola atau mencurigainya. dan kubutuhkan waktu sekitar 29 tahun hanya untuk menyadari hal konyol semacam ini.

senang sekali bisa bertemu dengan tukang potong rambut langgananku di depan balai desa setelah hampir dua bulan. kumisnya masih selebat hutan amazon. genitnya masih tak tertolong. stasiun radio favoritnya belum juga berubah. pertanyaannya juga sama dan sudah kujawab puluhan kali. cerita tentang anaknya yang paling besar yang diterima kerja di giant. tentang anak bungsunya yang gemuk dan suka jajan pluntir. sudah lama aku meninggalkan perasaan diistemawakan. dia pasti sudah menghafalnya dan sudah menyampaikannya ke ribuan orang. dedikasi total untuk sebuah profesi. pemahaman yang dalam akan industri jasa. untuk itu aku sangat mengaguminya dan merelakan diri melewatinya sekali lagi.

kali ini dia bahkan memberikan bonus. dengan kegenitan yang jantan. dengan kejantanan yang genit. menjanjikanku resep tahan lama dan cepat punya anak jika sudah menikah nanti. dengan gaya tukang obat yang sudah kuhafal, dia mengatakan bahwa ini sangat rahasia dan hanya bisa diberikannya saat aku sudah menikah nanti. jika tidak, bisa berbahaya. oh, kenapa teknik sok rahasia ini lagi? mungkin dia tak percaya dengan senyumku. dia lalu menyebut nama salah satu kawanku yang telah membuktikan keampuhan resepnya. memang kawanku itu baru saja punya anak. aku menggigil menahan tawa. bukan menertawakannya. aku cuma jadi merasa tahu rahasia konyol kawanku yang kebetulan sangat menjaga wibawanya.

aku pulang dengan kelegaan. tentu saja karena potong rambut itu sendiri. selain itu karena silaturahmi. bukan soal resep itu tadi.

novel dengan huruf kecil

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 02/08/2009

hadoh. lama ngga ngeblog jadi capek-capek nech…hehehe. akhir-akhir ini lebih sering katarsis (halah) bersama si pie. padahal kalo dilihat dari kegiatannnya yach…ngga penting-penting amat. paling kalo ngga nelpon ya jalan-jalan bentar mencari hujan (btw, texting sudah ngga semenarik dulu. paling untuk mengisi waktu antara satu telpon ke telpon selanjut. istilahnya pance f. pondaag, cuma “sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara”. hahaha). seperti aku bilang sebelumnya settingnya ngga terlalu penting lah. mau di gunung, lembah, warung, teater, pesta, facebook, ym, dan seterusnya, ngga masalah. yang penting tokoh dan plotnya…hehehe. seberapa meriah diri kami. we are the party! selain itu juga seberapa sering kami perang-perangan. kalau perlu kami yang harus menciptakan konflik sendiri (hang on tight, pie…hahaha).

ah, hidup memang tak ubahnya sebuah novel yang seru. hanya dengan lebih banyak bagian yang membosankan. tapi ini pun perlu. untuk pengendapan. untuk perencanaan. untuk mengendurkan kabel-kabel dekat kepala. selain itu, dalam hidup ini sang tokoh bisa dan seharusnya menjadi penulis ceritanya sendiri. ini bukan ilusi kebebasan. aku tahu tentang betapa terbatasnya pilihan. namun pada akhirnya aku lah yang memilih. kebebasan dalam keterbatasan. halah. hehehe. dan aku selalu berusaha untuk memilih. jika aku tak memilih, seseorang akan melakukannya. dan orang secongkak aku terlalu sulit untuk menerimanya. hahaha.

suatu hari aku ingin menulis seperti ini:

ini cerita pembangun sebuah dinasti
dan kerap kali dia tulis sendiri

kabelwan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/24/2009

saat terjebak dalam keruwetan menarik-masukkan kabel ke liang usb tadi pagi, aku baru menyadari betapa dekat hidupku dengan kabel. sidang pembaca yang terhormat, izinkan saya memperkenalkan BEBERAPA di antara mereka:

1. kabel data ponsel
2. kabel charger ponsel
3. kabel handsfree ponsel
4. kabel data kamera
5. kabel charger kamera
6. kabel ethernet
7. kabel charger notebook

dan aku masih harus menahan diri untuk tak menyebut kabel yang lebih dulu mengepungku semacam kabel tivi, lampu belajar, kipas angin, rice cooker, discman, dan seterusnya. sedikit atau banyak, mau tak mau, bangga atau benci, aku harus mengaku bahwa kabel juga membentuk hidupku. paling tidak seberapa sering aku mengeluarkan kata-kata kotor juga, seperti tadi pagi.

mungkin kabel mempunyai tempat yang istimewa dalam hidup kalian juga. aku berani bertaruh siapapun kalian yang membaca ini mempunyai hubungan intim dengan kabel juga. hey, bukankah kalian kelas menengah yang mampu dan merasa perlu bermain internet, yang membutuhkan komputer dan modem, yang kemungkinan besar juga punya ponsel, yang suka menghiasinya dengan software unduhan dari internet, yang juga punya kemampuan membeli kamera digital, yang suka memamerkan hasilnya di facebook?

pie,

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/18/2009

kita bermufakat saat aku tengah jemu dengan puisi, prosa, dan drama. aku tahu kegemaranmu pada ironi. jadi anggaplah ini sebagai semacam dokumen. aku belum menentukan dengan cermat apakah ini kabar baik atau buruk bagimu. dan aku juga tak akan meminta maaf seperti yang lazim kulakukan di zaman-zaman yang lebih gelap. tentu saja ini karena aku juga tengah bosan meminta maaf. tapi paling tidak kamu tahu ini, dan ini bisa menyelesaikan beberapa pertanyaan yang mungkin melompat di saat mengaso.

demikian juga aku tak pernah mengajakmu berkendara mencari hujan, seperti dengan mereka yang berhati mulia. jika aku pernah menyesal dan khawatir, itu hanya ketika aku merasa membuat mereka terkena pilek dibanding bermain-main dengan hati-hati mulia. aku selalu bertaruh dengan sekeras-kerasnya atau tidak sama sekali. andai saja aku adalah petaruh yang bijaksana, tentu aku sudah bisa menghias diriku seklimis raja salomo di hari-hari tuanya. tentang remeh-temeh dan keributan di luar, aku cuma bisa mengatakan kehidupan tengah melukai mereka, dan mereka tengah berjuang untuk melewatinya. untuk ini kamu harus banyak maklum dan berdoa.

dan, lihatlah, kali ini hujan yang mencari kita. hujan menderu-deru seperti kekasih yang pencemburu. namun serahkan masalah ini pada lebar badan, baik harafiah maupun kiasan. aku akan menghalanginya seperti bukit. aku akan membuatmu sekering kulit ayam sang kolonel. dan betapa beda dirimu. betapa nyalangnya. betapa sederhananya kita. jika ada yang menjahitmu dengan yang sudah-sudah, aku sekedar bisa menjelaskan bahwa aku sering tumbuh di masa-masa basah.

mario puzo tak berlibur tahun ini

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 01/03/2009


liburan kali ini membuatku lebih mahir dalam bercakap-cakap lewat telpon & pesan singkat dan menyanyi (waks). di sela-sela kegiatan-kegiatan penting itu, aku menikmati novel-novel hebat mario puzo. ya, ya, ya, laki-laki sekali. tapi rasanya semakin penting untuk menjadi ‘laki-laki’ di dunia yang semakin ‘politically correct‘ dan karenanya membosankan.

banyak orang tertarik melihat film karena terpukau dengan novel darimana film tersebut didasarkan. tak sedikit juga orang yang tertarik membaca novelnya setelah melihat filmnya. tentu saja perkenalanku dengan novel-novel mario puzo berawal dari trilogi film the godfather. salah seorang kawan di thailand dulu memberiku trilogi itu sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-22 (thx again, sista). aku begitu menyukai trilogi itu dan tak pernah bosan melihatnya. demikian kagum terhadap film-film itu, sampai-sampai aku mencari, mengunduh, dan membaca script-nya. dialog yang kuat. aforisme yang menarik. aku selalu suka aforisme (alasan yang sama kenapa aku menyukai tetralogi bumi manusia).

pembacaanku terhadap script-script itu semakin membuatku semakin menyukai film itu. pada saat yang sama aku semakin ingin membaca novelnya. mencari novel the godfather bukanlah hal yang sulit, bahkan di surabaya. tapi karena satu dan lain hal aku selalu urung membelinya (soal kapital biasanya hehehe). yang kuratapi sampai saat ini adalah kenapa tak pernah terlintas di benakku untuk mengunduhnya sebelum liburan ini. padahal sudah hampir satu tahun ini aku mengurangi kunjunganku ke gramedia dan doyan mengunduh e-book, mulai dari yang amat sangat tidak penting seperti biologi evolusioner sampai yang luar biasa gawat seperti khasiat temulawak bagi kesegaran kulit.

dan malam itu betul-betul efifanik. setelah menutup telpon dari seorang kawan yang tidak lazim, tiba-tiba aku langsung teringat pada novel the godfather dan teringat bahwa aku punya kesempatan 100 persen untuk menemukannya di internet. tidak berhenti dengan the godfather, aku juga mengunduh tiga novel maria puzo lainnya: the sicilian, the last don, dan omerta. aku sudah menyelesaikan the godfather dan the sicilian dan tengah membaca the last don. omerta, yang berarti sumpah bisu, akan menjadi penutup yang cantik.

yang pasti aku tak akan melakukan omerta. aku akan bercerita sedikit-sedikit tentang apa yang baru kubaca di entri selanjutnya.

bertemu tokoh idola

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/26/2008

dan aku hampir tak percaya aku tengah duduk berhadap-hadapan dengan salah satu otak terbesar di zaman kita. beliau jauh lebih flamboyan dari fotonya. sebenarnya ini bukan pertemuan pertama kami. dulu beliau pernah berkunjung ke kampusku saat aku masih menjadi mahasiswa dekil. saat itu aku hanya bisa memandanginya dari jauh.

beliau tak suka asap rokok. aku bersyukur aku sudah meminta pelayan untuk membereskan sisa-sisa korban bakaranku beberapa menit yang lalu. di dekat meja kami duduk beberapa komandan serdadu yang tengah mengawasi simulasi pembajakan di lobi hotel ini. asap rokok mereka berulang-berulang melanggar meja kami. ini mengingatkannya pada rapat para jendral di film g30s/pki. membawa ingatannya kembali pada kearoganan para serdadu di negeri orwellian ini, selain kumis tentu saja. iseng-iseng kuingatkan bahwa anggota komite sentral juga para perokok yang tangguh.

beliau alergi susu. katanya sudah dua hari ini rawat jalan ke toilet. padahal sudah ke klinik hotel malam sebelumnya. ini sebenarnya masalah lama yang beliau paham betul. cuma dua hari sebelumnya beliau melakukan uji nyali di kampung halamannya. kalap melihat susu segar. beliau meminta maaf jika tak bisa menemaniku lama-lama dan menerima ajakanku untuk berjalan-jalan.

namun beliau mencintai deodoran. saat keresahannya dengan dewan jendral di samping kami memuncak, beliau mengajakku pindah. aku menawarinya untuk pindah ke kafe di samping hotel. saat hampir sampai ke kafe itu beliau baru menyadari bahwa kafe itu merupakan bagian dari pusat perbelanjaan. tiba-tiba beliau mengurungkan niatnya untuk bertengger di kafe itu dan mengajakku mencari deodoran. armani, kenzo, atau boss. soal merk tentu sudah bukan masalah di kota yang makin kosmopolitan. yang jadi soal adalah jenisnya. beliau ingin deodoran yang spray, bukan roll-on atau stick. ini sempat membuat kami hilir mudik. sempat membuat beliau lupa dengan anjuran dokter. sempat membuatku lupa bahwa aku tengah berjalan bersama tokoh revolusioner.

the kere on trip

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 12/01/2008


sebenarnya banyak sekali yang ingin kuceritakan seputar perayaan ultahku tahun ini. tapi karena sudah kehilangan momen jadi agak malas. yang pasti tak kalah menyenangkan dibanding tahun-tahun sebelumnya. jika dua tahun terakhir aku merayakannya dengan keluarga dengan pergi ke bukit, tahun ini aku merayakannya dengan the kere, sindikat pemuja kenaikan gaji di tempat kerjaku. mertua kakakku tengah sakit keras. jadi kami khawatir terjadi apa-apa waktu kami di sana. sebagai gantinya kami makan-makan sekeluarga di waru.

the kere berangkat ke arca cottage, trawas, hari sabtu tanggal 22 desember. semua kererian datang lengkap dengan istri dan anak masing-masing kecuali pak boas dan kris. pak boas harus menunggu pak de-nya yang lagi opname sementara kris tak sreg jika berangkat tanpa istrinya, yang terlanjur mengikuti kegiatan lain. berikut adalah daftar hadir peserta the kere on trip:

1. pak anton, mbak meyna sang istri, dan arnold sang anak
2. agoes, meyta sang istri, dan valiant sang anak
3. adrie, mbak marina sang istri, dan uriel sang anak
4. marlon, mbak anita sang istri, dan martha sang anak
5. coy, mbak henny sang istri, tanpa anak
6. dewey, tanpa istri, tanpa anak (saknone arek iki, pek)

penderitaanku sebenarnya akan berkurang jika saja pak boas ikut. beliau ini statusnya lebih menarik dari statusku. tak ubahnya lagu ricky likur pedangdut mesum yang, puji tuhan, sudah tak pernah nongol di tivi lagi:

“dibilang bujang, aku punya istri
dibilang suami, aku bobok sendiri”

untuk menggotong kererian sak brayate ini kami harus menggunakan dua mobil. satu kami sewa, satu lagi punya sendiri. makanan kami siapkan sendiri. terima kasih khusus kepada mbak henny yang sudah mengatur logistik.

acaranya mengharukan sekali. sangat menyentuh sanubariku yang paling dalam. di antaranya adalah: makan, ngopi, tidur, karaoke, makan lagi, gitaran, makan lagi-makan lagi, ngebir, gitaran lagi, nyolong kembang, ngebir lagi, tidur, ngopi lagi-ngopi lagi, makan, baru mandi, bakar ikan, ngebir lagi, lagi, dan lagi, makan, minta kembang ke yang jaga (padahal sudah nyolong), dan pulang.

sampai jumpa tahun depan, brah!

Sou Yeon

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/21/2008


Sou Yeon sebenarnya hanyalah sejarah pribadi yang sedikit lebih dari biasa. Sebelum pertemuan kami, aku adalah seorang pria yang hanya mempunyai bayangan, dan karenanya, berusaha dengan keras untuk mencintainya. Entah oleh sebab apa, perjumpaanku dengan perempuan yang benar-benar kusukai tak pernah memberikan kesempatan bagiku untuk mencintainya dengan seganas-ganasnya. Biasanya pertemuan itu terjadi di tempat atau dalam situasi yang tak membolehkanku untuk menghampirinya, mengajaknya berkenalan, bercakap-cakap, merayu, dan seterusnya, seperti halnya di jalan atau dalam perjalanan.

Tapi Sou Yeon memberiku apa yang belum pernah aku punyai. Kami bertemu di sebuah kelas yang tak penting di sebuah negeri yang janggal. Kesempatan itu ada, jika tidak bisa dibilang berlimpah. Dan yang utama, aku menyukainya. Bukan karena alasan-alasan menarik yang kerap dibikin orang pintar, tapi karena dia rupawan. Itu saja. Tidak kurang, tidak lebih. Tak perlu kulukiskan secara khusus di sini sebab kecantikannya rasa-rasanya tak perlu lagi didiskusikan, apalagi diperdebatkan. Jika hatimu bergetar saat melihat film-film cengeng oriental, kau pasti bisa membayangkan sendiri sosoknya.

Aku tak langsung memperhatikannya pada pertemuan kami yang pertama. Waktu itu aku masih terlau bingung. Baru tiba dari bandara, langsung masuk kelas, menerima pelajaran dan menemukan tak satupun dari kawan-kawan sekelas berasal dari negeriku. Dan kebetulan 6 dari 8 perempuan yang ada dalam kelasku cantik semua. Aku agak bingung harus membayangkan dengan yang mana. Baru pada keesokan harinya aku mulai memiliki bayangannya. Hari itu aku sudah cukup beradaptasi dengan kehidupanku yang baru. Kesadaranku mulai pulih seperti sedia kala. Pelan-pelan aku mulai bisa memilah bahwa dia yang tercantik di antara yang cantik-cantik di kelas kami, dan mulai memikirkan yang tidak-tidak. Apa yang kubayangkan, meskipun seru, bagiku, mungkin tak menarik untuk kugelar di sini.

Tak ada kemajuan berarti sekitar tiga minggu sesudahnya. Kami hanya saling menyapa setiap pagi dan berpamitan ketika pulang. Tapi pada saat yang sama kami sebagai kelas bertambah akrab. Untuk kali pertama kami membikin janji untuk bertemu di kota di akhir pekan dan menghabiskan malam di sana. Sekolah kami memang berada di suburbia. Dari seluruh penghuni kelas kebetulan hanya aku dan Sou Yeon yang tinggal di dekat sekolah. Yang lain tinggal di kota dan beberapa tinggal di suburbia lainnya. Kawan-kawan meminta Sou Yeon untuk berangkat bersama denganku sebab aku belum pernah sama sekali ke kota. Sou Yeon sudah hampir satu tahun tinggal di negeri itu dan ratusan kali ke kota.

Kami berjanji untuk bertemu di stasiun kereta bawah tanah pada pukul 4 sore. Sou Yeon membimbingku naik ke tingkat dua, memilih kursi, mempersilakanku duduk sebelum kemudian duduk di sebelahku. Itulah kesempatan pertamaku untuk berdua-duaan dengannya. Meski tahu betapa pentingnya kesempatan itu, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sebab aku memang tak mahir merayu perempuan. Maka aku berusaha mengajaknya bicara seperti yang sudah-sudah sebab cukup sulit mengharapkannya memulai pembicaraan. Cuma karena kali ini bukan dalam situasi diskusi kelas, topiknya secara otomatis lebih bersifat pribadi.

Aku bercerita tentang hal-hal yang menyangkut diriku. Dia sendiri hanya tersenyum, mendengarkan dan kadang-kadang memberi semangat dengan ya, ya, dan ya. Ini lama-kelamaan membuatku merasa bodoh sendiri. Sou Yeon pasti berfikir aku tengah membual tentang kehebatan-kehebatanku. Jangan-jangan di negeri Sou Yeon ada juga peribahasa semacam tong kosong nyaring bunyinya atau air beriak tanda tak dalam. Karena ketakutan itu, aku berusaha berbicara sesedikit mungkin semenjak kami turun dari kereta. Ini berlangsung terlalu jauh hingga aku merasa sudah tak nyaman untuk kembali berbicara padanya.

Demikianlah sampai kami bertemu dengan kawan-kawan yang lain di resto barbekyu. Sepanjang sore itu aku malah memilih duduk bersama kawan-kawan perempuan yang lain. Seperti di dalam kelas, aku kembali menjadi pusat perhatian mereka sebab aku satu-satunya yang berbeda dari mereka dan karenanya lebih aneh di banding yang lain. Untuk menunjukkan penghargaan, kujawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan seantusias mungkin.

Sebenarnya aku kembali merasa khawatir. Sou Yeon, yang duduk di ujung meja dan sesekali melihat ke arah kami, pasti menganggapku berkepribadian ganda. Mengingat kesalahan-kesalahan itu, kuputuskan untuk tak lagi memikirkan bagaimana untuk membuatnya terpesona malam itu. Jelas, malam itu bukan malamku. Yang kupikirkan kini hanyalah bagaimana melewatkan malam itu dengan kehancuran sekecil-kecilnya.

Setelah puas dengan barbekyu, kami bergerak dari satu bar ke bar yang lain, dari tengah kota sampai ke seputar pelabuhan. Ketika kami membubarkan diri malam sudah benar-benar hitam. Sudah tak ada kereta lagi ke tempatku dan Sou Yeon. Kami harus menunggu sampai pagi. Ketika kawan kami yang terakhir melambaikan tangan, rasanya aku ingin melompat ke air dan bertemu jutaan ubur-ubur penyengat di sana. Peran apa yang harus kumainkan kali ini? Apakah aku harus menjadi ceria, seperti ketika pertama kali berbicara dengannya di atas kereta dan ketika bersama kawan-kawan tadi? Atau menjadi sosok yang muram, seperti ketika kami meninggalkan stasiun dan menuju ke resto barbekyu tadi?

Sou Yeon sendiri juga tampak gugup. Setelah berusaha keras menguasai dirinya, dia tersenyum dan menunjuk arah kembali ke kota. Ini membantuku memutuskan peranku. Kupikir jika Sou Yeon tak berbicara dan hanya menggunakan bahasa tubuh, kenapa aku harus? Yang penting aku harus konsisten kali ini. Kami berjalan berdampingan cukup lama, membelah sebuah taman yang luas dan menyusuri trotoar yang mulai sepi sekitar lima blok. Di depan sebuah kafe di sudut persimpangan blok ke enam, dia berhenti, berputar-putar sebelum kemudian melihatku sembari menunjuk ke dalam. Aku mengangguk.

Kami masuk dan langsung berjalan ke arah salah seorang pelayan. Sou Yeon dan aku masing-masing memesan segelas coklat hangat dan secangkir kopi hitam panas.
Sou Yeon mengambil majalah gosip dan berjalan ke sebuah meja. Kuambil sebatang rokok, memperlihatkan padanya, dan menunjuk keluar. Sebenarnya aku tak begitu ingin merokok. Cuaca di luar terlalu dingin. Aku hanya sekedar menunda kekikukan meskipun tahu cepat atau lambat aku harus menyerah. Kuhabiskan semua batang yang ada. Kepalanya yang suntuk pada majalah di depannya perlahan mendongak saat merasa bahwa ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Dia tersenyum ketika menemukan mataku di depannya.

Kubalas senyumnya. Kuambil kursi di depannya. Dia kembali menekuni ke majalahnya, sedang aku tak tahu harus berbuat apa. Sempat terfikir untuk mengambil majalah yang lain, namun ini sama dengan menunjukkan bahwa aku, selain pembual dan berkepribadian ganda, juga seorang pengekor. Sekali lagi Sou Yeon menyelamatkanku. Dia menyorongkan majalahnya ke arahku. Ternyata dia tengah mencari 10 perbedaan dalam dua gambar. Teka-teki kanak-kanak. Sou Yeon baru menemukan tiga perbedaan. Dia mengundangku untuk membantunya. Tak lama kemudian aku sudah lupa pada peran murungku. Kupikir pergantian ini tak terlalu memalukan sebab dia yang memulai duluan. Dengan lantang kudikte jawaban demi jawaban teka-teki itu. Kebanggaan menyelinap dalam dadaku, membayangkan betapa kagumnya Sou Yeon dengan kecermatanku.

Saat aku menunjuk perbedaan kedelapan, Sou Yeon tiba-tiba bertanya padaku apakah aku memperhatikan laki-laki dan perempuan yang tadi duduk di sebelah kami. Kujawab aku bahkan lupa apakah ada orang di sekitar kami tadi. Kata Sou Yeon mereka berasal dari negerinya. Tapi rupanya mereka tak tahu itu. Pasangan itu ternyata berbicara tentang masalah yang mereka hadapi di ranjang. Si pria suka menangis setiap kali klimaks datang dan si perempuan sangat terganggu dengan itu. Kami tak bisa tak tertawa membayangkannnya.

Tawa Sou Yeon masih berderai-derai ketika aku sudah membisu kembali. Aku baru menyadari sesuatu. Sesungguhnya bukan aku yang cermat, tapi dia yang tak mempedulikan teka-teki itu. Sou Yeon tampaknya melihat perubahan pada diriku karena dia tiba-tiba juga menghentikan tawanya. Suasana menjadi aneh seperti semula. Sou Yeon pelan-pelan kembali lari ke majalahnya. Aku sendiri tak tahu harus lari ke mana.

Menyerah, aku bangkit, berjalan ke rak majalah, dan kembali dengan sebuah majalah di tangan. Saat kutaruh di atas meja, aku baru tahu bahwa itu majalah pria eksekutif muda. Gambar demi gambar perempuan seksi memenuhi halaman-halaman depan namun tak ada satupun yang menarik perhatianku. Kemudian masuk ke halaman-halaman wawancara dengan seorang CEO muda yang sukses dalam kehidupan dan cinta. Yang ini malah membikinku sakit hati.

Tiba-tiba ada yang berbicara denganku. Aku menoleh ke kiri, ke kanan, dan ke belakang sebelum meyakinkan diri bahwa Sou Yeon lah berbicara kepadaku. Akhirnya. Aku meminta maaf dan memintanya mengulang kata-katanya. Ternyata Sou Yeon bertanya padaku apakah aku mempunyai kisah memilukan dalam hidupku dan bagaimana hancurnya perasaanku saat itu. Bagiku membikin cerita semacam itu tak terlalu susah. Aku bahkan tak perlu mengarangnya karena toh cerita hidupku adalah cerita laki-laki yang kerap dilukai oleh kehidupan.

Aku sengaja menghela nafas dan kemudian tersenyum kecut. Dia bertanya padaku apa yang terjadi. Kujawab tak ada apa-apa, namun dengan tetap memelihara kekecutan itu. Umpanku termakan, dia jadi sangat penasaran. Dengan setengah memaksa, dia bertanya sekali lagi pertanyaan yang sama. Dan mulailah aku bercerita tentang…KODOK.

Kodok mengingatkanku pada kisah sedih masa kecil yang selalu menghantuiku sampai sekarang. Aku lahir di desa padi. Keluargaku cukup terpandang di desaku. Bapakku orang pertama di desaku yang berprofesi sebagai pegawai kantor. Yang lain adalah tuan tanah atau petani penggarap. Memang kami tak sekaya para para tuan tanah, tapi kami unggul dalam soal pendidikan dan gaya hidup.

Kawan-kawanku kebanyakan adalah anak-anak petani penggarap. Hubungan kami seperti hubungan bapakku dan bapak-bapak mereka. Mereka selalu ingin menyenangkanku dan menuruti kata-kataku padahal aku sendiri tak pernah pusing dengan mereka dan kata-kata mereka. Seperti Frodo dan kawan-kawannya. Yang paling dekat denganku adalah Sokran. Kami seperti tak terpisahkan. Bermain, belajar, makan, dan tidur bersama-sama. Salah satu kegemaran kami adalah berburu kodok di sawah, terutama setelah hujan. Sebenarnya yang berburu adalah Sokran. Yang makan juga dia dan keluarganya. Aku hanya berteriak-teriak seperti mandor dan kadang-kadang membantu membawa kodok-kodok hasil tangkapan Sokran. Yang aku gemari hanyalah ketegangan menyaksikan Sokran mengintai dan menjebak kodok-kodok itu.

Suatu saat, saat kami berpamitan sebelum berangkat berburu di sawah, ibuku berpesan padaku dan Sokran untuk membawa pulang ke rumahku beberapa kodok. Sebelumnya beliau tak pernah meminta hal serupa. Sokran tampak bersemangat ketika mengiyakan permintaan ibuku. Baginya itu adalah kesempatan untuk menyenangkan hati orang tuaku. Namun pada hari itu kodok-kodok seperti enggan keluar rumah. Kami sudah menjelajahi hampir seluruh sawah desa namun baru tiga kodok yang terlihat dan cuma satu yang tertangkap.

Saat terdengar adzan maghrib, kami sudah hampir kembali ke tempat kami memulai perburuan tadi. Hasilnya tetap tiga kodok terlihat dan satu tertangkap. Kuajak Sokran untuk bergegas pulang. Dengan sopan dia menjawab sebentar lagi. Baru kali itu dia tak menuruti kata-kataku. Namun aku tak marah sebab, dia melakukannya demi kesenangan orang tuaku. Sokran memintaku untuk naik ke dekat sungai kecil dan menunggunya di sana. Tapi Sokran tak pernah menyusulku. Tubuh mungilnya tersengat listrik yang dialirkan ke sawah desa setiap usai adzan maghrib untuk membunuh hama tikus. Semangatnya menyenangkan orang tuaku telah membuatnya lupa pada jam listrik. Aku sendiri lupa tanpa alasan.

Aku tak tahu siapa yang pertama menemukan kami. Tiba-tiba di sekitarku sudah gaduh luar biasa. Orang tua Sokran menangis lirih memeluk jenazah anaknya. Ibuku meraung-raung karena aku tiba-tiba menjadi seperti orang linglung dan tak mau diajak pulang. Kelinglunganku bertahan sampai 3 minggu lamanya. Orang tuaku membawaku ke beberapa dokter dan dukun. Semuanya tak mampu menyembuhkan kelinglunganku. Kelinglungan itu memuai dengan sendirinya ketika aku mampu menitikkan airmata untuk pertama kalinya. Ibuku terisak menyaksikan itu dan berujar, “Tumpahkan, Nak, tumpahkan semua.” Lalu aku meraung-raung di dada ibuku.

Sejak saat itu aku selalu bercita-cita menjadi peternak kodok meski belum kesampaian sampai saat ini. Jika aku mempunyai peternakan kodok, anak-anak petani penggarap tak perlu mati tragis seperti Sokran. Mereka bisa ambil sepuas-puasnya untuk lauk keluarganya.

Kuakhiri ceritaku dengan menyeka air mata dengan punggung tanganku. Kulihat mata Sou Yeon jauh lebih berair dari punyaku. Dia menarik tisu di meja dan membaginya denganku sebelum kemudian melingkarkan tangannya dibahuku. Kusembunyikan mukaku di dadanya yang hangat. Aku terhanyut dalam suasana yang kuciptakan sendiri dan tak kunjung bisa menghentikan air mataku. Semakin keras kutahan, semakin keras dia melawan. Aku menyerah dan meraung-raung di dadanya. Lamat-lamat kudengar Sou Yeon berkata:

“Tumpahkan, Nak, tumpah semua. Cup, cup, cup. Aduh, bayi kuda nil-ku.”

Sejak saat itu lah aku tak sanggup untuk menangis lagi.

Untuk kawan di tikungan, Hee Jina

Petra Little Theatre: Night, Mother

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/19/2008

Petra Little Theatre
Prodi Sastra Inggris
UK PETRA, Surabaya

Mempersembahkan sebuah pertunjukan drama berbahasa Inggris*:

“NIGHT, MOTHER”

Karya : Marsha Norman
Sutradara : Stefanny Irawan, S.S.

Pernahkah kita mencurigai orang yang kita sayangi merasakan kesepian yang ngeri justru
ketika kita tengah bersamanya?

Petra Little Theatre, Gedung B, lantai 2
Universitas Kristen Petra.
Jln. Siwalankerto 121- 131.
Surabaya

Rabu, 3 Desember 2008, 14.00WIB
Kamis, 4 Desember 2008, 14.00 WIB
Jum’at, 5 Desember 2008, 14.00 WIB
Sabtu, 6 Desember 2008, 18.00 WIB

Tiket sebelum tanggal 26 November 2008: Rp. 10,000,-
Tiket sesudah tanggal 26 November 2008: Rp. 15.000,-
Kelompok : 9 GRATIS 1

Dapatkan juga Merchandise Pementasan dengan harga terjangkau.

Hubungi:
Yulita: 08175147985
Frety: 081703445630
Atau dapat dibeli langsung di Selasar Gedung B, UK Petra.

Pementasan ini didukung oleh:
Istana Foto, Prambors Radio, Hard Rock FM, Colors Radio, PT. Alfa Omega, OQCS.

* sangat dianjurkan bagi mereka yang ingin meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris,
terutama Listening dan Pronunciation.

Pembatasan Pemutaran Lagu Indonesia: Jangan-Jangan*

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/14/2008

Jika ada orang Indonesia marah-marah dengan desakan Persatuan Karyawan Industri Musik Malaysia (Karyawan) ke pemerintahnya untuk membatasi pemutaran lagu-lagu Indonesia, mungkin ada baiknya untuk mempertimbangkan kegusarannya sekali lagi. Jangan-jangan ini bukan ‘kabar buruk’ bagi Indonesia seperti yang sudah-sudah. Jangan-jangan ini waktunya untuk bersimpati terhadap langkah buruk jiran kita dan berharap tak melakukan hal yang sama. Paling tidak terdapat tiga kerugian yang Malaysia akan hadapi jika pemerintah mereka jadi menerima usulan ini.

Pertama, pembatasan ini akan semakin menegaskan konteks permusuhan dan menang-kalah yang terlanjur tercipta dalam hubungan Indonesia-Malaysia. Bukankah pembatasan mengasumsikan adanya ancaman? Yang datang dari musuh? Yang hendak mengalahkan? Tak seharusnya hubungan Indonesia-Malaysia terus menerus ditempatkan seperti dua jagoan pencak silat di pertunjukan orkes melayu. Dan jika pemerintah Malaysia jadi melakukan pembatasan alias permusuhan ini, mereka mau tak mau harus siap dianggap ‘kalah’. Pembatasan, di manapun juga, adalah tindakan panik dan putus asa. Sebuah tindakan yang akan diambil ketika kita sudah tak mampu untuk menyaingi yang dianggap lawan. Seperti halnya orang tua yang membatasi anaknya keluar rumah setelah nasehatnya kalah terus-menerus melawan bujukan kawan anaknya. Pembatasan dengan demikian jarang keluar dari pihak yang tengah berada di atas angin. Manakah, misalnya, yang lebih sering membatasi rakyatnya? Amerika Serikat yang ‘menang’ atau Uni Soviet yang akhirnya ’tumbang’?

Kedua, pembatasan sebenarnya adalah tindakan yang tidak canggih dan tidak efektif dalam apa yang disebut ‘pertahanan budaya’. Pembatasan bergerak secara keras, terang-terangan, dan terbatas. Dia memaksa orang untuk patuh dan menghukum yang tidak. Sudah naluri orang untuk membenci paksaan dan hukuman, kecuali para masokis, tentu saja. Masyarakat tak akan pernah mematuhinya dengan sepenuh hati. Cepat atau lambat ini akan menimbulkan reaksi negatif. Reaksi ini tidak hanya akan datang dari musisi Indonesia, tapi justru dari rakyat Malaysia sendiri. Pembatasan juga memamerkan peraturan, tindakan dan pelakunya secara nyalang. Mudah bagi masyarakat Malaysia untuk mencari celah, berkelit dan bahkan melawannya. Pembatasan akhirnya tak akan berdaya saat seseorang memasuki ruang pribadinya yang tak terjangkau oleh aparatur negara. Apalagi di zaman cyber dan di antara masyarakat yang relatif melek internet seperti Malaysia. Pemerintah Malaysia mungkin bisa belajar dari kegagalan Soeharto dengan segala aturan, tindakan, lembaga pengawas dalam menghadapi ‘pengaruh-pengaruh negatif westernisasi’, ‘nama-nama yang tidak Indonesia’, ‘bahaya laten komunis’, dan sejenisnya.

Akhirnya, pembatasan hanya akan mempersulit kesenian dan pekerja seni Malaysia sendiri dalam jangka panjang. Kebudayaan dengan kesenian akan maju dan berkembang jika bersentuhan dengan kebudayaan dan kesenian lain. Kebudayaan Arab menjadi maju lewat persentuhannya dengan kebudayaan Yahudi dan Yunani. Demikian juga dengan kesenian Amerika Utara yang menangguk keuntungan dari penerimaannya terhadap khasanah Afrika, Amerika Latin dan Asia. Membatasi produk kebudayaan lain sama dengan mematikan sumber pertumbuhan budaya sendiri. Tengoklah kebudayaan Cina yang tidur pulas di zaman menutup diri. Atau Kamboja di masa Pol Pot mengosongkan kota. Kenapa lagu Indonesia lebih diterima dibanding lagu Malaysia? Jangan-jangan ini karena Indonesia bersikap ramah terhadap kebudayaan manca. Musisi Indonesia banyak belajar dari kepedihan Britpop, ledakan hip metal America, keromantisan pop Korea dan Taiwan, dan bahkan kemelodiusan rock Malaysia. Jangan-jangan ini karena pada dekade 80-an pemerintah Malaysia membatasi kehadiran musisi Indonesia karena kejayaan Koes Ploes dan koleganya pada dekade sebelumnya. Jangan-jangan ini karena pada suatu masa rocker Malaysia pernah dilarang menggondrongkan rambutnya karena dianggap tak Melayu.

Sekali lagi, pembatasan kehadiran lagu-lagu Indonesia cepat atau lambat justru akan mencederai Malaysia sendiri. Selain menempatkan Malaysia pada perseteruan dan, bahkan, ’kekalahan’, pembatasan juga menimbulkan perlawanan dan menghentikan sumber pertumbuhan musik Malaysia sendiri. Lalu apa yang bisa dilakukan? Malaysia dan Indonesia harus berhenti mendekati segala urusan yang melibatkan keduanya dalam bingkai permusuhan dan menang-kalah. Jangan-jangan ini hanya chauvinisme yang dikembangkan untuk mengaburkan ketidakmampuan masing-masing untuk mengangkat keberadaannya. Pada titik ini kedua bangsa menemukan musuh bersama dan bahu-membahu mengatasinya.

*Entri ini oleh Tuan Dewey Setiawan didedikasikan untuk Amy Search dan, tentu saja, Dewi Persik.

duh, dik anne

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/13/2008


tepat pada saat mendengar scarlet johansson bertunangan, aku ingin berlibur di bahumu saja. bukan masalah jika hari-hari ini kamu belum siap menerima tamu. aku akan membersihkannya sendiri, meski aku sudah lupa cara menyapu sejak kepulanganku dari chao phraya. aku ingin membangun kemah di sekitarnya, bukan untuk kutiduri, tapi arena kita bersembunyi dan berlari-lari. apakah ini cukup mengingatkanmu pada bollywood dan segala keriangannya?


tepat pada saat mendengar coldplay menjadi band terlaris sejagat, aku ingin berlibur di bahumu saja. haruskah aku meminta maaf karena menjadi laki-laki yang serampangan? bermimpilah. demi semesta, lebih baik aku menjadi nelayan dan menangkap ikan tongkol sampai maranatha. aku tak pandai membuat jaring, namun tanganku terampil dengan kayu. aku ingin membangun bahtera yang luasnya memalukan. yang membuatmu tak mampu mencandra buritan dan haluannya. akan kutanam dua kursi kecil di anjungannya. kau boleh menghilang, namun tinggalkan bahumu di kursi sebelah.


saat mendengar anne hathaway patah hati, aku ingin berlibur di bahunya saja. mohon diambil bahu di kursi sebelah. aku hendak membuat kegaduhan-kegaduhan kecil di lehernya, sebelum mengaso di bawah dagunya yang rindang. duh, dik anne, bolehkan kubacok wajahmu saat bangun nanti?

Call for Papers, International Conference on Media, Bali, May 7-9

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/13/2008

Call for Papers
The International Conference on “Media in a Fast-Changing World”
May 7-9, 2009
Bali, Indonesia

http://mediacon.petra.ac.id

1. Background

Media in today’s world has undoubtedly become a significant part of human everyday life. There have been many complex and varied stories on how the media forces around us cause rapid changes in our world as it is witnessing a freer and faster flow of information. In this globalized world, media have made a breakthrough in the nexus of various human cultures. This condition has offered great deal of contributions in promoting world businesses, political agendas, various popular cultures, as well as individual performances. On the other hand, practices in the contemporary media have also brought about a paradoxical situation in which media control us as much as we do them.

Petra Christian University is determined to take the initiative of gathering scholars, intellectuals, students, and media practitioners to discuss how media operates in a fast-changing world. With this bold enterprise, we endeavor to encounter media’s threatening yet exciting challenges with critical minds. Four social science departments at Petra Christian University, namely, English, Communication, Visual Communication Design, and Business Marketing Department will jointly conduct the International Conference on “Media in a Fast-Changing World”. Each discipline will not only examine various aspects of today’s media from its own perspective but also learn from diverse points of views.

This conference is the first of its kind held in Indonesia in its attempt to bring together different minds both in its depth and breadth of substance and scope. Therefore, we are of confidence that the seminar will bring benefits to individual intellectuals, academic worlds, media communities, and society in general.

2. Topic and Sub-topics

Topic of the Conference:
• Media in a Fast Changing World

Sub-topics:
• Media and Multiculturalism
• Media and Globalization
• Media and Politics
• Media, Popular Culture, and the Construction of Identities
• Representation of Gender / Ethnicity in Media
• Ideology, Power-Relation and Media
• Understanding Media Discourses
• Mediamorphosis, Mediaspora, Mediaddict: A Media-Minded World
• Quo Vadis Postmedia?
• Media for Brand Communication
• CSR in marketing media
• Codes of Ethics in Media Practices

3. Venue and Date:
• Venue: Hardrock Hotel, Kuta, Bali, Indonesia
• Date: May 7-9, 2009

4. Agenda: Plenary and Parallel Sessions

5. Conference Fee:
• Deadline for the early bird registration: March 5, 2009
• Indonesian Participant: Rp. 2.500.000,-
• Indonesian Paper Presenter: Rp. 2.250.000,-
• International Participant: US$ 575, –
• International Paper Presenter: US$ 550, –
• The accommodation is for two persons each room. US$ 100 charge per night
will be added for single supplement.
• After March 5, 2009 Registration:
Indonesian Participant : Rp. 3.000.000,-
International Participant : US$ 600.-

6. Facilities: accomodation, lunch, coffee break, visit to media
enterprises/cultural sites, seminar kit, and certificate.

7. Expected Participants:

• Scholars, media practitioners, researchers, media observers, and students
• Maximum participants: 150 people

8. Paper Submission:
• Deadline: January 15, 2009
• Format: 6-8 pages, full paper typed in A4 paper, with 12 size font, Times
New Roman, single spaced
• Notification of Paper Acceptance: March 2, 2009

9. Contact Persons:

• Liem Satya Limanta, satya@petra.ac.id (+62-31-2983064)
• Grace Swestin, gswestin@petra.ac.id (+62-31-2983046)
• Theophilus Jokri, jokri@petra.ac.id (+62-31-2983065)
• Dwi Setiawan, dewey@petra.ac.id (+62-31-2983061)
• Correspondence Address:

The Committee of International Conference on Media
Petra Christian University, B Building
Siwalankerto 121-131,
Surabaya, 60236
INDONESIA

zi, fron, mam (rip)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/08/2008

halo, zi, fron, mam? gimana? takut juga ya? hehehe. modelmu itu loch. pake teriak-teriak segala. nutup-nutupi kecilnya hati hehehe. ya biasa aja lah. kata pakar-pakar motivasi: dont feel bad about your fear…hehehe. lha wong sudah kadung diprogram begitu otak kita ini. ngga ngerti, ya? pernah baca darwin, mam? dawkins? ngga ya?

yo, wis. gak penting. sekarang sudah lewat, to? gimana? ngga ada ya bidadarinya? hehehe. surprise! gimana, langsung masuk ke hot country, ya? well, what can i say, brah…hope they serve beer in hell. cheers!

walah, jangan-jangan malah ngga ada apa-apa sama sekali. hahaha. hayo, ngaku. ngga usah malu-malu…hehehe.

menjadi relijius

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 11/04/2008

hidup memang semakin menyenangkan dan menjanjikan. tapi bukan berarti tak ada kemandegan, kejatuhan, dan kemunduran di lipatan-lipatan minggu. jika masa itu datang, tak ada pilihan lain selain menjadi lebih relijius dan spiritual dalam waktu yang sama. berikut adalah bacaan yang selalu menguatkanku dalam pergumulan ini:

http://www.cracked.com

dan, jadilah menyebalkan!

kunjungan penting orang penting ke kantor penting

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/31/2008

akhirnya beberapa hari yang lalu aku mendapatkan kesempatan untuk melakukan hal yang betul-betul penting. yang pertama adalah mengurus tambah daya listrik ke pln krian. kami berniat menaikkan kelas hunian kami dari golongan miskin (900) ke golongan cukup miskin (1300). dengan penuh kebanggaan dan tanggung jawab, aku mengemban tugas berat ini. pagi-pagi sebelum ngantor, aku menyempatkan diri mampir ke kantor pln krian.

bagi yang belum cukup beruntung mendapatkan kesempatan mengunjungi democratic people’s republic of krian, aku ingin memberi sedikit ancar-ancar lokasi situs strategik ini. kantor pln cukup mudah di akses dari manapun juga. yang perlu dilakukan hanyalah menemukan perempatan krian yang legendaris itu. dari situ pilihlah jalan ke arah mojosari/pacet dan melajulah sekitar 200 meter-an. kantor pln krian ada di sebelah kanan jalan. di samping kanan kantor pln terdapat smp katolik santo yustinus de yacobis. di seberangnya adalah sd katolik yang aku tak tahu namanya. sebelah kiri jauh adalah pasar sapi krian yang konon dibangun atas bantuan bank dunia. di sebelah belakangnya hanya tuhan yang tahu. ancar-ancar ini sungguh demikian penting untuk diberikan. selalu ada kemungkinan seseorang membayar listrik di pasar sapi dan membeli daging di kantor pln. apalagi memasukkan anak sekolah di kantor pln atau di pasar sapi.

okay, sesampainya di kantor pln aku memarkir motorku di parkiran yang disediakan secara gratis. hal-hal yang gratis selalu penting untuk dicatat. anyway, kantor pln ini berupa kumpulan beberapa gedung terpisah. yang sempat aku ingat adalah gedung pengaduan teknis dan gedung layanan. yang layanan yang paling mewah pokoknya. di dalamnya terdapat lajur pembayaran tagihan dan lajur pendaftaran dan tambah daya. dan sebagai orang yang IQ-nya di atas dua digit tentu saja aku menuju lajur yang kedua. ini penting untuk ditegaskan.

tak seperti lajur pembayaran tagihan yang digawangi oleh mbak-mbak yang cantik jelita, lajur pendaftaran dan tambah daya ditunggu oleh seorang ibu yang bijaksana. silakan membacanya sendiri dengan teori-teori konspirasi yang kalian sukai. bagiku sendiri ini konspirasi melawan perjaka baik-baik. lepas dari itu, ibu tambah daya ini adalah petugas pln yang baik. beliau menerangkan dengan jelas dan ringkas, plus permisi sekitar 3 menit ke toilet. aku belum menemukan hubungan antara kehadiranku dengan keinginan beliau ke toilet. yang pasti semuanya beres.

hal-hal penting yang perlu diperhatikan bagi kalian yang ingin menambah daya listrik dari 900 ke 1300 adalah sebagai berikut:

1. catat stand meter (angka atas) dan mark meter (angka bawah) meteran kalian.
2. bawa bukti pembayaran rekening bulan terakhir
3. bayar rp 215.000
4. tunggu kunjungan petugas penambah daya selama 2-3 hari kerja
5. berdoa tentu lebih baik

remah2 minggu lalu

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/28/2008

seminar rafilus berjalan dengan baik. sangat baik, bahkan, jika aku boleh membandingkan dengan yang sudah-sudah. tidak hanya soal peserta yang mencapai 260-an orang, tapi ini kali pertama banyak bapak-ibu dosen yang terlibat baik langsung maupun tidak. ini tentu saja bisa jadi modal awal untuk kerja-kerja prodi selanjutnya. selain itu, kerjasama dalam panitia terbilang kompak dan menyenangkan. salut untuk kawan-kawan mahasiswa yang sudah berdarah-darah membantu meskipun pada saat yang sama harus bersitatap dengan uts. yang terakhir, penampilan dari dosen internal sangat membanggakan dan, jika boleh sedikit mbencongi, mengharukan. melalui penampilan beliau, seolah-olah kami ingin memberitahu dunia bahwa kami sungguh belum habis.

belum habis rasa senang kami di senin pagi, kami sudah tersungkur sekali lagi oleh sebuah kabar baik. dua mahasiswa kami menggondol juara pertama dan kedua lomba penulisan esai yang diselenggarakan oleh persaudaraan indonesia-tionghoa dalam menyambut sumpah Pemuda 2008. kedua mahasiswa tersebut adalah:

1. andreas tok, dengan esai “dari kbbi sampai ke bali”
2. yusak l. ramagit setiawan, dengan esai “menelaah pengibaran bendera merah
putih terbalik”

berita selengkapnya bisa dilihat di jawa pos (27/10), metropolis, hal. 40.

sebagai tembang penutup…halah…lha koq jadi kaya stasiun dangdut…okay, okay, akhirnya, untuk memuliakan hasil kebersamaan ini, izinkanlah tuan dewey setiawan memutilasi sajak “sama rata, sama rasa” dari kamerad marco kartodikromo:

kami berniat berdjalan teroes,
tetapi kami berasa aoes,
adapoen penharapan ta’ poetoes,
kaloe perloe boleh sampe mampoes.

djalan jang koetoedjoe amat panas,
banjak doeri poen anginnja keras,
tali-tali mesti kami tatas,
palang-palang djoega kami papas,

soepaja djalannja SAMA RATA,
jang berdjalan poen SAMA me RASA,
enak dan senang bersama-sama,
ja’toe: “SAMA RATA, SAMA RASA”

Seminar Sastra: Membaca Surealisme Budi Darma dalam Rafilus

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/20/2008

Program Studi Sastra Inggris UK Petra bekerjasama dengan Penerbit Jalasutra akan menyelenggarakan ”Seminar Sastra: Membaca Surealisme Budi Darma dalam Rafilus” pada hari Jum’at, 24 Oktober 2008, 13.30-15.30, AVT 502, UK Petra. Seminar ini akan membahas “Rafilus”, sebuah karya surealis dan unik dari Budi Darma, dengan pendekatan yang berbeda-beda.

Selain sang penulis sendiri, seminar ini akan menampilkan Prof. Dr. Fabiola D. Kurnia (Unesa), Audifax (SMART Human Research & Psychological Development), dan Satya Limanta (UK Petra). Diskusi akan dipandu oleh Lan Fang (penulis). Acara akan ditutup dengan penandatanganan buku oleh Budi Darma.

Contact Person: Magda, 0817319257

ode u/ bhoezoek (kedua)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/19/2008

okay, lanjut. tak ada hujan, tak ada angin, beberapa sore lalu persis sesudah mandi aku tiba-tiba amat sangat ingin menemui bhoezoek. aku bahkan tak merasa perlu untuk meneleponnya dulu. langsung saja kukeluarkan kuda hitamku (halah) dan memacunya ke jalan sidoarjo. cukup banyak perubahan sepanjang jalan ini. semakin banyak toko dan warung sepanjang jalan (ya, bapa, jika bukan bangsa manufaktur, jadikan kami setidaknya bangsa pedagang). sempat kulihat beberapa mini mart sepanjang jalan. sekarang juga sudah ada perumahan dekat stm krian.

bhoezoek tengah bermain gitar di teras rumah dengan dikelilingi beberapa remaja. ah, belum berubah juga kawanku ini. dari dulu kami suka membuat anak-anak tanggung terpana dengan beberapa permainan gitar canggih yang kami hafal di luar kepala. tapi ya cuma itu-itu saja. kalau giliran mengiringi lagu betulan, kami langsung tak berdaya. kami dulu suka mengolok-olok diri kami sendiri: kami ini bukan bermain gitar, tapi akrobat…hehehe.

dia kelihatan senang sekali waktu melihatku. seisi rumah dipanggilnya. perasaanku tak kalah gembiranya. tak lama kemudian aku sudah beramah-tamah dengan ibu dan istrinya. yang membuatku merasa begitu buruk adalah saat dia memperkenalkanku pada seorang gadis mungil. anaknya. aku bahkan tak tahu jika kawan baikku sudah mempunyai anak sebesar ini.

usai dengan ramah-tamah, bhoezoek langsung memberiku gitar dan kami meneruskan misinya membuat anak-anak remaja itu terpana. permainan yang sama. setelah anak-anak itu menutup mulutnya, bhoezoek membubarkan mereka. kami meneruskan pertemuan ini dengan pergi ke warung kopi tak jauh dari rumahnya. lha kok sama pemilik warungnya malah diberi gitar. mungkin sudah hafal dengan kebiasaan bhoeozoek. ya sudah. kami mengulangi akrobat kami sekali lagi. kali ini kami juga menyanyikan beberapa lagu yang kami suka dahulu. aku tak tega menuliskan judulnya di sini. tentang cinta-cinta gitulah.

di sela-sela lagu, kami berbicara tentang ini-itu. tentang pekerjaan kami, tentu saja. topik yang satu ini tak bisa tak muncul setelah selesai kuliah. dulu katanya sempat bekerja di perusahaan elpiji di semarang sebelum disingkirkan kawannya sendiri. bhoeozoek sekarang tengah menekuni bisnis plastik di tropodo. setelah pekerjaan, topik bergeser ke kawan-kawan lama kami. si ini sekarang di sini. si ana sekarang di sana. si ini sudah nikah dengan si anu. si ani sudah cerai dengan si ina. seperti biasa, aku jadi ingat kalau aku sudah cukup berumur…hehehe. hidup tak tahu diri!

setelah itu bhoezoek mulai membawa kami ke topik yang menarik: perjalanan spiritual. jauh dari sangkaan beberapa kawan, sebenarnya aku suka sekali mendengar dan berbicara tentang spiritualitas. mungkin sulit dipercaya juga jika aku katakan bahwa sejak 2-3 tahun yang lalu aku cukup tertarik mempelajari tentang hal ini. tak ada yang gawat darinya jika kita melihatnya sebagai bagian integral dari kemanusiaan kita. wajar sekali. bikin hidup lebih hidup gitulah. okay, back to bhooezoek, dia bercerita tentang pertemuannya dengan seorang kyai eksentrik. sebelum bekerja di semarang, dia sempat mengikuti sang kyai berkeliling nusantara. soal ajarannya, aku tak begitu menangkap penjelasan bhoezoek. mungkin terlalu tinggi untuk aku.

aku pulang tepat pukul 10 malam. seperti dulu juga.

ode u/ bhoezoek (pertama)

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/17/2008

cukup jarang aku bercerita di sini tentang orang-orang baik yang karena satu dan lain hal pernah dan tengah menjadi bagian dari hidupku yang hebat…halah…hehe. yang jelas ini dikarenakan aku lebih suka melihat ke dalam (baca: narsis dan self-pitiying dalam paduan yang menarik) dibanding ke luar. kemungkinan yang lain adalah saat aku mulai melakukan kegiatan tidak penting seperti blogging ini sudah tak banyak lagi orang-orang dekat di sekitarku. tambah umur, tambah susah berkawan dengan brutal dan membabibuta. ah, zaman itu…

salah satu dari begitu banyak kawanku dari zaman yang baik adalah bhoezoek. ya, busuk. dengan bangga kuberitahukan bahwa aku lah yang memberikan nama yang cukup melegenda di sma dan krian pada umumnya. nama itu sendiri adalah semacam penghormatan terhadap bau kaki kawan baikku ini. bukannya tersinggung, bhoezoek malah mengadopsi nama ini secara resmi sehingga hampir-hampir sudah tak ada lagi yang mengingat nama aslinya kecuali ibu dan bapaknya.

dengan bhoezoek lah aku menghabiskan sebagian besar masa sma-ku dulu baik di sekolah maupun di rumah. bhoezoek lah yang selalu menemaniku setiap kali aku keluar rumah untuk meredam adrenalinku yang kelewat tinggi. bhoezoek juga yang selalu menemaniku setiap bolos les atau sekolah dan memilih berceramah di warung kopi. bhoezoek juga yang menemaniku waktu apel pertama kali hehe. bhoezoek juga yang selalu menemaniku kalau aku tak bisa apel karena sesuatu dan lain hal. seringkali aku mempersingkat waktu apel supaya aku bisa mengajak bhoezoek ngopi…hehe. tak terhitung berapa kali bhoezoek tidur di rumahku. bhoeozoek juga yang mengimbangi kecintaanku kepada musik. tapi bhoezoek juga yang mendampingi kepayahanku dalam hal bakat bermusik hehe.

saat masa sma lewat, kami meneruskan di kampus yang berbeda. kami masih sering menghabiskan waktu bersama-sama meskipun sudah tak sekerap masa sma. kami mulai jarang bertemu lagi di akhir kuliah. aku tak ingat persis karena apa. mungkin karena aku sudah mulai congkak dan sudah larut dalam pergaulan urban dengan segala gegap-gempitanya. mungkin juga bhoezoek juga sudah menemukan keasyikan tersendiri dengan kawan-kawan barunya.

hubungan kami putus sama sekali saat aku mencari masalah di negeri budha (perhatikan ironinya). namun menurut laporan mama, bhoezoek tak pernah lupa berkunjung ke rumah setiap lebaran meskipun aku tak ada di rumah. ini yang membuatku malu. terus terang aku hampir-hampir tak pernah mengingatnya lagi. ini terus berlanjut saat aku sudah kembali dan mulai bekerja. kalaupun bertemu di warung kopi aku hanya sekedar mengakui keberadaannya. tak pernah lebih dari itu. terakhir aku bertemu dengannya adalah saat dia menikah. jika aku masih mengingat ini, itu bukan karena aku memang betul-betul memperhatikannya. kebetulan malam itu aku baru pulang ngapel ke salah satu orang yang paling rupawan di surabaya. jadi aku mau tak mau pasti ingat malam itu hahaha. aku bisa memberikan sembilan ratus sembilan puluh sembilan alasan. kenyataannya aku melupakan orang baik ini dan justru memperhatikan mereka yg tidak baik. bumi manusia. jagad pramudita. jagad dewa batara.

(bersambung)

Indonesian Flag Ceremony Protocol*

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/15/2008

The flag ceremony is about to begin

1. Preparation
2. The Commander of Ceremony advances to the field
3. All salute to the Commander of Ceremony
4. Report to the Commander of Ceremony
5. The Inspector of Ceremony advances to the field
6. All salute to the Inspector of Ceremony led by the Commander of Ceremony
7. The Commander’s report to the Inspector
8. Presentation of the Red & White accompanied by Indonesia Raya
9. Moment of Silence led by the Inspector of Ceremony
10. Recital of the Preambule of the 1945 Constitution
11. Recital of Pancasila led by the Inspector of Ceremony and followed by the audience
12. Speech by the Inspector of Ceremony, the audience stands at ease
13. Singing Satu Nusa Satu Bangsa
14. Prayer
15. The Commander’s report to the Inspector that the ceremony is done
16. All salute to the Inspector of Ceremony
17. The Inspector of Ceremony retires, followed by the teachers
18. All salute to the Commander of Ceremony
19. The Commander of Ceremony retires
20. The audience is dismissed

* pengabdian masyarakat untuk sdn siwalankerto 2. hadoh, mumet nerjemahinnya. agak asal hahaha. mudah-mudahan ngga kena pasal makar nech…hehehe. merdeka!

iklan

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/10/2008

ada yang ingin bunuh diri setiap ngelihat iklan pertamina untuk bulan puasa & hari raya? jika anda salah satunya, selamat. anda adalah orang baik-baik…hehe

bahwa bapak yang di atas mobil bentak-bentak mas pom bensinnya, aku tak bisa tak sepakat. kalau aku yang jadi bapak itu, mungkin bukan sekedar aku bentak, tapi sudah aku hajar secara militer hehehe. bukannya meremehkan orang kecil. bukannya tak menghargai kesopanan. tapi sopannya itu loch…hadoh…too much, bhuoss! suaranya pake dilembut-lembutin. tangannya pake ditangkup-tangkupin. pake nunduk-nunduk kaya tabik zaman kompeni. halah. jadi kaya menjilat. degrading…hahaha.

yang lumayan aku suka itu yang iklan ramadhan di bengkel. itu loch yang ada suami ngetext istrinya ngga bisa ikut buka karena masih ada pelanggan di bengkel. terus pas udah mau narik rolling door ada bapak tua datang dengan motor yang rantainya putus. terus bagi kolak dengan bapaknya waktu dengar adzan. lumayan menyentuh tanpa perlu banyak mulut. menunjukkan hormat tanpa menjilat.

lepas dari iklan dengan tema ramadhan, yang paling aku suka itu iklan sms primbon. mengesalkan tapi orisinil…hihihi. sang paranormal muncul dan mendekati seorang pemuda. terus ngomong kira-kira gini:

“kamu belum kawin, to? kerjaan ngga jelas. hidup nggak teratur”

huahaha. nggapleki pol. tapi ya itu…unik. ndeso tapi percaya diri.

hail dono & kartolo!

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 10/02/2008

kadang-kadang aku suka bertanya kapankah bangsa ini bisa terbebas dari pesona trio warkop dki. hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, koq ya masih okay saja di urat ketawa kita. sudah puluhan lebaran dan natal, koq ya rasanya belum spiritual benar kalau tak bertemu mereka di tivi. begitu banyak hiburan baru lain di channel canggih, koq ya tega mengabaikan semua dan memilih channel kampungan yang biasa menayangkan film mereka.

tentu saja akan selalu ada orang serius yang berkata film warkop tak lucu. tentu saja akan selalu ada orang hebat yang berkata film mereka tak bermutu. tentu saja akan ada orang suci yang mengatakan film mereka hanya mengumbar nafsu (jadi kangen ke eva arnaz & sally marcellina nech hahaha). yach, gimana ya…mungkin kehidupan terlalu lama melukai mereka hahaha.

satu-satunya yang bisa menandingi pesona mereka di kepala kita yang kebetulan tinggal kawasan arek ya cuma ludruk sawunggaling. hmmm, ngga tahu ya? kartolo dan kawan-kawan itu loch. diputar tiap hari di sunatan, mantenan, radio, tape, komputer (terpujilah yang memindahkannya ke format mp3) koq ya masih bisa bikin kita ngakak-ngakan ngga berhenti. padahal ya sudah hafal luar kepala loch kalimat-kalimatnya.

aku meramalkan…halah…sebenarnya kita bisa melihat bersama bahwa kedua hiburan populer itu akan atau bahkan tengah menjadi karya klasik dunia kesenian indonesia dan jawa timur. sejarah akan berulang. yang populer namun diremehkan di zamannya akan menjadi karya klasik yang diadiluhungkan di zaman selanjutnya. wah, bagus lah pokoknya.

wong ndeso sedunia, bersatulah!

peringatan ke-28

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/30/2008

herodia,

aku ingin membawamu pulang, dan melipatmu seperti sapu tangan. jika kerja melelahkanku sangat, kamu setia menyekaku setiap saat. hari-hari ini begitu panas, di dalam dan di luar rumah. hampir tak ada alasan lagi untuk tak memasang pengatur udara. mungkin kami hanya bersikeras menjaga hubungan cinta kami dengan kesederhanaan. kesederhanaan yang telah mencukupi mulut kami dan beberapa yang lain. kesederhanaan yang pernah mereka cibir saat keadaan baik menegur mereka beberapa saat. berfikir buruk terhadap kami setelah apa yang terjadi adalah tanda pikiran yang tak peka.

hidup baik itu sulit. lebih sulit lagi mempersiapkan diri untuknya. adalah penting untuk tak terpana sebab keterpanaan membuatmu lupa daratan. dan ini menjadikanmu tak pantas untuk hidup baik. sejarah membenci pekerjaan menunggu. yang tak pantas pada sebuah keadaan baru akan dikembalikan ke keadaan lama. dan mereka harus menunggu lagi. dan kali ini, atas nama frustasi, akan jauh lebih lama dari sebelumnya. yang tak belajar apa-apa, dan ini sungguh ada, tentu akan dikutuk untuk mengulanginya.

terpujilah kesadaran yang mengingatkan sebelum, ketika, dan setelah perubahan datang.

h-3

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/28/2008

mungkin di suatu masa aku akan merobekmu kembali seperti kertas. hari-hari ini aku suka dipusingkan dengan celana pendek yang kelewat batas. jika aku mendekat dari belakang dengan beberapa folder di tangan, maukah kamu menghentikanku seperti pukulan?

aku ingin mengelompokkan dan memberikan pengertian pada yang lalu lalang. aku tahu cukup banyak namun sedikit yang bisa kupakai dalam urusan-urusan. dan tanpa aku sadari aku sudah mahir bergembira sebelum tidur. ada ketakutan yang baik sesuka hatinya berjalan mundur.

bapakku menambah angka pengalamannya hari ini. tak ada kado namun kami berjabat tangan. aku ingin membelikannya kapal pesiar sendiri lengkap dengan bak cuci piring. membiarkannya mereguk cita-cita pensiunnya. mungkin kami akan berhenti sebentar di singapore untuk mengagumi bagaimana peraturan menciptakan dunia.

merunut-turut gambar-gambar michelle. kubentuk dia seperti cintaku yang kuat kepada carrera. namun aku ingin menyempurnakannya seperti kasus rosa. biar yang meledak adalah percakapan-percakapan kecil di dekat toilet. sebelum hari kami berdua, merpati-merpati suka berdiri di bahu-bahu lemah. jika suatu saat bapaknya menceraikan kami, aku bersumpah tak akan mendaftar kursus memasak lagi.

ada yang menjual begitu murah. ada yang bahkan tak menjualnya sama sekali. di masa itu semua diberikan cuma-cuma. yang harus kulakukan cuma berjingkat-jingkat dari dada ke dada. namun saat keinginan itu begitu diinginkan, mendapatkan tiupan pun menjadi persoalan hidup-mati.

aku ingin memelihara marmut seburuk pengalamanku dengan ikan dan kura-kura. aku ingin memakaikannya rok dan merubah dietnya dengan daging. di negeri jauh itu sayuran konon tak sesombong di negeri ini. aku ingin mengajaknya jalan-jalan dengan jendela terbuka. aku ingin menunjukkannya betapa buruk hidup binatang di pertanian kolektif. jika dia sedih dan terkenang pada kelucuan-kelucuan dunia, aku ingin mengelus kepalanya dan berkata:

hidup ini sungguh indah.

keluar rumah

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/22/2008

akhir-akhir ini rasanya banyak orang yang suka keluar rumah. jalanan lebih ramai dari biasanya. seperti tadi pagi yang menyiksa. kemacetan sudah menghadangku di bypass krian. tak biasanya di jam-jam keberangkatanku yang cukup memalukan bagi bangsa indonesia di zaman kapitalisme tak jelas dan membanggakan bagi bangsa romawi di zaman kepemilikan budak. sudah begitu truk dan bus besar tak mau bersabar, membanting setir ke kiri, turun dari badan jalan, dan mengambil hak istimewa satu-satunya yang masih kami, para pengendara motor, miliki. kebetulan di by pass masih banyak tanah yang mirip-mirip no man’s land di zaman perang dunia pertama dan karenanya tak pernah ada yang menyirami. kami seperti ditenggelamkan lautan debu. kebetulan lagi aku menggunakan jaketku yang paling baik. jaketku yang paling kedap udara. aku basah kuyup sendiri di dalamnya.

minggu lalu pada suatu sore aku dan sugar mill menyentuh beberapa titik surabaya yang jarang kami kunjungi. kalian yang mengenalku dengan cukup baik mungkin sudah tahu betapa payahnya aku soal arah. 5-10 kali kunjungan belum tentu membuatku hafal dengan suatu daerah. satu-satunya hal yang masih membuatku gembira dengan cacat mental ini adalah kenyataan bahwa idolaku lev davidovich juga memilikinya. dia sendiri menyebutnya dengan nama yang kedengarannya keren tapi menyakitkan: “topographically imbecile”. keadaan si sugar mill tak lebih baik dariku. itu masih diperparah dengan helmku yang suka nutup-nutup sendiri kacanya padahal waktu itu hari sudah gelap. walhasil kami sempat kesasar dan kebablasan dan berhenti untuk bertanya beberapa kali. kecapaian, kami memutuskan untuk mencari makan dan minum kopi dalam perjalanan pulang. seperti biasa yang muncul di otakku yang murahan ini adalah cinema cafe. jadilah kami pergi ke royal untuk menemukan bahwa tak ada tempat parkir lagi bagi kami. lalu kami memutuskan untuk pindah ke marina hanya untuk menemukan hal yang sama. bahkan ketika kami mendapatkan sebuah sudut di pizza hut jemur suasananya ramai luar biasa.

aku berharap bahwa ini semua tanda baik. aku berharap ini adalah tanda bahwa perekonomian semakin meningkat dan rakyat jadi punya kemampuan untuk jalan-jalan dan berbelanja. tapi seperti biasanya aku selalu memelihara keraguan untuk beberapa tingkatan. jangan-jangan perekonomian sedang memburuk dan rakyat begitu setresnya sampai memutuskan untuk keluar rumah daripada jadi gila. aku sendiri belum memutuskan berada di yang mana.

akademik

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/19/2008

oya, aku belum mendokumentasikan di sini bahwa terhitung sejak juli tahun ini aku sudah memiliki jabatan akademik. surat resmi dari dikti sendiri baru aku terima bulan agustus kemarin. ini tentu sesuatu bagiku. jabatan akademik adalah karir sesungguhnya dari seorang dosen. dia bersifat permanen dan akan melekat kemanapun seorang dosen pergi. demikian pula dengan tunjangannya hehehe. beda dengan jabatan struktural yang bersifat periodik seperti sekjur, kajur, dekan, wakil dekan, dekan dan seterusnya. paling banter lima tahun. jika tidak terpilih lagi, ya sudah. demikian pula dengan tunjangannya. dengan kata lain, jabatan akademik itu abadi sementara jabatan struktural itu fana hehehe

bukan berarti jabatan struktural itu buruk dan tidak perlu dilakukan secara serius. sekali-kali tidak. banyak yang bisa seseorang dapatkan melaluinya. yang pasti bukan lonjakan finansial karena tunjangannya terus terang bukan apa-apa jika dibandingkan dengan obyekan seperti proyek, penerjemahan, atau kursus privat. bagiku pribadi, tanpa bermaksud menjadi sok suci, jabatan struktural memberiku kesempatan luar biasa untuk pengembangan diri dan profesional. jika kubandingkan diriku sekarang dan sebelum tahun 2006, aku sekarang misalnya lebih tenang (ciee), menghargai diri sendiri (waks), optimis (glodak), berani (halah) dan semacamnya. secara profesional, aku juga lebih terbiasa misalnya berfikir strategik, menjelaskan pemikiran tersebut, melaksanakan rencana seefektif dan seefisien mungkin, melakukan delegasi, melakukan koordinasi antar komponen dan masih banyak yang lainnya. (tentu penilaian ini sangat subyektif. aku berharap bisa menemukan momen untuk mendapatkan feedback dari kawan-kawan sekerja. tapi paling tidak aku bahagia dengan keadaanku.)

namun aku berusaha untuk selalu mengingatkan diriku agar tak hanya memperhatikan jabatan struktural dan mengabaikan karir dosen yang sesungguhnya. banyak cerita sedih yang kudapatkan dari para senior tentang hal ini. mereka kehilangan lebih dari separo kemampuan ekonominya saat jabatan struktural mereka lepas sementara kebutuhan semakin banyak dan tenaga untuk melakukan obyekan di luar sudah tergerus usia. untuk mulai mengejar jabatan akademik juga sudah cukup terlambat. tak mudah juga untuk menulis dan melakukan penelitian di usia yang sudah banyak dan di depan deretan kebutuhan yang harus segera dipenuhi. belum lagi waktu tunggu yang harus ditempuh dari satu tingkatan ke tingkatan di atasnya.

dalam dunia yang ideal, aku bermimpi untuk bisa mensinergikan keduanya. keduanya tak harus selalu dalam oposisi biner; yang satu menggagalkan yang lain. dari pengalamanku sendiri yang belum banyak, aku malah menemukan keduanya bisa saling mendukung. bukti konkretnya adalah aku tak pernah menghasilkan penelitian atau tulisan sepanjang 2005-2006. itu adalah masa ketika aku belum menjabat dan mempunyai begitu banyak waktu luang. ketiadaan beban tinggi justru membuat pingsan otak dan ototku. suasananya malas banget pokoknya. justru ketika aku mulai menjabat secara struktural, aku mulai menghasilkan beberapa tulisan dan mengurus jabatan akademikku. keaktifan di bidang organisasi merembet ke bidang intelektualku. kuncinya tentu saja pada pengaturan dan kemauan untuk mematuhi pengaturan itu. sebisa mungkin aku menulis atau menambahkan sesuatu pada tulisanku pada akhir pekan, terutama setiap dini hari seperti sekarang sebab aku tetap harus memperhatikan hura-hura di sore harinya…hahaha.

mudah-mudahan praktik ini bisa berlanjut terus. sebagai catatan, aku sekarang masih menyelesaikan outline artikel tentang coetzee’s in the heart of the country, draft pertama artikel tentang bram stoker’s dracula, dan outline artikel tentang dewi persik hehehe.

pengen aja

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/11/2008

tadi malam ketemu si gaby di royal. it was super fun. makan kaya orang kalap. minum kaya orang di gunung kendeng. and we never worry…karena cinema cafe murah banget hahaha. wuih, masih ada juga daerah yang ramah kantong di surabaya ini. anyway, kita ngelihat foto2 mama waktu di thailand dan beri komentar-komentar yang, seperti biasanya, ngga jelas. terus fotoku yang model komisaris adam air itu…hehe…butuh skill loch. nahan perut, ngangkat kaki, terus pada saat yang sama tersenyum tak tahu diri hihih. terus ngomong-ngomong yang ngga jelas. mulai teman kantornya, kambing gunung, elang, bisnis dan seterusnya. berbicara tentang yang terakhir, aku baru tahu kalo dia berkorban banyak untuk kesejahteraanku. jadi guilty feeling, gitu. sabar ya, gab. bentar lagi.

tadi siang ketemu perempuan yang, masya allah, mirip betul dengan arun meni di warung soto amigos (agak minggir got sedikit). aku terpana, saudara-saudara. mulutku betul-betul menganga. saat dia melepas helm dan jaketnya, aku sudah ada di rosefield dan tengah sibuk mencangkul ingatan. sang arun meni jilid dua ini tak kalah kagetnya juga, melihat ada laki-laki tak jelas di dalam warung yang melihatnya dengan cara tak jelas pula…haha. pokoknya aku jadi ngga konsen dengan baik soto maupun pertanyaan kawan-kawan. tapi ngga tahu bagaimana aku yakin betul aku akan bertemu dengan si jilid 2 ini lagi dalam minggu ini. amin.

hujan pertama

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/07/2008

siang ini ada kejutan yang menyenangkan di jalan. tak seperti biasanya, aku memutuskan pulang ke rumah sebelum akhir pekan berlalu. rindu bertemu kawanku yang lagi pulang kampung. sudah lama tak membenturkan cerita bersamanya di depan cangkir-cangkir kopi di warung cak to. terus terang sudah tak banyak lagi yang mengelemku dengan kampung halamanku. salah satu dari yang sedikit itu adalah kawanku ini. saat dia akhirnya merantau ke borneo, aku lebih sering menghabiskan waktuku di rumah kakakku. berusaha meneruskan pelajaran hidup di suburbia yang pertama kali kudapatkan di thailand dan tak kunjung kukukuasai sampai sekarang. aku selalu (dan mungkin suka) berada dalam dua dunia dengan segala ketidakjelasannya.

sampai di depan polsek balongbendo hujan menyambutku seperti pengantin. aku tertawa histeris di dalam helm. berapa lama? sudah berapa lama, kawan? tiba-tiba aku merasa perlu berhenti di sebelah jalan dan membiarkan diriku kehujanan. menghirup tanah basah. melihat diriku dengan terpejam. dan tiba-tiba semua yang baik kembali di kepalaku. yang indah tersenyum genit di mata pikiranku. yang lucu membuka gas di batang otakku. melihat diriku menggiring dan menendang bola di dekat kebun kelapa. melihat diriku terkena beling di sungai belakang rumah. melihat kawan remajaku yang telah tiada. melihat diriku bolos sekolah dan terdampar di sebuah kampung yang tak kukenal. melihat diriku mengendarai motor pertamaku di driyorejo. melihat yang tertanam dalam. melihat diriku yang belum paham dan bahagia.

hujan adalah nyonya indera dan, oleh sebab itu, penguasa kenangan.

next stop: vientiane

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 09/03/2008

hidup ini cepat benar. tak terasa sudah memasuki paruh kedua tahun 2008. banyak yang harus dan ingin kulakukan dalam periode ini. yang harus kulakukan mungkin tak banyak berubah dari sebelumnya. aku hanya ingin melakukannya dengan lebih baik, tidak kurang dan mudah-mudahan lebih. sementara aku sudah bermimpi tentang pucuk tahun ini. demi keyakinan dan kenyataan…bahwa hidup ini cepat benar.

jika keadaan membaik, aku ingin mengunjungi vientiane di akhir tahun ini. aku ingin menemui seorang kawan pengangkat botol di rantau dulu. tak terhitung sudah berapa kali dia mengundangku, baik ketika kami sama-sama di rantau maupun kembali ke negeri masing-masing. tak terbilang berapa kali aku mengiyakannya saja dan menganggapnya basa-basi percakapan orang dari belahan dunia yang berbeda. minggu lalu aku tiba-tiba memikirkannya secara serius. dan undangan itu menjadi bermakna bagiku. ya, kenapa tidak?

sudah lama aku tak berpergian jauh. sudah rindu kegairahan memasukkan baju dan mengangkat ransel. apalagi kali ini vientiane, salah satu ibukota paling tidak populer di dunia atau bahkan di asean. jika orang lain mungkin membayangkan kejenuhan, aku justru sudah membayangkan kegembiraan klasik di depan. melihat ibukota stalinis yang masih tersisa. menyaksikan budaya indochina dalam bentuk terbaiknya. petualangan. cerita yang tak pernah di dengar orang. selain itu perjalanan ini kemungkinan akan menjadi perjalanan yang cukup murah. apakah yang akan kubeli di vientiane? apalagi kawanku tadi berkata: “belilah tiket pulang pergi, dan biarkan aku mengurus sisanya”.

ah, apa kubilang? tak ada yang lebih memegang kesetiakawanan dibanding para pemabuk.

enak koq

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/24/2008

suatu waktu di minggu ini aku memasang beberapa fotoku dengan dosen-dosen lain di facebook. foto-foto tersebut diambil pada waktu dan tempat yang berbeda-beda. tak lama kemudian salah seorang alumni memberikan komentar, yang kukutip di bawah ini secara verbatim:

“Wah, prasaan dari tadi fotonya makan2 mulu pak… Enak banget ya jadi dosen???”

kemudian alumni yang lain:

“Lagi ngapain nih? Bancakan?”

kemudian yang lain lagi:

“Wih, enak yo, wik, jadi dosen. Mangan karo mlaku2 terus.”

harus kuakui reaksi pertamaku saat membaca komentar-komentar itu adalah cenderung defensif. eh, tak tahu darah dan air mata yang kami keluarkan waktu ketika mempersiapkan kuliah & ujian, ya? tak tahu rasanya bagaimana di negeri ini dituntut untuk selalu lebih tahu dan mempunyai segala jawaban, ya? tak tahu susahnya mengatur irama 20 atau lebih mulut, tangan, dan otak yang berbeda, ya? tak tahu betapa menyiksanya masa-masa koreksi yang bertepatan dengan mahasiswa libur, berkumpul bersama yang terkasih, bermain air di bali atau berjalan-jalan di luar negeri?

namun setelah melihat-lihat foto-foto itu kembali aku jadi tersenyum sendiri. sebenarnya tak salah jika orang-orang berfikir demikian. lha wong hampir semua foto yang kupasang memang menunjukkan kami sedang makan atau jalan-jalan hehehe. ya, gimana lagi? lha wong bisanya ketemu dan foto bareng kalo pas lagi break. bukan pas kerja. lepas dari itu aku pikir soal makan-makan, jalan-jalan, waktu luang, dan semacamnya kami memang lebih beruntung dibanding kawan-kawan yang bekerja di bisnis atau manufaktur. cuma ya itu gajinya tentu tak bisa setinggi mereka. tapi dengan waktu luang itu sebenarnya kami bisa melakukan sesuatu untuk mengejar ketertinggalan itu. cukup fair lah kalau dipikir-pikir.

not bad, uh?

well, mungkin nanti akan aku revisi lagi lah kalau sudah menghidupi anak orang dan anak sendiri…hehehe.

sore-sore

Posted in Uncategorized by dewey setiawan on 08/15/2008

di minggu ini selalu ada undangan di sore hari. cukup menyenangkan mengingat tak banyak yang kulakukan di masa itu. cukup melelahkan mengingat di waktu itulah aku bisa meluruskan punggung barang sebentar sebelum tiba masa menatap komputer kembali.

di suatu sore aku dan kesasarian menghadiri pernikahan reza dan neni di singasana (hilton). pesta yang ekslusif dan menyenangkan. poolside, bhuoss. bergidik membayangkan biaya yang harus dikeluarkan. aku berfikir untuk menjadikannya semacam cita-cita yang harus kukejar. toch bermimpi itu tak bayar. biar lebih semangat juga dalam bekerja. kalaupun tak sampai, selalu ada kesempatan untuk memodifikasinya menjadi got-side. kebetulan di depan rumahku ada got besar hehehe. anyway, selain dengan kesasarian yang lain, aku juga bertemu dengan kawan-kawan yang hampir 6 tahunan tak penah kutemui.

di sore yang lain aku menghadiri perpisahan mahasiswa yang sekaligus kawan baikku stefani hid (mudah-mudahan tidak salah spelling. gara2 salah spelling bukunya yang baru harus ditarik dari peredaran…hehehe…sabar ya, hid). si hid baru saja lulus dari jurusan kami dan akan menyusul mama dan saudaranya di jerman. achtung, panzer! aku berangkat dengan salah seorang kawan dosen. ada sedikit cerita lucu sebelum keberangkatan kami. aku mengajak kawanku ini untuk langsung berangkat dari tempat kerja. dia bertanya apakah tak sebaiknya kita pulang dulu untuk berganti baju. waktu itu dia menggunakan kemeja lengan panjang dan aku sendiri kemeja lengan pendek. setelah mempertimbangkan karakter si hid dan kawan-kawan yang diundangnya, aku menyimpulkan mungkin kemeja terlalu formal untuk undangan ini. dus aku menyetujui usulan kawanku dan langsung meluncur ke rumah kakakku untuk mengganti kemejaku dengan kaos. setelah itu aku menjemput kawanku di kosnya dan…ternyata beliau malah memakai kemeja yang jauh lebih formal dari yang siang tadi hahaha. jadi sementara aku berfikir bahwa yang kami pakai siang tadi terlalu formal, dia malah berfikir masih informal. setelah berdiskusi beberapa saat, dia memutuskan untuk mengikuti aku dan untungnya analisaku tak salah. kebanyakan yang datang adalah mahasiswa-mahasiswa kami yang lain.

btw, makanannya betul-betul mak nyus dan mak gelender (hormat kepada pak bondan). sangat direkomendasikan: fu yuan restaurant, jln pregolan 1, surabaya. tapi ingat, pemirsa, sendok dan garpunya…keras hehehe (hormat kepada mas onie). selain makan seperti orang kalap tentu aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mempermalukan diri dengan menyumbangkan suara perungguku.

next, di sore yang lain lagi, aku memarkir jaketku di rumah untuk pertama kali dan meluncur ke gramedia basuki rachmat. ada apa gerangan? ada pertunjukan komedi musikal “miss kadaluarsa” dari ekakarmawibangga indonesia (eki). kebetulan salah seorang manajer (?) eki adalah mahasiswa bimbingan skripsiku yang baru saja lulus. dia memberikan 2 tiket kelas 1 gratis ke aku….hehehe…ngga minta loch, ya? yang beri sudah lulus loch, ya? takut diseret ke kpk nech. anyway, aku mengajak si gaby dan yang bersangkutan sangat tertarik juga. sayang 1 jam sebelum pertunjukan ternyata ada prahara di bursa akibat inflation report boe yang negatif. sterling jatuh sampai 400-an point! sebagai broker yang bertanggungjawab, dia tak berani meninggalkan tempat dan aku sangat memahaminya. kebetulan di sana bertemu dengan salah seorang kawan dosen dan beberapa kesasarian. pertunjukannya sendiri cukup baik. ceritanya sendiri mungkin tak baru bagi kami yang sekolah, bekerja, dan bermain dengan cerita. tapi aku membayangkan ini cukup menarik bagi kawan-kawan yang bergumul dengan bidang lain dalam kesehariannya. panggung dan lightingnya bagus. yang paling aku suka adalah tari-tariannya.

di sore ini aku menyiapkan diri untuk soreku di akhir pekan.